Tiga hari setelah pengesahan, rombongan utara meninggalkan Kota Raja lewat gerbang yang sama tempat mereka masuk — tetapi tidak ada lagi kereta pedagang, tidak ada lagi tudung dan lambang palsu. Kali ini kereta kebesaran Aurum berjalan di tengah dengan panji emas berkibar, dan tiga puluh penjaga perak-biru kerajaan mengawal di depan dan belakang, hadiah terakhir Raja Aldric untuk adipati kecilnya.
“Sampai perbatasan utara mereka ikut,” kata Raja pada perpisahan di pelataran istana. Laki-laki tua itu turun sendiri dari anak tangga takhta untuk mengepalkan bahu Lenard dengan tangan yang kurus. “Dan sesudahnya, utara adalah wilayahmu, Duke Aurum. Jaga dia. Raja boleh memberimu panji dan pasukan, tetapi tanah hanya mau dijaga oleh orang yang mencintainya.”
“Aku akan menjaganya, Yang Mulia.” Lenard membungkuk, lalu ragu, lalu — melanggar seluruh protokol yang diajarkan Francis — maju dan memeluk pinggang Raja tua itu sebentar. “Terima kasih sudah percaya padaku.”
Seluruh pelataran menahan napas. Raja Aldric memandang kepala kecil berambut emas di pinggangnya, lalu tertawa serak sambil menepuk punggung anak itu dua kali. “Aryeh juga pernah melakukan itu. Satu kali, ketika kukira dia sudah jadi bangsawan dewasa yang membosankan.” Ia melepaskan pelukan itu dengan lembut. “Pergilah. Dan kirimkan surat pada orang tua ini sekali-sekali.”
Perpisahan lain terjadi di halaman wisma. Bastian berdiri dengan lengan yang masih diayun, menolak tandu. “Aku menyusul begitu dokter melepaskanku,” katanya pada Francis. “Utara akan butuh perwira yang tahu wajah Behemoth.”
“Pulihkan dulu lenganmu. Utara tidak butuh perwira bertangan satu.”
Dan di gerbang kota, di tepi jalan raya, seorang anak perempuan berambut hitam mengilap menunggu dengan sebuah bungkusan kecil di tangan.
“Kau benar-benar pulang,” kata Merle an Corvane.
“Benar-benar.” Lenard menyerahkan bungkusannya lebih dulu — selembar kertas gambar yang digulung hati-hati. “Ini untukmu. Aku yang menggambar sendiri.”
Merle membukanya. Di atas kertas itu, dengan krayon dan keyakinan yang jauh lebih besar daripada bakat, tergambar sebuah monster bermulut lebar penuh gigi dengan dua orang kecil duduk di punggungnya, dan tulisan miring di bawahnya: MONSTER ANGLER. TIDAK GALAK KALAU SISIKNYA DICABUT.
“Aku akan membingkainya,” kata Merle dengan sangat serius, seolah menerima dokumen negara. Lalu ia menyerahkan bungkusannya sendiri: sebuah ikan kayu kecil berwarna oranye, diukir dengan mata yang agak miring. “Sultan. Supaya kau ingat, di selatan ada yang menunggumu berkunjung. Dan supaya kau tahu—” ia menunjuk mata ikan yang miring itu “—tidak semua yang miring itu jelek.”
Lenard menggenggam ikan kayu itu dengan kedua tangan seperti menggenggam segel duchy-nya. “Kalau kau ke utara, aku akan menunjukkan singa-singa kami. Mereka besaaaaar sekali.”
“Aku akan menagihnya. Corvane tidak pernah lupa menagih janji.”
oOo
Mereka bergerak cepat — lebih cepat dari perjalanan berangkat, karena kali ini tidak ada yang disembunyikan. Delapan hari dari ibu kota ke Velles, kata peta; Roswitha memangkasnya jadi enam dengan rotasi kuda yang kejam. Di dalam kereta kebesaran, Lenard membagi waktunya antara jendela, pelajaran membaca dari Emeteria, dan menceritakan kembali seluruh audiensi dengan Raja kepada Kiyo untuk kesekian kalinya.
“—lalu Yang Mulia bilang, utara punya singanya kembali, Kiyo. Di depan semua orang.”
“Hm. Bagus sekali.”
“Kau bahkan tidak melihatku waktu itu.”
“Aku melihat hal-hal yang lebih penting dari wajahmu.” Kiyo mengunyah kukis jatah paginya. “Wajahmu itu hafal. Aula penuh orang yang ingin kau mati itu tidak hafal.”
Lenard merenungkan itu sejenak dengan serius, lalu mengangguk. “Kau selalu punya alasan yang aneh tapi benar.”
“Itu disebut pengalaman, anak Duke.”
Malam kelima, di perkemahan tepi hutan sebelum lembah, kewaspadaan yang dijaga Kiyo akhirnya terbayar.
Ia sedang duduk di atap kereta ketika mata kanannya menangkap tiga titik bergerak di dalam hutan — bukan hewan. Hewan bergerak dengan warna yang tenang; tiga titik ini bergerak dengan warna yang dijaga tetap tipis, terlalu tipis, seperti orang menahan napas sambil berjalan.
Kiyo tidak turun dari atap kereta. Ia hanya berkata, cukup keras untuk didengar penjaga terdekat:
“Tamu. Tiga orang. Dari arah pohon tumbang, kira-kira dua ratus langkah.”
Kemah bergerak tanpa kepanikan — latihan Roswitha. Api unggun ditutup pasir, formasi melingkar, dan Lenard ditarik ke tengah oleh Emeteria sebelum kata “tamu” selesai diucapkan.
Tiga pembunuh itu keluar dari hutan dengan kecepatan yang membuktikan mereka bukan amatir: dua dari kiri-kanan memotong ke arah kereta, satu dari atas — turun dari dahan dengan benang baja yang berkilat tipis di cahaya bulan. Simpul. Gaya yang sama dengan malam di kamar Lenard dulu.
Yang dari atas tidak pernah mencapai kereta. Ia berhenti di tengah udara karena sesuatu menangkap pergelangan kakinya, dan detik berikutnya ia menghantam tanah dengan Kiyo berdiri di atas punggungnya.
“Malam yang indah untuk jalan-jalan,” kata Kiyo.
Dua yang lain dihadang penjaga perak-biru. Pertarungan itu singkat dan tidak imbang — tiga pembunuh melawan tiga puluh penjaga terlatih bukanlah serangan, melainkan pengukuran. Dua mati oleh pedang dan benang mereka sendiri yang berbalik; yang di bawah kaki Kiyo mencoba bunuh diri dengan kapsul racun di gigi palsunya, tetapi Kiyo sudah membengkokkan rahangnya ke samping sebelum gigi itu sempat mengatup.
“Oh tidak, kau tidak semudah itu pergi.” Kiyo menahan rahang itu dengan dua jari, tanpa ekspresi. “Kau orang keempat dari jaringanmu yang kutemui, dan aku mulai tersinggung karena kalian terus datang tanpa membawa jawaban.”
Roswitha tiba dengan tombaknya yang masih berdengung. Ia memandang pembunuh yang tertelungkup, lalu ke arah hutan yang gelap, lalu ke Kiyo. “Pengukuran kekuatan. Mereka ingin tahu berapa banyak yang dibutuhkan untuk menembus kita.”
“Dan sekarang mereka tahu tiga tidak cukup.” Kiyo mengangkat tangkapan hidupnya seperti mengangkat kucing dari kolam. “Sayangnya untuk mereka, kita juga belajar sesuatu malam ini: mereka gugup. Serangan pengukuran itu bukan tanda kekuatan, Dame Roswitha. Itu tanda orang yang kehabisan waktu. Sesuatu di utara membuat mereka harus bergerak sebelum kita sampai.”
Di dalam kereta, Lenard mengintip dari balik tirai dengan jantung berdebar — dan untuk pertama kalinya, di tengah malam berbahaya itu, yang ia rasakan bukan takut. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang hangat dan tajam di dadanya, yang kelak akan ia kenali sebagai kemarahan: ada orang yang terus berusaha membunuhnya, dan ia mulai bosan menjadi satu-satunya yang dianggap mangsa.