Dario an Gallia pulang dari pantai dengan tujuh belas mayat Behemoth di belakang keretanya dan senyum yang sudah dipoles sejak muara.
“Pantai utara aman,” lapornya di depan gerbang, cukup keras untuk didengar pasar. “Garnisun kita mematahkan dua pendaratan. Sial sekali aku tidak ada di sini ketika tamu besar kemarin datang berkunjung—konon kunjungannya berakhir damai? Aneh sekali. Musuh yang membunuh orang kita bertahun-tahun, lalu pergi begitu saja.”
Ia mengucapkannya sambil menatap Francis. Senyumnya tidak bergerak, tetapi matanya mengajukan pertanyaan yang berbahaya: ‘apa yang kau tukar dengan nyawa kami?’
Francis membalas senyum itu dengan senyumnya sendiri—yang lebih tua, lebih sabar, dan jauh lebih menakutkan bagi orang yang tahu cara membacanya.
“Kau akan mendengar laporannya lengkap,” kata Francis, “di sidang. Malam ini. Tujuh kursi, tertutup.”
---
Dewan Tujuh Kursi adalah ruang paling tua di rumah Hakai—lebih tua dari kadipaten itu sendiri. Tidak ada jendela. Tujuh kursi kayu hitam melengkung menghadap meja batu, dan di dinding belakang, lambang kura-kura raksasa dipahat dari satu bongkah batu yang konon dibawa dari laut oleh leluhur pertama.
Malam itu kursi-kursi itu terisi: Francis di kursi wali. Emeteria di kursi segel. Seneschal Oswin yang tua dan bungkuk. Kapten Garnisun Vera. Kepala Juru Tulis Anselm. Dario di kursi kerabat. Dan satu kursi kosong—kursi duke—yang sudah lima tahun tidak diduduki karena penghuninya terlalu kecil untuk menjangkau lantai dengan kakinya.
“Sidang dibuka,” kata Francis. “Agendanya satu: pengkhianatan.”
Ia tidak membuang waktu. Satu per satu ia mengeluarkan barang-barang itu dari peti besi dan meletakkannya di atas meja batu seperti seorang juru sita yang sabar.
Pertama, sebilah perintah tertulis—perintah yang mengirim Kiyo ke pantai malam sebelum serangan menara. “Dicap dengan segel Dewan Aurum,” kata Francis. “Segel itu ada dua di dunia ini. Satu di ibu kota. Satu,” ia menatap Dario, “di laci kerabat kita yang baru pulang dari pantai.”
Kedua, sebungkus surat-surat Oskar—Kapten Jaga Oskar, yang tiga hari lalu digantung di tembok barat setelah mengaku dibayar selama tiga tahun. Surat-surat itu tidak pernah menyebut nama. Tetapi uangnya—koin-koin yang disita dari gorong-gorong—bertanda cap yang sama dengan koin-koin dari serangan pos perbatasan. Kongsi Kincir Selatan. Wilayah yang mengirimkan upeti kepada satu nama.
Ketiga, seekor kanari dalam sangkar, mati. “Kanari ini,” kata Francis, “menjadi saksi termahal yang pernah kumiliki. Ada tiga versi rencana pertahanan menara yang beredar—tiga versi berbeda, diberikan kepada tiga orang berbeda, tanpa ada yang tahu ada versi lain. Behemoth menyerang menara barat yang kosong. Versi yang menyebut menara barat penuh hanya dipegang satu orang.”
Ruangan itu sedingin kuburan. Vera menggeram pelan di tenggorokannya, seperti anjing yang menahan diri. Anselm memandangi mejanya. Oswin menutup matanya.
“Kau menyusun ini dengan indah,” kata Dario akhirnya. Suaranya tenang. Terlalu tenang—seperti orang yang sudah memainkan percakapan ini di kepalanya bermalam-malam. “Pita-pita kecil. Koin-koin. Burung mati. Sangat indah, Francis. Tetapi kau lupa satu hal.” Ia bangkit berdiri. “Aku kerabat duke. Aku an Gallia, darah dari garis istri pertama. Kalau kau menyeretku dengan tuduhan yang disusun dari koin dan burung, kau harus punya lebih dari itu. Kau harus punya alasan mengapa aku melakukannya—dan alasan itu tidak ada, karena aku mencintai rumah ini.”
“Kau membenci rumah ini,” kata Francis. “Sejak hari Lenard lahir dan bukan anakmu.”
“Anakku?” Dario tertawa, dan kali ini ada sesuatu yang patah di tengah tawanya. “Aku tidak pernah punya anak. Aku punya keponakan yang batunya lebih dia percaya daripada pamannya.”
Sunyi.
Dan Dario—mungkin karena ia tahu ini malam terakhirnya berdiri bebas, mungkin karena dua puluh tahun menelan ludah akhirnya habis—melakukan hal yang tidak bisa ditarik kembali. Ia menunjuk ke pintu, ke arah kamar-kamar di seberang halaman.
“Kalian semua duduk di sini menghakimi aku,” katanya, dan suaranya naik, “sementara monster itu tidur seratus langkah dari tempat kita duduk! Kalian tahu apa dia! Keluar dari batu—batu yang tenggelam ke laut selama seratus tahun—dan kalian memanggilnya orang! Aku melihatnya berdiri di depan Behemoth kemarin, sendirian, dan Behemoth mundur. MUNDUR! Manusia tidak membuat Behemoth mundur. Manusia tidak keluar dari kepompong yang berdenyut seperti jantung. Kalian ingin tahu kenapa rumah ini diserang dari segala arah? Karena rumah ini menyimpan sesuatu yang bukan milik dunia ini, dan dunia ini datang untuk mengambilnya kembali!”
Napasnya memburu. Tidak ada yang bergerak.
“Kalian semua melihatnya,” kata Dario, lebih pelan, hampir memelas. “Kalian semua melihat apa yang kulihat. Kalian hanya tidak berani mengucapkannya. Aku satu-satunya yang—”
“Paman Dario.”
Pintu ruang dewan terbuka.
Lenard berdiri di ambang pintu dengan piyama dan jubah kecilnya, rambutnya masih acak-acakan dari tidur, jimat bulu burung tergenggam di satu tangan dan ikan kayu Sultan di tangan lainnya. Di belakangnya, pelayan tua Mistress Bara terengah-engah—jelas ia sudah berusaha mencegah dan gagal, karena anak lima tahun itu mengatakan kalimat yang tidak bisa dibantah siapa pun di rumah ini: “Aku dukenya.”
Lenard berjalan masuk. Kakinya memang tidak menjangkau lantai ketika ia naik ke kursi duke—kursi yang kosong lima tahun—tetapi ia duduk di sana, tegak, dan meletakkan Sultan di atas meja batu di depannya seperti seorang raja meletakkan pedang.
“Pelayan-pelayan berbisik,” kata Lenard. Suaranya kecil, tetapi ruangan itu begitu sunyi sehingga setiap kata jatuh seperti batu ke sumur. “Mereka bilang Paman Dario mengatakan Paman Kiyo monster. Mereka bilang Paman Dario bilang batunya bukan milik dunia ini.” Ia menatap pamannya. Anak lima tahun itu menatap lelaki dewasa itu, dan tidak menangis. “Aku mau mengatakan sesuatu, dan aku mengatakannya sebagai duke, bukan sebagai keponakan.”
Dario menelan ludah. “Lenard—”
“Ketika aku menangis di malam hari,” kata Lenard, “waktu aku masih kecil sekali, waktu Ayah tidak ada dan semua orang sibuk dan takut—batu itu yang datang. Batu itu mendengar. Dia menjawab tangisanku waktu kalian semua tidak datang.” Tangannya yang kecil memegang tepi meja. “Dia bukan milik dunia ini? Mungkin. Kalau begitu aku bersyukur dia datang ke sini. Karena waktu aku memanggil, yang menjawab bukan kalian.”
Tidak ada satu pun lelaki dan perempuan dewasa di ruangan itu yang berani bergerak. Emeteria menunduk, dan ada air yang jatuh ke tangannya sendiri. Oswin membuka matanya dan memandangi langit-langit seperti orang yang berterima kasih pada seseorang. Vera tidak menggeram lagi—rahangnya terkatup rapat, dan matanya basah dan keras sekaligus.
“Francis,” kata Lenard, dan suaranya bergetar sedikit sekarang, karena ia tetap anak lima tahun yang bangun tengah malam, “aku titah sebagai duke. Tahan Paman Dario untuk diperiksa. Periksa semuanya—uangnya, suratnya, segelnya. Kalau dia tidak bersalah, dia keluar dan aku minta maaf di depan pasar. Kalau dia bersalah—” Ia berhenti, menarik napas, dan menyelesaikannya dengan cara anak-anak menyelesaikan hal yang terlalu besar untuk mereka: dengan jujur. “Kalau dia bersalah, aku tidak mau tahu dulu malam ini. Aku mau tidur.”
Ia turun dari kursi. Mengambil Sultan. Dan berjalan keluar melewati pamannya tanpa menoleh—tetapi di ambang pintu ia berhenti, dan semua orang mendengarnya berkata, pelan, bukan kepada siapa-siapa:
“Kamu satu-satunya yang tidak datang, Paman. Itu saja masalahnya sebenarnya.”
Pintu tertutup.
Francis berdiri. “Kapten Vera. Kerabat kita Dario an Gallia kutitahkan dalam tahanan rumah malam ini, dan besok dipindahkan ke sel pemeriksaan. Semua kamar dan kertasnya disegel.” Ia menatap Dario untuk terakhir kalinya. “Kau benar satu hal. Behemoth mundur bukan karena manusia. Mereka mundur karena orang yang kau sebut monster itu berdiri sendirian di depan gerbang dan tidak mundur—untuk rumah ini. Untuk anak yang baru saja membelanya. Kau tidak tahu bedanya monster dan manusia, Dario. Itu pengkhianatanmu yang pertama. Yang lainnya hanya turunannya.”
Vera mengambil lengan Dario. Dan Dario—yang dua puluh tahun tersenyum—tidak tersenyum lagi. Wajahnya kosong seperti rumah yang ditinggalkan, dan ia berjalan keluar di antara dua pengawal tanpa mengucapkan satu kata pun.
Di kursi segel, Emeteria akhirnya menangis, diam-diam, untuk kakak iparnya yang sudah lama mati yang pernah memintanya menjaga rumah ini—dan untuk suami kakaknya itu yang tidak pernah ia kenal sama sekali.