Mereka tidak bicara di ruang rapat. Mereka bicara di gudang kayu tua di tepi jalan, lima puluh langkah dari gerbang kediaman Aurum — tempat yang cukup dekat untuk membuat penjaga-penjaga di tembok mengacaukan saraf mereka, dan cukup jauh untuk membuat dua orang asing ini merasa seperti sedang minum teh di teras sendiri.
Raga — itu nama yang diberikannya begitu mereka duduk berhadapan di atas peti-peti garam, dengan atap bocor yang meneteskan sisa gerimis di antara mereka.
“Aku tidak punya nama pemberian,” katanya, mengupas jeruk dengan kuku ibu jarinya yang hitam. “Orang fakir tidak dinamai. Kami diberi nomor, atau diberi umpatan, tergantung suasana hati majikan. Jadi ketika aku merdeka, aku memilih sendiri. Raga. Karena hanya itu yang benar-benar kumiliki.”
Ia tidak tinggi, tidak besar — dilihat sekilas, di pasar mana pun, ia hanyalah laki-laki kurus berambut kusut dengan pakaian basah. Tetapi Kiyo duduk menghadapinya dengan postur yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia ini: kedua kaki di lantai, kedua tangan di pangkuan, tidak bersandar. Tubuhnya tahu sebelum kepalanya bahwa di depannya ada sesuatu yang harus dihormati dengan cara lama.
“Kau bukan fakir biasa,” kata Kiyo.
“Dan kau bukan fakir sama sekali.” Raga menyeringai, membelah jeruknya. Bau asam manis mengisi gudang. “Fakir tidak berbau seperti kau. Kami berbau seperti tanah dan keringat dan ketakutan. Kau berbau seperti…” ia mencium udara dengan hidungnya, tanpa malu “…seperti dupa kuil tua. Seperti sesuatu yang disembah orang sebelum dunia ini ada. Pecahan-pecahan batumu juga berbau begitu. Itu sebabnya aku menyimpannya.”
“Ceritakan tentang pecahannya.”
“Ah, langsung ke dagangan.” Raga tertawa senang, melempar seperempat jeruk ke udara dan menangkapnya dengan mulut. “Baik. Tiga tahun lalu, orang-orangku membersihkan sumur tua di belakang markas — kau tahu sumur yang mana — dan menemukan batu besar di dasarnya. Bukan batu biasa: palu tidak menggoresnya, api tidak memanaskannya, dan penyihir kami pingsan ketika mencoba membacanya. Batu yang keras kepala. Aku suka barang keras kepala.” Ia mengunyah. “Kami menggalinya keluar. Satu pecahan kecil terbelah ketika diangkat — sebesar ibu jari. Aku yang menyimpannya, karena benda itu hangat, dan karena ketika aku tidur menggenggamnya, aku bermimpi hal-hal yang tidak pernah dimimpikan orang seperti aku.”
Tangannya bergerak ke kerah bajunya, menarik seutas tali kasar. Di ujungnya, di atas dada kurus itu, tergantung sebuah pecahan batu kelabu dengan urat-urat yang menyerupai serat sutra membeku. Batu itu berdenyut — pelan, berirama, seperti detak.
Mata kanan Kiyo tidak bisa berkedip dari benda itu. Di dalam warna dunia yang biasa, pecahan itu bersinar merah tua dan dalam, lebih dalam dari apa pun yang pernah ia lihat — dan di tengah kedalamannya, ada sesuatu yang bergerak. Atau sesuatu yang menunggu.
“Sejak memakainya, aku berubah,” kata Raga datar. “Kekuatan datang seperti air pasang. Orang-orang bersih berkah itu, dengan sihir dan roh binatang mereka, mulai terlihat seperti anak-anak dengan mainan. Kau sudah melihatnya di lembah.” Ia menyimpan kembali pecahan itu ke balik bajunya, dan suaranya turun menjadi sesuatu yang lebih jujur. “Tapi tidak ada yang gratis, penghuni batu. Setiap tahun aku lebih kuat, dan setiap tahun aku lebih sedikit tidur, dan ada pagi-pagi ketika aku berkaca dan tidak ingat apakah yang di cermin itu aku, atau batu yang sedang memakai wajahku.”
Gudang itu hening sejenak, hanya tetesan atap.
“Lalu musim gugur lalu, batu induknya pecah,” lanjut Raga. “Pecahanku menjerit di dadaku seperti induknya memanggil, dan aku tahu: isinya bangun. Aku mengirim orang mencari ke mana-mana. Bayangkan kegembiraanku ketika laporan datang tentang seorang fakir berambut perak yang tidak bisa mati, berjalan ke arah singa utara sambil menggendong anak kecil.” Ia bersandar ke peti, menyilangkan kaki. “Dan sekarang di sinilah kita. Dua barang antik. Satu disimpan utuh oleh batu, satu digigitnya sedikit demi sedikit.”
“Kenapa kau menyerang utara?” tanya Kiyo. “Betul-betul kenapa. Bukan alasan perang.”
“Karena perutku tidak pernah lapar lagi, dan orang-orangku selalu lapar.” Raga mengangkat bahu. “Behemoth bukan kelompok perampok, penghuni batu. Behemoth adalah tempat pembuangan yang berdiri dan berjalan. Setiap orang di barisanku pernah dijual, dicap, dibuang — setengah darah, fakir, anak-anak yang tidak diinginkan siapa pun. Kerajaan Agungmu membangun kemakmurannya di atas punggung kami dan menyebutnya kitab suci. Jadi kami mengambil. Sederhana.”
“Termasuk mengambil nyawa Aryeh an Aurum dan istrinya,” kata Kiyo. “Termasuk anak lima tahun di dalam kerangkeng.”
Sesuatu bergerak di wajah Raga — singkat, dan hilang. “Itu pekerjaan yang disewa. Aku tidak berbohong tentang itu kepadamu. Seseorang membayar setengah harta karun untuk kereta itu, dan aku tidak bertanya kenapa, karena orang yang lapar tidak bertanya dari dapur mana roti datang.” Ia menatap Kiyo lurus. “Tapi kau dulu pembunuh bayaran. Aku bisa menciumnya dari caramu duduk — kau dan aku dibangun oleh tangan yang sama, di dunia yang berbeda. Jadi jangan berdiri di sampingku dan berpura-pura kau tidak mengerti cara kerja uang.”
Kiyo tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ketika ia akhirnya bicara, suaranya pelan. “Aku mengerti cara kerja uang. Aku tidak mengerti cara menjual anak kecil. Dan menurutku kau juga tidak — karena kalau kau benar-benar menjualnya, dia tidak akan dilempar ke sumur hidup-hidup. Dia akan dikubur di hutan seperti yang diminta pembeli.”
Itu menembus. Kiyo melihatnya menembus: di balik aura merah tua yang besar itu, sesuatu yang lebih kecil berkedip — seperti bara yang tertiup.
“Bubal melemparnya ke sumur untuk bermain-main,” kata Raga akhirnya. “Aku menghukumnya. Terlambat, dan tidak cukup, dan itu adalah dua kata yang paling sering kutempelkan pada diriku sendiri.” Ia berdiri, dan gudang itu terasa mengecil di sekitarnya. “Tapi kita berdua tahu percakapan ini bukan tentang masa lalu. Jadi inilah penawaranku, penghuni batu, dan aku hanya mengatakannya sekali.”
“Ikut aku ke Meridien. Bantu aku memahami apa yang kita bawa di dalam tubuh kita berdua — kau, dan batuku. Apa pun yang batumu itu, ia menyelamatkanmu utuh dan menghancurkanku pelan-pelan; aku ingin tahu cara membalikkan bagian kedua itu sebelum batu ini selesai memakanku.” Ia menghitung dengan jari. “Sebagai bayaran: pertama, Behemoth mundur dari utara malam ini juga, dan tidak akan pernah lagi menginjak tanah singa. Kedua—” ia tersenyum miring “—kuberi tahu siapa yang membayar kematian Aryeh. Bukan nama kaki tangannya. Nama yang menandatangani uangnya.”
Angin masuk lewat celah atap. Di kejauhan, samar, terdengar suara penjaga di tembok bergeser gelisah.
“Dan harga yang kau minta,” kata Kiyo akhirnya, “adalah aku meninggalkan anak itu.”
“Anak itu punya paman, punya penyihir, punya seribu prajurit.” Raga mengangkat bahu lagi. “Kau? Kau punya apa kalau bukan dirimu sendiri? Aku menawarkanmu jawaban tentang apa dirimu, penghuni batu. Satu-satunya orang di dunia ini yang bisa memberimu jawaban itu adalah aku, karena aku satu-satunya yang memegang sisa rumahmu.”
Kiyo berdiri perlahan dari petinya. Ia berdiri dengan cara yang sama seperti di awal — kedua kaki di tanah, tangan diam — dan ketika ia menjawab, tidak ada cengiran di wajahnya, tidak ada lagu main-main di suaranya.
“Kau salah besar kalau mengira aku tidak tahu apa diriku,” katanya. “Aku Kiyo Hakai. Aku orang yang menggendong anak itu keluar dari sumur ketika dunia yang kau bangun membuangnya. Jawaban tentang batu bisa menunggu satu generasi. Anak itu tidak bisa.”
Raga memandanginya lama. Lalu ia mengangguk — pelan, hampir hormat — dan mulai melepas jubah luarnya yang basah.
“Kalau begitu kita lakukan dengan cara lama,” katanya, hampir riang. “Dua barang antik, satu jalan, satu hujan. Kalau kau menang, Behemoth mundur dari utara, dan namamu kutambahkan ke daftar orang yang tidak kami ganggu. Kalau aku menang—”
ia menyeringai lebar, dan aura merah tua itu meledak keluar dari tubuhnya sampai papan-papan gudang berderit,
“—kau dengarkan penawaranku sekali lagi, dengan telinga yang lebih rendah hati.”
Di tembok kediaman, para pemanah menyaksikan dua sosok itu berjalan keluar ke tengah jalan raya yang basah, berdiri berhadapan di bawah gerimis, dan Francis berkata dengan suara yang tidak seperti suaranya sendiri:
“Angkat busurmu. Doakan yang tidak pernah kulakukan. Dan jangan ada yang menembak, apa pun yang terjadi di bawah sana.”