Kereta penjemput datang tepat satu jam setelah lonceng pertama, berwarna perak-biru dengan lambang singa bersayap di pintunya. Lenard sudah siap sejak sebelum matahari terbit — pakaian kebesaran Aurum berwarna emas tua, lambang singa utara di kerahnya, rambut disisir oleh Emeteria sampai dua kali karena yang pertama dianggap kurang rapi.
“Berdiri tegak. Pandangan ke depan. Kalau Yang Mulia bertanya, jawab dengan jelas, tidak perlu cepat-cepat.” Francis merapikan kerah Lenard untuk kesekian kalinya. “Dan ingat, tidak ada yang boleh membuatmu menunduk kecuali Raja.”
“Aku ingat, Paman.” Lenard menarik napas. “Aku Aurum. Martabatku ada pada—”
“—kejujuranmu, ya, aku tahu. Aku yang mengajarimu kalimat itu.” Francis berhenti, lalu untuk pertama kalinya pagi itu ia tersenyum betulan. “Kau akan baik-baik saja.”
Kiyo berdiri di ambang pintu dengan pakaian gelap yang disediakan wisma, telinga manusianya terbuka tanpa kain penutup. Tidak ada lagi alasan menyembunyikan apa yang sudah dibisikkan seluruh kota. “Aku ikut sampai gerbang istana,” katanya. “Pengawal tidak masuk ke ruang takhta kecuali dipanggil.”
“Kau akan diperhatikan.”
“Aku memang paling senang diperhatikan.”
Istana itu berdiri di puncak bukit kota, di ujung jalan menanjak lebar yang diapit pohon-pohon pualam berdaun perak. Gerbangnya bukan satu, melainkan tiga — gerbang luar untuk rakyat, gerbang tengah untuk pejabat, dan gerbang dalam yang hanya terbuka untuk keluarga-keluarga adikuasa dan tamu takhta. Rombongan kecil Aurum lewat ketiganya dengan disaksikan mata yang semakin banyak di setiap lapisan.
Di tangga terakhir, sebelum pintu aula, Lenard berhenti sepersekian detik. Francis merasakannya dan hendak berjongkok, tetapi anak itu sudah menarik napas sendiri, mengangkat dagunya sendiri, dan melangkah lebih dulu.
Ruang takhta itu panjang seperti lembah buatan. Lantainya batu hitam mengilap yang memantulkan cahaya dari jendela-jendela tinggi; di kanan-kirinya berdiri para bangsawan istana dalam dua barisan, ratusan pasang mata, ratusan warna telinga dan ekor yang semuanya menunduk sopan dan semuanya mengamati tajam. Dan di ujung ruangan, di atas tujuh anak tangga pualam, Raja Aldric an Gallia duduk di takhtanya.
Yang Mulia sudah tua. Itu hal pertama yang Lenard catat, persis seperti yang diajarkan Kiyo: lihat orangnya, bukan mahkotanya. Rambut singanya yang dulu pasti emas kini perak seluruhnya, dan sepasang sayap elang yang melipat di punggung takhtanya — warisan darah singa bersayap — tampak berat untuk tulang-tulang setua itu. Tetapi matanya tidak tua. Mata itu menatap Lenard berjalan sepanjang aula, dan tidak pernah berpindah.
“Lenard an Aurum,” suara pembaca upacara menggema, “pewaris darah singa utara, menghadap Yang Mulia.”
Lenard berhenti di garis yang ditandai di lantai, lalu berlutut dengan satu kaki, persis seperti yang dilatih Francis sepanjang perjalanan. “Menghadap Yang Mulia.”
“Bangun, anak kecil. Dekatkan dirimu, supaya mata tua ini tidak perlu menebak-nebak.”
Suara Raja itu dalam, lambat, dan anehnya tidak sedingin yang Lenard bayangkan. Ia berdiri dan berjalan maju sampai ke anak tangga pertama, seperti yang diisyaratkan. Dari jarak itu, ia bisa melihat tangan Raja di lengan takhta — kurus, penuh bintik umur, tetapi jari-jarinya mengetuk kayu dengan irama yang masih kuat.
“Jadi kau yang membuat separuh utara kacau balau,” kata Raja. “Bangsawanmu bertengkar memperebutkan kursimu, perampok mengejarmu sampai ke tengah benua, dan seorang fakir berkelahi untukmu dengan tangan terikat.”
Beberapa bangsawan di barisan menahan napas. Ada yang menyeringai kecil mendengar kata “fakir” diucapkan seterang itu di ruang takhta.
Lenard menelan ludah. “Benar, Yang Mulia. Tapi bukan aku yang membuatnya kacau. Aku hanya yang bertahan hidup dari kekacauan itu.”
Suara bisik-bisik naik sedikit. Di barisan depan, Francis menutup matanya — itu bukan jawaban yang mereka latih. Tetapi di atas takhta, sesuatu bergerak di sudut mulut Raja yang tua.
“Bertahan hidup.” Raja mengulanginya seperti mencicipi rasa kata itu. “Kalau begitu ceritakan padaku bagaimana kau bertahan hidup. Dengan kata-katamu sendiri. Bukan dengan kata-kata yang diajarkan walimu.”
Maka Lenard bercerita. Tentang kereta yang terguling dan kerangkeng yang dingin. Tentang sumur yang gelap, dan suaranya sendiri yang menangis memanggil siapa pun. Tentang batu yang retak dan seseorang yang bangun dari tidur yang sangat panjang, lalu menggendongnya keluar. Tentang hutan batu yang tajam, monster gurun yang jinak, paus yang menyeberangkan mereka, dan pasar Velles tempat ia belajar bahwa tangan pencuri bergerak berbeda dari tangan orang jujur. Ia tidak menyebut satu pun hal yang dilarang Francis — tidak tentang kekuatan Kiyo yang sebenarnya, tidak tentang mata kanan — tetapi semua yang ia katakan adalah benar, dan kebenaran itu terdengar di seluruh aula.
Ketika ia selesai, ruangan itu diam beberapa saat lebih lama dari sopan santun biasanya.
“Kau berbicara seperti ayahmu,” kata Raja akhirnya, dan kali ini suaranya lebih pelan. “Aryeh an Aurum juga tidak pernah menjawab dengan jawaban yang dilatih. Itulah sebabnya aku menyukainya, dan itulah sebabnya separuh bangsawan ini tidak pernah bisa tidur tenang di dekatnya.”
Dari barisan bangsawan, seorang laki-laki paruh baya dengan jubah biru gelap dan rantai perak maju selangkah dan memberi hormat. “Yang Mulia, izinkan hambamu bicara.”
“Bicaralah, Marquis Bellamy. Kau selalu bicara, jadi sekalian saja.”
Terdengar tawa tertahan di beberapa titik aula. Marquis itu tidak goyah. “Hambamu tidak meragukan keberanian anak ini. Tetapi laporan yang sampai ke istana mengatakan bahwa pewaris utara diasuh dan dikawal oleh seorang fakir — seorang tanpa berkah, tanpa klan, tanpa nama. Yang Mulia, pengesahan seorang duke bukan hanya soal darah, tetapi soal lingkungan yang membentuknya. Apa yang akan dikatakan wilayah-wilayah lain jika singa utara dibesarkan oleh makhluk paling rendah di bumi?”
“Makhluk paling rendah di bumi itu,” suara Lenard tiba-tiba, sebelum Francis sempat menahan lengannya, “berjalan dari pulau Meridien ke benua ini sambil menggendongku. Dia tidak pernah menurunkanku satu kali pun, bahkan ketika kakinya berdarah.”
Aula menjadi sunyi. Marquis Bellamy menatap anak itu dengan ekspresi orang yang baru saja dikoreksi oleh meja. Raja sendiri memandang Lenard lama, dan kali ini ia tidak menyembunyikan senyumnya yang tipis.
“Baik,” kata Raja Aldric. “Pengesahan tidak dilakukan hari ini. Laporan tentang serangan di lembah belum selesai diperiksa, dan takhta tidak mengesahkan di tengah kabut perang. Tiga hari lagi, di aula ini, dewan istana akan mendengar dan memutuskan.” Ia mengangkat tangan, menahan keberatan yang sudah naik di beberapa dada bangsawan. “Tiga hari. Takhta sudah menunggu bermusim-musim untuk melihat utara kembali berdiri; tiga hari tidak akan membunuh siapa pun yang tidak pantas mati.”
Matanya lalu bergerak, melewati Lenard, melewati Francis, ke arah pintu aula tempat para pengawal menunggu — seolah bisa melihat menembus kayu tebalnya.
“Dan bawa kemari orang itu,” kata Raja. “Orang yang berjalan dari Meridien sambil menggendong singa kecil. Aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri. Sekarang. Sendirian.”