Velles menyambut mereka untuk kedua kalinya dengan bau garam dan kesibukan yang tidak pernah berubah, tetapi kali ini tidak ada penyamaran. Kereta emas Aurum masuk lewat gerbang bukit dengan panji berkibar, dan berita berlari lebih cepat daripada roda: adipati kecil utara lewat, adipati kecil yang diculik dan disahkan Raja itu, yang konon naik monster dan berteman paus.
Lenard mendengar bisik-bisik itu dari jendela kereta dan menahan senyum dengan susah payah. “Kiyo, mereka tahu tentang Eiddwen.”
“Pelaut selalu tahu tentang paus. Mereka tidak tahu apa-apa tentangmu.”
Tetapi Lenard tidak peduli pada koreksi itu, karena sejak siang ia sudah gelisah dengan cara yang aneh — mondar-mandir di kamar losmen, mengintip jendela ke arah dermaga, sampai akhirnya, ketika matahari mulai turun, ia menarik tangan Kiyo dengan kekuatan penuh seorang anak lima tahun.
“Kita ke dermaga. Sekarang. Aku merasa dia ada di sana.”
“Merasa?” Kiyo mengangkat alis. “Sejak kapan kau bisa merasakan paus?”
“Sejak kau bilang gelap itu bisa dijadikan milikku.” Lenard menatapnya dengan sangat serius. “Kalau gelap bisa jadi milikku, laut bisa jadi temanku. Ayo.”
Mereka pergi bertiga — Kiyo, Lenard, dan Emeteria yang tidak bisa dicegah — menyusuri jalan dermaga yang mulai sepi, melewati nelayan yang membereskan jaring dan menatap anak berambut emas itu dengan campuran hormat dan penasaran. Di ujung dermaga kayu yang paling tua, di tempat Kiyo dulu berbicara dengan camar, mereka berhenti.
Laut teluk itu tenang, berwarna jingga keunguan, dan pada awalnya tidak ada apa-apa di sana.
Lalu air di tengah teluk membengkak.
Permukaan itu naik perlahan seperti bukit yang tumbuh, membelah menjadi air terjun kecil yang mengalir ke segala arah, dan dari bawahnya muncul punggung kelabu yang luas seperti pulau kecil. Mata biru muda sebesar roda kereta terbuka di tepi air, menemukan dermaga, menemukan mereka, dan suara itu — lembut, dalam, dan bergetar di dalam tulang lebih daripada di telinga — mengisi seluruh teluk:
‘Kau lama sekali, Kiyo.’
Lenard tidak bergerak. Mulutnya terbuka, matanya sebesar piring, dan seluruh tubuh kecilnya bergetar bukan karena takut, melainkan karena kebahagiaan yang terlalu besar untuk badan sekecil itu. “Eiddwen,” bisiknya. Lalu lebih keras, dengan tangan melambai sekuat tenaga: “EIDDWEN!”
‘Dan kau sudah jadi adipati sekarang, anak singa.’ Paus raksasa itu bergerak mendekat dengan keanggunan yang tidak masuk akal untuk ukurannya, sampai hidungnya hampir menyentuh ujung dermaga. ‘Burung-burung menceritakan semuanya. Aku bangga. Dulu kau menangis di punggungku karena takut jatuh ke laut.’
“Aku tidak pernah takut jatuh!”
‘Kau menangis dua kali. Sekali waktu ombak besar, sekali waktu ada ikan melompat.’
“Eiddwen!” Lenard memprotes dengan muka merah, sementara di belakangnya Emeteria berdiri kaku seperti tiang, menghadapi kenyataan bahwa makhluk sebesar kapal perang sedang mengobrol dengan tuan mudanya tentang ikan yang melompat.
Kiyo duduk di tepi dermaga dengan kaki menjuntai di atas air, seperti duduk di tepi kolam ikan. “Kau berenang jauh, paus tua. Camar bilang kau bosan menunggu.”
‘Aku bukan bosan. Aku khawatir.’ Suara Eiddwen turun lebih dalam, dan mata birunya yang besar memandang Kiyo dengan sesuatu yang menyerupai kesungguhan. ‘Laut tidak tenang akhir-akhir ini, Kiyo. Itulah sebabnya aku datang. Ada hal-hal yang harus kau dengar sebelum kalian melanjutkan ke utara.’
Kiyo berhenti bercanda. “Katakan.”
‘Perahu-perahu besi berlambang gajah itu — aku sudah melihatnya lagi. Bukan satu, bukan dua. Selama sepuluh hari terakhir, mereka bergerak ke utara mengikuti garis pantai, berlayar malam, bersembunyi siang di teluk-teluk kecil. Aku menghitung sebelas perahu di rombongan terakhir.’ Eiddwen menggerakkan siripnya pelan, dan ombak kecil menjalar sampai ke kaki dermaga. ‘Mereka tidak membawa jarahan kali ini. Perahu-perahu itu penuh orang dan senjata, dan mereka menuju ke tempat yang sama dengan kalian: utara. Ke muara-muara sungai di bawah tanah singa.’
Emeteria akhirnya menemukan suaranya. “Sebelas perahu besi. Itu… itu pasukan sebenarnya.”
‘Aku tua, manusia berbulu. Aku sudah melihat banyak armada datang dan pergi, dan aku tahu bedanya perampok yang pulang membawa jarahan dengan pasukan yang berangkat berperang.’ Eiddwen memandang Lenard dengan mata yang lembut. ‘Mereka bergerak karena takhta sudah menyatakan mereka musuh, dan mereka tahu takhta akan datang ke pulau mereka. Jadi mereka menyerang lebih dulu, di tempat yang paling jauh dari bantuan Raja: di utara. Di rumah anak ini.’
Angin laut berhembus di antara mereka, membawa dingin yang bukan dari air.
“Berapa lama sampai mereka tiba?” tanya Kiyo.
‘Dengan layar dan arus, dua minggu. Mungkin kurang, kalau penyihir mereka mendorong. Aku berenang tiga hari tanpa tidur untuk mendahului mereka.’ Paus itu mengeluarkan suara panjang yang rendah, seperti keluhan laut dalam. ‘Kiyo, aku tidak bisa ikut ke darat. Tapi laut adalah halamanku. Kalau kalian butuh aku, panggil lewat burung mana pun yang bersayap. Dan kalau perahu-perahu besi itu masuk ke perairan dangkal…’ mata biru itu berkilat dengan sesuatu yang jarang terlihat pada makhluk setua itu, ‘…katakan pada mereka, paus tua ini masih ingat cara menghancurkan kapal.’
Lenard menganga. “Eiddwen, kau mau bertarung untuk kami?”
‘Untukmu, anak singa? Aku sudah bertarung melawan lebih buruk dari perahu besi, di tahun-tahun ketika laut masih muda.’ Ia bergerak mundur perlahan, air berdesir di sekitarnya. ‘Sekarang pergilah. Waktu kalian lebih pendek dari jarak mereka. Dan Kiyo—’
“Hm?”
‘Kau berjanji akan sering mengunjungiku. Ini baru satu kali, dan aku yang datang. Utangmu bertambah, manusia aneh.’
Untuk pertama kalinya sejak teluk itu, Kiyo tertawa. “Catat saja. Aku selalu membayar utangku, meskipun kadang bunganya menyebalkan.”
oOo
Malam itu juga, di ruang peta losmen, seluruh rencana perjalanan dirobek dan ditulis ulang.
“Dua minggu.” Francis mengetuk titik di peta — muara-muara sungai di pesisir utara wilayah Aurum. “Kalau Behemoth mendarat di muara-muara ini, mereka bisa memotong jalan pantai, membakar desa-desa nelayan, dan mengepung utara dari sisi yang paling tidak dijaga. Benteng-benteng utara menghadap ke darat, ke perbatasan. Pesisir kita terbuka.”
“Dan kita tidak bisa bergerak secepat perahu,” kata Emeteria. “Dari sini ke kediaman masih enam hari. Ke pesisir, sembilan.”
“Maka kita tidak bergerak lebih cepat. Kita membuat yang lain bergerak.” Francis menarik tiga lembar kertas ke arahnya dan mulai menulis dengan tangan yang stabil. “Satu: surat ke garnisun pesisir, perintah siaga penuh dan penarikan desa-desa ke benteng dalam. Dua: surat ke Velvela Grimmwolf — wilayah timur berbatasan dengan muara timur; serigala punya alasan sendiri untuk tidak ingin Behemoth di sungai mereka. Tiga—” ia berhenti menulis, dan wajahnya mengeras “—surat ke Dewan Aurum. Semua pasukan keluarga dikumpulkan di kediaman utama sampai aku tiba.”
Kiyo, yang bersandar di kusen jendela dengan mata pada laut yang menggelap, berkata tanpa menoleh: “Tambahkan satu baris di suratmu untuk Dewan, Paman Francis.”
“Baris apa?”
“Jangan beri tahu siapa pun dari mana informasi ini datang.” Kiyo menoleh, dan matanya tidak hangat sama sekali. “Rute Aurum bocor musim gugur lalu. Rute istana bocor bulan lalu. Dan sekarang, sebelas perahu besi bergerak ke utara — tepat setelah takhta mengumumkan perang. Seseorang di rumahmu masih membisikkan hal-hal kepada laut. Kalau dia tahu kita sudah tahu, dia akan bersembunyi lagi seperti juru tulis itu.”
Francis menatapnya, lalu perlahan mengangguk dan kembali menulis — kali ini dengan kalimat yang lebih hati-hati, lebih samar, dan lebih berbahaya bagi siapa pun yang membacanya dengan maksud salah.
Di dermaga yang gelap, jauh di bawah jendela, camar kelabu hinggap di tiang lampu dan mendengarkan semuanya dengan kepala miring, sebelum terbang ke utara lebih dulu daripada burung mana pun yang disewa manusia.