“Gimana, babe? Is it good on me?”
Jum'at malam waktu yang tepat untuk melepas penat dibandingkan hari-hari lainnya. Oh, jangan lupakan pula Sabtu malam, itu yang tebaik. Seperti dua orang gadis yang sedang menghabiskan waktu dan -mungkin- uang mereka di salah satu pusat perbelanjaan ibukota setelah usai dengan kehidupan perkuliahan keduanya.
“I told ya, Angelia. Everything looks good on you.” Ungkap seorang gadis yang saat ini sedang mengamati sahabatnya memilih pakaian di toko dengan label Stardiv itu. Gina.
Sahabatnya itu cemberut dan memasang muka asam di wajahnya. “I need option, not compliment, Gina!”
Gina menghembuskan napasnya, tak kalah berat dengan sahabatnya itu sebelumnya.
“Listen to me, Angelia.” Gina memposisikan tegap tubuhnya yang sempat berkacak pinggang pada Angelia. “Seperti nama lo itu udah as beautiful as an angel. Seriously, everything looks good on you. The cheaper one, the expensive one.”
Angelia tetap cemberut pada Gina.
“So, which one?” tanya Angelia. Kini ia meminta Gina memilihkan satu dari dua pakaian yang diinginkannya pada Gina.
Gina memutar matanya malas dan menunjuk satu dari pakaian yang diinginkan sahabatnya itu.
“Sekarang lo bayar dan kita muter lagi,” ucap Gina yang memimpin menuju kasir.
Seusai menggesekkan kartu kreditnya, Gina segera menyeret Angelia keluar dari toko pakaian itu. Angelia sendiri merasa puas namun juga menyesal telah membeli pakaian yang menurutnya tidak bagus itu.
“Gue nyesel udah beli baju yang lo pilih, Gina!! Tanggung jawab lo!” omel Angelia begitu keduanya memasuki salah satu toko makanan siap saji. Gina yang hampir satu jam menemani Angelia memilih pakaian berkata bahwa perutnya kelaparan dan meminta Angelia yang ganti menemaninya makan malam.
“Lia, please. Gue udah laper berat sekarang. Lo pilih pesenan lo dan kita makan, oke?” kata Gina yang sudah membayar makanannya langsung bergegas mencari tempat duduk untuk ia dan sahabatnya.
Sisa Angelia yang berdiri di depan kasir toko makanan cepat saji itu. Angelia bergegas ingin memesan makanannya, namun tertunda begitu ia mendapati satu pesan masuk. Sebuah pesan peringatan penggunaan serta tunggakkan kartu kreditnya.
Membaca pesan itu, Angelia mengumpat dan mengurungkan niatnya memesan hamburger-nya.
“Saya pesan French fries ukuran large-nya satu.” Pesan Angelia dan menyerahkan uang tunai yang ada di dompetnya.
“Persetan dengan kartu kredit,” umpat Angelia lagi.
oOo
23.11 WIB.
Sesampainya di apartemen, Angella segera melepaskan dirinya dari siksaan heels yang sejak tadi melekat di kaki-kakinya. Ia menjatuhkan dirinya di depan pintu masuk dan menatapi heels yang sudah dilepasnya itu. Ia meratapi hidupnya yang sudah begitu berat, laluharus ditopang di atas heels yang menyiksa itu.
Shit.
Angella bangkit dari duduknya. Begitu ingin melangkah ke kamarnya, ia melihat refleksi nyata dirinya berdiri di hadapannya. Angelia.
"Darimana lo?” tanya Angelia dengan sinis dan jangan lupakan posisinya yang sedang melipat lengan di depan dadanya. Tidak memperlihatkan etika yang baik.
Secara hirarki, Angella yang lahir ke dunia ini 15 menit lebih dulu 19 tahun yang lalu. Namun tidak ada hirarki seperti itu di keluarga mereka. Demi keuntungan keduanya, mereka memilih menghapuskan hirarki itu.
Tanpa menggubris pertanyaan saudarinya, Angella melanjutkan langkahnya melewati gadis itu dan meraih knop pintu kamarnya. Ia ingin segera masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang sudah menunggunya sejak tadi, sebelum perkataan Angelia menghentikan langkahnya.
“Kartu kredit gue udah limit dan tunggakkannya belom dibayar,” kata Angelia spontan menghentikan Angella.
"So, what to do with me?” tanya Angella terdengar kesal.
"Pay it for me.”
Angella melemparkan tasnya terlebih dulu ke dalam kamar dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Harinya sudah berat, bagaimana bisa Angelia membuatnya semakin berat.
“Lo minta gue yang bayar?” tanya Angella.
“Jadi menurut lo gue harus minta bokap yang bayar?” balas Angelia.
Angella menatap saudarinya itu, lalu menggelengkan kepalanya.
"You’re f*****g crazy, sister.”
Angella tidak melanjutkan perdebatan antarsaudari itu, lalu menyeret tubuhnya masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Pertengkaran dan perdebatan antara saudara kandung -lebih tepatnya saudara kembar- sudah biasa terjadi. Hal ini semakin menjadi sejak keduanya lepas pengawasan dan ditinggal oleh kedua orang tuanya yang kembali ke negara asal sang ayah, Hong Kong, karena usaha yang dirintis sang ayah di Jakarta mengalami gulur tikar. Keduanya ditinggal dengan alasan perkuliahan yang sudah terlanjut didaftarkan tahun lalu. Saat itu, sang ayah berjanji akan merintis kembali usahanya dan membawa serta kedua putrinya jika keadaan sudah membaik.
'Gue capek…’
oOo
to be continued...
And hello guys. thank you for reading!!! hope y'all enjoy it.
Let's continue to next chapter!!!
Go! Go! Go!
-XoXo
coreTania :)