Sehari sebelum pengesahan, istana mengadakan jamuan di taman timur — bukan pesta besar, kata undangannya, hanya “pertemuan ramah keluarga-keluarga adikuasa yang sedang berada di kota”. Semua orang yang membaca undangan itu tahu artinya yang sebenarnya: kesempatan untuk melihat singa kecil dari utara dari dekat, sebelum besok harus memutuskan sikap kepadanya.
Taman timur istana dipenuhi lentera-lentera kertas yang mulai menyala ketika senja turun. Bangsawan berdiri dalam kelompok-kelompok kecil dengan gelas anggur dan senyum yang sudah dilatih bertahun-tahun. Lenard, di sisi Francis, menyapa satu per satu nama yang harus dihafalnya: Duke muda dari timur yang datang mewakili ayahnya, para marquis dan count dengan wilayah-wilayah yang bahkan tidak bisa ia bayangkan petanya.
“Tuan Muda Aurum.” Seorang bangsawan tinggi bertelinga rusa membungkuk terlalu dalam. “Akhirnya kita bertemu. Seluruh kota membicarakan Tuan Muda.”
“Terima kasih, Lord—” Lenard berhenti seperseratus detik, mencari nama, dan menemukannya. “—Lord Cervan. Semoga hanya hal-hal baik yang dibicarakan.”
Francis di sampingnya hampir tersedak anggurnya sendiri. Jawaban itu tidak ada dalam latihan. Itu adalah jawaban Kiyo, kata demi kata, dari percakapan makan malam dua hari lalu.
Di sudut taman, Kiyo sendiri berdiri di samping meja hidangan dengan sepiring penuh kue-kue kecil, tampak seperti orang yang salah masuk pesta dan memutuskan menikmatinya saja. Tidak ada bangsawan yang mendekatinya — status barunya sebagai pengawal bersumpah sudah diumumkan pagi ini, dan bisik-bisik tentangnya bergerak lebih cepat daripada pelayan. Tetapi Kiyo tidak keberatan. Orang yang menjauhimu, menurut pengalamannya, justru memperlihatkan dirinya paling jelas: dari cara mereka memastikan tidak terlihat memperhatikan.
Mata kanannya menyapu taman dengan santai. Warna-warna di mana-mana — hijau iri, kuning basa-basi, abu-abu bosan. Lalu berhenti pada dua hal.
Yang pertama: di dekat air mancur, seorang pria muda berjubah juru tulis sedang mencatat sesuatu untuk tuannya, seorang senator tua. Biasa saja. Kecuali bahwa setiap kali kata “Behemoth” mengapung dari percakapan kelompok sebelah — dan kata itu mengapung berkali-kali malam ini — aura si juru tulis berkedip. Bukan berubah warna. Berkedip, seperti lidah api yang tertiup angin, seolah pemiliknya harus menarik napas untuk tetap diam. Kiyo menandai wajahnya: kurus, janggut tipis, jari bertinta. Juru tulis yang bekerja untuk senator, di gedung tempat rute-rute rahasia disalin ke atas kertas.
Yang kedua lebih halus. Di kelompok bangsawan dekat gerbang taman, seorang perempuan paruh baya dengan bulu gagak hitam di bahunya sedang tertawa pada lelucon seseorang — dan auranya memiliki kilau berminyak yang pernah Kiyo lihat sekali sebelumnya, di pekarangan kuil Aurum, pada seorang singa tua bernama Dario. Tidak sama persis. Tetapi dari jenis yang sama: seperti genangan minyak di atas air jernih, berkilau di permukaan, keruh di bawah.
‘Dario punya teman di istana,’ catat Kiyo sambil memasukkan kue ketiga ke mulutnya. ‘Atau setidaknya, orang yang berpikir seperti Dario.’
oOo
Lenard menemukan dirinya dikerumuni anak-anak bangsawan di dekat kolam ikan — anak-anak yang semuanya lebih tua satu dua tahun, dan semuanya sangat tahu diri.
“Jadi benar kau naik monster di gurun?” tanya seorang anak laki-laki bertelinga elang dengan nada yang bukan kagum, melainkan menguji.
“Benar,” jawab Lenard. “Dua kali. Yang pertama monster angler, yang kedua paus.”
“Paus itu bukan monster, bodoh.”
“Paus yang ini bisa bicara. Namanya Eiddwen.” Lenard menatapnya dengan tenang. “Dan aku tidak bodoh. Aku cuma lebih muda darimu.”
Dua anak lain terkekeh. Anak elang itu memerah, dan ia baru saja membuka mulut untuk sesuatu yang lebih tajam ketika suara lain menyela — seorang anak perempuan kecil dengan rambut hitam mengilap dan bulu gagak halus di pelipisnya, yang sejak tadi duduk di tepi kolam memberi makan ikan.
“Dia tidak bohong,” kata anak perempuan itu tanpa menoleh. “Paman guruku pernah melihat paus raksasa di lepas pantai barat, dan paus itu menatapnya sampai pamanku turun dari kapal karena takut. Paus tua itu bisa bicara, kata para pelaut. Kalian saja yang tidak pernah dengar karena tidak pernah keluar dari kota.”
Anak elang itu mendengus dan pergi, diikuti sebagian besar kerumunan. Anak perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya gelap, hampir hitam, dan menatap Lenard dengan cara yang anehnya dewasa.
“Kau Aurum yang diculik itu,” katanya.
“Dan kau siapa?”
“Merle. Merle an Corvane. Ayahku punya tanah kecil di selatan, tidak penting.” Ia menunjuk ikan-ikan di kolam. “Yang oranye namanya Sultan. Yang hitam belang namanya Pecundang karena selalu kalah berebut makanan. Aku ke sini setiap kali ayahku ada urusan di istana, dan aku selalu bosan.”
“Kau tidak bosan sekarang?”
“Tidak. Sekarang ada anak singa yang naik monster.” Merle memberinya sisa remah roti untuk ditebarkan. “Katakan padaku satu hal yang tidak ditulis rumor. Tentang perjalananmu.”
Lenard berpikir keras. “Apel di hutan lebih manis dari apel di rumahku,” katanya akhirnya. “Dan kalau kau makan sebutir apel, berat badanmu jadi seberat apel.”
Merle menatapnya lama, lalu tertawa — tawa sungguhan, bukan tawa pesta. “Siapa yang mengajarimu itu?”
“Kiyo. Pengawalku.”
“Dia pembohong.”
“Ya.” Lenard ikut tertawa. “Tapi pembohong yang menyelamatkanku.”
Dari kejauhan, di samping meja hidangan, Kiyo melihat dua anak itu tertawa di tepi kolam, dan sesuatu di dadanya melonggar sedikit tanpa ia izinkan. Lalu matanya bergerak lagi ke si juru tulis bertinta, yang baru saja pamit pada tuannya dan berjalan keluar taman dengan langkah yang sedikit terlalu cepat untuk ukuran seorang penyalin surat.
oOo
Malam itu, di kamar wisma, Lenard menceritakan semuanya kepada Kiyo dengan mata berbinar — tentang Merle, tentang Sultan dan Pecundang, tentang anak elang yang pergi dengan muka merah. Kiyo mendengarkan sambil berbaring di sofa dengan tangan di belakang kepala.
“Bagus. Kau mendapat teman pertama.”
“Teman pertama di kota ini,” ralat Lenard. “Temanku yang pertama tetap Kiyo.”
“Pfft. Aku bukan teman. Aku terlalu tua untuk jadi teman anak lima tahun.”
“Kau bilang umur tidak penting untuk persahabatan. Waktu di gurun.”
“Aku bilang begitu?”
“Iya. Waktu monster angler itu mengantar kita.”
Kiyo membuka sebelah mata. Bocah itu mengingat segalanya. “Kalau begitu aku harus lebih hati-hati dengan omonganku sendiri.” Ia menutup matanya lagi. “Tidur. Besok hari besarmu, dan sebaiknya kau tidak menguap di depan Raja.”
Setelah Lenard tidur, Kiyo berdiri di jendela kamarnya dan mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Di atasnya, dengan tulisan tangan yang miring, ia sudah mencatat dua hal dari pesta taman:
Juru tulis senator. Jari bertinta. Berkedip setiap mendengar Behemoth.
Perempuan gagak. Aura minyak. Seperti Dario.
Ia memandang dua baris itu lama, lalu menambahkan baris ketiga, lebih pelan:
Dua-duanya berdiri di sebelah kanan ruangan. Besok, di aula pengesahan, mereka akan berdiri di tempat yang sama. Orang-orang seperti itu tidak pernah jauh dari tempat mereka berdiri hari ini.
Dan di bawahnya, dengan ujung senyum yang tidak terlihat siapa pun, ia menuliskan catatan terakhir untuk dirinya sendiri:
Mulai besok, kita berburu.