Empat hari dari Velles, di sebuah pos perbatasan tua di antara wilayah Grimmwolf dan tanah utara, langit menumpahkan hujan yang tidak berhenti sejak sore. Pos itu — menara batu dua lantai dengan halaman berpagar kayu — biasanya dijaga enam orang; malam itu diisi tiga puluh: sisa pengawal kerajaan, penjaga Aurum, satu komandan muda Grimmwolf yang kebetulan sedang patroli dan memutuskan bergabung, dan satu paus di teluk yang jauh yang tidak bisa ikut bertarung tetapi sudah mengirimkan peringatannya.
Hujan deras menutupi banyak hal. Itulah sebabnya mereka datang malam itu.
Kiyo tahu dua jam sebelumnya. Ia berdiri di menara pos sejak senja, basah oleh hujan yang tidak ia hiraukan, dan mata kanannya membaca hutan pinus di seberang jalan raya: warna-warna yang bergerak di antara batang-batang, diam terlalu lama di satu tempat, lalu berpindah dengan terlalu berhati-hati. Banyak. Jauh lebih banyak daripada tiga pengukur di tepi hutan kemarin.
Dan di tengah warna-warna itu, satu helai yang ia kenali: abu-abu berasap, tipis, sabar.
‘Jadi kau yang memandu mereka,’ batin Kiyo, dan sudut bibirnya terangkat di dalam hujan. ‘Kukira aku sudah memperingatkanmu tentang asap abu-abu di belakang keretaku.’
Ia turun ke halaman dengan langkah santai, menemui Francis dan komandan muda Grimmwolf — seorang serigala bernama Ruvan yang masih sangat muda tetapi punya mata yang tenang.
“Sebentar lagi pos ini diserang,” kata Kiyo, seolah memberitahu menu makan malam. “Dari hutan pinus, dua arah. Jumlahnya lima puluhan, campuran pedang bayaran dan orang-orang Simpul. Mereka dipandu pengintai yang sangat bagus, jadi mereka tahu persis letak jendela, pintu, dan tempat kuda. Dan karena mereka tetap datang setelah melihat tiga puluh orang di dalam, berarti harga kepala kita baru saja naik.”
Ruvan muda menelan ludah, tetapi tangannya sudah memegang gagang pedang dengan benar. “Saranmu?”
“Mereka mengharapkan kita tidur. Jadi mari kita berpura-pura tidur.”
oOo
Pos perbatasan itu gelap gulita ketika para penyerang akhirnya bergerak, lewat tengah malam, di bawah hujan yang masih deras. Mereka datang seperti air — melampaui pagar di tiga titik sekaligus, tanpa suara, tanpa lampu, dan separuh kekuatan langsung menuju menara tempat jendela kamar Duke kecil berada.
Separuh itulah yang menemukan bahwa kamar itu kosong, dan bahwa halaman di belakang mereka sudah tidak kosong.
“Sekarang,” kata Francis dari atap menara.
Segel Emeteria menyala di empat sudut halaman serentak, membanjiri lumpur dengan cahaya putih yang menyilaukan. Panah-panah turun dari menara ke titik-titik yang sudah diukur. Dan Kiyo — Kiyo sudah berada di dalam hutan pinus, di tengah barisan belakang penyerang, sebelum ada satu pun dari mereka yang sadar bahwa perangkap itu berjalan dua arah.
Pertarungan di halaman keras dan pendek. Penjaga perak-biru dan serigala Grimmwolf bertempur dari posisi yang disiapkan, dan para pedang bayaran — yang mengharapkan korban tidur — mendapati diri mereka terjepit di antara tembok menara dan barisan perisai. Francis turun dari atap dengan benang-benang sihir keemasan melayang dari jari-jarinya; setiap benang yang menyentuh pergelangan kaki musuh menariknya ke tanah dengan bunyi gedebuk di lumpur.
Di dalam hutan, pertarungan yang sebenarnya bahkan tidak pantas disebut pertarungan.
Kiyo bergerak di antara batang-batang pinus seperti bagian dari hujan itu sendiri. Lima penjaga barisan belakang roboh tanpa tahu dari arah mana. Yang keenam sempat berteriak — sekali, pendek — sebelum sesuatu menjatuhkannya ke akar pohon. Dan di tengah barisan itu, sehelai asap abu-abu meledak keluar dari tubuh yang mulai larut, berusaha menyebar ke dalam hujan—
—dan bertemu dengan tangan yang sudah menunggu di udara.
“Dua kali,” kata Kiyo, mencengkeram tengkuk yang memadat di dalam kabut itu dan membantingnya ke batang pinus. “Aku bilang dua kali jangan muncul di belakang keretaku, dan kau muncul membawa lima puluh orang. Aku tersinggung, sungguh.”
Laki-laki rubah itu terengah di dalam lumpur, dan kali ini tidak ada lagi nyaring di suaranya. “Kau… kau yang dari hutan itu. Saudagar rempah, katamu.”
“Kau percaya? Itu salahmu sendiri.” Kiyo berjongkok di sampingnya. “Sekarang dengarkan. Kau bukan pembunuh — kau pengintai, dan pengintai hidup dari informasi. Jadi mari kita bicara sebagai dua profesional. Siapa yang menyewa rombongan ini?”
“Kau tahu aku tidak bisa—”
“Perantara, ya, ya, aku tahu aturan mainmu.” Kiyo mengangkat sesuatu dari saku dalam jubah laki-laki itu — sebuah kantong kecil berisi koin, yang ia buka dan tuangkan ke telapak tangannya. Koin-koin emas baru berkilau di bawah cahaya segel dari halaman. “Tapi aku tidak bertanya siapa namanya. Aku hanya ingin melihat uangnya.”
Ia membalik satu koin. Di sisinya, di bawah cap resmi tambang utara, ada tanda kecil yang bukan bagian dari cap: sebuah kincir angin kecil berbilah empat, ditorehkan dengan alat halus.
“Kincir angin,” gumam Kiyo.
“Itu tidak berarti apa-apa,” kata laki-laki rubah itu cepat — terlalu cepat.
“Orang yang bilang ‘tidak berarti apa-apa’ biasanya sedang berarti segalanya.” Kiyo menatapnya dengan mata kanan yang abu-abu itu, dan laki-laki rubah itu merasakan — tanpa tahu bagaimana — bahwa sesuatu di dalam dirinya sedang dibaca seperti papan pengumuman. “Tanda kincir ini cap pedagang perantara. Uang dari tambang utara tidak keluar lewat tangan bangsawan; keluar lewat kongsi dagang. Dan kongsi dagang terbesar di utara bagian selatan—” ia mengingat peta wilayah Aurum yang dipelajarinya di kereta, selatan Aurum, tanah yang diurus sepupu tua keluarga singa “—berkantor di kota kincir angin, di wilayah yang dikelola Lord Dario.”
Laki-laki rubah itu memejamkan mata. Ia tidak membenarkan, tidak membantah — tetapi auranya berkedip seperti lidah api yang tertiup, dan kedipan itu adalah jawaban yang Kiyo butuhkan.
“Terima kasih,” kata Kiyo dengan sungguh-sungguh, lalu membuat laki-laki itu pingsan dengan satu tekanan di leher. “Kau pengintai yang berguna sampai akhir.”
oOo
Fajar datang dengan hujan yang akhirnya menyerah menjadi gerimis. Halaman pos perbatasan itu penuh dengan tawanan yang diikat berjajar, dan harganya: dua penjaga perak-biru terluka, satu serigala Grimmwolf dengan bahu robek, dan seorang pelayan dengan tangan terbakar panah api. Tidak ada yang gugur — tetapi semua orang tahu itu hanya karena seseorang berdiri di menara sejak senja membaca hutan.
Lenard keluar ke halaman di pagi hari dengan izin Emeteria, memandang barisan tawanan itu dengan wajah yang berusaha keras menjadi wajah seorang duke. Ia berhenti di depan pelayan yang tangannya terbalut, dan bertanya dengan suara yang bergetar sedikit: “Sakit?”
“Sudah tidak, Yang Mulia kecil,” jawab pelayan itu, kaget dan terharu sampai salah bicara. “Maksud saya — Yang Mulia. Sudah tidak sakit.”
“Terima kasih sudah menjaga kami.” Lenard membungkuk kecil, persis seperti yang tidak pernah diajarkan protokol mana pun, dan pelayan itu kemudian akan menceritakan momen itu sampai ke cucunya.
Di menara, Kiyo menyerahkan koin bertanda kincir itu kepada Francis tanpa kata. Francis membaliknya di bawah cahaya pagi, dan wajahnya — untuk pertama kalinya sejak lembah — menunjukkan sesuatu yang lebih gelap daripada lelah.
“Kongsi Kincir Selatan,” katanya pelan. “Kantornya ada di wilayah Dario. Tapi koin ini bisa berpindah tangan seratus kali—”
“Bisa. Dan juru tulis itu juga bisa saja benar-benar gantung diri, dan Nils juga bisa saja kabur karena cinta.” Kiyo bersandar ke dinding menara. “Kita berdua tahu ke mana semua jalan ini menuju, Paman Francis. Yang belum kita punya hanyalah bukti yang bisa dibawa ke Dewan tanpa ditolak sebagai fitnah terhadap keluarga tertua.”
“Kalau Dario benar di balik semua ini—”
“Maka ketika kita sampai di rumah, orang yang menyambut kita di gerbang dengan senyum paling lebar adalah orang yang mencoba membunuh Lenard tiga kali.” Kiyo memandang ke arah utara, ke garis pegunungan yang mulai terlihat di kejauhan. “Berhati-hatilah mulai sekarang. Medan paling berbahaya bukan hutan, bukan lembah, bukan laut. Medan paling berbahaya adalah ruang makan keluargamu sendiri.”