Keduanya masih menikmati ciuman masing-masing. Anna dan Virzha bahkan kini sudah menjelajah lebih jauh. Mereka melepaskan atasan seragam mereka dan mendorong Anna ke belakang. Anna terkesiap hingga ia berpegangan erat pada leher Virzha. Gadis itu kaget saat dengan sigap Virzha memegang pahanya lalu bokongnya kemudian menggendong gadis itu hingga kaki Anna melingkar di pinggang Virzha. Anna yang kaget tiba-tiba mendapat perlakuan itu hanya bisa menerima pasrah ketika dengan cepat Virzha mengecup leher nya. Memberikan sensasi yang begitu memabukkan bagi Anna. Anna bahkan tak henti mendesah kemudian meremas pelan rambut Virzha.
"Anna, aku kangen," lirih Virzha kemudian pria itu dengan cepat kembali mengecup bibir Anna dan mengusap paha gadis itu. Anna bingung harus menanggapi hal ini seperti apa. Hingga tiba suara buku jatuh terdengar dan menginterupsi kegiatan mereka. Anna mendorong kuat tubuh Virzha hingga pemuda itu limbung.
"Kalian sedang apa di sini? Gelap-gelapan dengan suara desahan yang terdengar. Kalian melakukan tindakan yang melanggar etiket sekolah."
Anna meneguk ludahnya kasar. Kini ia membantu Virzha untuk berdiri karena pria itu masih tertawa di lantai. Anna seketika langsung sadar bahwa pria ini tengah mabuk berat. Anna kembali membantu Virzha berdiri namun pria ini memang susah sekali. Tubuhnya yang berat membuat Anna seketika itu limbung juga. Gadis itu kamu dia menerima uluran Noel dan berdiri tegak.
"Kamu Virzha! Bagaimana bisa kamu minum alkohol saat masih di kelas?" ucap pria itu dengan tegas karena Virzha memang sudah kelewatan melanggar peraturan sekolah. Pemuda yang di marahi hanya diam saja dan tertawa saat melihat wajah Noel. Kupingnya memerah bahkan wajahnya juga memerah. Pria itu memang sedang di ambang kesadaran.
"Pak, bisa kita bawa saja dia ke UKS dulu? Setelah itu bapak mau memarahi dia gimana aja terserah bapak. Asal dia biarin istirahat dulu," kata Anna yang hanya mendapat tatapan datar dari Noel. Noel tidak suka. Dia benar-benar tidak suka saat tatapan sendu dan suara yang lembut itu di curahkan hanya untuk Virzha. Dia benar-benar ingin marah dan mengamuk namun ia akan menahan semua itu setelah hal ini selesai. Ia membopong Virzha dan membawa pemuda itu masuk ke dalam UKS. Anna sudah ingin menangis saja saat Virzha meraung dengan ucapan-ucapan yang menyayat hatinya.
"Mamaaaa... kenapa mama pergi sama laki-laki lain? Mama gak sayang aku kah?"
Anna menangis hingga ia memeluk tubuh Virzha dengan erat. Memberikan kekuatan pada pria itu agar pria itu menjadi lelaki yang kuat dan bahagia selalu. Anna sangat tidak mau melihat kelemahan Virzha yang begini. Ia tidak sanggup melihat pemuda itu menangis dengan tangan gemetaran seakan trauma itu memberikan efek yang sangat mengerikan pada mentalnya. Trauma itu sangat menusuk dirinya hingga ia sendiri tidak bisa merasakan hal apapun lagi. Virzha sangat takut. Ia takut di tinggalkan. Ia takut saat ia sendirian dan luka itu kembali menusuknya dengan cepat. Perceraian orangtuanya memang membawa dampak buruk bagi psikisnya. Anna memahami itu. Anna tau duka yang di emban oleh anak badung ini sebesar apa. Anna tidak bisa jika ia membiarkan Virzha kesedihan seperti itu.
"Virzha, Kamu nggak sendirian di dunia ini. Ada aku yang bakal mendukung kamu. Aku harap kamu jangan sedih-sedih yang terus begini. Aku sakit melihat kamu kayak gini, Virzha," lirih Anna dengan perasaannya yang gundah. Anna mencium kening pria itu dan mengusap rambutnya pelan. Rambut Virzha memang sangat halus dan Anna menyukai rambut Virzha. Gadis itu kemudian menenangkan kekasihnya hingga racauan itu berubah menjadi dengkuran halus dan membuat Anna tenang. Anna mengecup pelan kening Virzha sekali lagi kemudian menaikkan selimut sampai sebatas d**a pria itu.
"Kamu benar-benar mencintai pria ini?" tanya Noel yang sedari tadi ingin bertanya hal itu kepada Anna. Ia benar-benar merasa mual ketika melihat adegan yang terlihat di depannya ini. Ia sangat marah ia tahu itu akan membuat Anna semakin membencinya.
"Bapak nggak punya hak untuk menanyakan hal itu karena ini adalah hubungan saya dan pacar saya. Bapak sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengikut campuri apapun yang saya lakukan karena anda sendiri memang tidak ada hubungan apapun dengan saya. Anda belakangan ini terlalu mengikut campuri urusan pribadi saya dengan berlandaskan omongan bapak yang bilang bahwa saya adalah reinkarnasi dari seseorang yang anda cintai di masa lalu. Namun sebenarnya saya tidak mempedulikan hal itu karena saya tidak pernah merasa bahwa saya adalah reinkarnasi bahkan saya tidak pernah mengalami Dejavu walaupun hanya beberapa detik,"
"Kamu menyangkalnya bukan tidak merasakannya. Kamu kira saya terlalu bodoh untuk tahu bahwa kamu sering mengalami mimpi yang sama seperti yang saya lalui atau Kamu pernah mendengar dirimu dipanggil oleh seseorang dengan nama yang seharusnya bukan namamu namun nama yang terlalu asing untuk kamu dengar."
"Tapi bukan berarti bapak bisa bilang kalau saya adalah orang yang ada di masa lalu bapak. Pak, bapak terlalu terpaku dengan banyak konspirasi yang Bapak lakukan. Padahal nyatanya bukan hal seperti itu yang terjadi. Bapak terlalu banyak memikirkan eksperimen anda yang mungkin saja tidak sesuai ekspektasi dan menjadikan anda sekarang gila. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mengatakan kepada anda bahwa saya bukan seseorang yang anda inginkan di masa lalu atau orang yang terhubung dengan anda di masa lalu anda. Berpikirlah dengan logis Karena di masa sekarang tidak akan ada yang percaya dengan pemikiran bapak itu," ucap Anna dengan sarkas dan tegas seakan memang untuk ditujukan agar pria yang ada di hadapannya ini mengerti apa yang dia ucapkan. Dia sudah terlalu lelah untuk menanggapi segala perkataan dari pria ini. Alasan untuk mendekatinya selalu saja hal yang sama yaitu reinkarnasi. Sesuatu yang sampai sekarang tidak pernah terpikirkan oleh Anna sekalipun. Ia terlalu asing dengan perkataan pria itu.
"Kamu memang benar-benar keras kepala. Kamu tahu betapa aku bener-bener berusaha keras supaya kamu ingat dan kamu tahu bahwa betapa aku sayang sama kamu. Kamu tahu aku sering menentang orang tuaku agar aku bisa menentukan bagaimana kelanjutan kehidupan kita di masa sekarang. Namun beberapa kali kamu selalu menyangkal. Beberapa kali kamu selalu mengatakan kalau aku gila"
"Karena kamu memang gila! Kamu selalu aku membuat aku bingung dengan semua perkataan yang terlontar dari bibir kamu. Kamu selalu aja membuat aku gundah juga terus-terusan menurut aku supaya aku ingat tentang apa yang kamu inginkan. Dan pada akhirnya apa? Hubungan aku sama Virzha yang jadi berantakan karena pemikiran kamu. Kamu bahkan bisa mencari seseorang yang lebih baik daripada aku Tapi kenapa harus aku yang kamu paksa menjadi seseorang yang ingin kamu jadikan pasangan kamu?"