Perhentian pertama rombongan adalah sebuah dataran kecil di tepi sungai dangkal, tempat para pedagang biasa memberi minum kuda mereka. Emeteria menempatkan penjaga dalam lingkaran longgar yang tampak santai dari luar — persis seperti konvoi dagang yang tidak ingin terlihat gugup. Lenard duduk di akar pohon besar dengan sebotol air, memandangi ikan-ikan kecil yang berkejaran di air jernih.
Francis menemukan Kiyo sedang berdiri membelakangi sungai, menghadap ke arah jalan yang tadi mereka lalui.
“Rencana cadangan,” kata Francis tanpa basa-basi. “Kau bilang ada yang perlu dibicarakan.”
“Kita punya ekor.” Kiyo tidak menoleh. “Sejak pertigaan di hutan. Jaraknya jauh, dua-tiga kilometer, dan dia disiplin — tidak pernah mendekat, tidak pernah berhenti lama. Bukan orang yang tergesa-gesa.”
“Kau melihatnya?”
“Aku melihat auranya. Abu-abu, tipis seperti asap yang lupa hilang.” Kiyo akhirnya menoleh. “Aura seperti itu tidak menempel pada orang biasa. Itu aura orang yang pekerjaannya mengikuti orang lain tanpa ketahuan. Dia sudah melakukannya bertahun-tahun, dan dia sangat sabar.”
Rahang Francis mengeras. “Simpul.”
“Bisa jadi. Bisa juga bukan.” Kiyo mengedikkan bahu. “Yang jelas, dia belum tahu pasti apa isi kereta kita. Kalau sudah tahu, dia tidak perlu mengikuti — dia cukup berlari mendahului kita dan melapor. Yang dia lakukan sekarang adalah menghitung dan memastikan. Jadi selama dia belum yakin, dia adalah alat yang bisa kita pakai.”
“Alat?”
“Orang yang mengintai hanya berguna kalau dia pulang membawa laporan.” Mata Kiyo berbinar dengan cara yang membuat Francis langsung waspada. “Kita pastikan laporan yang dia bawa adalah laporan yang kita tulis sendiri.”
oOo
Malam itu rombongan berkemah di dalam hutan, agak jauh dari jalan setapak. Api unggun kecil dinyalakan hanya untuk memasak, lalu segera dikecilkan sampai tinggal bara. Lenard tidur di dalam kereta tengah dengan dua penjaga berdiri di kedua sisinya, dan Emeteria melapis kereta itu dengan segel sunyi yang akan berbunyi jika ada sihir asing menyentuhnya.
Kiyo tidak ada di kemah. Sejak senja, ia sudah berjalan berputar jauh ke belakang, masuk ke dalam bayangan pepohonan, dan duduk diam di atas dahan seperti bagian dari pohon itu sendiri. Menghilang di dalam bayangan adalah keahlian keluarganya yang paling tua; selama ada satu pohon yang merindangkan tanah di bawahnya, Kiyo bisa menjadi tidak lebih menarik daripada sebatang kayu.
Ia menunggu tiga jam dengan kesabaran yang juga keahlian keluarganya.
Menjelang tengah malam, sesuatu bergerak di kejauhan. Bukan langkah — lebih seperti angin yang salah arah, menyelinap dari satu bayangan ke bayangan lain dengan jeda yang terlalu teratur. Mata kanan Kiyo menangkap warna itu: abu-abu berasap, mengalir pelan di antara batang-batang pohon, menuju titik tinggi dari mana kemah mereka bisa diamati tanpa terlihat.
Kiyo turun dari pohonnya tanpa suara dan pergi ke titik itu lebih dulu.
Sang penguntit tiba lima menit kemudian. Ia muncul dari balik semak dengan gerakan yang hampir tidak manusiawi — seorang laki-laki kurus berpakaian abu-abu, telinga rubah kecil tertekuk di balik tudung, tanpa ekor. Setengah darah. Ia berjongkok di bawah pohon besar, menyiapkan sebatang pipa kecil berisi sesuatu yang berpendar samar, dan mulai membidik ke arah kemah melalui lubang pengintip di ujungnya.
“Jarak yang bagus,” kata Kiyo dari atas pohon. “Tapi kau memilih pohon yang salah.”
Laki-laki itu bergerak lebih cepat dari yang Kiyo duga. Ia tidak menoleh, tidak bertanya — tiga jarum langsung melesat ke arah suara, dan tubuhnya sendiri meluncur mundur ke dalam kabut tipis yang tiba-tiba muncul dari pori-pori kulitnya. Dalam sekejap, sosoknya larut menjadi asap abu-abu dan menyebar.
Sayang sekali, asap tidak bisa berlari lebih cepat dari Kiyo.
Satu tangan menembus kabut itu dan mencengkeram tengkuk sesuatu yang padat di dalamnya. Kabut itu jatuh, berputar, dan memadat kembali menjadi laki-laki kurus yang kini terbaring di tanah dengan lengan terkunci di belakang punggungnya. Pipa pengintipnya menggelinding ke akar pohon.
“Pipa yang bagus,” komentar Kiyo sambil memungutnya. “Barang mahal. Kau bukan penguntit murahan.”
“Lepaskan aku atau kau mati.” Suara laki-laki itu serak.
“Dua-duanya tidak akan terjadi malam ini.” Kiyo menyibakkan rambut di belakang telinga laki-laki itu dengan ujung jarinya. Tidak ada cap simpul. Hmm. Bukan Simpul, kalau begitu. “Baik, kita mulai dari yang mudah. Siapa yang menyuruhmu mengikuti kereta-kereta itu?”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
“Tentu saja kau tahu. Kau mengikuti kami sejak pertigaan hutan, jarak dua kilometer, berhenti setiap kami berhenti.” Kiyo mengangkat sebelah alis. “Aku akan menghitung sampai tiga, lalu kita coba lagi.”
“Kau tidak akan membunuhku.” Laki-laki itu menyeringai lemah. “Orang yang ingin membunuh tidak banyak bicara.”
‘Dia tidak salah,’ batin Kiyo, agak tersinggung karena ketahuan menikmati percakapan ini. “Kau benar. Aku tidak akan membunuhmu. Justru aku akan melepaskanmu, dan kau akan kembali ke yang menyuruhmu dengan laporan lengkap.”
Laki-laki itu memandangnya dari sudut mata, bingung.
“Dengarkan baik-baik karena aku tidak suka mengulang.” Kiyo berjongkok di depannya. “Kereta-kereta itu milik saudagar rempah dari wilayah selatan Aurum. Isinya kulit kayu manis, lada, dan seorang putra saudagar yang mabuk darat dan muntah-muntah sepanjang jalan. Anak itu berambut pirang karena ibunya orang pesisir. Tidak ada singa, tidak ada bangsawan, tidak ada apa pun yang menarik. Kau sudah menghitung dua belas penjaga — mereka bukan penjaga, mereka pekerja gudang yang ikut mengantar muatan.”
Laki-laki rubah itu memandang Kiyo dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kenapa kau memberitahuku semua ini?”
“Supaya kau tidak perlu mengikuti kami sampai Velles dan menyusahkan dirimu sendiri.” Kiyo melepaskan kunciannya dan mundur selangkah. “Pergilah. Laporkan dengan jujur apa yang kudengar darimu — maksudku, apa yang berhasil kau kumpulkan dengan susah payah. Kalau majikanmu puas, kau dibayar, kami tidak diganggu, dan semua orang senang.”
Laki-laki itu bangkit perlahan, memijat lengannya, tidak berani berbalik membelakangi Kiyo. “Kau ini orang aneh.”
“Kau baru sadar sekarang? Sayang sekali, padahal kau penguntit yang cukup bagus.” Kiyo melambaikan tangan seperti mengusir kucing dari dapur. “Oh, satu lagi. Kalau tiga hari dari sekarang aku masih melihat asap abu-abu di belakang keretaku, aku akan menganggap kau tidak menghargai hadiahku.”
Laki-laki itu menatapnya dua detik, lalu larut kembali menjadi kabut dan menghilang ke dalam hutan — kali ini ke arah yang berlawanan dengan rombongan.
oOo
Kiyo kembali ke kemah menjelang subuh, tepat ketika penjaga giliran terakhir mulai kelelahan. Francis, yang tidak tidur sama sekali, menunggunya di tepi lingkaran api.
“Sudah selesai?”
“Sudah. Setengah darah bertelinga rubah, penguntit bayaran, bukan Simpul.” Kiyo duduk dan menghangatkan tangan di atas bara. “Aku memberinya cerita untuk dibawa pulang: saudagar rempah, putra mabuk darat, pekerja gudang. Kalau majikannya percaya, beban kita berkurang separuh. Kalau tidak percaya, kita akan tahu dalam dua-tiga hari dari apa yang berubah di sekitar kita.”
“Dan kalau majikannya mengirim lebih dari satu penguntit?”
“Maka mereka akan saling melaporkan cerita yang sama, dan majikannya akan semakin yakin.” Kiyo menyeringai. “Kebohongan yang didengar dua kali terdengar seperti fakta. Itu pelajaran pertama yang diajarkan keluargaku.”
Francis memandanginya dalam cahaya bara yang meredup. “Keluargamu mengajarkan hal-hal yang mengerikan.”
“Keluargaku mengajarkan hal-hal yang berguna.” Kiyo menyandarkan punggung ke roda kereta dan menutup matanya. “Kebetulan, malam ini yang berguna itu bekerja untuk keponakanmu. Tidurlah sebentar, Paman Francis. Besok kita keluar dari hutan, dan kau perlu wajah segar untuk berpura-pura jadi saudagar.”
Francis ingin membantah, tetapi kelopak matanya sendiri mengkhianatinya. Ia beranjak ke keretanya dengan langkah yang lebih berat dari yang ia akui, sementara di dalam kereta tengah, Lenard mendengkur pelan, memegang sebatang bulu burung yang entah kapan ia pungut dan ia simpan seperti jimat.