Konvoi berhenti di balik punggung bukit rendah, tersembunyi dari arah manapun. Francis turun dari kudanya sebelum roda kereta benar-benar diam.
“Jelaskan sekali lagi.”
“Rombongan istana, seratus orang lebih, turun dari bukit utara dengan panji perak-biru. Behemoth di bukit timur menunggu mereka dengan dua kali lipat jumlah itu, ditambah peti-peti yang isinya pasti bukan hadiah ulang tahun.” Kiyo duduk di atas gerobak perbekalan, kaki menjuntai. “Dalam satu jam, bukit-bukit itu akan jadi medan perang.”
“Kalau begitu kita membantu mereka.” Francis sudah berbalik ke arah kudanya ketika Emeteria menahan lengannya.
“Kakak. Dua belas penjaga, dua pelayan, satu dokter, dan satu anak berusia lima tahun.” Suara Emeteria rendah tapi keras kepala. “Melawan dua ratus Behemoth bukan bantuan. Itu menambah jumlah korban.”
“Emeteria benar,” kata Kiyo.
Francis berbalik, dan untuk sesaat wajahnya menunjukkan sesuatu yang mentah. “Itu orang-orang Raja, Kiyo. Prajurit kerajaan. Jika mereka dihabisi di jalan ini dan keluarga Aurum berdiri menonton dari balik bukit, nama apa yang tersisa untuk kami?”
“Nama yang masih hidup untuk dipertaruhkan besok.” Kiyo turun dari gerobak, dan kali ini tidak ada cengiran di wajahnya. “Dengarkan aku baik-baik, Paman Francis. Keponakanmu adalah alasan perang ini ada. Serangan ke rombongan istana di jalan kerajaan, beberapa hari sebelum pengesahan pewaris utara — menurutmu itu kebetulan? Seseorang sedang memotong kaki-kaki meja sebelum pesta dimulai.” Ia menunjuk ke arah bukit utara dengan dagunya. “Kalau kau membawa dua belas penjagamu ke sana dan mati, Lenard kehilangan kamu, kehilangan pengesahan, dan kehilangan satu-satunya alasan orang-orang itu belum merebut kursinya. Itu namanya bukan kesetiaan. Itu namanya menyerahkan kemenangan kepada yang menyerangmu.”
Udara di antara mereka menegang. Emeteria tidak bergerak; bahkan kuda-kuda pun seperti menahan napas.
“Lalu apa usulmu?” tanya Francis akhirnya, setiap kata diucapkan seperti ditarik keluar dengan paksa.
“Kau bawa konvoi ke kota pos berikutnya. Satu hari dari sini, ada garnisun kecil di sana — kau kirim berita ke garnisun dan teruskan jalan ke ibu kota. Lenard tetap bergerak, itu yang paling penting.” Kiyo menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. “Aku kembali ke bukit, melihat pertarungannya, dan mengumpulkan apa pun yang bisa kupungut. Siapa pemimpinnya, bagaimana mereka bertarung, ke mana mereka pergi setelahnya. Informasi itu akan lebih berguna bagi istana daripada dua belas pedang tambahan di kuburan massal.”
“Sendirian.”
“Paman Francis.” Kiyo akhirnya tersenyum lagi, tipis. “Kalau ada satu hal di dunia ini yang paling baik kulakukan, itu adalah menonton tanpa terlihat.”
Francis menatapnya lama. Di belakangnya, dari jendela kereta tengah, sepasang mata biru kecil mengintip di balik kisi — Lenard mendengar semuanya, dan anak itu tidak berkata apa-apa, hanya memandang Kiyo dengan tangan menggenggam bulu burungnya.
“Kembali sebelum kami tiba di ibu kota,” kata Francis akhirnya. “Itu perintah pertamaku sebagai walimu. Jangan membuatku menyesal mengeluarkannya.”
“Wah, akhirnya diakui.” Kiyo mengedikkan bahu, lalu menghilang ke dalam bayangan bukit sebelum ada yang sempat menjawab.
oOo
Dari punggung bukit yang ditutupi semak berduri, Kiyo menonton perang dimulai.
Rombongan istana bukan rombongan sembarangan. Seratus prajurit perak-biru itu bergerak seperti satu tubuh: ketika panah-panah pertama Behemoth turun dari ketinggian, perisai-perisai sudah terangkat dan terkunci, dan barisan itu menyusut menjadi kura-kura baja yang terus berjalan ke depan. Penyihir-penyihir di tengah formasi merangkai mantra, dan dinding angin kencang berputar mengelilingi mereka, membelokkan panah-panah berikutnya ke tanah.
Behemoth menjawab dengan cara yang membuat alis Kiyo naik. Peti-peti berat itu dibuka — di dalamnya ternyata bola-bola besi berukir rune, yang digelindingkan menuruni bukit, menabrak dinding angin, dan meledak satu per satu dalam letupan yang mengoyak formasi. Bukan peralatan perampok. Peralatan pengepungan.
‘Seseorang mempersenjatai mereka seperti tentara,’ catat Kiyo dalam hati.
Lalu pemimpin itu turun.
Ia tidak besar seperti para badak penjaga jembatan dulu — tingginya hanya sedikit melebihi manusia biasa, berambut hitam kusut, telinga apa yang ia miliki tidak jelas dari kejauhan. Ia berjalan menuruni bukit dengan langkah orang berjalan-jalan, tanpa senjata di tangan, dan aura merah tuanya membesar di mata kanan Kiyo sampai terasa menyilaukan. Prajurit pertama yang menyerangnya terpental dua puluh langkah tanpa ia sentuh. Prajurit kedua dan ketiga menyusul. Tidak ada mantra, tidak ada gerakan — hanya gelombang kekuatan mentah yang memancar dari tubuhnya seperti panas dari tungku.
‘Jadi ini dia,’ batin Kiyo. ‘Orang gila yang berani merampok kepala keluarga Aurum.’
Komandan rombongan istana ternyata seorang perempuan. Bertombak panjang, berkuda putih, rambut merah tergerai dari celah helm — ia menembus kekacauan itu seperti mata panah, dan tombaknya yang menyala biru adalah benda pertama yang berhasil membuat pemimpin Behemoth mundur setengah langkah. Duel mereka mengguncang bukit: setiap benturan tombak dan kekuatan mentah itu menggetarkan tanah sampai ke tempat Kiyo berbaring.
Perempuan itu kalah, tapi tidak sia-sia. Tusukan terakhirnya merobek bahu pemimpin Behemoth — luka pertama, satu-satunya — dan dalam jeda yang ia beli dengan harga mahal itu, sisa rombongan istana berhasil memecah diri: separuh mundur bertempur ke timur, membawa komandan mereka yang limbung di pelana. Behemoth tidak mengejar terlalu jauh; mereka lebih sibuk menjarah kereta-kereta yang tertinggal dan mengumpulkan tawanan dari prajurit yang pingsan.
Dua pengejar berkuda memisah dari kelompok utama, mengikuti jejak rombongan yang mundur. Kiyo bergerak dari bayangannya, dan kedua pengejar itu tidak pernah tahu apa yang membuat kuda-kuda mereka tiba-tiba kehilangan penunggang. Ia kembali ke posisinya sebelum debu sempat turun.
Dan saat itulah hal aneh itu terjadi.
Pemimpin Behemoth, di tengah medan yang penuh teriakan dan jarahan, tiba-tiba berhenti bergerak. Ia berdiri diam, lalu perlahan menoleh — bukan ke arah dua anak buahnya yang hilang, bukan ke arah timur. Ia menoleh tepat ke arah bukit berduri tempat Kiyo berbaring dalam bayangan, empat ratus langkah jauhnya, di balik semak, tanpa satu pun bagian tubuh terlihat.
Ia memandang ke arah itu lama sekali.
Kiyo tidak bergerak. Tidak bernapas lebih cepat, tidak berkedip. Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan bergetar pelan: kesadaran bahwa di bukit seberang sana ada makhluk yang hampir bisa menemukannya.
‘Menarik,’ batin Kiyo, dan kali ini ia bersungguh-sungguh.
Pemimpin itu akhirnya berpaling, berteriak memerintahkan anak buahnya bergerak, dan seluruh pasukan Behemoth mulai menarik diri ke arah sungai bersama jarahan dan tawanan mereka.
oOo
Kiyo menemukan perwira itu di dalam parit berumput, setengah terkubur di bawah tubuh kudanya sendiri. Pelindung dadanya penyok, lengan kirinya patah, tetapi napasnya masih ada — tipis dan kasar. Lambang di kerahnya: perak dan biru gelap, dengan satu garis emas tanda perwira tinggi.
Kiyo menimbang pilihannya selama dua detik, lalu mengangkat laki-laki itu ke atas bahunya seperti mengangkat karung.
“Jangan mati dulu,” katanya pada telinga yang tidak bisa mendengar itu. “Kau terlalu mahal untuk jadi mayat. Kau bisa menjawab banyak pertanyaan.”
Ia berjalan sepanjang malam, menyusuri lembah dalam gelap dengan langkah yang tidak pernah lelah, dan tiba di kota pos tepat ketika konvoi Francis bersiap berangkat di pagi buta. Dokter keluarga langsung bekerja; Emeteria menempatkan dua penjaga di pintu kamar perwira itu; dan Francis mendengarkan laporan Kiyo dari awal sampai akhir tanpa memotong satu kali pun.
“Jadi mereka menawan sisanya,” kata Francis pada akhirnya, pucat. “Prajurit Raja, ditawan untuk ditebus — seperti Lenard dulu.”
“Dan pemimpinnya hampir menemukanku.” Kiyo mengatakannya datar, tetapi Francis mengenal laki-laki ini cukup baik sekarang untuk tahu bahwa kalimat itu, bagi Kiyo, setara dengan orang lain berteriak ketakutan. “Ingat wajah itu baik-baik ketika kita sampai di istana. Siapa pun yang membayar Behemoth, dia membeli sesuatu yang lebih berbahaya daripada perampok.”
Di ambang pintu kamar perawatan, perwira yang terluka itu membuka matanya sekali. Pandangannya yang kabur menangkap siluet kecil berambut emas yang mengintip dari balik pintu, dan bibirnya bergerak lemah, berbisik sebelum kesadarannya tenggelam lagi:
“Singa … singa utara. Beri tahu … Yang Mulia. Ada … pengkhianat … di dalam tembok ….”