Hutan Cern berakhir di hari kelima, digantikan padang rumput yang bergulir seperti kain hijau raksasa, dan di ujung padang itu, mengepul di atas garis pantai, berdirilah kota Velles.
Lenard menempelkan wajahnya di kisi jendela sejak menara pertama terlihat. “Kiyo, Kiyo, lihat! Ada kapal! Banyak sekali kapal! Besaaaaar sekali!”
“Itu namanya pelabuhan,” kata Kiyo tanpa membuka mata. “Orang menaruh kapal di sana supaya tidak tenggelam di daratan.”
“Kiyo selalu tahu segalanya.”
“Hanya hal-hal penting.”
Velles adalah kota yang bising dengan cara yang disukai Kiyo: bising karena terlalu banyak orang sibuk mencari uang, bukan karena ada yang berperang. Jalan utamanya menurun dari gerbang bukit ke dermaga, diapit gudang-gudang batu dan kedai yang mulai ramai sebelum matahari tinggi. Udara berbau garam, ikan, asap, dan rempah — campuran yang membuat hidung Lenard bekerja keras dari balik tudungnya.
Rombongan masuk lewat gerbang bukit sebagai saudagar rempah dari selatan, membayar retribusi dengan koin-koin kecil yang sengaja disiapkan Emeteria supaya tidak ada satu pun cap Aurum yang terlihat. Mereka menyewa halaman sebuah losmen besar di tengah kota: cukup ramai untuk tidak diperhatikan, cukup murah untuk tidak diingat.
“Kita menginap semalam,” kata Francis pada semua orang di halaman losmen. “Besok pagi kita turun ke lembah. Yang mau membeli perbekalan lakukan sebelum gelap. Tidak ada yang pergi sendirian. Tidak ada yang bicara soal perjalanan di kedai.”
oOo
Lenard tidak pernah melihat pasar. Maksudnya, ia pernah, di kota-kota kecil wilayah utara, dari balik jendela kereta yang bergerak cepat dengan tirai setengah tertutup. Pasar Velles yang ia lihat sekarang dari jarak satu lengan — dengan Kiyo menggandeng tangannya dan Emeteria berjalan dua langkah di belakang — adalah hal lain sama sekali.
Ada orang bertelinga kambing meneriakkan harga ikan. Ada anak-anak setengah darah berlarian di antara kaki orang dewasa membawa keranjang. Ada perempuan tua bersisik ular yang menatap Lenard lewat, lalu tersenyum dengan lidah bercabangnya yang menjulur sekilas — dan Lenard, setelah ragu setengah detik, tersenyum balik.
“Kiyo, mereka tidak menakutkan,” bisik Lenard.
“Orang yang menakutkan jarang terlihat menakutkan di pasar.” Kiyo membeli tiga tusuk sate ikan bakar dari sebuah gerobak, menyerahkan satu ke Lenard dan satu ke Emeteria yang menerimanya dengan ekspresi ragu. “Makan sambil jalan. Dan Lenard — pasar ini juga ruang ujianmu. Ingat pelajarannya. Tangan. Kaki. Sisi mana yang disukai orang.”
Lenard mengangguk serius sambil menggigit satenya.
Ujian itu datang lebih cepat dari yang Kiyo kira. Di depan kios kain yang ramai, seorang anak laki-laki sebaya Lenard — kurus, bertelinga tikus, tanpa ekor — menubruk Lenard dari samping dengan gerakan yang terlihat sangat seperti kecelakaan. Tangan kecilnya menyelinap ke arah kantong ikat pinggang Lenard.
Lenard tidak menjerit. Ia tidak menarik diri. Ia malah mencengkeram pergelangan tangan anak itu dengan kedua tangannya, persis seperti yang berkali-kali Kiyo peragakan, dan berkata dengan suara yang berusaha tegas: “Tanganmu salah tempat.”
Anak tikus itu membeku. Seisi kios menoleh. Emeteria sudah bergerak maju ketika Kiyo menahannya dengan satu tangan kecil di udara — biarkan.
“Lepaskan!” Anak itu meronta.
“Kembalikan dulu.” Lenard tidak melepas. “Aku tahu kau mengambil sesuatu dari kantong pria di kios tadi. Aku melihat tanganmu. Kata Kiyo, tangan itu pembohong yang buruk.”
Kiyo menutup mulutnya dengan telapak tangan, entah untuk menahan tawa atau menahan rasa bangga yang tidak pantas. Anak tikus itu akhirnya mengeluarkan sebuah dompet kecil dari balik bajunya, melemparnya ke tanah, dan ketika Lenard lengah sepersekian detik, ia menyentakkan diri bebas dan menghilang ke dalam keramaian seperti air ke dalam pasir.
Pemilik dompet — seorang pedagang tua — memungut dompetnya sambil menggumamkan terima kasih yang setengah bingung. Emeteria menatap Lenard, lalu menatap Kiyo, lalu memutuskan untuk tidak bertanya apa pun.
“Bagus,” kata Kiyo sambil mengacak rambut di balik tudung Lenard. “Tapi lain kali jangan umumkan hasil curian orang lain di depan umum. Cukup pegang, panggil orang dewasa, selesai.”
“Kenapa? Bukankah orang harus tahu dia pencuri?”
“Orang yang kau permalukan di depan umum akan mengingat wajahmu dengan dendam. Orang yang kau kalahkan dengan tenang akan mengingat wajahmu dengan takut.” Kiyo menuntunnya melanjutkan jalan. “Dendam itu mahal harganya. Takut itu gratis.”
Emeteria berjalan di belakang mereka, bertanya-tanya sejak kapan pelajaran tata krama keluarga Aurum digantikan oleh filsafat pencuri — dan lebih mengkhawatirkan lagi, sejak kapan ia merasa filsafat itu masuk akal.
oOo
Senja turun ke dermaga Velles dengan warna jingga yang tumpah ke laut. Kiyo berjalan sendirian ke ujung dermaga kayu yang paling sepi, melewati nelayan-nelayan yang membereskan jaring, sampai ke tempat di mana hanya ada air, angin, dan tiang-tiang lapuk.
Ia menunggu tidak lama. Seekor camar kelabu turun dari langit, memutar dua kali, dan hinggap di tiang di depannya dengan sikap yang terlalu tenang untuk seekor burung.
“Kau mencariku,” kata Kiyo.
Camar itu memiringkan kepalanya. Suaranya tidak keluar lewat paruh, tetapi langsung menyentuh telinga bagian dalam Kiyo — cempal, cerewet, dan jelas bukan suara camar biasa. ‘Paus besar itu memanggil-manggil namamu ke setiap burung di laut barat. Kiyo, Kiyo, Kiyo. Semua camar dari Meridien sampai Velles sekarang tahu namamu. Kau ini siapa, sih?’
“Temannya.”
‘Tidak mungkin. Paus itu tidak punya teman. Paus itu bahkan tidak pernah bicara pada camar.’
“Dia kesepian.” Kiyo tersenyum kecil. “Sampaikan padanya: aku baik-baik saja, perjalananku lancar, dan janjiku belum kulupakan. Aku akan datang menemuinya lagi, hanya belum sekarang. Dan tolong, katakan padanya berhenti memanggil namaku ke seluruh langit — ada orang-orang yang tidak perlu tahu di mana aku.”
Camar itu mengibaskan sayapnya. ‘Akan kusampaikan. Tapi ada hal lain yang harus kau dengar, manusia aneh. Para camar di muara sungai melihat perahu-perahu besar minggu ini. Perahu besi dengan lambang gajah bergading, bergerak ke pedalaman lewat sungai, bukan lewat jalan darat. Banyak. Terlalu banyak untuk pedagang.’
Alis Kiyo bertaut pelan. Lambang gajah bergading — lambang yang sama dengan yang ada di pakaian penjaga markas Behemoth di pulau Meridien.
“Ke arah mana sungai itu mengalir?”
‘Ke timur. Ke lembah besar di bawah sana.’ Camar itu mematuk bulu sayapnya. ‘Kata burung-burung lembah, perahu-perahu itu turun di dermaga kecil dan orang-orangnya menghilang ke dalam bukit. Membawa peti-peti berat. Aku tidak suka peti berat yang dibawa sembunyi-sembunyi.’
Kiyo memandang ke arah tenggara, ke garis bukit yang menggelap di bawah senja. Lembah besar — jalur yang akan mereka lalui besok pagi.
“Kau camar yang berguna,” katanya akhirnya. “Kalau lewat lagi, mampirlah. Aku selalu punya sisa ikan.”
‘Aku bukan camar murah yang bisa dibeli dengan sisa ikan.’ Camar itu mengepakkan sayapnya. ‘Tapi sampaikan juga pada pausmu: dia mulai berenang ke timur. Katanya bosan menunggu. Paus tua itu benar-benar sudah gila karena kesepian.’
Burung itu lepas dari tiang, memutar sekali di atas dermaga, dan hilang ke dalam warna jingga.
Kiyo berdiri di ujung dermaga lebih lama dari yang ia sadari. Behemoth turun dari pulau mereka, bergerak lewat sungai, menghilang ke bukit-bukit di sekitar lembah — jalur yang akan dilalui tiga kereta pedagang besok pagi. Kebetulan? Mungkin. Tapi Kiyo hidup terlalu lama di dunia di mana kebetulan yang jelek jauh lebih sering terjadi daripada kebetulan yang baik.
“Paman Francis tidak akan suka mendengar ini,” gumamnya pada laut, lalu berbalik dan berjalan kembali ke losmen dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya.