Kiyo sedang berdiri di pelataran istana, menghitung merpati di atap menara, ketika dua penjaga istana datang menjemputnya. Mereka tidak menyentuhnya — cukup banyak rumor beredar bahkan di kalangan penjaga — tetapi sikap mereka membuat jelas bahwa “sendirian” berarti tanpa Francis, tanpa Emeteria, tanpa siapa pun.
“Tenang saja,” kata Kiyo pada Francis yang wajahnya sudah seperti orang mengantar ke rumah jagal. “Rajamu ini tua, tapi bukan bodoh. Raja bodoh mengundang orang sepertiku dengan pasukan. Raja pintar mengundangnya dengan dua penjaga dan pintu terbuka.”
Ia digiring bukan ke ruang takhta, melainkan ke sebuah ruangan kecil di menara samping: ruang kerja pribadi Raja, dengan jendela yang menghadap seluruh kota, rak-rak penuh gulungan, dan meja yang ditumpuki peta. Raja Aldric duduk di belakang meja itu tanpa mahkota, dengan jubah rumah yang lebih sederhana dari pakaian Kiyo. Di sudut ruangan, seorang perempuan tua berambut putih berdiri diam — penyihir, langsung dikenali Kiyo dari cara auranya berlapis-lapis seperti bawang raksasa.
“Magistra Rowena,” kata Raja tanpa menoleh, “sebelum kita mulai, tolong ukur tamuku. Supaya setidaknya catatan istana lengkap.”
Perempuan tua itu mengangkat tangan. Lingkaran cahaya yang muncul kali ini berbeda dari milik Emeteria — lebih halus, lebih lambat, dengan rune-rune yang berputar di tiga lapis berlawanan arah. Kiyo membiarkannya turun menyelimuti dirinya sambil duduk di kursi tamu tanpa diundang.
Lingkaran itu berputar sekali. Dua kali.
Lalu ia tidak pecah — ia padam. Seperti lilin ditiup angin, tanpa perlawanan, tanpa sisa.
Magistra Rowena menurunkan tangannya perlahan. Wajah tuanya yang biasanya sedatar permukaan danau kini berkerut dalam. “Yang Mulia. Alat ukurku tidak rusak. Aku baru memakainya pagi ini pada seorang adipati dan ia berfungsi sempurna.”
“Kalau begitu apa artinya?”
“Artinya tamu Yang Mulia bukan tidak punya sihir.” Rowena menatap Kiyo dengan mata yang menyipit. “Artinya tidak ada apa pun di dalam dirinya yang bisa dikenali sihir sebagai sesuatu yang bisa diukur. Seperti mencoba menimbang bayangan.”
“Kesimpulan yang berbelit-belit untuk mengatakan aku orang biasa,” komentar Kiyo sambil menyilangkan kaki.
“Orang biasa tidak membuat Magistra Rowena kehilangan kata-kata.” Raja Aldric berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela, dan memandang kotanya. “Tinggalkan kami, Magistra.”
“Yang Mulia—”
“Dia bisa membunuhku sepuluh kali sejak kau membuka pintu, kalau itu tujuannya. Tinggalkan kami.”
Pintu tertutup. Raja tua itu tetap berdiri di jendela dengan tangan di belakang punggung, dan untuk beberapa saat hanya ada suara angin dari kota di bawah.
“Tahukah kau apa yang paling melelahkan dari menjadi raja?” tanyanya akhirnya.
“Terlalu banyak orang yang berbohong dengan sopan?”
Raja menoleh, dan tertawa — tawa pendek, serak, tapi betulan. “Roswitha bilang kau kasar. Dia salah. Kau hanya tidak menyaring.” Ia kembali ke kursinya dan duduk dengan bunyi tulang yang tidak disembunyikan. “Baik, orang yang tidak menyaring. Aku tidak memanggilmu untuk menanyakan asalmu. Semua orang bertanya itu padamu, dan semua orang pulang dengan jawaban yang sama: batu, tidur panjang, hilang ingatan. Aku terlalu tua untuk dongeng.”
“Kalau begitu Yang Mulia memanggilku untuk apa?”
“Untuk melihatmu.” Mata tua itu menatap lurus, dan Kiyo menangkap sesuatu di sana yang jarang ia temui: bukan kecurigaan, bukan ketakutan, melainkan penilaian yang sangat lelah. “Laporan Roswitha berkata bahwa dua pengejar Behemoth hilang dari kuda mereka di tengah pertarungan, tanpa suara, tanpa jejak. Laporan Bastian berkata ia ditarik dari bawah kudanya oleh seseorang yang berjalan semalaman membawanya seperti karung. Laporan Francis berkata kau membunuh pembunuh-pembunuh bayaran dengan tangan terikat sihir. Dan laporan Magistraku sendiri berkata kau tidak bisa diukur.” Raja menyebarkan tangannya. “Empat laporan, empat kemustahilan. Jadi aku ingin melihat sendiri kemustahilan itu duduk di kursiku.”
“Dan sekarang Yang Mulia sudah melihatnya.”
“Sekarang aku sudah melihatnya.” Raja mengangguk pelan. “Tiga hari dari sekarang, anak itu akan berdiri di aulaku lagi untuk pengesahan. Separuh bangsawan di ruangan itu menginginkannya berhasil, karena utara yang kuat menguntungkan dagang mereka. Sebagian lagi menginginkannya gagal, karena utara yang lemah bisa diperah. Dan satu-dua orang di sana—” jari-jari tua itu mengetuk meja, sekali “—mungkin adalah orang yang membisikkan rute kereta Aryeh kepada Behemoth, dan rute rombongan Roswitha kepada orang yang sama.”
Kiyo tidak menjawab, tetapi matanya sedikit menyipit.
“Aku tidak bisa memeriksa bangsawanku sendiri,” lanjut Raja. “Setiap pemeriksaan adalah tuduhan, dan setiap tuduhan adalah perang kecil. Tetapi kau — kau bukan siapa-siapa. Kau tidak punya wilayah, tidak punya hutang budi, tidak punya pihak. Kau bisa berdiri di aula itu sebagai pengawal anak itu, dan kau bisa melihat.”
“Melihat apa?”
“Apa pun yang mataku sendiri tidak bisa lagi.” Raja Aldric melepas cincin kecil dari jarinya — bukan cincin negara, hanya cincin perak tua dengan ukiran bintang — dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya ke arah Kiyo. “Selama pengesahan, kau berdiri di belakang anak itu sebagai pengawal bersumpah pewaris utara. Gelar itu kubuat hari ini, dan akan membuat separuh aula mendidih. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan hanya: setelah upacara, kau datang lagi ke ruangan ini, dan kau memberitahuku apa yang dilihat matamu.”
Kiyo memandang cincin itu tanpa menyentuhnya. “Yang Mulia menaruh banyak kepercayaan pada orang yang baru ditemui satu jam.”
“Aku menaruh kepercayaan pada satu-satunya orang di kota ini yang tidak punya alasan untuk berbohong kepadaku.” Raja menyandarkan punggungnya, dan untuk pertama kalinya Kiyo melihat betapa tua laki-laki itu sebenarnya — bukan di keriputnya, tetapi di berat di balik matanya. “Kerajaanku sedang berlubang di dalam, orang fakir. Kapal yang berlubang tidak peduli siapa yang menambalnya, selama orang itu bisa berenang.”
“Hm.” Kiyo akhirnya mengambil cincin itu, memutarnya sekali di jari, lalu memasukkannya ke saku. “Baik. Aku akan melihat. Tapi ada satu syarat.”
“Katakan.”
“Tempat tidur di wisma kehormatan itu keras sekali. Lenard tidak masalah — dia bisa tidur di mana saja, anak itu — tapi punggungku sudah tua.”
Raja Aldric memandanginya selama tiga detik penuh, lalu tertawa lagi, kali ini lebih panjang, sampai harus berhenti untuk terbatuk dua kali. “Roswitha benar tentang satu hal,” katanya di sela batuk. “Kau memang orang paling aneh yang pernah berdiri di ruangan ini. Baik. Akan kukirimkan kasur bulu angsa terbaik ke wisma itu. Sekarang pergilah — dan Kiyo.”
Kiyo yang sudah di ambang pintu berhenti.
“Kalau matamu menemukan orang itu — orang yang membisikkan rute-rute itu — jangan potong kepalanya di dalam istanaku. Seret dia hidup-hidup ke hadapanku. Ada hal-hal yang ingin kutanyakan sendiri.”
“Wah.” Kiyo menyeringai dari balik bahunya. “Ternyata Yang Mulia juga bisa berpikir seperti pembunuh.”
“Aku berpikir seperti raja,” jawab Aldric. “Bedanya tidak sebesar yang diajarkan kitab suci.”