Pagi hari pengesahan turun dengan langit biru yang bersih, seolah ikut memihak. Aula takhta dibuka penuh untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun: kedua barisan bangsawan berdiri rapat dari pintu sampai anak tangga takhta, para penyihir istana berjajar di pilar-pilar dengan segel perlindungan yang berpendar samar, dan penjaga perak-biru berdiri di setiap pintu dengan perintah yang sederhana dari Roswitha — tidak ada yang masuk atau keluar sebelum sumpah selesai diucapkan.
Lenard berdiri di ruang tunggu dengan jubah kecil berwarna emas tua di atas bahunya. Jubah itu milik ayahnya, diubah semalam oleh tiga penjahit istana, dan baunya masih seperti lemari kayu rumah.
“Bagaimana rasanya?” tanya Francis, merapikan lipatan jubah itu untuk terakhir kali.
“Berat.” Lenard menarik napas. “Tapi kata Kiyo, yang berat itu bukan jubahnya. Yang berat itu orang-orang yang menonton.”
“Kali ini dia benar.”
“Paman Francis.” Lenard mendongak. “Kalau nanti aku salah bicara—”
“Maka kau perbaiki besok. Duke tidak dilahirkan dari satu pidato, Lenard. Duke dilahirkan dari sepuluh ribu hari setelahnya.” Francis meletakkan kedua tangan di bahu kecil itu. “Ayahmu akan sangat bangga hari ini. Bukan karena kau sempurna. Karena kau sampai di sini.”
Pintu aula terbuka.
oOo
Upacara itu panjang, bertingkat, dan penuh kata-kata tua. Ada pembacaan silsilah Aurum yang memakan waktu begitu lama hingga kaki beberapa bangsawan mulai bergeser. Ada berkat dari imam agung istana dengan asap dupa yang mengular ke langit-langit. Ada penyerahan segel wilayah — cakram perunggu berukir singa utara — yang diserahkan kembali oleh Raja kepada keluarganya setelah bermusim-musim disimpan takhta.
Dan ada sumpahnya.
Lenard berdiri di anak tangga pertama, di depan Raja Aldric yang hari itu bermahkota penuh, dan mengulang kata-kata yang diucapkan setiap pewaris utara sejak kerajaan ini berdiri. Suaranya kecil di aula sebesar itu, tetapi tidak bergetar. Ketika sampai pada kalimat “aku menjaga utara dengan darah dan nama Aurum,” ia tidak membaca dari kertas latihan. Ia melihat ke atas, ke mata Raja, dan mengatakannya seperti orang membuat janji kepada seseorang — bukan kepada aula.
“Maka dengan wewenang takhta Gallia,” Raja Aldric mengangkat tongkatnya dan menyentuh bahu kiri, lalu bahu kanan anak itu, “aku mengesahkan Lenard an Aurum sebagai Duke of Aurum, penguasa wilayah utara, pemegang segel dan nama, di bawah perwalian Francis Aurum hingga usia dewasanya. Utara memiliki singanya kembali.”
Aula menjawab dengan hentakan tongkat dan telapak tangan — keras dari sebagian, sopan dari sebagian lain, dan Lenard, berdiri di tengahnya dengan jubah ayahnya di bahu, melakukan apa yang diajarkan Kiyo di depan jendela wisma: ia melihat orang-orangnya, bukan gemerlapnya.
Ia melihat Duke muda dari timur bertepuk dengan sungguh-sungguh. Ia melihat Marquis Bellamy bertepuk dengan wajah yang tidak ikut bertepuk. Ia melihat seorang perempuan berbulu gagak di bahu yang tidak bertepuk sama sekali, hanya tersenyum — dan senyum itu membuat tengkuknya menggeliat dengan cara yang sulit ia jelaskan, seperti langkah kaki yang salah di koridor rumahnya sendiri.
Nanti kuceritakan pada Kiyo, janjinya dalam hati.
oOo
Di belakang anak itu, setengah langkah di sisi kanan, Kiyo berdiri dengan cincin perak berukiran bintang di jarinya dan wajah seorang pengawal yang membosankan. Tidak ada satu pun dari ratusan orang di aula itu yang menyadari bahwa sepanjang upacara, mata kanannya tidak pernah berhenti bekerja.
Ia melihat semuanya. Warna gembira yang tulus dari barisan utara. Warna masam para pengekor Bellamy. Dan di antara semuanya, satu hal yang membuat kukunya mengetuk paha sekali, pelan: ketika nama Behemoth disebut Raja dalam pidato penutupnya — ketika takhta resmi menyatakan kelompok itu musuh kerajaan dan janji akan menumpasnya sampai ke pulau mereka — aura perempuan berbulu gagak itu tidak berkedip sama sekali.
Semua orang di aula bereaksi terhadap nama itu. Takut, marah, setuju, ngeri. Perempuan itu tidak. Auranya tetap mengkilap berminyak dan tenang, seperti orang yang mendengar ramalan cuaca yang sudah ia ketahui semalam.
‘Dia sudah tahu,’ kata Kiyo dalam hati. ‘Atau dia tidak peduli, karena Behemoth bukan ancaman baginya — Behemoth adalah alatnya.’
Ia tidak bergerak. Upacara bukan tempatnya, dan bukti bukan dugaan. Tetapi ia menandai perempuan itu dengan baik: bulu gagak di bahu kiri, dua cincin zamrud, dan kebiasaan memutar cincin itu dengan ibu jari ketika mengira tidak ada yang memperhatikan.
oOo
Perayaan kecil di wisma kehormatan malam itu hanya dihadiri orang-orang sendiri: Francis, Emeteria, Bastian yang bersikeras ikut meski harus duduk dengan bantal di punggung, dua pelayan senior, dan Lenard yang masih mengenakan jubah ayahnya karena menolak melepasnya. Ada kue dengan gula berbentuk singa kecil di atasnya, dan anak itu menceritakan kembali setiap detik upacara dengan tangan yang tidak berhenti bergerak.
“—lalu aku tidak membaca dari kertas! Aku lihat matanya saja, Raja itu, seperti kata Kiyo, dan—”
Ketukan di pintu depan memotong cerita itu.
Penjaga wisma menerima sebuah kotak dari seorang kurir anak jalanan yang langsung menghilang ke dalam malam. Kotak kayu biasa, sebesar kotak sepatu, diikat tali, tanpa lambang, ditujukan dengan tulisan tangan yang rapi: Untuk Duke kecil utara. Selamat atas pengesahannya.
“Jangan dibuka di dekat Tuan Muda,” kata Emeteria langsung, dan tangannya sudah berpendar dengan segel pendeteksi. Segel itu menyapu kotak dari atas ke bawah, sekali, dua kali. “Tidak ada sihir. Tidak ada racun yang bisa kukenali.”
“Buka di meja,” kata Francis. “Semua orang mundur selangkah.”
Kiyo yang membukanya. Dengan dua jari, pelan, tanpa ekspresi.
Di dalam kotak, di atas lapisan kain hitam, tergeletak dua benda. Yang pertama: sebuah tali hitam yang diikat menjadi simpul rumit, dengan salah satu ujungnya ditarik hingga terurai putus — sebuah simpul mati. Yang kedua: selembar kartu kecil dengan tulisan yang sama rapinya dengan sampul kotak.
Selamat atas takhtamu yang baru, Duke kecil. Jaga baik-baik lehermu yang masih seputih salju. Sampai jumpa di utara.
Tidak ada yang bergerak di ruangan itu. Lenard memandang simpul hitam itu dari balik lengan Emeteria yang otomatis menghalanginya, dan wajahnya pucat — tetapi ia tidak menangis. Ia hanya bertanya dengan suara kecil, kepada Kiyo:
“Itu dari orang yang mengirim pembunuh ke kamarku?”
“Ya.” Kiyo menutup kotak itu tanpa suara. “Orang yang sama. Atau orang yang bekerja untuknya.”
“Dia bilang sampai jumpa di utara.”
“Ya.”
“Kalau begitu kita pulang ke utara.”
Semua orang dewasa di ruangan itu menoleh ke anak berusia lima tahun yang masih mengenakan jubah ayahnya. Lenard tidak gemetar. Tangannya memang menggenggam bulu burung jimatnya sampai memutih, tetapi suaranya — suaranya tidak.
“Dia ingin aku takut pulang,” kata Lenard. “Jadi aku pulang. Dia ingin aku sembunyi di sini, jadi aku tidak akan sembunyi. Aurum tidak sembunyi.” Ia menoleh ke Francis. “Bolehkan kita pulang, Paman?”
Francis memandang keponakannya — lalu ke kotak hitam di meja, lalu ke Kiyo yang berdiri diam dengan wajah yang akhirnya menunjukkan sesuatu yang mirip minat sejati.
“Kita pulang,” kata Francis. “Tapi tidak seperti rombongan yang datang. Kali ini kita pulang dengan mata terbuka, dan kita membawa perang orang itu pulang ke pintunya sendiri.”
Di atas meja, simpul hitam itu tergeletak diam di dalam kotaknya, sebuah janji yang ditulis dengan tali — dan di jendela, tanpa ada yang menyadarinya, seekor camar kelabu hinggap sebentar di kusen, memandang ke dalam, sebelum terbang lagi ke arah timur tempat laut berada, membawa berita kepada paus tua yang sedang berenang jauh dari rumahnya.