Tiga hari berikutnya, kediaman Aurum sibuk dengan cara yang aneh. Di depan umum, para pelayan menyiapkan perlengkapan untuk keberangkatan bulan depan: kain-kain musim dingin dilipat, peti-peti besar diperbaiki engselnya, kereta kebesaran keluarga ditarik keluar gudang dan dibersihkan sampai mengilap. Semua orang bisa melihatnya, dan semua orang membicarakannya di dapur, di kandang kuda, di pasar desa terdekat.
Sementara itu, di lantai bawah tanah, dua belas penjaga pilihan mengepak barang mereka sendiri dalam senyap. Tidak ada peti besar. Tidak ada kereta kebesaran. Yang ada adalah tiga kereta perjalanan biasa dengan lambang pedagang, kuda-kuda terbaik yang dipindahkan diam-diam ke kandang kecil di sisi barat, dan persediaan makanan yang dibungkus seperti muatan dagang.
“Rencana yang umum: Tuan Muda berangkat bulan depan lewat jalan selatan, dengan kereta kebesaran dan kawalan penuh,” kata Kiyo sambil mengintip kesibukan gudang dari balik jendela. “Rencana yang sebenarnya: besok subuh, jalan hutan, kereta pedagang. Bagus. Rumahmu akhirnya belajar berbohong, Paman Francis.”
“Aku tidak merasa bangga karenanya.”
“Kau seharusnya bangga. Kebohongan yang tepat sasaran adalah separuh strategi.” Kiyo menepuk pundaknya seperti menepuk pundak murid yang akhirnya lulus. Francis menatap tangan itu, lalu menatap pemiliknya, dan memutuskan bahwa berdebat soal etika dengan Kiyo adalah cara tercepat kehilangan pagi hari.
Hari kedua, umpan mereka bekerja. Seorang penjaga jebakan yang Francis tempatkan di jalan selatan melapor: ada dua penunggang kuda tak dikenal yang dua kali melewati titik yang sama, berpakaian seperti pedagang tapi terlalu sering memperhatikan gerbang kota kecil di ujung jalan. Mata-mata itu tidak mendekat, tidak bertanya pada siapa pun — mereka hanya memastikan rute itu hidup.
“Mereka menelan umpannya,” kata Emeteria dengan wajah yang sulit dibaca antara lega dan marah. “Berarti pembocor itu masih di dalam, dan dia benar-benar menyalurkan rencana palsu kita ke luar.”
“Dan sekarang dia akan melaporkan bahwa kita berangkat bulan depan lewat selatan.” Francis melipat laporan itu kecil-kecil. “Besok subuh kita sudah dua puluh kilometer di jalan hutan sebelum ada yang sadar.”
oOo
Malam terakhir, Lenard minta diantar sekali lagi ke kuil. Tidak ada upacara, tidak ada pelayat; hanya dua peti putih di bawah cahaya kubah yang tidak pernah padam, dan seorang anak kecil yang berdiri di depannya dengan sebatang bunga baru.
“Papa, Mama. Besok aku berangkat ke ibu kota.” Lenard meletakkan bunga itu di tempat yang sama seperti kemarin. “Aku akan bertemu Raja. Kata Paman Francis, kalau Raja sudah mengesahkanku, aku resmi jadi pemimpin utara seperti Papa dulu.” Ia berhenti, menelan sesuatu di tenggorokannya. “Aku masih takut. Tapi Kiyo bilang, takut itu tidak apa-apa asal kaki tetap jalan. Jadi aku akan jalan terus.”
Di ambang pintu, Kiyo menunggu bersama Francis. Laki-laki itu tidak masuk — janjinya pada imam masih berlaku — tetapi malam ini ia tidak duduk di tangga. Ia berdiri menyandar pada pilar serambi, dan mata kanannya menyapu pekarangan kuil yang gelap, memeriksa warna-warna di antara bayangan.
“Pekaranganmu bersih,” katanya ketika Lenard sudah kembali dan mereka berjalan pulang. “Tidak ada aura asing. Yang menjaga kuilmu ini rajin juga.”
“Imam kepala memberkati pekarangan setiap pagi,” jawab Francis. “Dan sejak dua malam lalu, aku menambah dua penjaga di sini.”
“Bagus. Kalau aku jadi musuhmu, kuil ini tempat kedua yang kuserang.”
Francis menoleh tajam. “Apa maksudmu?”
“Peti mati ayah seorang duke, di tempat suci, dengan penjagaan yang bisa dihitung jari.” Kiyo mengedikkan bahu. “Menyerang anaknya membuat semua orang marah. Menyerang peti mati ayahnya membuat semua orang panik — dan keluarga yang panik membuat keputusan bodoh. Tenang saja, malam ini tidak ada apa-apa. Aku hanya memastikan.”
Francis berjalan beberapa langkah dalam diam. “Kau memikirkan hal-hal seperti itu sepanjang waktu?”
“Tidak sepanjang waktu. Hanya setiap kali aku melihat sesuatu yang layak diserang.” Kiyo menyeringai ke arahnya. “Kebiasaan lama. Jangan khawatir, kebiasaan itu sekarang bekerja untuk kalian.”
‘Untuk sementara,’ tambahnya dalam hati, dan ia sendiri tidak yakin kenapa ia menambahkannya.
oOo
Subuh datang dengan kabut tipis yang menempel di tanah seperti kain basah. Tiga kereta pedagang berdiri di halaman samping dengan lampu-lampu kecil yang redup. Lenard, berpakaian seperti anak saudagar dengan tudung menutupi rambut emasnya, diangkat masuk ke kereta tengah sambil mengantuk setengah mati. Ia baru benar-benar bangun ketika mendapati Kiyo sudah duduk di seberangnya dengan sekeranjang kukis di pangkuan.
“Kita berangkat sekarang?”
“Sudah berangkat sejak kau bermimpi tentang kucing.” Kiyo melempar sepotong kukis ke arahnya, dan Lenard menangkapnya dengan dua tangan. “Makan. Perjalanan panjang tidak menunggu anak yang belum sarapan.”
Di luar, Francis menunggang kuda di samping kereta tengah, mantel perjalanannya menutupi lambang Aurum di kerahnya. Emeteria memberi isyarat dari kereta depan. Satu per satu, roda mulai berputar, dan halaman kediaman yang besar itu perlahan tertinggal di belakang kabut.
Lenard menempelkan wajahnya ke kisi jendela kecil, memandang menara-menara rumahnya yang makin mengecil. “Sampai jumpa,” bisiknya, entah kepada siapa — kepada rumah, kepada kuil di kaki bukit, atau kepada dua peti putih di dalamnya.
Jalan hutan Cern menerima mereka dengan jalan setapak yang cukup lebar untuk dua kereta, diapit pohon-pohon tua yang puncaknya saling bertaut hingga membentuk atap. Cahaya matahari pagi jatuh berbintik-bintik di jalan tanah. Burung-burung yang Kiyo tidak kenal namanya bersahutan di dahan-dahan, dan dari kereta depan terdengar penjaga-penjaga bersiul pelan, meniru kode yang sudah disepakati.
Untuk beberapa jam, semuanya damai. Terlalu damai, menurut ukuran Kiyo.
Ia duduk dengan mata setengah terpejam, tapi mata kanannya tidak pernah benar-benar istirahat. Warna-warna hutan mengalir di samping kereta: hijau pepohonan, kuning kecil burung-burung, biru kabut yang perlahan menipis. Aman. Wajar. Tidak ada yang berdiri menunggu di balik pohon dengan niat yang keruh.
Lalu, menjelang tengah hari, ketika kereta membelok di pertigaan jalan hutan dan halaman belakang konvoi terekspos ke arah timur, Kiyo membuka matanya lebar-lebar.
Jauh di belakang mereka — sangat jauh, lebih jauh dari jarak yang bisa dilihat mata biasa — ada sehelai warna abu-abu yang menggantung di udara seperti asap yang lupa hilang. Tipis. Sabar. Bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kereta mereka.
Bukan mengejar. Mengikuti.
“Kiyo?” Lenard memandangnya dengan kening berkerut. “Kenapa kau tiba-tiba diam?”
“Tidak apa-apa.” Kiyo menurunkan tirai jendela pelan-pelan, dan sudut bibirnya terangkat sedikit — bukan senyum geli, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan lawan main yang layak. “Hanya melihat sesuatu yang menarik.”
Di kereta depan, Francis menoleh ke belakang, merasakan lebih daripada melihat perubahan di udara. Ia memacu kudanya mendekati kereta tengah dan mengetuk dindingnya dua kali.
Kiyo menyibakkan tirai sedikit. “Paman Francis,” sapanya riang, seolah mereka sedang piknik keluarga. “Bagaimana kalau setelah perhentian berikutnya, kau dan aku bicara sebentar soal rencana cadangan?”
“Ada apa?”
“Belum tentu ada apa-apa.” Kiyo menyeringai. “Tapi sepertinya, perjalanan kita ini tidak akan sepi seperti yang kau harapkan.”
Ia menurunkan tirai kembali, dan kereta-kereta pedagang itu terus bergerak ke utara, ke arah hutan yang semakin dalam — sementara jauh di belakang, sehelai asap abu-abu mengikuti dengan kesabaran yang tidak dimiliki manusia biasa.