Gerimis mulai turun ketika Kiyo menuruni tangga gudang.
Pemanah di atap menunggu perintah Francis. Francis mengangkat satu tangan—bukan untuk menembak. Untuk menahan. Ia tahu. Kalau anak panah itu lepas dan mengenai Raga, Kiyo tidak akan pernah memaafkan dirinya. Dan kalau anak panah itu meleset, paman dan keponakan itu sudah menyerahkan seorang duke ke tangan binatang buas.
“Tuan Muda,” kata Francis ke cincinnya, pelan sekali. “Menjauhlah dari jendela.”
Di jalan, Raga melepas jubahnya. Di bawahnya tidak ada zirah. Hanya kain lusuh dan tubuh yang tidak terlalu besar—tetapi setiap ototnya padat seperti akar pohon tua. Liontin pecahan itu berayun di dadanya.
“Aturan,” kata Raga. “Satu lawan satu. Sampai satu dari kita berhenti bergerak. Kalau aku berhenti, anak buahku mundur dari utara—aku sudah memerintahkannya, dan anak buahku menaati perintah mati sekalipun. Kalau kau yang berhenti, kau ikut aku.”
“Kalau ada satu anak panah lepas dari atap,” kata Kiyo, “kesepakatan batal.”
Raga tertawa. “Kita mengerti satu sama lain.”
Mereka mulai bergerak berputar di atas batu jalan yang basah.
Kiyo menyerang lebih dulu—cepat, rendah, pukulan ke rusuk yang seharusnya meremukkan pintu gudang. Raga menangkisnya dengan lengan bawah, dan bunyi yang keluar bukan bunyi daging bertemu daging, melainkan bunyi dua batu diadu. Kiyo mundur setengah langkah, merasakan lengannya sendiri berdentum.
‘Kuat. Seperti memukul Behemoth yang menyusut.’
Raga balas menyerang. Tidak ada teknik yang bisa dinamai—tidak ada gaya istana, tidak ada kaidah perguruan. Ia bergerak seperti banjir: tidak menyerang titik, menyerang seluruh ruang. Kiyo menangkis dua pukulan, menghindari yang ketiga, dan yang keempat mendarat di bahunya.
Dunianya bergeser.
Kiyo terlempar ke dinding gudang, dan dinding itu retak. Untuk pertama kalinya sejak ia bangun dari kepompongnya, tubuhnya merasakan sesuatu yang ia kira sudah tidak ada: sakit yang sebenarnya. Ia bangkit perlahan, menggerakkan bahunya, dan menemukan bahwa bahunya masih bisa bergerak.
“Bagus,” kata Raga, dan matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan mainan. “Bagus sekali. Tidak ada yang masih berdiri setelah itu. Tidak satu pun, dalam lima tahun.”
Kiyo menyeringai. ‘Lima tahun. Dia baru lima tahun begini.’ Ia meludahkan sedikit darah ke batu jalan. “Jangan cepat-cepat senang. Aku juga baru pertama kali kena.”
Mereka bertemu lagi di tengah jalan.
Kali ini Kiyo tidak menahan. Ia memukul, dan Raga menangkis, dan pukulan yang tertangkis itu tetap menggetarkan lengan Raga sampai ke bahu. Pukulan, tangkisan, hantaman lutut, siku—batu jalan di bawah mereka pecah sedikit demi sedikit, dan air gerimis menggenangi retakannya. Orang-orang yang menonton dari balik jendela tidak melihat dua orang berkelahi. Mereka melihat dua bayangan yang terlalu cepat untuk diikuti, dan mendengar bunyi seperti tukang batu yang gila bekerja di tengah hujan.
Tetapi mata kanan Kiyo—mata abu-abu yang melihat apa yang tidak terlihat—sedang bekerja.
Aura Raga merah tua, hampir hitam, dan berdenyut. Tetapi denyutnya tidak keluar dari dalam tubuhnya. Denyutnya masuk—dari liontin di dadanya, mengalir lewat kulit, menyebar ke otot, baru keluar lagi menjadi tenaga. Setiap kali Kiyo menekan dan Raga terdesak, denyut itu makin cepat, dan tubuh Raga pulih lebih cepat dari yang seharusnya.
‘Bukan dia. Batunya. Dia tidak kuat—dia ditopang.’
Dan Kiyo juga melihat hal lain: setiap denyut yang masuk ke tubuh Raga meninggalkan sesuatu yang hitam dan tipis, seperti jelaga, di tepian aura lelaki itu. Jelaga itu tidak hilang. Ia menumpuk. Pelan-pelan, bertahun-tahun, jelaga itu makan tuan rumahnya.
“Kau,” kata Kiyo di sela pukulan, “sedang sekarat.”
Pukulan Raga berhenti sepersekian detik—dan itu cukup. Kiyo tidak memukul wajahnya. Tangan Kiyo menyambar ke bawah, ke dada, ke tali kulit yang menggantungkan pecahan itu—dan memutusnya.
Liontin itu jatuh ke genangan air.
Apa yang terjadi kemudian membenarkan semuanya. Raga tidak mengejar Kiyo. Ia tidak memukul. Dengan kecepatan yang tadi ia pakai untuk berkelahi, lelaki besar itu jatuh berlutut dan menyambar pecahan itu dari air, memeluknya ke dada dengan kedua tangan, seperti ibu menyambar anaknya dari api. Seluruh tubuhnya gemetar.
Jalan itu sunyi. Hanya hujan.
Raga bangkit perlahan. Ia mengikatkan kembali tali yang putus dengan simpul yang gemetar, dan selama itu ia tidak sekali pun melepaskan pecahannya dari genggaman. Ketika ia menengadah, ada darah di sudut bibirnya—bukan dari pukulan Kiyo. Darahnya hitam.
“Jadi kau melihatnya,” kata Raga, serak.
“Aku melihatnya,” kata Kiyo.
“Berapa lama, menurut matamu?”
Kiyo menimbang. “Lima tahun. Mungkin enam. Sebelum jelaga itu sampai ke jantungmu.”
Raga tertawa—batuk sebenarnya, yang dibuatnya terdengar seperti tertawa. “Kau tahu apa yang lucu? Aku menemukannya di reruntuhan, bertahun-tahun lalu, dan sejak hari itu aku tidak pernah lapar, tidak pernah dingin, tidak pernah kalah. Kupikir aku menemukan dewa.” Ia mengusap darah hitam dari bibirnya. “Ternyata aku menemukan makam. Makamku sendiri, yang kugali dengan memakai.”
“Lepaskan.”
“Tidak bisa.” Jawabannya datang terlalu cepat, terlalu jujur. “Itu masalahnya, kura-kura. Aku sudah tidak bisa. Satu hari tanpa dia dan tanganku gemetar seperti orang tua. Dua hari, dan aku—” Ia berhenti. Menelan. “Kau sudah membuktikan apa yang perlu kau buktikan hari ini. Aku bisa berhenti merahasiakannya di depanmu. Lega, sebenarnya.”
“Mundur dari utara,” kata Kiyo. “Sesuai kesepakatan.”
“Aku mundur dari utara.” Raga mengangkat tangannya ke arah kolomnya di luar gerbang—satu isyarat, dan para pembawa bendera itu mulai berbalik. “Bukan karena kau memutus taliku. Karena kau orang pertama yang membuatku berhenti bertanya-tanya apakah ada orang lain di dunia ini yang seperti aku. Ada. Dan dia bukan fakir.” Ia berbalik, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
Hujan mulai deras.
“Kiyo Hakai,” serunya, tanpa menoleh. “Kau menolak tawaranku, jadi aku tidak wajib memberimu apa-apa. Tetapi kau memutus taliku dan tidak mengambil batuku—padahal kau bisa, padahal tanganmu sudah di sana. Jadi dengarkan ini, gratis.”
Kiyo menunggu.
“Kau mencari orang yang membayar kematian bajak lautmu,” kata Raga. “Aku sudah menelusuri uangnya, karena aku tahu kau akan menelusuri uangnya, dan aku ingin punya barang untuk dijual. Uangnya tidak berhenti di duke kecilmu yang tersenyum itu. Dia hanya tangan.” Raga menoleh, dan gerimis membasahi wajahnya. “Uangnya datang dari jauh. Dari kota tempat raja-raja duduk. Dari orang-orang yang duduk sangat dekat dengan takhta, dekat sekali, sampai tidak ada yang berani menghitung jari mereka.”
Lalu ia berjalan, dan hujan menelannya, dan kolom Behemoth mengikutinya keluar dari padang rumput—mundur, sungguh-sungguh mundur, meninggalkan utara seperti air yang surut dari pantai.
Kiyo berdiri di tengah jalan yang basah sampai kolom itu hilang dari matanya. Bahunya sakit. Ini pertama kalinya, dan ia mendapati dirinya tidak membencinya.
‘Aku tidak sendirian,’ pikirnya. ‘Dan entah kenapa, itu kabar baik dan kabar buruk sekaligus.’
Di atas atap, Francis menurunkan tangannya. Di kamar tengah, Lenard akhirnya bernapas.
Dan di selatan yang jauh, malam itu juga, seekor gagak terbang ke arah kota tempat raja-raja duduk—membawa berita bahwa utara tidak jatuh, dan bahwa anak batu itu sudah bertemu anak pecahan.