Interogasi pembunuh Simpul itu berakhir sebelum fajar, dan hasilnya persis seperti yang Kiyo duga: tidak ada. Bukan karena orang itu kuat — tiga tulang jarinya patah sebelum ia mulai bicara — tetapi karena ia memang tidak tahu. Perintah datang lewat perantara, bayaran lewat perantara lain, dan satu-satunya hal berguna yang keluar dari mulutnya adalah bahwa perantara kali ini “bicara dengan logat utara, dan membayar dengan koin baru dari tambang utara.”
“Koin dari tambang utara.” Francis mengulanginya dengan wajah gelap di cahaya api yang menguning. “Utara adalah wilayah kami. Tambang-tambang itu milik Aurum.”
“Berarti orang yang membayar tidak hanya mengenal rumahmu,” kata Kiyo. “Dia memegang uang rumahmu.”
Mereka mengubur dua mayat di tepi hutan tanpa nisan, dan bergerak lagi begitu langit terang. Tidak ada yang mengusulkan menyerahkan pembunuh hidup itu ke garnisun terdekat — semua sudah belajar apa yang terjadi pada juru tulis di kanselir. Orang itu dikawal ke utara sebagai tawanan, dengan rahang yang dipasangi penahan kayu agar gigi palsunya tidak bisa bekerja.
oOo
Lembah itu menyambut mereka dengan bau.
Pertarungan sepuluh hari lalu sudah selesai, tetapi lembah belum selesai dengan pertarungan. Di lereng-lereng bukit masih tertanam panah-panah yang tidak dipungut; bekas ledakan bola rune menghitamkan tanah dalam lingkaran-lingkaran yang tidak akan ditumbuhi rumput bertahun-tahun; dan di tempat kereta-kereta istana ditinggalkan, para pemulung dari desa-desa jauh bergerak seperti semut di antara rangka-rangka roda, mengumpulkan apa pun yang masih bernilai.
Rombongan berhenti sebentar di titik tertinggi jalan. Tidak ada yang menyuruh berhenti; kuda-kuda itu sendiri yang memperlambat langkah.
Lenard keluar dari kereta tanpa dipanggil, berdiri di samping Francis, dan memandang lembah itu lama. Burung-burung pemakan bangkai berputar jauh di ujung sana, terlalu banyak untuk dihitung.
“Ini perang?” tanyanya pelan.
“Ini sisa perang,” jawab Francis. “Perangnya sendiri lebih buruk.”
“Papa dan Mama… juga seperti ini?”
Francis menelan sesuatu sebelum menjawab. “Tidak sebesar ini. Tapi ya. Seperti ini.”
Lenard mengangguk kecil. Ia tidak menangis — tangisnya untuk ayah dan ibunya sudah ia letakkan di kuil, seperti yang diajarkan batu nisan. Tetapi ia berdiri di sana lebih lama dari yang nyaman bagi seorang anak berusia lima tahun, dan ketika akhirnya ia naik kembali ke kereta, ia berkata satu kalimat yang membuat Francis tidak bisa menjawab:
“Kalau aku jadi duke yang baik, lembah ini tidak akan seperti ini lagi.”
Di atas atap kereta, Kiyo mendengarnya, dan untuk sekali ini tidak ada canda yang keluar dari mulutnya.
oOo
Di tengah lembah, mereka menemukan jejak yang dicari Roswitha.
Komandan itu berlutut di tanah berdebu, membaca tanda-tanda dengan mata seorang pemburu: jejak kaki banyak orang yang berjalan dengan beban, bergerak ke timur, ke arah sungai; di sela-selanya, jejak yang berbeda — kaki-kaki yang terseret, rantai yang meninggalkan garis-garis halus di tanah.
“Tawanan,” katanya tanpa berdiri. “Setidaknya empat puluh orang, dirantai berjalan ke sungai. Dari sungai, perahu. Behemoth membawa mereka pulang sebagai barang.” Ia berdiri, dan tangannya menggenggam tombak sampai buku-buku jarinya putih. “Orang-orangku. Yang bertahan dari pertarungan, untuk dijual.”
Tidak ada yang bicara. Semua orang di rombongan itu tahu apa yang sedang diperhitungkan di kepala Roswitha, dan semua tahu perhitungan itu tidak punya jawaban yang baik.
“Aku harus memilih,” kata Roswitha akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Mengawal adipati kecil sampai utara, sesuai perintah Raja. Atau membawa orang-orangku ke sungai, mengejar perahu-perahu besi itu, selagi jejaknya belum hilang.”
“Kau tidak harus memilih sendirian.” Francis melangkah maju. “Bawa dua puluh penjagamu. Sisa sepuluh bersama kami sudah cukup sampai Velles — di Velles kami bisa meminta kawalan tambahan dari garnisun kota. Tapi—” ia menatap Roswitha lurus “—kau tidak mengejar sendirian ke sarang mereka. Kau mengejar, kau memotong, kau merebut tawananmu, dan kau keluar sebelum pemimpin mereka turun tangan.”
“Pemimpin mereka.” Roswitha menyeringai pahit, mengusap bahu yang dulu pernah robek oleh satu benturan dengan laki-laki berambut kusut itu. “Kau bicara seperti aku bisa memilih lawan di medan perang.”
“Kalau begitu dengarkan aku.” Kiyo turun dari atap kereta, dan suaranya tidak seperti biasanya — datar, tanpa satu pun lekukan bercanda. “Orang itu lebih kuat darimu, Roswitha. Bukan sedikit lebih kuat. Jika kalian bertemu lagi, jangan duel. Jangan pikirkan kehormatan, jangan pikirkan balas dendam untuk bahumu. Suruh orang-orangmu mengalihkan perhatiannya dan kau bawa tawananmu keluar. Dia tidak akan mengejar terlalu jauh — orang seperti itu menjaga barang rampasannya lebih penting daripada mengejar pencuri kecil.”
Roswitha memandanginya lama. “Kau tahu sesuatu tentang dia yang tidak kau katakan.”
“Aku tahu auranya. Dan auranya adalah aura makhluk yang sudah lama tidak menemukan lawan.” Kiyo mengedikkan bahu, dan untuk sedetik matanya sendiri tampak jauh, mengingat bukit berduri dan pandangan yang menembus empat ratus langkah. “Seseorang harus memberinya lawan itu suatu hari nanti. Tapi bukan kau, dan bukan minggu ini.”
Perpisahan itu singkat, sebagaimana perpisahan prajurit. Dua puluh penjaga perak-biru berbalik ke timur mengikuti jejak rantai, dengan Roswitha di depannya dan tombak biru di punggungnya. Sepuluh sisanya melanjutkan barisan ke barat bersama kereta emas.
“Dame Roswitha!” Lenard tiba-tiba memanggil dari jendela kereta, dengan suara kecilnya yang memecah kesunyian lembah. “Bawa pulang orang-orangmu! Semuanya!”
Roswitha menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak bukit itu, wajah komandan perak-biru itu melunak. Ia mengangkat tombaknya sekali — salut seorang kesatria — lalu memacu kudanya ke timur tanpa menoleh lagi.
oOo
Malam itu, berkemah di tepi hutan Cern yang mulai terlihat di kejauhan, Francis duduk di samping Kiyo di depan api yang kecil.
“Kau serius tentang pemimpin itu,” katanya. “Bukan cuma menakut-nakuti Roswitha.”
“Aku tidak pernah menakut-nakuti. Aku memberi tahu.” Kiyo menusuk api dengan sebatang kayu. “Orang itu, Francis… ketika aku bersembunyi di bukit, empat ratus langkah darinya, di balik semak, tanpa bergerak — dia menoleh. Tepat ke tempatku. Tidak ada yang pernah melakukan itu padaku. Bukan penyihirmu, bukan anjing pelacak, bukan siapa pun.”
“Dia mendengarmu?”
“Bukan mendengar. Merasakan.” Kiyo memandang apinya. “Ada makhluk di dunia ini yang keberadaannya begitu besar sehingga udara di sekitarnya ikut berubah. Aku bisa melihatnya dengan mataku. Dan sepertinya… dia juga bisa merasakanku, dengan caranya sendiri. Seperti dua binatang besar yang mencium bau satu sama lain di seberang hutan.”
“Dan kau ingin bertemu dengannya.” Francis mengatakannya bukan sebagai pertanyaan, karena ia sudah belajar membaca laki-laki di sampingnya.
“Setiap pembunuh ingin tahu apakah masih ada yang bisa membunuhnya.” Kiyo tersenyum kecil ke dalam api. “Jangan khawatir, Paman Francis. Aku sudah punya alasan untuk tidak mati sekarang. Alasan itu beratnya sekitar dua puluh kilogram, suka kukis, dan sedang tidur di kereta sambil memeluk ikan kayu.”