Pada jam terakhir, seperti yang dikatakan oleh Diah akan ada pembagian kelas. Di sekolah kami setiap tahunnya akan ada perpindahan anggota kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan sosial diantara para murid dan mencoba tantangan untuk keluar dari zona nyaman. Kami semua diberikan informasi oleh guru yang mengajar dijam tersebut untuk menunggu di luar kelas. Guru yang mengajar di kelas kami adalah Bu Wahyuni , Guru Bahasa Inggris. Bu Yuni membereskan beberapa buku yang ada di meja beliau, bersiap untuk mengakhiri kelas.
“ Kalian semua silahkan keluar dari kelas, karena informasi mengenai pembagian kelas sudah di tempel di setiap pintu kelas masing – masing. Cari nama kalian di pintu setiap kelas, hati – hati dan sampai berjumpa di pertemuan berikutnya. Kita tutup kelas hari ini, sekian dan terimakasih. Assallamualaikum Warrohmatullahi Wabbarakatu,” Ibu Yuni mengakhiri kelas dan berjalan keluar pintu.
Seluruh kelas bergegas membereskan barang – barang mereka dan beranjak kearah pintu di kelas 11 IPA - 2. Sebelumnya sekolah kami menerapkan system Moving Class, tetapi setelah pandemic terjadi. Sekolah menetapkan untuk lokasi setiap kelas, hingga sekarang.
Setelah aku berada di luar, keadaan sudah sangat ramai. Banyak sekali yang buru – buru mengecek daftar kelas yang tertempel di pintu. Diah dengan semangat bergabung dengan keramaian di pintu dan aku di belakangnya.
“ Gak onok.. berarti awak dewe pindah kelas Ka. Dirimu neg 6 aku teko 1,” dia memberikan komando.
“ oke,” yah lebih cepat bakal lebih baik. Karena setelah masuk kita mesti berebut memilih tempat duduk yang pas. Seperti aku, yang lebih suka duduk di bangku ke 2 atau ke 3 dari depan.
Aku mulai berjalan cepat ke ruang kelas 11 IPA – 4 yang berada di paling ujung belakang. Bentuk kelas sekolah adalah berjajar dengan bagian depan sekolah memiliki halaman luas untuk upacara penting. Kemudian ada ruangan berajajar dengan joglo depan yang merupakan kantor bimbingan konseling, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang rapat, ruang osis dan ruang mading. Juga ada tiga kelas di sebelah timur dan tiga kelas dibagian sebelah barat. Di tengah – tengah ada halaman yang cukup luas dengan kursi – kursi yang mengelilingi juga panggung permanen di paling ujung tengah halaman. Halaman tersebut memang sering digunakan untuk acara besar dan juga acara bersama. Di sekeliling halaman terdapat taman dengan lebar 1 meter saja menambah kesan sejuk dan asri.
Aku menuju ruang 11 IPA – 4 ada di sebelah timur dan berdesak - desakan mencoba melihat daftar yang ada di pintu kelas. Aku bisa melihat jelas nama kami tidak ada di daftar yang tertera dari jarak 2 meter. Aku bergeser ke kelas IPA – 4 hingga IPA 5. Tetapi masih saja belum menemukan namaku ataupun Diah. Sialnya di depan kelas ada segerombolan siswa yang ingin sekali kuhindari. Ada Dani, Ferdy dan 2 siswa lain yang tidak kukenal namanya, dan juga ada Andre.
Berusaha menghiraukannya, aku terus saja berjalan. Keberuntungan memang sering tidak berpihak kepadaku karena aku melihat Andre berjalan mendekat.
“ Hai… Chik,” sapanya setelah berhenti di depanku.
“ Hi,” sapa singkatku yang mau tak mau harus berhenti dan menjawab sapaannya. Mari melakukan percakapan singkat dan pergi.
“ Kamu di kelas mana Chika?,” tanyanya cukup dekat.
“ Masih nyari.., aku duluan yaa, buru – buru supaya dapet tempat,” ini bukan alasan karena aku memang sedang sibuk mencari kelas baruku.
“ Oke.. kalo uda ketemu info aku ya…,” aku bergegas pergi dengan wajah jengah, ngapain juga aku harus info ke dia, aneh. Kuhampiri kelas terakhir 11 IPA – 6 dan nama kami juga tidak ada di sana. Dan.., aku harus melewati kawanan Andre lagi.
Aku melewati mereka dengan acuh,“ Aku di 11 – 5 Chika,” katanya saat aku lewat.
“ HUUUUHHHUUU… Suit – suit.. ,” teman – temannya menyoraki.
“ Siapa tau kamu mampir…,” suaranya lebih keras berharap aku mendengarnya. Aku heran saja, gimana bisa dia jadi ketua OSIS SMA dengan kelakuannya yang seperti itu. Apa semua orang pada buta?, atau pura – pura nggak tau. Yah memang dia memiliki hubungan sosial yang baik, sangking baiknya sampe dia punya banyak mantan. Kenapa juga aku jadi kesel?.
Tanpa menoleh aku melangkah ke arah kelas seberang, pasti kelasku ada di IPA – 1 atau IPA – 3. Terlihat Diah tergesa - gesa menghampiriku.
“ Chikaaa…, awak dewe sekelas maneh uwahhhh…,” dengan wajah sumringah kehirangan ia berlari.
“ Ayok ndang cepet… aku wes naruh tas,” dia menyeretku ke kelas IPA – 3.
‘kenapa ga sedari tadi aja…,’ pikirku.
Setelah sampai, aku langsung meletakkan tas di kursi ke dua dari depan yang memang sengaja Diah letakkan tas dan buku di setia bangkunya. Kelas sudah hampir penuh dengan siswa – siswi. Beberapa diantara mereka, kukenal namun banyak juga yang tidak kuketahui namanya.
“ Aku wes ngira lek kita sekelas maneh..,” dan aku meoleh dengan memutar bola mata. Ia nampak tertawa melihatku.
‘ Dasar…’
Dan kami mulai tertawa membicarakan hal – hal kecil.
Sedetik kemudian, Diah menyikutku dan memberikan kode dengan lirikan mata. “ Onok seng new.. ,”
Aku menoleh kearah lirikan mata Diah, kudapati beberapa siswa siswi yang berdiri ataupun duduk di depan pintu kelas. Dari itu semua ada seorang siswa yang sedang berdiri di depan pintu dengan seragam yang berbeda dari sekolah. Seragam sekolah negeri kami di hari Rabu seharusnya adalah kemeja baby blue polos dengan atribut, dan bawahan biru tua elektrik yang akupun kurang suka
Siswa ini menggunakan kemeja batik biru tua yang lengannya digulung hingga siku dan celana navy. Kalau bukan karena seragam yang ia kenakan, aku tidak akan tau kalau dia seorang siswa baru. Dan sama seperti aku, semuanya menoleh dan memandangnya. Kuputuskan untuk tidak memandangnya dan menoleh ke arah Diah, karena aku sendiri termasuk orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian. Mungkin dia juga akan merasa risih.
“ Gak usah sampek segitune neg ngeliat… biasa wae,” kutepuk ringan dahinya.
“ Alhamdulillah.. paleng nggak onok seng anyar, iso gae cuci mata. Ben aku ga ndelok awakmu teros iso jamuran mataku…,” jawab dia jahil. Nih anak lama – lama ngeseli, tadi bersyukur sekarang menghina.. Ya Allah.
“ Hemmm lak mulai.., mau wes seneng sekelas. Saiki menghina…”
Ia tertawa, “ Iyo.. ojok sensi ngunu ta. Lha tapi ancen guanteng looo arek anyar e…,” dan ia memandangi lagi siswa baru itu kukira.
“ Ojok banter banter talah.. ngisin – isini,”
“ Chik… arek e ndelok i arah kene terus, delok i aku ae ketok e…,” kegirangan banget Diah.
Aku hanya menggelengkan kepala kemudian mengambil handphone di saku rokku karena ada notifikasi pesan WhatsApss yang masuk. Ku buka bagian pemberitahuan pesan, dan ada nama Andre di sana. Belum sempat aku membaca, Diah sudah menyikutku dengan keras.
“ Opo seh…,” kulihat wajahnya terdiam, duduk kaku menghadap ke depan malu, semangat dan kegirangan.
“neg mburi..,” bisiknya.
Aku menoleh sedikit ke belakang, dan mata kami bertemu beberapa detik. Matanya abu – abu terang, dengan pupil tengah hitam yang menambah kesan ia bukan orang jawa asli. Tadi pertama kali aku memang tidak mengamati wajahnya, tapi sekarang terlihat jelas ia memang memiliki wajah yang cukup tampan dengan badan tegap dan terlihat berotot halus. Wait… aku menggeleng – gelengkan kepala. Dan memutuskan pandangan kemudian menghadap ke depan.
‘ Apa sih yang kupikirkan… aneh… gak jelas lu Chika..,’
Kemudian terdengar suara berisik dari beranda depan kelas. Dan beberapa anak menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Terlihat segerombolan siswa yang masuk ke dalam, yang wajah nya tidak asing. Namun seperti biasa aku tidak tau namanya. Ia memasuki kelas dan kami bertatapan sedetik, dan aku merasakan perasaan yang buruk. Pandangan ini adalah pandangan yang kukenal, pandangan yang sama seperti yang diberikan Andre ketika ia menatapku.
‘ Tahun ini pasti akan terasa sangat panjang…,’ aku menghela nafas dan memalingkan pandangan ke Handphone ditanganku membaca notifikasi.
ting…
Aku melihat notifikasi hp, ada beberapa notifikasi WA, salah satunya dari Oik yg baru saja berbunyi. Dibawahnya ada wa dari Andre. Aku membuka dan membacanya.
“ Assallamualaikum.., Chika” Andre mengirim w******p 10 menit yang lalu.
ting… hpku berbunyi lagi.
“ Kamu di kelas IPA – 3 ya?” lanjutnya.
ting…
Aku melihat notifikasi hp, ada beberapa notifikasi WA, salah satunya dari Oik yg baru saja berbunyi. Dibawahnya ada wa dari Andre. Aku membuka dan membacanya.
“ Kamu lagi sibuk? Kok ga dibalas?,”
Memang aku telah mengatur setting WA untuk tidak membiarkan pengirim chat mengetahui jika aku telah membaca pesan mereka. Lagian aku tidak pernah menanggapi Andre dalam bentuk apapun. Tapi masih aja tuh orang ga ada capeknya. Masih ingat banget awal gangguan yang dia berikan padaku waktu aku menjadi siswa baru di SMA dulu.
To be continue