Anna membeli makanan yang berada di kantin setelah jam pulang sekolah. Gadis itu masih menunggu Virzha sadar dari mabuknya. Setelah perdebatan panjang antara dia dan Noel selesai, pria itu pergi dari hadapannya tanpa sepatah katapun dan Anna membiarkan hal itu. Anna tidak memberikan banyak sanggahan apapun dan lebih memilih diam dan tak berkutik bahkan ketika pria itu menendang pintu dengan keras. Ia benar-benar menulikan hal itu. Baginya, Noel hanya orang gila yang terlalu obsesi terhadap penelitian yang ia buat. Dan Anna tidak akan membiarkan pria itu mengobrak-abrik kehidupannya untuk kepentingan pribadinya itu. Karena siapa pun orangnya tidak diusik oleh siapapun.
"Nasi jangan ditaruh bawang goreng ya Bu," ucap Anna pada seorang bibi kantin yang sudah lama menetap di sekolah itu. Bibi tersebut bahkan tinggal di belakang sekolah. Keluarga dari Noel memberikan tempat tersebut pada bibi dan keluarganya karena awalnya mereka hanyalah gelandangan yang beruntung mendapat kebaikan dari keluarga Joe, ayah dari Noel.
Bibi kantin bahkan tak segan untuk menceritakan kejadian yang menimpanya dan kebaikan yang di terimanya dari keluarga Joe. Hal itu sudah menjadi rahasia umum yang kadang anak baru saja yang baru pertama kali masuk akan tau cerita bibi kantin dan keluarga Noel. Apalagi cerita itu di bicarakan hampir ke setiap murid. Kebaikan Joe dan istrinya memang di hormati oleh bibi kantin.
"Atuhlah neng kenapa murung aja dari tadi?" tanya bibi kantin yang melihat Anna sedari tadi hanya diam dan melamun seakan pikirannya melayang entah kemana. Memang dia mengusir Noel. Namun entah kenapa dalam hatinya ia merasakan sakit saat melihat mata itu berkaca-kaca seakan merasa kecewa dengan keputusan Anna memilih untuk memilih bersama dengan Virzha dan melupakannya.
"Gak papa, biii. Tadi banyak banget pekerjaan rumah yang harus aku urus belum lagi beberapa hari lagi bakalan ujian nasional. Banyak banget pikiran dan membuat aku merasa aku stress juga sih, Bi"
"Jangan banyakkan stres. Nanti tuanya banyak lagi yang mesti di pikirin. Pikirkan apa yang perlu di pikirkan dulu. Entar kalau udah selesai ujian jangan lupa untuk olahraga dan minum obat. Jangan sampai nanti pas tua kamu malahan nyesel karena banyak pikiran dan enggak pernah memperhatikan kesehatan kamu. Bibi aja yang sudah tua menyesal karena dulu tidak menjaga kesehatan ketika masih muda. Semuanya dipikirin. Semuanya di bawa pikiran kesana kemari. Jatuhnya stres," jelas Bibi dan diberi senyuman lembut oleh Anna. Anna memang suka sekali ketika Bibi berbicara banyak hal tentang filosofi kehidupan. Karena yang ia bicarakan lebih relate tanpa basa-basi kesana kemari. Terkadang kita membutuhkan kata-kata kasar dan motivasi yang lebih keras untuk memicu kehidupan kita.
"Yaaa, Makasih banyak ya, Bi. Nanti aku usahakan ketika selesai ujian bakalan olahraga yang rajin minum vitamin yang banyak. Nggak banyak banget nanti takutnya overdosis," Anna tertawa dan Bibi juga ikutan tertawa, "Ya tapi aku juga pengen sehat, Bi. Belakangan banyak hal yang menimpa kehidupan aku secara tiba-tiba membuat kehidupan aku yang tersusun rapi menjadi berantakan dan tak beraturan. Padahal udah berusaha keras untuk tidak menghiraukan dia. Tapi dia selalu aja datang ke aku. Meminta seluruh hidupku agar bertopang untuk sama dia. Padahal aku bahkan sama sekali nggak pernah kenal dia. Tapi dia selalu aja buat aku pusing, bi"
"Kadang hidup itu kita nggak tahu bakalan seperti apa dan gimana. Ketika kita tahu bahwa hidup kita bagus-bagus aja, mungkin kita nggak akan pernah mengenal yang namanya Tuhan. Kita nggak akan mengenal yang namanya takut terhadap siapapun. Kita hanya mengandalkan diri kita sendiri hingga pada akhirnya itu menjadi bumerang tersendiri untuk kita. Hidup itu bakalan sering jungkir balik bahkan kalau sekali muter aja bisa 360° dari kehidupan yang kita alami seperti biasa. Namun kita itu manusia. Kalau kita mendapatkan masalah ya kita datang ke Tuhan. Kita juga nggak akan pernah tahu skenario terbaik apa yang Tuhan berikan kepada kita karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan. Jadi, kamu meski banyak berdoa supaya Allah memberikan kamu kemudahan dalam menuntut ilmu dan menjalani hidup. Karena jika kita patuh kepada Allah. Insyaallah, apapun yang terjadi dalam hidup kita pasti akan diberkahi. Bahkan tanpa kita duga dan tanpa kita pikirkan itu kita bisa aja menjadi lebih baik. Tuhan itu maha adil dan maha bijaksana. Insyaallah kehidupan kamu bakalan baik-baik aja kalau kamu memang benar-benar bisa patuh dalam menjalani kaidah kehidupan selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan untuk kamu," jelas Bibi kepada Anna.
Anna tersenyum menanggapi ucapan yang diberikan oleh Bibi. Karena memang pada dasarnya manusia tidak akan pernah tahu bagaimana skenario hidup mereka berjalan dan bagaimana mereka menghadapi masalah. Cara manusia menghadapi masalah juga berbeda-beda walaupun mereka diberi masalah yang sama. Penyelesaian terhadap masalah yang kita punya itu bisa seakan menjadi tuntutan untuk menjadi lebih baik lagi. Masalah terkadang memang membuat kita merasa bahwa kita adalah manusia yang paling rendah dan paling tersakiti. Bahkan kita selalu menganggap bahwa diri kita adalah seseorang yang hanya bisa menangis menghadapi semua masalah yang di dera. Kebahagiaan yang kita punya juga belum tentu menjadi kebaikan untuk diri kita sendiri. Maka dari itu Anna perlahan akan menyelesaikan satu persatu masalahnya. Dan ia bener-bener akan menyelesaikan itu secepat mungkin agar tidak ada kesalahpahaman juga yang tersakiti lebih banyak.
"Bi, makasih banyak atas wejangannya hari ini. Aku enggak tahu harus bicara sama siapa lagi karena aku sendiri juga nggak punya orang tua. Bibi kau kan masalah hidupku aja bahkan susah banget untuk aku mengerti. Kayakkk aku udah mengalami banyak masalah tapi diberi masalah yang lebih berat lagi."
"Itu namanya Tuhan sayang sama kamu. Dia mau melatih kamu supaya lebih kuat dan lebih mandiri dalam menghadapi kehidupan. Dia juga tahu kamu adalah anak yang baik dan kuat makanya diuji dan diberi masalah yang sebenarnya bisa kamu lewati. Namun kamu terlalu merasa bahwa masalah yang kamu hadapi membuat kamu menjadi manusia yang paling rendah. Nak, kalau misalnya kamu merasa sedih kamu bisa datang loh ke tempat Bibi. Cerita banyak hal ini bakalan bibi dengerin kok."
"Ih nanti ganggu Bibi."
Bibi mencubit bahu Anna pelan membuat Anna tertawa, "Bibi tuh nggak pernah merasa direpotkan sama kamu. Apalagi merasa diganggu sama kamu. Kamu itu anak yang baik. Bibi aja kalau denger cerita kamu yang kehilangan orang tua kamu karena kecelakaan yang seharusnya bukan kecelakaan aslinya melainkan percobaan pembunuhan berencana, rasanya bibi mau nangis. Bibi sakit hati melihat kamu sedih kayak gitu. Jadii, bahagia selalu ya," ucap Bibi kemudian di beri anggukkan oleh Anna. Hatinya sedikit meringan sekarang.