“ ekhmm… kamu uda punya pacar belom?,” tanyanya dengan malu – malu, dipandanganku malu maluin. Gosh.. ada apa dengan semua makhluk di bumi? Kenapa tidak ada pertanyaan kreatif lainnya? Dan kenapa juga selalu mikirin soal lawan jenis? Apakah mereka bakal mati kalau ga berpasangan? Selalu pertanyaan ini yang kudengar dimanapun? Aigooo…
Baiklah.. kita dengarkan apa jawabannya? Apakah jawabanya juga relatif sama seperti yang lain? Entah kenapa aku mengharapkan dan penasaran dengan jawabannya juga. Kuangkat kepala dan menopang dagu, mulai berkonsentrasi ke depan.
Lahh… dia memandangku lagi. Kali ini aku tidak akan salah.. karena aku juga memandang lurus pandangan matanya. Sedetik kemudian ia masih menatapku dan memberikan senyuman miring dan berkata.
“ Will be soon..,”
Sontak sahutan kekecewaan para cewek sekelas terdengar bergemuruh “ Yahhh…, ”
Bu Ningsih segera menyahut untuk menangani keributan yang muncul “… Oke cukup. Ditya, terima kasih atas perkenalannya. Ibu melihat kamu sudah mendapatkan tempat duduk, kamu bisa duduk kembali.” Entah kenapa, aku lebih menyukai panggilan nama Angga daripada Ditya.
Angga berjalan ke arahku, untuk kembali duduk di bangkunya.
“ Ibu nitip pesan pada kalian semua. Jangan ada yang ramai, keluar dari kelas tanpa urusan yang penting! Silahkan kalian semua fokus dengan tugas yang harus kalian kerjakan! Apa kalian mengerti?,”
“ Iya buk..,”
“ Sebelum ibu pergi dari kelas, ada yang ingin kalian sampaikan?,”
“ Tidak bukk…,” jawab kami serempak.
“ Baiklah Ibu minta tolong ke Firman untuk memimpin pemilihan structural kelas yaa…. Karena dikelas sebelumnya dia yang menjadi ketua kelas. Ibu undur diri, terima kasih semuanya. Assallamualaikum warrohmatullahi wabbarakattu..,”
“ Waalaikumsalam warrohmatullahi wabbarakattu, makasi buk..,” Ibu Ningsih beranjak dari kursinya dan keluar ruangan. Beberapa saat kemudian Firman yang memang sudah kukenal sebelumnya ketika pertemuan ketua dan wakil ketua seangkatan, maju ke depan.
Kelas X – IPA 2 berjumlah 39 siswa dengan ketua kelasnya yaitu Muhammad Fakhri dan wakilnya Chika Putri Abiyaksa, aku sendiri. Dia berdiri di depan, namun ada beberapa siswi perempuan yang maju dan memberikan isyarat kepada Fakhri untuk pergi dari sana dan duduk kembali di tempatnya. Mereka 4 siswi yang terlihat mencolok dengan wajah yang menggunakan kosmetik dan berada di tengah mereka berdiri juga seorang gadis berpakaian ketat dengan rok sedikit di atas lututnya.
“ Lu duduk aja Pak Ri, biar gua yang memimpin pemilihan anggota…,” katanya dengan percaya diri. Wajah mereka asing bagiku, dan aksen yang dia gunakan seperti dari Jakarta. Aaaa… aku ingat bahwa beberapa bulan lalu ada siswi pindahan dari Jakarta. Apakah siswi itu dia?
Seakan bisa membaca apa yang ada dipikiranku, Diah berbisik “ Iku Angel, arek pindahan teko Jakarta…, pasti awakmu ga ngerti kan…, ” Tone suaranya menyebalkan tapi membuatku tertawa.
Aku tertawa singkat, bagaimana bisa dia begitu memahamiku.., “ ehmm… Iyo aku ga kenal. Lagian ga puenting.., ”
“ Iyo ancen… ga worth it dikenal. Aneh bin ga sopan soal e..,”
Dan aku tertawa kembali, “ De’e ga ngerti ae… Fakhri koyok opo…, delok en baring ene lak entuk karma e…,” aku kembali tersenyum dengan sinis. Mau bagaimana lagi, sikap yang seperti ini memang banyak sekali terjadi dan aku sangat tidak menyukainya. Fakhri adalah pribadi yang baik, tenang namun tegas dan bijaksana. Aku bertaruh, pasti siswi yang bernama angel tadi juga belum mengenal Fakhri.
Fakhri memandang Angel dan gerombolannya yang maju ke depan dengan ketenangan yang tidak tergoyahkan.
“ Hello.., ngapain loe diem aja. Gak usah bingung, loe duduk aja, gue yang bakal milih anggotanya..,” katanya lagi berhadapan dengan Fakhri. Dan seisi kelas langsung senyap dan semua mata tertuju pada mereka.
“ Permisi.., siapa anda? Aku tidak merasa harus mengikuti kata – kata kalian.., So before I rise my voice… please sit down in your chair now…,” pandangan tajam dengan senyum miring setan ia berikan kepada mereka tanpa takut.
“ Duduk saja, supaya pemilihan segera selesai. Kita ingin istirahat segera…,” kataku dengan tone datar sedikit keras dengan posisi yang sama yaitu bertopang dagu. Mungkin saja ada raut menjengkelkan di wajahku, karena mereka langsung bereaksi. Ada yang membelalakkan mata lalu mendengus jengkel. Aku sama sekali tidak terganggu dengan tatapan membunuh yang Angel berikan padaku, jika bukan Fakhri, mungkin aku yang akan mengusirnya dan menariknya langsung kembali ke bangku.
“ Benar.. ayo segera lakukan pemilihan,” sahut yang lain.
“Jangan menundanya..,” yang lain bersuara tak sabar.
Diah di sebelahku berbisik lagi, “ Uaahhh.. saiki aku paham maksudmu,”
Segera setelah itu, mereka semua tanpa terkecuali melangkah dengan menghentakkan kaki ke bangku mereka masing – masing. Lirikan maut ia berikan kepada Fakhri dan kepadaku, aku hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala, ‘ada – ada aja,’
“ Assallamualaikum warrohmatullahi wabbarakattu..,” Fakhri membuka suara dengan fokus kepada semua anggota kelas. Ia sama sekali tak menghiraukan 4 siswi yang menampilkan wajah menjengkelkan dibangku paling belakang.
“Wa’alaikumsalam warrohmatullahi wabbarakattu,” jawab semuanya.
“ Seperti yang telah disampaikan oleh Bu Ningsih, kita akan melakukan pemilihan pengurus kelas terlebih dahulu. Nah ada yang ingin mencalonkan diri?,” beberapa anak mengangkat tangan, termasuk Angel dan 1 teman sebangkunya.
Ketika aku menoleh ke belakang tanpa sengaja aku melihat wajah si anak baru, Angga yang juga sedang menatapku. Oke.. mari kita bersosialisasi Chika. Aku berikan senyum sapa kepadanya, yang ia balas dengan anggukan kepala pelan. Angga bersandar santai di kursinya dengan kedua tangan berada di saku celananya.
“ Oke semua nama sudah dicatat, Chik.. kamu ikutan gak?,” sedikit terkejut aku memutuskan kontak kita, dan kembali ke posisi semula.
“ Nope..,” dengan gelengan kepala, sekilas aku teringat peringatan mama tentang belajar yang rajin. Kurangi aktifitas yang menguras tenaga, fokus pada nilai pelajaran. Lagian aku udah ga berminat menjadi pengurus kelas, uda pernah. Dan kuketahui itu bukan salah satu hal yang aku sukai.
“ Thanks…, yang lain saja.”
“ iya.. ka, kamu mencalonkan diri gih, pasti bisalah kamu jadi ketua kelas,” celetuk Salis, teman yg duduk di bangku sebelahku. Salis adalah anggota pramuka di divisi Kerohanian.
“ wkwkwk.. ga dulu deh, tugasnya masih seabrek..,” senyumku padanya.
“ Oke.. apa masih ada yang lain,” suara Fakhri terdengar kembali, ia memandang seiisi kelas dan mengetahui sudah tidak ada lagi yang mencalonkan diri, k****a beberapa nama yang tertera di papan tulis.
Firdaus ( Si anak resek yang aku kenal sejak SMP ), Angel, Danis ( Siswa yang tidak kukenal), Rani siswi berambut Panjang yang manis, Rizki.
“ Iya Chik,” aku memang mengangkat tangan.
“ Aku mencalonkan Fakhri,” jawabku dengan penuh harap. Dari semua nama yang k****a, aku merasa Fakhri lebih cocok untuk menjadi ketua kelas.
“ Aku sudah pernah menjadi ketua kelas, aku berharap yang lain bisa mencoba juga,” jawabnya.
“ Bagaimana kamu akan tau kalau kamu yang terpilih? Kita akan melakukan voting nantinya, tapi jika memang setelah melalui hal itu kamu tetap terpilih, berarti kamu memang pantas menjadi ketuanya,” tidak ingin melewatkan setahun ke depan dengan sakit kepala. Maka harus memilih pengurus yang bijaksana dan bertanggung jawab.
“ Bener tuh, Chika bener banget…,” celetuk Salis, keliatan banget dia gam au sakit kepala juga.
“ Iyo, aku yo sependapat..,” Diah menambahi.
“ Uda tulis aja Fakhri, ntar kan masih ada voting juga,” Andreas teman sebangkunya menambahi dengan sedikit malas karena pemilihan tidak segera dilaksanakan, otomatis semakin lama tertunda semakin sedikit waktu kita tersisa.
Fakhri memberikan senyum tanda kalah, “ Baik ada 6 kandidat, kita akan voting. Santi minta tolong untuk siapin kertasnya ya, Kertas akan disiapkan dan di bagikan kepada kalian. Tulis nama calon yang kalian pilih dan kumpulkan, ”
Santi membantu menggunting beberapa kertas dari buku yang ia miliki, kemudian membagiakan kepada siswa – siswi yang ada di kelas. Aku segera menuliskan nama Fakhri dan diikuti oleh Diah, tak lama aku kembalikan gulungan kertas kecil di atas meja.
“ Kalau sampai Fakhri lagi yang jadi ketua kelas…, emang uda direncanain ama mereka semua,” Angel nyeletuk namun masih bisa kudengar dari bangkuku, yang berarti separuh kelas masih bisa mendengar suaranya yang menyebalkan.
Beberapa menit berikutnya, kertas pemilihan yang dikumpulkan mulai dibuka daan dihitung. Benar saja, setelah semua kertas dibuka sekitar 50% vote suara dimenangkan oleh Fakhri. Ternyata tidak hanya aku saja yang berpendapat bahwa Fakhri pantas menjadi ketua kelas. Tanpa bisa kucegah, karena penasaran aku menoleh lagi sedikit ke belakang untuk melihat Angel yang sedang mendengus kesal.
“ Maka ketua kelas untuk 11 IPA – 3 adalah Fakhri, ” suara Santi terdengar, ia sedari tadi membantu menyebutkan nama – nama yang tertera pada kertas pemilihan.
Aku bertepuk tangan, kemudian diikuti oleh seluruh kelas sedetik kemudian. Oke.. waktunya istirahat. Kuletakkan kepala dilipatan tanganku dan mulai memejamkan mata sambil mendengar beberapa kata dari Fakhri selaku ketua kelas. Fakhri kemudian memimpin pemilihan anggota inti pengurus kelas.
To be continued