ting…
Aku melihat notifikasi hp, ada beberapa notifikasi WA, salah satunya dari Oik yg baru saja berbunyi. Dibawahnya ada wa dari Andre. Aku membuka dan membacanya.
“ Assallamualaikum.., Chika” Andre mengirim w******p 10 menit yang lalu.
ting… hpku berbunyi lagi.
“ Kamu di kelas IPA – 3 ya?” lanjutnya.
ting…
“ Kamu lagi sibuk? Kok ga dibalas?,”
Memang aku telah mengatur setting WA untuk tidak membiarkan pengirim chat mengetahui jika aku telah membaca pesan mereka. Lagian aku tidak pernah menanggapi Andre dalam bentuk apapun. Tapi masih aja tuh orang ga ada capeknya. Masih ingat banget awal gangguan yang dia berikan padaku waktu aku menjadi siswa baru di SMA dulu.
#Flashback#
Di kelas X – 1, semua siswa baru telah menempati seluruh kursi di kelas. Aku duduk di urutan kursi ke 2 dari depan dan dari pintu. Sewaktu guru menjelaskan tentang latar belakang dan kegiatan pengenalan sekolah. Ada beberpa siswa laki – laki berdiri berdesakan di depan pintu. Salah satu dari mereka memegang hp dan berusaha mengucapkan beberapa kalimat, aku bingug melihat kelakuan mereka. Karena memang sedari tadi aku mendengarkan guru sambil melihat keluar pintu sedikit melamun. Sehingga aku mengetahui apa saja kejadian yang ada di luar dalam jangkauan pandangan mata.
‘apa mereka mencoba berbicara padaku?,’ tanyaku dalam hati.
Aku menunjuk diriku sendiri dengan bingung dan pandangan bertanya pada mereka. Salah satu siswa yang paling depan mengangguk dengan semangat, membuatku tau bahwa memang mereka atau dia mencoba berbicara padaku. Dari gerakan bibirnya, kurasa dia meminta nomor hp ku. Yang langsung saja kutolak dengan mengatupkan kedua tangan tanda menolak dengan sopan, dan kukatakan maaf tanpa suara.
Berusaha tak menghiraukannya, aku kembali memandang ke depan. Dan beberapa saat kemudian teman sebangkuku saat itu, menyikut pelan dan memberikan tanda dengan pandangan mata ke arah pintu kelas.
Ck.. mereka masih di sana rupanya.
Oke… baiklah, kamu mari kita berikan kesan yang baik karena aku adalah siswa baru. Kuperhatikan kembali mereka yang kemudian kusadari bahwa mereka juga siswa baru sama sepertiku. Siswa yang mengangguk paling semangat tadi sekarang memegang secarik kertas kecil seukuran telapak tangan dan di sana ada tulisan angka.
Goshh… angka itu adalah nomor telpku. Mungkin mataku sekarang membulat, terkejut. Tapi anehnya dia malah tersenyum jahil, dan menunjuk kertas itu kemudian memberikan sign tangan tanda dia akan menelepon.
“…”
#Flashback End#
Helaan nafas kukeluarkan hingga terdengar. Aku meletakkan kembali kepala di atas meja karena capek dan mengantuk.
“ Duhh… siapa itu Chik?, ” Diah menyikut dengan semangat. “ Wahh ojok ngomong nek iku teko Andre?” ia cekikikan. Duh nih anak memang kadang ga ngerti situasi.
Aku menoleh dengan malas, nih anak satu bikin moodku makin jelek. Selain itu memang sudah jam pelajaran terakhir dan lelah yang beberapa hari belum mereda menyerangku sekarang membuat mata begitu berat. Dengan mata mengantuk aku mengambil buku – buku dari tas dan meletakkan nya diatas meja dengan kasar karena enggan. Sebentar lagi pasti pembelajaran akan dimulai.
“Gusti… biasae ae, seng sabar… eman bukune lagian cek rajin e wes siap – siap,” Diah masih dengan omelannya. Tapi yang paling aneh, tak lama kemudian ia juga ikut – ikutan melakukan hal yang sama.
Beberapa saat kemudian Bu Ningsih, Guru Biologi masuk ke kelas dijam ke 8, jam terakhir. Sebenarnya Biologi ada di jam 7 – 8, hanya saja 1 jam pelajaran tadi telah digunakan untuk mencari kelas kami yang baru, sehingga tersisa 1 jam pembelajaran.
“ Selamat datang di kelas baru kalian anak – anak, kelas XI IPA – 3. Seperti yang sudah pernah kalian ketahui, banyak yang harus kalian persiapkan. Mulai dari pemilihan ketua kelas, juga anggotanya kemudian pembentukan tim piket kelas dan masih ada yang lainnya. Kalian bisa mulai mempersiapkannya setelah ini yaa. Sehingga besok, kegiatan pembelajaran sudah bisa berjalan dengan baik. Maka kalian bisa mengisi jam terakhir dengan berdiskusi,”
“ yeeaaa…,” sontak sorakan seisi kelas terdengar dengan tepukan riuh diantara mereka.
Terima kasih ya Allah.. akhirnya ada jeda beristirahat.
“ Okee… oke tenang semuanya, kalian ini kelihatannya lebih bahagia saat kegiatan seperti ini,” Bu Ningsih tersenyum dengan penuh arti.
“ Ibu berdoa buat kalian semua, semoga ke depannya kalian bisa mendapatkan pengalaman yang baik, nilai yang baik..,”
“Aminn…,” satu jelas menjawab.
“ Tak lupa mendapat teman yang banyak pula..,”
“ Aminnn…,”
“ Nahh… sebelum itu apakah kalian sudah berkenalan dengan teman – teman baru kalian?,”
“ Sudah bukkk…,”
“ Belum bukkk…,” serempak sekelas menjawab.
“ Wahh.. ada yang belum dan sudah.., Baik. Selain itu, ada siswa baru pindahan yang perlu ibu perkenalkan kepada kalian,”
Dan setelah penjelasan singkat itu, cowok yang duduk di bangku belakang ku berdiri menuju depan kelas kemudian menghadap ke depan dengan tangan di saku celananya. Aku menopang dagu berusaha memperhatikan walau dengan mata yang siap untuk menutup.
“ Aku Ditya Putra Airlangga, kalian panggil aja aku Ditya. Pindahan dari SMA 5 komplek Surabaya. Umur 17 tahun… Salam kenal…,” semua mata otomatis tertuju padanya. Aku menoleh ke samping kanan tempat suara desahan beberapa siswi terdengar, dan bisa melihat dengan jelas hampir semua siswi memiliki pandangan yang memuja. Yah… semua ini bisa dimaklumi melihat penampilannya yang menarik perhatian dan menggoda banyak kaum hawa. Wajah yang tidak jelek, bentuk tubuh yang baik dengan tinggi sekitar 178cm.
Tiba – tiba aku merasa seperti diperhatikan, perasaan dimana seseorang memandangmu dengan intense. Kualihkan pandangan kembali ke depan segera dan tak disangka – sangka, aku mendapati tatapan siswa baru tersebut langsung tertuju padaku. Sebentar…, aku menoleh ke kanan dan kiri mengecek apakah dia memandang siswa lain yang duduk di sebelahku. Tapi yang kudapati wajah Diah yang sudah seperti gadis ketemu idolanya.. kuputar bola mata.
‘Ngapain nih anak…,’ segitu terpesonanyakah… dasar gak jelas. Aku cekikikan sambil meyikutnya.
“ Yahhh… hello.. tangi – tangi, sadar…,” bisikku.
Diah memberi cengiran, “ Lha kasep pisan kikikik…,”
Aku melihat lagi ke depan dan pandangan siswa baru itu sekarang ke siswi lain yang bertanya padanya. Ahhh… mungkin tadi hanya perasaanku saja, ngapain juga siswa baru memandangku. Ya Allah… jangan sampe gegara Andre aku jadi gede kepala.
“ Ada lagi yang mau bertanya?,” Bu Ningsih yang baik menawarkan pada siswi – siswi yang memang terlihat haus akan bertanyaan.
Betul saja, masih lumayan banyak tangan yang mengacung, semuanya adalah kaum hawa.
“ Sofi.., ” bagus juga ada banyak yang bertanya, aku jadi bisa sekalian tau nama – nama teman yang belum kukenal. Ribet juga kalau harus berkenalan satu persatu karena jumlah dalam satu kelas ada sekitar 40 siswa. Sofi adalah siswi yang manis, dengan rambut panjang bergelombang sepinggang yang ia ikat sederhana. Ia memiliki mata bulat yang besar dengan bibir yang tebal dengan warna kulit kuning langsat.
Sofi bertanya dengan senyum kecil di wajahnya “ Alamat rumahmu di mana?,”
“ Di sekitar Surabaya Barat,” jawabnya singkat dengan suara berat yang ia miliki.
“ Oke, pertanyaan terakhir yaa…, jika kalian masih ingin bertanya setelah ini silahkan berkenalan dan tanya langsung kepada Ditya.
Dania..,” Bu Ningsih menunjuk penanya terakhir.
“ ekhmm… kamu uda punya pacar belom?,” tanyanya dengan malu – malu. Gosh.. ada apa dengan semua makhluk di bumi? Kenapa tidak ada pertanyaan kreatif lainnya? Selalu pertanyaan ini yang kudengar dimanapun? Aigooo…
Baiklah.. entah kenapa aku penasaran dengan jawabannya juga. Ku menopang dagu dan berkonsentrasi ke depan. Hahh… dia memandangku lagi. Kali ini aku tidak akan salah.. karena tidak seperti tadi, aku juga membalas lurus pandangan matanya. Sedetik kemudian ia masih menatapku dan memberikan senyuman miring dan berkata.
“ will be soon..,”
To be continue