Subuh di lapangan latihan istana, kabut masih setinggi mata kaki ketika Kiyo tiba dengan tangan di saku. Dame Roswitha sudah menunggu di tengah lapangan, tombak panjangnya tertancap di tanah di sampingnya, rambut merahnya diikat ketat. Ia mengenakan pakaian latihan tanpa lambang — dan itu, bagi seorang komandan kawalan Raja, berarti urusan ini pribadi.
“Kau datang,” katanya.
“Undangan bertuliskan ‘mari berlatih’ dengan tiga tanda seru biasanya bukan undangan berlatih.” Kiyo berhenti lima langkah darinya. “Jadi, Dame Roswitha. Kau ingin menanyakan sesuatu, atau ingin memukul sesuatu?”
“Dua-duanya.”
Roswitha tidak memberi peringatan. Tombaknya sudah berada di tangannya dan ujungnya sudah berada di tempat tenggorokan Kiyo berada sekejap sebelumnya — sedangkan Kiyo sendiri sudah tidak di sana. Ia berdiri dua langkah ke kiri, menguap.
“Satu,” kata Roswitha.
Ia menyerang lagi. Tombak biru itu bergerak seperti makhluk hidup — menusuk, menyapu, memutar — dan setiap gerakannya membawa dengung tipis sihir yang membuat udara bergetar. Lapangan latihan itu, kata rumor istana, pernah dibelah dua oleh satu tebasannya. Tetapi pagi itu, selama dua puluh serangan berturut-turut, ia tidak mengenai apa pun selain bayangan.
Kiyo tidak menyerang balik. Tidak sekali pun. Ia hanya berpindah — selalu satu langkah, selalu secukupnya, seperti air yang mengalir mengelilingi batu — dan wajahnya tetap memasang ekspresi bosan yang sama, yang entah bagaimana lebih menyinggung daripada ejekan.
Pada serangan kedua puluh satu, Roswitha menghentikan tombaknya di tengah jalan. Napasnya naik sedikit lebih cepat; napas Kiyo tidak berubah sama sekali.
“Di bukit itu,” katanya pelan. “Dua pengejar Behemoth yang mengikuti mundurku. Mereka jatuh dari kuda tanpa suara. Tidak ada yang melihat apa pun.”
“Bukit itu penuh batu. Orang jatuh dari kuda karena batu.”
“Jangan bermain-main denganku.” Mata Roswitha menajam seperti ujung tombaknya. “Aku sudah dua belas tahun memegang tombak untuk Raja. Aku tahu perbedaan antara jatuh dan dijatuhkan. Itu kau.”
Kiyo memandanginya sejenak, lalu mengedikkan bahu. “Anggap saja begitu. Lalu apa? Kau ingin berterima kasih, atau ingin memastikan aku bukan musuh?”
“Aku ingin tahu kenapa seseorang yang bisa bergerak seperti itu tidak pernah tercatat di mana pun.” Roswitha menancapkan tombaknya kembali ke tanah. “Dan aku ingin tahu kenapa dia mengikutiku dari Velles sampai ke istana, kalau dia bukan musuh.”
“Aku tidak mengikutimu. Aku mengikuti anak itu.” Kiyo menunjuk ke arah menara wisma di kejauhan dengan dagunya. “Kebetulan jalan kalian sama. Dan soal tidak tercatat—” ia menyeringai kecil “—orang-orang di zamanku yang tercatat, semuanya sudah mati. Aku memilih tidak.”
Roswitha memandanginya lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk sekali — anggukan seorang prajurit kepada prajurit lain, yang tidak memerlukan penjelasan lebih jauh. “Bastian akan sembuh. Utang nyawa itu tetap utang, dan orang Aurum bukan satu-satunya yang membayar utangnya.” Ia memungut sarung tombaknya. “Kalau kau butuh pedang istana untuk sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan dengan bayangan, kau tahu di mana menemukanku.”
“Wah. Persahabatan yang tiba-tiba.”
“Bukan persahabatan.” Roswitha berjalan pergi, lalu berhenti. “Aku hanya tidak suka orang yang bertarung untuk anak kecil harus bertarung sendirian.”
oOo
Siangnya, di ruang peta wisma kehormatan, empat orang duduk mengelilingi meja: Francis, Roswitha, Bastian dengan lengan yang masih terbalut, dan Kiyo yang menyebarkan catatan miringnya di tengah.
“Rute rombonganmu disalin di kanselir,” kata Kiyo. “Semua dokumen perjalanan resmi disalin di sana — untuk arsip, untuk logistik, untuk alasan-alasan yang terdengar masuk akal. Berarti yang tahu bukan hanya Raja, kanselir, dan Roswitha. Yang tahu juga adalah para juru tulis yang menyalinnya.”
“Ada dua puluh juru tulis di kanselir,” kata Bastian.
“Dan salah satunya berkedip setiap kali mendengar kata Behemoth.” Kiyo mengetuk catatannya. “Aku melihatnya di pesta taman. Kurus, janggut tipis, jari bertinta, bekerja untuk seorang senator. Auranya bergetar seperti orang yang menahan sesuatu yang sangat besar di balik pintu yang sangat tipis.”
Roswitha dan Francis bertukar pandang. “Kau yakin?”
“Mataku tidak pernah bohong soal ketakutan.” Kiyo menyandarkan punggung. “Tangkap dia malam ini. Diam-diam, tanpa surat perintah resmi — karena surat resmi harus lewat kanselir, dan kanselir adalah tempat dia bekerja. Bawa dia ke ruang bawah wisma ini, dan biarkan aku yang bertanya dulu sebelum kalian. Orang ketakutan menjawab lebih cepat kepada orang yang tidak mereka kenal.”
“Kita tidak punya wewenang menangkap pegawai istana,” kata Francis.
“Kita punya perintah lisan Raja untuk menyelidiki,” jawab Kiyo, mengangkat jari dengan cincin perak berukiran bintang di sana. “Dan kalau ternyata salah tangkap, aku yang akan minta maaf. Dengan sangat tidak tulus.”
Rencana disusun dalam satu jam: Roswitha dan dua prajurit kepercayaannya yang menjemput si juru tulis dari kamarnya di gedung kanselir, tepat setelah lonceng malam, lewat koridor layanan yang tidak dijaga. Bastian menyiapkan ruangan. Francis menyiapkan pertanyaan. Semuanya rapi, semuanya senyap, semuanya seharusnya berjalan tanpa satu pun orang istana tahu sebelum selesai.
Semuanya terlambat dua jam.
oOo
Roswitha kembali lewat tengah malam dengan wajah seperti batu yang baru dipukul. Ia tidak membawa siapa pun.
“Sudah mati,” katanya tanpa basa-basi. “Di kamarnya. Digantung di balok, dengan surat pengakuan di atas meja.”
Ruangan itu membeku.
“Surat itu mengaku semuanya,” lanjut Roswitha, melemparkan selembar salinan ke atas meja. “Bahwa dialah yang menyalin rute rombongan Aurum musim gugur lalu dan menjualnya. Bahwa dialah yang menjual rute kami. Bahwa dia menyesal dan memilih gantung diri. Rapi. Lengkap. Dengan tanda tangan.”
Bastian menyambar salinan itu, membacanya dua kali, dan wajahnya semakin gelap setiap kalinya. “Ini… ini menyelesaikan semuanya. Pengkhianat ditemukan, kasus ditutup.”
“Terlalu menyelesaikan.” Kiyo mengambil salinan itu dan membacanya sekali, cepat. Lalu ia meletakkannya kembali dengan dua jari, seperti menyentuh sesuatu yang kotor. “Surat ini ditulis oleh orang yang tenang. Lihat hurufnya — tidak ada goresan yang ragu, tidak ada tinta yang tumpah. Orang yang akan gantung diri tidak menulis serapi ini. Dan satu lagi: dia takut pada Behemoth, aku melihatnya sendiri kemarin — orang yang takutnya masih hidup tidak mati malam berikutnya karena menyesal.”
“Kau bilang dia dibunuh,” kata Francis.
“Aku bilang seseorang ingin kita berhenti mencari.” Kiyo berdiri, berjalan ke jendela, memandang menara-menara istana yang menyala di kejauhan. “Pikirkan waktunya. Kita tiba di kota empat hari lalu. Tadi pagi aku menandai juru tulis itu di pesta — di tempat terbuka, di depan ratusan mata. Malam ini dia mati. Artinya, siapa pun majikannya, orang itu ada di pesta taman, melihat apa yang kulihat, dan bergerak sebelum matahari terbit.”
“Atau juru tulis itu melapor kepada majikannya,” kata Roswitha perlahan, “dan majikannya memutuskan dia lebih berguna sebagai jawaban daripada sebagai alat.”
“Jadi begitu cara mainnya.” Suara Kiyo pelan, hampir kepada dirinya sendiri. Di balik kaca jendela, mata kanannya memantulkan cahaya kota yang jauh. “Musuh kita bukan bangsawan serakah biasa. Dia orang yang memotong jarinya sendiri tanpa berkedip, supaya tangannya tidak tertangkap.”
“Jejaknya berhenti di juru tulis itu,” kata Bastian dengan pahit. “Dengan surat pengakuan itu, penyelidikan resmi akan ditutup dalam sehari. Tidak ada lagi alasan menggeledah kanselir.”
“Justru bagus.”
Empat pasang mata menoleh ke Kiyo.
“Musuh yang merasa aman akan bergerak lebih besar,” kata Kiyo. “Dia sudah membayar mahal untuk menutup penyelidikan — satu alat yang ditanam bertahun-tahun di kanselir. Dia tidak akan membayar semahal itu hanya untuk bersembunyi. Dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar menutup jejak.” Ia menoleh dari jendela. “Dan besok, di aula pengesahan, seluruh istana akan berkumpul di satu ruangan. Termasuk dia.”
Francis berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser. “Kau pikir dia akan bergerak besok. Terhadap Lenard.”
“Aku pikir dia sudah menunggu terlalu lama untuk membiarkan singa kecil itu disahkan.” Kiyo memasukkan catatannya ke saku, dan wajahnya — untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di kota ini — tidak menyisakan satu pun jejak cengiran. “Jadi besok kita semua ke aula itu dengan mata terbuka. Roswitha, kau dan orang-orangmu di pintu-pintu. Emeteria menempel pada Lenard seperti kulit kedua. Dan aku—”
ia mengedikkan bahu, seolah membicarakan cuaca,
“—aku akan berdiri tepat di belakangnya, dan berdoa semoga orang itu cukup bodoh untuk mencoba.”