Persiapan terakhir dilakukan dalam keheningan yang hanya bisa dihasilkan oleh orang-orang yang sudah selesai takut dan sedang menunggu.
Penjaga-penjaga Aurum memeriksa tali busur mereka dua kali. Emeteria menanam segel terakhir di pagar dalam, lalu duduk di tangga selama lima menit penuh karena tangannya bergetar terlalu keras untuk merapal — bukan karena takut, katanya pada dokter yang lewat, melainkan karena sihir yang dipasang terlalu banyak dalam waktu terlalu pendek. Francis membaca ulang surat wasiat yang ditulisnya subuh tadi, melipatnya, dan menyegelnya dengan cap keluarga sebelum menyimpannya di laci meja kerja Aryeh — satu-satunya laci yang belum pernah berani ia buka sebelum hari itu.
Lenard ditempatkan di ruang dalam tanpa jendela, bersama dokter keluarga dan empat penjaga yang dipilih satu per satu oleh Emeteria dengan cara yang tidak bisa ditiru: keempatnya punya anak seusia Lenard, dan keempatnya tahu untuk apa mereka dipilih.
“Aku ingin berada di tempat yang bisa melihat,” protes Lenard, untuk kelima kalinya.
“Dan aku ingin rumahku tidak dijadikan medan perang,” jawab Francis. “Kita berdua tidak mendapatkan yang kita inginkan hari ini.”
Lenard menatap pamannya, lalu — dengan ketenangan yang membuat Francis ingin menangis — ia mengangguk, memeluk pamannya sekali, cepat, dan masuk ke ruang dalam tanpa protes lagi. Di ambang pintu ia berhenti dan berkata: “Katakan pada Kiyo: ingat janjinya. Yang bilang menang tapi pulang sebagai diri sendiri.”
Francis menyampaikannya, kata demi kata, kepada Kiyo di gerbang depan. Laki-laki berambut perak itu sedang duduk di atas pagar tembok, mengayun-ayunkan kaki seperti anak kecil di tepi kolam, memandang jalan raya selatan.
“Dia bilang begitu?” Kiyo tersenyum kecil. “Anak itu menghafal semua omong kosongku.”
“Kiyo.” Francis tidak pergi. “Aku harus bertanya satu hal, dan aku ingin jawaban yang jujur. Bisakah kau mengalahkannya?”
Kiyo diam sejenak. Di kejauhan, di balik bukit rendah yang menutupi jalan raya, titik merah tua itu sudah berhenti bergerak — berhenti, sejak satu jam lalu, di tepi sungai kecil tempat jembatan batu melintang. Seolah sedang beristirahat. Seolah ingin tiba di sini dengan tenaga penuh.
“Jujurnya, Paman Francis? Aku tidak tahu.” Kiyo memandang tangannya sendiri, membuka dan menutupnya pelan. “Dan itu jawaban yang belum pernah kuberikan seumur hidupku.”
oOo
Malam sebelum badai itu tiba, Kiyo tidur — benar-benar tidur, bukan berbaring waspada seperti biasanya — dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dari batu, mimpi itu datang lagi.
Ia berdiri di tempat yang tidak punya tanah dan tidak punya langit, hanya kehangatan yang mengalir seperti air di sekelilingnya. Di masa jutaan tahun tidurnya, tempat ini adalah satu-satunya rumah yang ia punya: tempat suara itu berbicara, tempat mimpi-mimpinya dulu diuji — tangisan orang berputus asa yang harus ia jawab, tangan-tangan yang harus ia ulurkan, jalan-jalan yang menjadi buruk jika ia berpaling dan menjadi baik jika ia peduli.
‘Kau datang lagi,’ kata Kiyo pada kehangatan itu. ‘Sudah lama sekali. Kau kehabisan bahan ujian, atau aku sudah lulus?’
Suara itu tidak menjawab langsung. Suara itu tidak pernah menjawab langsung, bahkan setelah jutaan tahun — ia datang seperti air sungai datang, dari segala arah sekaligus, di dalam tulang lebih daripada di telinga.
“KAMI TIDAK PERNAH MENGUJIMU, ANAK LAMA. KAMI MENJAGAMU TETAP MANUSIA.”
Kiyo diam. Di dalam mimpi, ia tidak punya tubuh untuk menelengkan kepala, jadi ia hanya berpikir dengan sangat keras.
‘Menjaga tetap manusia. Itu sebabnya tangisan-tangisan itu. Itu sebabnya tangan-tangan itu.’
“KELUARGAMU MEMBUATMU TAJAM. TUGAS MEREKA MEMBUATMU TAJAM. TAPI BENDA TAJAM YANG TIDAK PERNAH MERASAKAN APA-APA AKAN MEMOTONG TUANNYA SENDIRI PADA WAKTUNYA. KAMI MEMINJAM TIDURMU UNTUK MENGAJARKAN HAL TERAKHIR YANG TIDAK PERNAH SELESAI DIAJARKAN OLEH ORANG-ORANG YANG MENCINTAIMU DENGAN CARA MEREKA YANG CACAT.”
‘Kalian siapa?’ tanya Kiyo, untuk kesekian ribu kalinya.
Dan untuk pertama kalinya, jawabannya datang — bukan nama, bukan wajah, tetapi sesuatu yang lebih besar dari keduanya: kesan tentang akar-akar yang menembus seluruh dunia, tentang napas pertama makhluk hidup, tentang tanah yang menampung semua yang gugur tanpa pernah menolak satu pun.
“KAMI ADALAH YANG TERSISA DARI YANG MENANAM. KAU MENYEBUT KAMI DENGAN NAMA YANG BANYAK. IBU, SEBUTAN PALING JUJURNYA.”
Kiyo membiarkan itu mengendap. Jutaan tahun tidur, dan ternyata ia tidak pernah sendirian di dalam batunya — ternyata seluruh bumi baru ini, dengan sihirnya yang melimpah dan manusia bertelinganya, ditanam oleh sesuatu yang menemukan kepompong sutranya di antara puing dunia lama dan memutuskan untuk tidak mencabutnya, melainkan mengajarinya.
‘Kenapa aku?’ tanyanya akhirnya. ‘Dari semua yang musnah, kenapa aku yang kalian jaga?’
“KARENA DUNIA BARU INI AKAN MEMBUTUHKAN SESUATU DARI DUNIA LAMA. BUKAN SENJATANYA. BUKAN PERANGNYA.” Kehangatan itu bergetar, dan Kiyo merasakan — untuk sesaat, sebelum mimpi itu mulai terurai — sesuatu yang mirip kekhawatiran seorang ibu. “SUDAH ADA YANG MEMBANGUNKAN YANG SEHARUSNYA TETAP TIDUR, ANAK LAMA. ORANG YANG BERJALAN KE RUMAH ANAK SINGA ITU MEMBAWA SESUATU YANG BUKAN MILIK DUNIA INI. KAMI TIDAK BISA MELIHAT APA. ITU SAJA YANG MEMBUAT KAMI KHAWATIR.”
‘Sesuatu dari dunia lama,’ batin Kiyo.
“SEPERTI DIRIMU. TETAPI TIDAK SEPERTI DIRIMU.”
oOo
Ia terbangun sebelum fajar dengan keringat dingin di pelipisnya — hal lain yang belum pernah terjadi seumur hidupnya — dan duduk lama di kegelapan kamarnya, mendengarkan rumah besar itu bernapas dalam tidurnya yang gelisah.
Sesuatu dari dunia lama. Dibawa oleh orang yang berjalan ke rumah ini.
Kiyo memikirkan batu tempatnya terbangun — kepompong sutra yang pecah di dasar sumur, di wilayah markas Behemoth. Ia tidak pernah menanyakannya kepada siapa pun, tetapi seseorang pasti menemukan pecahan-pecahan itu. Seseorang pasti memungutnya, membawanya, mempelajarinya. Dan jika pecahan batu yang menampungnya jutaan tahun bisa bertahan dari kehancuran bumi, maka benda itu bukan batu biasa — benda itu adalah bagian dari dunia yang sudah mati, dan apa pun yang bisa diketahui atau diambil darinya bukanlah pengetahuan yang seharusnya dimiliki dunia baru.
‘Dario tahu aku keluar dari batu,’ pikir Kiyo dalam gelap. ‘Dan pemimpin Behemoth itu menguasai markas tempat batuku pecah. Benangnya tidak naik ke istana. Benangnya turun, ke dalam tanah, ke tempat aku dulu tidur.’
Fajar datang dengan gerimis lagi, dan dengan gerimis itu, lonceng pengintai berbunyi — bukan dari pantai kali ini. Dari jalan raya selatan.
Kiyo naik ke atap gerbang di bawah hujan tipis, dan mata kanannya tidak perlu lagi berusaha keras. Di ujung jalan yang menurun, di tengah tirai gerimis, seorang laki-laki berjalan sendirian ke arah kediaman Aurum dengan langkah orang yang sedang berjalan-jalan.
Tingginya sedang. Rambutnya hitam kusut. Pakaiannya sederhana seperti petani, basah semua, dan ia tidak membawa apa-apa — tidak pedang, tidak tongkat, tidak tas. Di belakangnya, jauh di bawah bukit, kolom Behemoth berhenti dan tidak ikut mendekat, seperti rombongan yang tahu bahwa bagian mereka dari pesta ini sudah selesai, dan sisanya adalah urusan tuannya.
Aura merah tua itu naik mendahului tubuhnya seperti panas mendahului api, memenuhi jalan, memenuhi udara, sampai burung-burung di taman kediaman berhenti berkicau serentak.
Laki-laki itu berhenti tiga puluh langkah dari gerbang. Ia mendongak, ke arah atap gerbang, ke arah Kiyo — tepat ke arah Kiyo, tanpa ragu, seolah dari awal ia sudah tahu persis di mana mencarinya — dan tersenyum.
“Penghuni batu!” serunya, dengan suara yang hangat dan keras, suara seorang kawan lama yang datang berkunjung. “Aku sudah memunguti pecahan rumahmu sejak musim gugur. Kupikir sudah sepantasnya aku datang menemui isinya.”
Di seluruh atap dan tembok, penjaga-penjaga Aurum mengangkat busur mereka dengan tangan gemetar. Di dalam ruang tanpa jendela, Lenard menggenggam ikan kayunya dan berdoa kepada siapa pun yang masih mau mendengar doa anak kecil.
Dan Kiyo berdiri di atap gerbang di bawah gerimis, menatap satu-satunya makhluk di dunia baru ini yang pernah bisa menemukannya, dan tersenyum balik — tipis, tajam, dan benar-benar merasa hidup.
“Paman Francis,” katanya tanpa menoleh, kepada laki-laki yang berdiri kaku di halaman di bawahnya. “Suruh semua orang menahan panah mereka. Tamu ini bukan untuk mereka.”
Ia turun dari atap, mendarat di luar gerbang, di jalan basah, tiga puluh langkah dari senyum yang merah tua itu.
“Ayo masuk,” kata Kiyo. “Kita bicara seperti dua barang antik.”