Keadaan hening yang menghampirinya membuat Anna memilih untuk mengistirahatkan pemikirannya dari segala masalah yang terjadi tadi pagi. Matanya yang dari tadi hanya fokus ke papan tulis, hanya ia fokuskan ke sana namun tidak dengan pikirannya. Ia membiarkan pikiran miliknya yang kosong hingga ia tahu bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Perasaan yang terpatri dalam hatinya untuk sementara ia singkirkan. Ia juga bisa lelah dengan keadaannya seakan memaksanya untuk mengerti padahal dia tidak tahu jalannya seperti apa. Semesta seolah benar-benar mempermainkan segala hal yang membuat dirinya harus mendapatkan kesialan-kesialan atau karma yang seharusnya tidak ia dapatkan. Kadang Anna sampai berpikir apakah dia pernah mempunyai kesalahan di masa lalu hingga ia mendapatkan kesedihan yang melimpah.
"Kenapa sih? Lo dari tadi kok diam aja?" tanya Agneus teman sebangkunya yang tadi memperhatikan dirinya yang tidak fokus.
Anna menggeleng pelan lalu mengambil minuman yang di ujung mejanya. Kebetulan dia duduk di sudut dekat jendela.
"Gak kenapa-napa"
"Heleh! Kalau gak ada apa-apa lo kok dari tadi bengong mulu?"
"Lagi males ngomong. Kenapa sih emangnya?"
"Aneh anjir! Biasanya lo jawab tuh pertanyaan dari guru. Ini daritadi diam aja kayak nahan boker. Lo mau boker?"
Pertanyaan absurd itu hanya di jawab tatapan datar dari Anna. Dia sedang malas meladeni jokes aneh dari sahabatnya itu. Jadi ia lebih memilih mengalihkan pandangannya pada jendela sekolah. Pemandangan kali ini tidak terisi dengan banyaknya kaum bucin yang duduk di lapangan. Tapi hari ini di penuhi oleh laki-laki dari kelas Virzha yang sedang berolahraga. Mereka sedang pemanasan sekarang. Anna tertawa pelan melihat wajah cemberut Virzha yang tidak suka dengan olahraga. Pemuda itu selalu berkata olahraga dengan banyak gaya begitu sama sekali bukan style lelaki. Kenapa tidak langsung main bola saja?
"Ada sesuatu yang buruk terjadi antara lo dan Virzha?" tanya Agneus sekali lagi. Gadis ini kenapa jadi kepo?
"Kagak anjir. Emang kalau gue diem aja gue ada masalah?"
"Ya lo emangnya jarang sih banyak bicara, tapi kali ini diam lo tuh aneh. Kayak berusaha untuk terlihat benar-benar kuat sampai pikiran lo itu dipenuhi dengan banyak masalah" ucap Agneus dan Anna hanya menghela nafasnya sembari tersenyum pada sahabatnya itu. Agneus selalu saja tahu apa yang dia rasakan bahkan hanya sekedar menatap wajahnya yang lesu.
"Lo tuh selalu berpikiran kalau gue kenapa-napa. Gue beneran lagi gak ada masalah cuman sedikit memikirkan sesuatu. Ya pasti dong kita bakalan memikirkan sesuatu karena pada dasarnya kita semua juga punya masalah kan? Gue hanya belum siap aja kalau ada yang tahu masalah yang gue alami. Karena gue takut ketika gue menceritakan masalah gue, orang itu akan beranggapan bahwa gue terlalu drama dalam hidup. Padahal sebenarnya gue nggak pernah mengharapkan ada sesuatu hal buruk terjadi selama hidup gue. Tapi orang lain memang suka menghakimi kan? Bahkan orang itu tahu bagaimana hati yang hancur karena masalah yang kita punya dan lalu dihancurkan kembali dengan masalah yang orang lain bilang kita drama dalam hidup"
"Kenapa lo mikirin pendapat orang lain? Dia kasih lo beras atau sembako untuk kebutuhan sehari-hari aja nggak. Apa kabar dia mau menceritakan lo yang nggak-nggak. Gini deh, kalau misalnya lo merasa orang itu nggak bisa dipercaya, lagi jauhi aja orang-orang kaya gitu. Asal lah emang tahu ya dia seburuk itu kalau kita bercerita masalah yang kita punya. Karena seperti apa katamu tadi nggak semua orang bisa menerima apa yang kita rasakan atau yang kita alami. Rata-rata dari mereka memang lebih suka menghakimi untuk mendapatkan kepuasan tersendiri untuk mereka. Dan juga ketika lo mendapatkan orang yang bisa menerima cerita dengan lapang d**a dan dia bersedia untuk itu, itu juga nggak boleh menyia-nyiakan itu. Karena mungkin aja dia memang baik tapi ketika lo menolak untuk cerita sama dia, dia malahan merasa nggak bisa percaya sama dia," ucap Agneus hingga Anna sendiri takjub mendengarnya.
"Bagus juga pemikiran lo. Gue kira pemikiran lo cuman mabuk-mabuk aja"
Agneus menatap sebal pada Anna, "Anjing tau gak! Udah di kasih tau juga!" Agneus memukul kepala Anna dengan botol minum, "Asal lo tau ya! Walau Gue memang enggak menganut agama apapun, bukan berarti gue nggak nyuruh lo untuk percaya sama Tuhan lo. Karena kalau lo merasa Tuhan lo bisa memberikan kepuasan ketika mencurahkan isi hati lo, ya curhat aja sana kenapa lu harus ngomong sama orang lain lagi?"
"Karena pada dasarnya orang-orang juga butuh interaksi langsung ketika kita merasa ada masalah. Interaksi yang langsung mendapatkan timbal balik dari orang yang kita ajak bicara tentang masalah yang kita alami. Tapi iya emang semua orang nggak bisa baik kan? Dan juga kita nggak bisa mengharapkan orang itu baik juga sama kita"
"Yaps bener. Kita nggak bisa bikin semua orang suka sama kita. Gue bodo amat di bilang cewek yang murahan atau di bilang tukang mabok. Gue fine fine aja dengan julukan itu karena ya gue memang sebebas itu. Tapi gue males aja sama orang yang sok suci dan bilang kesalahan gue itu udah di luar batas. Tanpa biasanya juga lagi buat dosa dengan cium-ciuman" kekeh Agneus.
"Siapa?"
"Anak kelas sebelah. Sok banget ceramah bilang gue penghuni neraka. Dih! Hijab dia aja gak menutupi keburukan dia. Malahan pamer d**a lagi. d**a gue juga besar tapi gak norak kayak dia. Gue tau ya kalau di agama Islam tuh kalau pakai baju atau hijab yang menutupi. Itu kagak, cuman nutup rambutnya aja. Dadanya di umbar sana-sini. Bicaranya sok lagi kayak penghuni surga yang di idamkan. Cih. Najis. Gue enggak memasalahkan agamanya ya. Karena anjuran agama udah bener dia aja yang enggak. t***l banget sumpah. Rasanya tuh dadanya pengen gue remes-remes biar hancur aja p*****r sekalian" Agneus membicarakan hal itu membuat Anna agak takut pada gadis ini.
Agneus sebenarnya seharusnya sudah tamat sekolah. Namun gadis ini tinggal kelas karena suka membolos dan melakukan hal-hal kriminal di luar sekolah. Orangtuanya kebutuhan mempunyai koneksi yang luas dan besar sehingga kasus-kasus yang dilakukan oleh putrinya tidak terlalu tercium oleh publik dan bisa tetap sekolah seperti biasanya. Agneus memang adalah orang yang selalu berprinsip bahwa hidup itu harus bebas tanpa halangan apapun bahkan tetangga sekalipun. Namun walau bicaranya tidak pernah teratur dan blak-blakan, gadis ini tidak pernah sekalipun menghina orang-orang yang kastanya lebih rendah darinya. Seperti para pengemis atau orang-orang miskin yang tentu saja jauh di bawahnya jika mengenai harta. Namun jika mengenai kebahagiaan mungkin Agneus adalah orang yang paling terbawah karena orang tuanya yang tidak peduli padanya. Dan menjadikan dirinya berperilaku tidak normal atau lebih tepatnya sangat nakal. Sebagai bentuk pelampiasan kepada kedua orang tuanya selalu saja heboh mencari uang seakan-akan uang akan menyelamatkan diri mereka.