Segel emas itu bertuliskan cap mahkota Gallia: singa bersayap yang menopang bintang. Francis memecahkannya di ruang kerja, ditemani Emeteria yang dipanggil tergesa dan belum sempat menyisir rambutnya dengan benar. Lilin di meja bergetar nyalanya setiap kali angin malam menyusup lewat celah jendela.
Surat itu tidak panjang. Francis membacanya sekali, lalu sekali lagi, lebih pelan.
“Yang Mulia menyampaikan belasungkawa resmi kerajaan,” katanya akhirnya. “Dan mengingatkan bahwa sesuai hukum suksesi, pewaris kepala keluarga yang di bawah umur harus dipersembahkan ke hadapan takhta dalam enam puluh hari untuk pengesahan. Penetapan wali pemerintahan oleh keluarga akan disahkan pada kesempatan yang sama.”
“Enam puluh hari.” Emeteria mengerutkan dahi. “Dario bilang tujuh hari.”
“Tujuh hari adalah batas keluarga menetapkan wali sebelum istana berhak campur tangan. Dia tidak berbohong — dia hanya memotong fakta di tempat yang menguntungkannya.” Francis meletakkan surat itu di atas meja dan menekan ujungnya dengan satu jari, seolah surat itu bisa kabur. “Yang penting bukan batas waktunya, Emeteria. Yang penting adalah surat ini berarti Lenard harus pergi ke ibu kota. Perjalanan dua minggu lebih, melewati tiga wilayah, dengan Behemoth masih berkeliaran dan seorang pembocor di dalam rumah kita sendiri.”
“Kita bisa minta penundaan. Alasan keamanan—”
“Penundaan berarti memberi waktu kepada siapa pun yang menginginkan takhta utara kosong lebih lama.” Francis menggeleng. “Di ibu kota, di depan takhta, Lenard akan disahkan sebagai Duke of Aurum. Setelah itu, menyingkirkannya jadi jauh lebih sulit. Perjalanan ini berbahaya, tapi diam di sini lebih berbahaya.”
Emeteria diam sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Aku akan mulai menyusun pengawalan.”
“Besok pagi. Sekarang tidurlah.”
“Kakak juga.”
Francis tidak menjawab, dan Emeteria tahu itu artinya tidak.
oOo
Pagi harinya, laporan pertama datang sebelum sarapan selesai. Emeteria menemukan Francis di ruang makan dengan wajah yang memberi tahu segalanya sebelum mulutnya terbuka.
“Ada satu nama yang hilang dari daftar,” katanya pelan, meletakkan selembar kertas di samping piring Francis. “Nils. Pelayan muda di sayap utama, bertugas membersihkan koridor lantai dua. Terakhir terlihat dua hari lalu, beberapa jam sebelum serangan. Kamarnya kosong. Barang-barangnya hilang, tidak ada surat, tidak ada pamit.”
Francis membaca kertas itu tanpa menyentuh rotinya. “Asalnya?”
“Masuk kerja di sini delapan bulan lalu. Direkomendasikan oleh pengurus perkebunan di wilayah selatan.” Emeteria berhenti sejenak, menimbang kalimat berikutnya. “Perkebunan itu berada di bawah pengelolaan Lord Dario.”
Ruangan terasa lebih dingin. Francis menatap kertas itu lama sekali.
“Terlalu rapi,” katanya akhirnya. “Jejak yang mengarah ke Dario, ditemukan dalam dua hari, dengan bukti yang pas untuk dibawa ke Dewan. Kalau Dario benar dalangnya, dia tidak akan seceroboh itu. Dan kalau dia bukan dalangnya, seseorang sedang bekerja keras supaya kita menuduhnya.”
“Jadi kita tidak menuduh siapa-siapa?”
“Kita menyimpan semuanya, dan membiarkan tikusnya mengira triknya berhasil.” Francis akhirnya menyentuh rotinya, meski nafsu makannya sudah tidak ada. “Tikus yang merasa menang akan keluar lagi. Lipatgandakan penjagaan diam-diam selama persiapan perjalanan. Orang-orang yang ikut ke ibu kota kupilih sendiri, satu per satu.”
oOo
Sementara itu, di taman belakang, pelajaran pertama Lenard dimulai dengan cara yang tidak terduga.
“Duduk di bangku itu,” kata Kiyo. “Tutup mata. Hitung berapa orang yang lewat di koridor di balik pagar tanaman ini, dan tebak yang mana pelayan, yang mana penjaga.”
Lenard menutup matanya dengan sangat serius. Dari balik pagar terdengar langkah-langkah kaki — ada yang cepat dan ringan, ada yang berat dan teratur dengan gesekan logam pelan di setiap ayunannya.
“Tiga orang!” serunya setelah beberapa saat. “Dua pelayan, satu penjaga!”
“Kenapa kau yakin yang satu penjaga?”
“Karena langkahnya berbunyi klip-klop, seperti sepatu Paman Francis kalau sedang marah.”
Kiyo bertepuk tangan pelan. “Bagus. Tapi dua yang kau kira pelayan itu — salah satunya penjaga yang menyamar. Dia berjalan seperti pelayan, tapi dengarkan baik-baik: setiap langkah ketiganya ada jeda sedikit lebih panjang. Orang yang membawa pedang di balik bajunya selalu berjalan seperti sedang menyimpan rahasia.”
Mata Lenard membulat. “Bagaimana Kiyo tahu?”
“Karena aku pernah jadi orang yang menyimpan rahasia itu.” Kiyo menyeringai. “Lain kali kalau ada orang asing berjalan mendekatimu, jangan lihat wajahnya. Wajah itu pembohong ulung. Dengarkan kakinya, lihat tangannya, perhatikan apakah dia lebih suka berada di sisi kananmu atau kirimu. Orang jahat punya kebiasaan, sama seperti orang baik. Bedanya, orang jahat berharap kau tidak memperhatikan.”
Lenard mengangguk-angguk dengan khidmat seperti murid di kuil, lalu tiba-tiba wajahnya berubah cemas. “Kiyo. Kalau aku harus pergi jauh … kau ikut, kan?”
“Pergi jauh ke mana?”
“Paman Francis bilang tadi pagi, aku harus ke ibu kota untuk bertemu Raja. Naik kereta yang besaaaaar, katanya.” Lenard menarik ujung baju Kiyo. “Katakan kau ikut. Kalau kau tidak ikut, siapa yang mengajariku mendengar langkah kaki?”
Kiyo memandang bocah itu, lalu memandang kejauhan. Di kepalanya, peta dunia baru ini masih setengah kosong, dan ibu kota kerajaan adalah titik di tengahnya yang belum pernah mata kanannya sentuh. Di satu sisi, ikut berarti berjalan ke sarang masalah. Di sisi lain — ia teringat genangan aura berminyak di upacara kemarin, dan ingat bahwa masalah ternyata sudah lebih dulu berjalan ke sini.
“Aku ikut,” katanya. “Dengan tiga syarat.”
“Apa pun!”
“Makan tiga kali sehari. Yang manis kalau bisa. Dan—”
“Itu baru dua.”
“Aku pikirkan sisanya sambil jalan.”
Lenard tertawa begitu keras sampai dua burung di pohon terdekat terbang kaget. Kiyo mengusap rambut emas itu, dan untuk sepersekian detik, sesuatu yang hangat dan tidak ia kenali bergerak di dadanya — sesuatu yang di zaman keluarganya dulu tidak pernah punya nama.
oOo
Sorenya, Francis memanggil semua orang yang akan ikut rombongan ke aula kecil: dua belas penjaga pilihan, dua pelayan senior, Emeteria, dan seorang dokter keluarga. Di depan mereka, ia membentangkan peta jalur ke ibu kota — jalan raya kerajaan yang membelah hutan Cern, melewati kota pelabuhan Velles, lalu menuruni lembah panjang menuju pusat Gallisia.
“Perjalanan empat belas hari jika cuaca bersahabat,” kata Francis. “Kita berangkat dalam tiga hari. Tidak ada yang membicarakan tanggal keberangkatan di luar ruangan ini, bahkan kepada keluarga kalian. Jika ada yang bertanya, Tuan Muda akan berangkat bulan depan.”
Matanya menyapu barisan. Dua belas wajah menjawab dengan anggukan tegas, dan Francis mencatat setiap keraguan sekecil apa pun — tetapi kali ini, tidak ada satu pun yang menghindari tatapannya.
Di barisan paling belakang, bersandar di pilar dengan tangan dimasukkan ke saku, Kiyo mendengarkan semuanya sambil menguap kecil. Ketika rapat bubar, Francis menahannya dengan satu tatapan.
“Kau tidak keberatan kubawa serta, kurasa,” kata Francis. “Tuan Muda sudah mengumumkan keputusannya ke seluruh rumah sebelum aku sempat memutuskan apa pun.”
“Anak itu punya bakat jadi pemimpin. Dia tahu cara membuat orang dewasa tidak berkutik.” Kiyo tersenyum miring. “Satu hal, Paman Francis. Rute di peta itu rute terbaik — untuk orang yang ingin diserang.”
“Kau punya usul?”
“Beberapa. Tapi kuberitahu nanti, setelah aku melihat siapa saja yang akhirnya benar-benar ikut.” Kiyo berjalan pergi, lalu menoleh dari ambang pintu. “Pembocor di rumahmu ini belum selesai bekerja. Rencana perjalanan sebesar ini tidak bisa disembunyikan sempurna. Jadi mari kita pastikan, kalau dia membocorkan sesuatu, yang dia bocorkan adalah rencana yang salah.”
Francis menatapnya dari seberang ruangan yang mulai gelap. Untuk sekian kalinya, ia tidak tahu apakah harus berterima kasih atau menambah penjaga di depan kamar laki-laki itu.
“Kau ini sebenarnya siapa?” tanyanya, tidak benar-benar mengharap jawaban.
“Orang yang meminta tempat tidur,” jawab Kiyo dari lorong. “Dan sampai sekarang belum dapat yang benar-benar empuk.”