PART SEVEN
Pada Hari Jumat, ada kegiatan MPLS Camp. Aku bersiap berangkat bersama Dek Oik yang sudah mendingan dari sakitnya, kami menaiki motor berboncengan.
“ Dek.. cepetan..,” teriakku dari depan rumah dengan motor bebek yang sudah kunyalakan sedari tadi.
Derap kaki tergesa – gesa terdengar dari dalam rumah. Rumah kami bergaya klasik dengan cat yang didominasi dengan warna putih dan beberapa daun jendela dan pintu berwarna coklat s**u. Di bagian depan terdapat beranda dengan meja dan kursi duduk yang juga berwarna putih.
“ Bentar – bentar…,” disusul Dek Oik dengan pakaian seragam pramuka SMP nya yang dulu. Ia menjinjing tas ransel yang lumayan penuh, dan menenteng sleeping bag merah milikku. Ia akan menginap di sekolah saat kegiatan MPLS Camp selama 2 hari satu malam sehingga sleeping bag kupinjamkan kepadanya. Tak lama ia naik juga keboncengan motor. Sebenarnya saat ini kami tidak terlambat, hanya saja aku sebagai panitia inti harus mempersiapkan lebih dulu acara apel pagi nanti. Acara apel pagi akan dimulai pada 07.30, kulihat jam tangan yang menunjuk angka 06.20.
“ Sudah? Pastiin semua kebawa dan gak ada yang ketinggalan,” tanyaku sekali lagi, memastikan camping pertamanya di SMA lancar.
“ Yup.., udah semua,” jawabnya dengan riang.
“ Oke.., pegangan.”
Aku mulai mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sama seperti Dek Oi, aku juga membawa tas dengan berbagai perlengkapan. Kami bersama – sama mempersiapkannya di malam hari. Jalanan relative sepi dan tanpa kemacetan yang memang merupakan salah satu ciri khas Kota Surabaya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sekolah sekitar 15 menit dengan kecepatan normal.
“ Kak..,”
“ Apa?,” jawabku sambil fokus ke depan.
“ Di sekolah kira – kira uda rame ato masih sepi?,”
“ Kayaknya panitia uda pada dateng, jam 06.30 sih pengumumannya. Ini Kak Iya uda telat kayaknya pas datang, kenapa emang?,” tanyaku.
“…,”
Untuk sesaat tidak ada jawaban darinya dan seperti biasa, aku menunggu.
Kira – kira 5 menit lagi kita akan sampai, kemudian ia berbicara “ Ntar Oik turun di gerbang depan aja yaa.. gak usah sampe masuk trus ke parkiran.”
Untuk beberapa detik aku terdiam, aku menimbang – nimbang tanggapan apa yang cocok untuk hal ini. Tak terasa motorku sudah berada di area gerbang depan. Sedetik aku sempat ragu menghentikan motor, namun setelah berpikir kembali kurasa menurutinya adalah tanggapan yang baik untuk saat ini. Motor berhenti 10 meter di gang dekat gerbang depan sekolah. Dek oi langsung saja turun dari motor dan melepaskan helmnya untuk diberikan padaku.
Kuterima helm yang ia sodorkan, “ Dek, inget kata – kataku di kamar. Kak ga setuju kalau kamu menghadapi masalah kayak gini. Kita perlu bicara …,”
Dia memandangku dengan pasrah, tau akan mendapat omelan juga selepas pulang sekolah nanti.
“ Lain kali kak ga bakal nurunin kamu depan gerbang. Kamu ga bisa gini terus sejak kejadian itu.” Ia terlihat ingin segera kabur dariku, “Udah sekarang kamu masuk, cari kelas yang jadi base camp tidurmu, siap – siap apel pagi,” suaraku menghalus. “ Nanti kak wa,” dan ia balas mengangguk kemudian bergegas masuk. Aku mesti melakukan sesuatu, hal ini nggak bisa dibiarkan berlarut – larut.
Motorku memasuki sekolah dan berjalan lurus ke depan kemudian berbelok ke kiri di belakang masjid sekolah. Di parkiran sekolah ada beberapa panitia yang ku kenal sedang memberikan tanda dan beberapa hal lain, persiapan dari jejak malam.
###
Acara berjalan dengan lancar, dari pagi hingga malam semua kegiatan diikuti oleh siswa – siswi dengan tertib. Tibalah saat kegiatan pentas malam, semua murid berada di halaman tengah mengelilingi api unggun yang dinyalakan di depan panggung. Para siswa dipecah menjadi 20 kelompok besar, dan setiap kelompoknya wajib menampilkan 1 penampilan. Semua panitia stand by di posisi masing – masing. Aku berada di belakang para siswa – siswi yang telah berbaris sesuai kelompok masing – masing.
“ Dek…, kamu uda makan belum?,” mumpung ada waktu senggang, aku mengirim pesan ke Dek Oi. Karena memang dia kadang lupa makan.
Tiba – tiba aku merasa ada uang menyentuh lenganku, “ Kak Chika, permisi.” Ahh.. Rani ternyata yang menyentuh dan sudah berdiri di sampingku bersama dengan siswi baru lain, yang tak kukenali.
“ Ehhh.. Rani yaa,”
“ Iya kak, ini Rani.”
“ Ada apa Ran?,”
“ Itu Kak Chika, Chory lagi di UKS kak,” jelasnya dengan khawatir.
“ Di UKS?,”
“ Iya, Chory gak enak badan, dia tadi sempet lemes dan ga bisa berdiri trus dibawa ke UKS sama temen – temen,” jelas Rani yang disetujui oleh seorang siswi di sebelahnya dengan anggukan kepala. Aku bergegas melangkah sedikit berlari ke UKS yang diikuti oleh mereka.
Di UKS sudah penuh dengan beberapa panitia yang sangat kukenal dan beberapa siswa baru yang juga tidak enak badan. Di dalam UKS ada 4 kasur untuk siswa yang sakit dengan kelambu yang bisa digeser. Tiga Kasur di antaranya telah terisi dengan siswa atau siswi yang juga telah diatasi oleh panitia yang menjaga UKS. Di Kasur paling pojok kanan, aku melihat Dek Oik tidur dengan tangan menutupi kedua matanya. Di sebelahnya ada Eko panitia kelas 11 dan Diah.
“ Tenang ae, gakpapa adekmu… kayak e alergi kulit e Gurung mari. Makane mau kenak uler opo serangga trus nambah gatel karo abang – abang ngunu… tapi de’e wes gawa trus ngombe obat dokter’e..,” jelas Diah setelah melihatku berdiri di sampingnya. Diah juga merupakan anggota OSIS yang bertanggung jawab di UKS.
“ Lah.. ini adekmu Chika?, owalah...ini ta orang e?,” aku menoleh heran setelah mendengar komentar dari Eko. ‘maksud e apa coba?’
“ Nggakk bukan apa – apa kok, cuman anak – anak pada lagi kepoin adekmu. Kan tersebar kalau adekmu masuk ditahun ini terus, mereka penasaran pengen tau yang mana.” Jelas Eko dia adalah siswa kelas 11 IPS.
Kemudian aku menatap mata Eko dengan tegas “ Nitip pesen kalau kalian pada ngerumpi atau gosipin soal ini lagi,” aku serius tentang hal ini, terkadang memang orang – orang gak jelas ini suka banget ngurusin hidup orang, “ Bilangin.... Gak usah ngurusin hidup orang lain.”
Aku melipat kedua tangan dan menatap lurus ke matanya tanda bahwa aku serius. Aku harus tegas dengan masalah ini, jangan sampai kejadian lama terulang kembali. Aku harus mencari tahu lebih mengapa Dek Oik sampai tidak mau orang lain tau bahwa kita bersaudara.Masalah ini harus segera selesai, aku harus segera membantu Dek Oik. Karena inilah yang harus dilakukan saudara.
Tiba - tiba aku merasa diperhatikan dengan intens. Sehingga aku menoleh ke arah belakang, dan mendapati sepasang mata coklat cerah menatapku dengan alus terangkay sebelah.
To be continued