Nama gue Angella…’
Langit Jakarta sudah menghitam sejak beberapa jam yang lalu. Bintang-bintang tidak banyak terlihat tertutupi polusi tebal ibukota. Lampu-lampu kendaraan dan gedung pencakar langit adalah ganti penerangan kawasan itu.
'Mahasiswa semester 4, jurusan DKV. Iya, Desain Komunikasi Visual.’
Esok adalah hari Sabtu. Akhir pekan bagi tiap-tiap orang yang setiap Senin hingga Jum'at dihabiskan untuk membanting tulang di ibukota. Jadilah, Jum’at malam bak lautan populasi di setiap sisi ibukota. Mereka menghabiskan sisa tenaga mereka untuk berjumpa dengan sahabat, makan di restoran mewah, berbelanja, bercengkerama hingga berpesta ria.
Gue nggak ada bedanya dengan remaja-remaja lain seusia gue. Setiap hari kuliah sesuai jadwal, kadang-kadang hangout dengan sahabat… and dating with my boyfriend.’
Langkah sepasang kaki yang dibalut dengan heels setinggi 10 cm berpijak memasuki salah satu pusat perbelanjaan sekaligus perhotelan di daerah Bundaran Hotal Indonesia dengan percaya diri.
'Tapi itu semua cuma outcome buat gue.’
Langkah itu terhenti begitu sampai di depan lift yang akan mengantarkannya ke tujuan gadis itu.
'Gue juga pengen seperti orang lain, hidup dengan sebuah impian. Mungkin ada beberapa yang bisa mendapatkannya dengan mudah, namun ada juga kaum seperti gue yang butuh usaha ekstra demi impian yang nggak seberapa ini.’
Pemilik heels Jimmy Choo Black Patent Leather Mules dengan Crystal Strap itu melangkah maju begitu pintu lift terbuka.
'Gue terlalu miskin untuk impian gue. Menjadi miskin juga bukan kemauan gue. Tapi gue sadar si ‘miskin’ ini nggak berhak terus menerus disalahkan. Gue hanya perlu bertindak.’
Begitu masuk, tidak lama pintu lift kembali tertutup. Ia tekan angka lantai tujuannya. Lantai 7.
'Gue cuma perlu sedikit ‘berkeringat’ untuk mengumpulkan uang dan uang untuk impian.’
Sekitar dua menit, lift itu kembali membukakan pintunya dan memberi jalan pada tamu yang menekan angka 7 tadi. Di hadapannya langsung disajikan sebuah restoran mewah nan elegan yang tampaknya hanya orang-orang tertentu yang dapat membuat reservasi di tempat itu.
‘Ya… sebut aja gue kerja ‘part time’ saat ini.’
Angella lekas melepas kacamatanya dan langsung disambut oleh penerima tamu atau usher restoran yang mengambil nama dari bahasa Prancis itu, Lumiere.
“Reservasi atas nama siapa?” tanya usher itu.
Sebelum menjawab, Angella mengamati keadaan dalam restoran itu. Mencari orang yang dicarinya.
“Tuan Adam Suwito.” Jawab Angella.
"Mohon ditunggu sebentar, saya cek terlebih dahulu.” Wanita itu segera mengoperasikan komputernya untuk mencari daftar reservasi restoran tempatnya bekerja. “Baik, atas nama Tuan Adam Suwito sudah direservasi. Mari saya antarkan.”
Dari belakang, Angella mengikuti usher itu.
Tiba di tempat yang begitu strategis, di samping kaca yang menghadapkan pemandangan malam ibukota sudah duduk seseorang dengan balutan kemeja putih yang lengannya digulung setengah lengan sambil menikmati anggur merahnya. Angella tersenyum dan langsung merangkul pria usia awal 30 tahun yang dicarinya itu.
Panggilnya, “Hello, Daddy.” tak lupa kecupan kecil di pipi pria itu.
'Yeah, it’s me. You already know my biggest secret, so take care of it. If you leak, we’re done.'
"Hi, Baby.” Balas Adam.
.
.
.
.
.
'Oh iya, jangan nanti sampai salah dengan kembaran gue… Angelia.’
oOo
to be continued...