“Behemoth keluar dari sarangnya.”
Kiyo mengatakannya begitu saja, di tengah ruangan kecil di lantai dua losmen, di depan Francis dan Emeteria yang baru saja selesai menghitung perbekalan. Lilin di meja bergoyang oleh angin laut yang menyusup dari celah jendela.
“Perahu besi berlambang gajah bergading, masuk ke pedalaman lewat sungai besar di sebelah timur, turun di dermaga kecil, menghilang ke bukit-bukit sekitar lembah.” Kiyo duduk di tepi meja tanpa diundang, seperti biasa. “Membawa peti-peti berat. Terjadi minggu ini, jadi ini bukan gerakan lama yang baru kita dengar. Ini gerakan baru.”
Francis tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke jendela, membukanya sedikit, memandang ke arah atap-atap kota yang menggelap. “Sumbermu?”
“Seekor camar.”
“Kiyo.”
“Aku serius.” Kiyo mengedikkan bahu. “Aku berteman dengan paus, Paman Francis. Menurutmu camar itu masalah?”
Emeteria memandang keduanya dengan ekspresi orang yang sudah lama menyerah untuk memahami. “Kakak, anggap saja kabar ini benar. Pertanyaannya satu: kenapa Behemoth bergerak ke lembah, sekarang?”
“Tiga kemungkinan.” Francis berbalik dari jendela. “Pertama, kebetulan — mereka sedang memindahkan markas atau jarahan, dan lembah itu kebetulan jalurnya. Kedua, mereka mengetahui rute asli kita. Ketiga—” ia berhenti, dan wajahnya menggelap “—mereka sedang memburu sesuatu yang lain, dan kita berjalan masuk ke tengah perburuan itu.”
“Kemungkinan keempat,” kata Kiyo pelan. “Mereka dibayar untuk menunggu di sana. Ingat, serangan terhadap rombongan Aryeh dulu juga bukan pekerjaan perampok biasa. Terlalu rapi, terlalu tahu. Kalau dulu ada yang membayar Behemoth untuk menghabisi rombongan Aurum, tidak ada yang menghentikan orang yang sama untuk membayar mereka lagi.”
Hening sejenak. Emeteria memecahkannya dengan suara yang sengaja dijaga tetap praktis: “Kita bisa memutar. Ada jalan barat lewat perbukitan, menambah empat hari.”
“Empat hari dari enam puluh yang diberikan istana, dengan tiga kereta dan seorang anak kecil.” Francis menggeleng. “Dan jika mereka benar-benar menunggu di lembah, memutar berarti memberi mereka waktu menyadari kesalahan dan memindahkan jebakan. Tidak. Kita tetap lewat lembah — tapi tidak sebagai mangsa.”
Ia menatap Kiyo. “Kau bisa melihat mereka sebelum mereka melihat kita?”
“Mataku bisa membaca lembah dari dua-tiga kilometer, kalau ada titik tinggi.” Kiyo memiringkan kepala. “Jadi rencananya: aku jalan di depan.”
“Sendirian?”
“Paman Francis, aku selalu sendirian. Orang lain hanya membuat langkahku berisik.”
oOo
Mereka meninggalkan Velles sebelum matahari terbit, menuruni jalan tanah yang membelah kebun-kebun anggur di pinggir kota, lalu masuk ke mulut lembah ketika kabut pagi masih setinggi lutut. Lembah itu panjang dan sempit di awal, diapit tebing-tebing kapur berwarna pucat, lalu perlahan melebar menjadi lantai hijau yang dialiri sungai kecil. Di hari biasa, pemandangannya pasti indah. Hari itu, bagi Francis, setiap tebing terlihat seperti tempat orang bersembunyi.
Kiyo tidak ada di kereta. Ia bergerak di depan, di ketinggian tebing sebelah barat, dari satu tonjolan batu ke tonjolan lain, secepat kambing gunung dan setenang kabut. Setiap setengah jam, seekor burung kecil — pipit, gereja, apa pun yang sedang lewat — hinggap sebentar di bahunya, mendengar bisikannya, lalu terbang kembali ke arah konvoi membawa satu kata: aman, aman, aman.
Di dalam kereta tengah, Lenard menghitung burung-burung itu lewat kisi jendela. “Itu burung kelima,” bisiknya pada Emeteria. “Berarti masih aman.”
“Tuan Muda tidak takut?”
“Takut.” Lenard menjawab jujur, tangannya meremas ujung jubahnya. “Tapi Kiyo bilang, takut itu tidak apa-apa asal kaki tetap jalan. Kereta juga punya kaki, ‘kan? Rodanya harus tetap jalan.”
Emeteria tidak menjawab, tetapi ia membiarkan anak itu menggenggam ujung lengannya.
Lembah itu dua pertiga terlewati ketika burung keenam tidak datang.
Sebagai gantinya, satu pipit hinggap di bahu Francis dengan kaki yang gemetar, dan menyampaikan satu kata yang bukan bagian dari kode: “Tunggu.”
Francis mengangkat tangan. Seluruh konvoi berhenti di tengah jalan lembah yang paling lebar, di mana tebing kiri-kanan menjauh menjadi perbukitan landai — tempat terburuk untuk diserang, menurut peta. Tapi Kiyo bilang tunggu, dan Francis sudah belajar bahwa satu kata dari Kiyo lebih berharga daripada seluruh peta kerajaan.
Di atas perbukitan sebelah timur, mata kanan Kiyo membaca sesuatu yang membuatnya berhenti bergerak.
Ada orang-orang di balik garis bukit. Bukan sepuluh, bukan dua puluh — warna-warna aura itu berbaris terlalu rapi untuk perampok, terlalu banyak untuk pengintai. Dan di tengah barisan itu, ada satu aura yang membuat tengkuk Kiyo menggeliat: besar, merah tua, dan berdenyut seperti api yang disimpan dalam tanah liat. Seseorang yang sangat kuat sedang duduk diam di sana, menunggu, dengan kesabaran seekor buaya.
Tetapi arah pandang barisan itu — Kiyo memastikan dua kali, tiga kali — bukan ke jalan lembah tempat konvoi berdiri. Mereka menghadap ke utara, ke arah bukit-bukit rendah di luar lembah. Mereka tidak menunggu tiga kereta pedagang dari Velles.
Mereka menunggu sesuatu yang lain.
‘Kemungkinan ketiga,’ batin Kiyo. ‘Kita berjalan masuk ke tengah perburuan orang lain.’
Ia turun dari ketinggian dengan kecepatan yang tidak akan disetujui tulang manusia mana pun, dan muncul di samping kereta pertama begitu cepat hingga kuda-kuda itu meringkik kaget.
“Dengar baik-baik,” katanya pada Francis tanpa basa-basi, suaranya rendah dan cepat. “Ada pasukan di balik bukit timur. Bukan untuk kita — mereka menunggu sesuatu dari arah utara. Jumlahnya banyak, teratur, dan ada satu orang di tengah mereka yang sangat kuat. Bukan level penjagamu. Mungkin bukan levelku juga, kalau aku malas berusaha.”
Wajah Francis menegang. “Behemoth?”
“Peti-peti dari sungai itu sekarang ditumpuk di belakang bukit. Ya, Behemoth.” Kiyo menunjuk ke depan dengan dagunya. “Jalan lembah ini tetap aman untuk dua kilometer ke depan, lalu berbelok ke barat menjauhi mereka. Kita lewat pelan-pelan, tidak berhenti, tidak bising, tidak ada yang menoleh ke timur. Kalau kita bergerak seperti pedagang ketakutan yang hanya ingin cepat sampai, mereka tidak akan peduli. Mangsa besar sedang menuju ke arah mereka dari utara; mereka tidak akan memecah barisan untuk tiga kereta rempah.”
“Dan kalau kau salah?”
“Maka kau akan melihat pemandangan langka: aku bekerja serius.” Kiyo menyeringai, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Jangan khawatir, Paman Francis. Aku belum pernah salah membaca medan. Salah membaca orang, sering. Medan tidak pernah.”
Konvoi bergerak lagi, kali ini dalam keheningan yang hanya diisi derit roda dan napas kuda. Lenard duduk mematung di dalam kereta, tidak menangis, tidak bertanya — hanya menggenggam bulu burung jimatnya sampai buku-buku jarinya memutih, sementara di luar, barisan Behemoth tetap tersembunyi di balik bukit, menunggu mangsa mereka yang sesungguhnya datang dari utara.
Dua jam kemudian, ketika lembah akhirnya menganga menjadi dataran luas dan bukit-bukit itu sudah hilang di belakang, Emeteria mengembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan. “Kita lolos.”
“Untuk sekarang,” kata Francis.
Dan jauh di belakang mereka, di ufuk utara tempat barisan Behemoth mengarahkan pandangannya, sesuatu mulai terlihat bergerak — titik-titik kecil yang turun dari bukit rendah, rapi, berkilau. Kiyo, duduk di atap kereta terakhir dengan mata kanannya yang terbuka penuh, mengenali warna panji-panji itu bahkan dari jarak yang mustahil bagi mata biasa: perak dan biru gelap.
Warna kerajaan.
‘Oh,’ batin Kiyo, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar tertarik. ‘Mangsanya ternyata rombongan dari istana.’