Anna kini keluar kelas untuk mengambil beberapa buku pelajaran untuk menambah catatan. Gadis itu merasa banyak yang kurang dan banyak yang perlu ditambah untuk pelajaran yang akan diujikan di Ujian Nasional nanti. Beberapa bulan lagi ia akan menempuh pendidikan terakhir di SMA dan mudah-mudahan ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah agar ia bisa meneruskan pendidikannya karena tidak bisa berpangku terus kepada Gama. Dan Gama seharusnya sudah bisa menikah seperti apa yang dia inginkan dulu. Namun karena dirinya ia harus merelakan masa-masa di mana dia seharusnya sudah menggendong anak. Anna tidak bisa memberatkan kakaknya itu lagi. Ia juga akan berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan untuk membantu pengeluarannya ketika kuliah nanti.
Sebenarnya sudah ada tawaran untuk menjadi penyiar radio atau penulis novel yang baru saja ditawarkan oleh salah satu rekannya. Namun Anna bisa memutuskan yang mana yang akan dia lakukan. Mungkin saja dia bisa melakukan keduanya namun ia takut tugasnya akan terbengkalai karena terlalu sibuk untuk mencari uang. Maka dari itu ia akan memikirkannya nanti dan itu akan membutuhkan sedikit pertimbangan yang akan dibicarakan nantinya kepada kakaknya untuk didiskusikan ulang. Karena bagaimana pun tentunya kakaknya harus tahu bahwa ia akan memilih kuliah dan menafkahi dirinya sendiri agar kakaknya bisa sedikit bebas untuk menjalani masa mudanya yang hanya untuk mengurus Anna. Kakaknya mesti merasakan bahagia.
Anna sekarang belok ke arah kanan di mana pintu perpustakaan ternyata masih buka. Biasanya kalau di jam-jam akhir seperti ini perpustakaan akan tutup karena murid-murid mungkin akan langsung pulang tidak akan mampir lagi ke perpustakaan. Namun perkiraannya ternyata salah. Ia kemudian masuk ke dalam perpustakaan dan mengisi absensi perpustakaan. Hari ini ternyata sedikit yang datang ke perpustakaan. Mungkin sebagian dari mereka sudah terlalu muak untuk belajar dan memilih untuk sejenak beristirahat. Hanya dirinya dan Jeffry yang sering berada di perpustakaan dan setiap hari nama mereka terpampang di buku absensi sebagai murid yang paling rajin mungkin.
"Buku apa aja ya tadi yang perlu gue bawa? Tadi katanya Agneus membeku apaan ya kok gue lupa?" monolog Anna. Gadis itu mondar-mandir untuk melihat banyaknya buku yang ternyata tidak pada tempatnya. Kenapa para murid-murid ini tidak bisa rapi? Padahal setiap 2 kali sehari mereka akan membersihkan dan meletakkan buku di tempat yang sesuai namun di berantakan lagi. Apa mereka tidak merasa bahwa keterlaluan jika para pembersih perpustakaan melakukan pembersihan setiap hari karena para murid murid nakal yang tidak tahu aturan itu.
Anna menghela nafasnya berat karena ternyata ia melihat buku yang ia cari salah satunya ada di paling atas. Kenapa Tuhan menciptakan dirinya pendek seperti ini. Banyak sekali hal yang perlu ia minta tolong dari orang lain karena tubuhnya yang terlalu pendek. Seharusnya ia bisa melakukan hal-hal kecil sendiri namun tidak bisa karena tubuhnya yang pendek. Tidak pendek sekali, sih. Namun sekitaran 163 cm tubuhnya belum bisa juga untuk menempuh lemari yang paling atas. Anna sudah berusaha melompat-lompat namun tetap saja tidak sampai. Tangga entah kenapa tidak ada seperti sesuatu yang terencana.
"Kalau gak nyampe bilang," ucap seseorang yang ada di belakang Anna. Anna hapal dengan suara dan wangi orang yang ada di belakangnya. Anna meneguk ludahnya kasar kemudian membalikkan tubuhnya. Ia melotot kaget saat pemuda yang ia rindukan menatap wajahnya dengan sendu.
"Makasih- Virzha," lirih Anna dengan suara bergetar. Kemudian ia membalikkan tubuhnya kembali untuk meletakkan buku yang jatuh karena ulahnya. Namun tiba-tiba ia terkesiap saat pelukan dari belakang menghampiri dirinya. Ia berusaha sekuat tenaga mengatasi detak jantungnya yang bertalu-talu begitu kencang. Rasanya ia rindu dengan pelukan ini. Rasanya ia ingin merasakan pelukan ini sepanjang waktu. Anna memejamkan matanya menetralisir getaran di hatinya. Dia rindu.
"Kamu baik-baik aja?" tanya pemuda itu. Anna menggeleng pelan sembari menahan tangisnya. Ia tidak kuat mendengar suara gemetar pria itu. Virzha membalikkan tubuh Anna dengan perlahan hingga wajah sendu itu menghiasi pikiran Virzha. Wajah yang selalu saja menganggu tidur nyenyaknya. Virzha memiringkan wajahnya dan mengecup pipi gadis itu. Anna kaget dan langsung meremas d**a bidang pria itu.
"Aku kangen. Kangen sama bawel kamu. Tapi kamu buat aku sakit hati, Anna. Kamu buat aku nggak percaya sama apa yang terjadi. Anna, aku beneran nggak bisa hidup tanpa kamu. Kalau kamu berkhianat, terus aku sama siapa? Aku harus benci kamu dengan cara apa? Aku mau menghukum kamu dengan bagaimana? Aku sampai nggak ngerti cara bagaimana untuk melupakan kamu. Terlalu sulit, Anna. Terlalu sulit untuk melakukan hal itu," ucap Virzha kembali dengan tulus. Anna bisa merasakan betapa tulusnya pria itu. Betapa caranya berbicara memang berniat untuk membuat Anna selalu merasa di cintai.
"Aku gak pernah mau kamu pergi. Aku cinta sama kamu" Virzha menangis dan menumpukkan dahinya dengan dahi Anna, "Anna, kamu harus tau aku cinta sama kamu tanpa ada kebohongan sama sekali. Tapi kalau kamu memang terpaksa untuk cinta sama aku, Anna, kamu boleh pergi"
"Aku gak akan pergi. Aku gak akan mengkhianati kamu" Anna menggeleng kuat. Ia tidak suka pembicaraan yang di lakukan oleh Virzha. Itu menyakiti hatinya.
"Tapi kenapa kami selingkuh?"
"Aku gak selingkuh Virzha! Aku gak selingkuh sama kamu! Kamu salah paham. Malam itu- hiks malam itu gak ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Noel"
"Tapi ada tanda di leher kamu"
"Itu- itu aku juga gak tau. Ketika aku bangun dan tiba tiba ada itu. Aku mohon sama kamu. Percaya sama aku. Aku gak berniat mengkhianati kamu barang sedetikpun dalam pikiran aku. Aku bersumpah gak pernah berpikiran seperti itu"
"Maaf, maaf kalau hadir aku membuat kamu mengalami kesulitan. Maaf kalau hadir aku membuat kamu banyak merasakan penderitaan. Aku selalu aja buat kamu pusing ya? Maafin aku ya. Aku gak akan begitu lagi kalau kamu pergi dari hidup ak-"
Ucapan Virzha terhenti saat ciuman yang di berikan Anna di pipi pria itu mampir. Ada getaran yang membuat Virzha ingin menangis. Dia memang baru saja meminum alkohol. Tidak, belakangan ini dia memang terlalu sering minum alkohol untuk melupakan Anna. Anna terlalu berharga untuknya hingga ia tidak bisa menghilangkan rasa itu dengan mudah. Dan tiba-tiba gadis itu terlihat oleh matanya. Dan Virzha tak bisa menahan rindu ini lagi. Hingga ia menghampiri gadis yang membuatnya stres sepanjang malam.
"Anna," panggil Virzha lalu dengan cepat pemuda itu merangkum bibir Anna. Pemuda itu mencium Anna dengan lembut hingga Anna bisa merasakan ketulusan pria itu. Anna mengalungkan tangannya di leher pemuda itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat perlakuan mereka dan merekamnya.