"Tapi, kak Ann kalau misalnya hidup ini banyak pilihan. Aku ingin menjadi sekotak s**u," ucap Ichi. Ichi adalah adik Noel yang kelakuannya sebelas dua belas sama preman pasar yang gak ada duit rokok. Iya, kalau misalnya nih cewek tidak ada yang di ganggunya, berarti dia sedang suntuk kayak mamang rokok. Kadang Anna heran, Nana itu anaknya manis dan tidak terlalu pecicilan seperti Ichi. Namun Ichi sendiri kelakuannya seperi Dajjal. Tidak bisa diam bahkan selalu saja melakukan hal tak terduga.
"Kayak kotak s**u mau aja jadi lo. Btw, kak. Katanya lo bakalan ikut lomba menyanyi. Aaaaa pengen deh dengerin kakak nyanyi terus dengan senyuman yang bahkan buat banyak cowok histeris nih. Karena sebenarnya kakak itu adalah idola yang sebenarnya di sekolah ini. Bukan para geng cabe yang nggak tahu diri itu," kata Zoya salah satu kelasnya yang sifatnya seperti sahabatnya suka ceplas-ceplos berbicara dengan lugas dan tidak bermuka dua. Hal yang membuat Zoya sendiri kadang banyak disukai namun juga dibenci di saat yang bersamaan karena sifatnya yang jika berbicara selalu saja blak-blakkan.
"Gak tau sih. Kayaknya kalau misalnya memang bisa ya gue bakalan nyanyi. Tapi kalau gue nggak bisa dan gue merasa gue belum mampu, gue nggak bakalan mau nyanyi karena itu sama aja gue menjatuhkan diri gue sendiri."
"Elahhh, heh! kalau diri sendiri itu buat malu ya nggak apa-apa selama nggak pernah merepotkan orang lain atau merasa merugikan orang lain. Lain lagi kalau misalnya lo suka banget nyusahin orang lain, nah bisa lo sungkan kayak gitu. Orang yang suka merepotkan orang lain aja terkadang banyak yang nggak peduli yang penting mereka senang," ucap Ichi. Adik kelasnya yang satu ini memang lebih realistis ketika berbicara. Apapun yang diucapkannya selalu saja berdasarkan fakta yang ada. Maka dari itu Anna suka sekali berbicara dengan dia.
"Lagian kak, lo masa merasa insecure sama kemampuan lo padahal udah diakui oleh banyak orang. Seharusnya pas lo udah punya bakat yang bahkan sudah diakui oleh banyak orang, lo mesti lebih pede lagi. Karena ya, enggak semua orang kan bisa punya bakat kayak gitu. Apalagi gue aja kalau nyanyi suka nadanya entah gimana gimana," kata Zoya.
"Gue sebenarnya udah mengakui kalau gue juga udah bisa melakukan nyanyian bahkan dengan nada tinggi. Tapi terkadang orang yang udah hebat aja masih merasa apa yang dia lakukan belum terasa sempurna. Banyak penemu yang kadang masih belum puas dengan penemuannya sendiri. Dia nggak bakalan kehabisan akal untuk menyempurnakannya agar diterima oleh publik. Jadi ya sebenarnya gue hanya perlu banyak latihan lagi supaya apa yang gue tampilkan menjadi kesenangan buat orang lain. Dan itu adalah hal yang ingin gue lakukan," ungkap Anna dan para adik kelasnya mengangguk mendengarkan ucapan Anna.
Anna memang dekat dengan adik-adik kelasnya yang satu kelas dengan Ichi. Ichi yang memperkenalkan diri dengan teman-teman sekelasnya karena pada saat itu Anna tidak mempunyai teman sebab Anna yang sedikit menjauh dengan teman-temannya. Pada saat itu Anna masih tidak suka dekat dengan siapapun karena kematian kedua orang tuanya masih memberikan trauma kepadanya. Anna masih enggan berteman dengan siapapun dan memilih duduk di taman untuk menangisi kisah hidupnya.
Hingga Ichi datang sebagai adik kelas yang peduli padanya. Ichi mengatakan bahwa dia senang berteman dengan Anna yang tidak banyak bicara dan hanya membicarakan hal-hal yang diperlukan saja. Tipe manusia yang tidak munafik.
"Kak, ada liat kang Virzha nggak? Gue daritadi cari kok nggak ada ya," tanya Damian, junior Virzha di ekskul basket.
"Di tempat tongkrongan dia nggak ada?"
"Nggak ada kak. Udah di cariin kemana-mana juga gak ada. Gue kira dia lagi sama lo. Eh ternyata lo lagi sama para manusia-manusia ini." Damian menunjuk adik-adik kelas yang sebenarnya sebaya dengannya itu dengan lagak yang songong. Hingga Ichi menendang kaki pemuda itu dengan kencang dan membuat Damian meringis.
"Gaya lo sok banget nunjuk-nunjuk kita semua. Punya apa lo sampai kayak gitu?" Ichi tak kalah heboh menunjuk wajah Damian dengan jari tengahnya. Gadis itu terlihat ingin memukul musuh bebuyutannya tersebut. Iya, Damian dan Ichi memang terkadang tidak pernah akur sama sekali. Tapi lucunya ketika mereka selesai bertengkar, keduanya akan pergi bersama membeli mie ayam untuk dimakan berdua.
"Yaudah, gue coba nanti dicari ya. Gue tinggal dulu ya semuanya. Mau cari Virzha dulu," kata Anna kemudian berlalu pergi untuk mencari keberadaan Virzha. Belakangan ini pria itu memang suka menyendiri entah kemana. Hanya diam jika diajak berbicara hingga menimbulkan pemikiran aneh oleh para teman-temannya. Dari yang katanya Virzha sedang sembelit. Sampai kabar putus antara Anna dan Virzha. Yang tentu saja di bantah oleh pemuda itu.
Anna menyusuri halaman belakang sekolah. Ia perlahan-lahan mendekati area rumah kosong yang di dekat situ. Tidak tahu area itu punya siapa. Yang jelas Anna kadang melihat ada yang merokok di sana. Ia merasa Virzha ada di sana dan dengan itu juga ia mendekati tempat itu. Berharap Virzha memang ada di sana.
"Virzha!" panggil Anna. Namun tak ada sahutan dari dalam sana. Gadis itu masuk perlahan namun tangannya seakan merasa ada yang menahannya. Ia kemudian menoleh ke belakang hingga di sambut oleh Noel yang menatapnya tajam.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Noel. Pria itu seperti marah padanya karena memasuki tempat ini.
"Saya mau cari Virzha pak."
"Kamu yakin dia di dalam?"
"Saya sering melihat ada orang yang merokok di sini pak. Jadi saya kira ada Virzha."
"Saya nggak peduli ada yang merokok atau enggak. Sekarang kita balik ke kelas. Di sini berbahaya sekali."
Anna mengernyit heran dengan pria yang ada di hadapannya ini. Entah kenapa dia merasa aneh dengan tatapan itu. Tatapan seperti takut akan sesuatu terbongkar.
"Bapak kenapa seperti ketakutan ketika saya ingin masuk ke dalam? Apa jangan-jangan Bapak menyembunyikan sesuatu?"
"Saya tidak menyembunyikan apapun."
"Tapi Bapak kelihatan banget ketakutan. Saya merasa bahwa bapak menyembunyikan sesuatu hingga Bapak takut saya masuk ke dalam," tuduh Anna.
"Saya hanya mau kamu nggak kenapa-napa. Kenapa kamu susah sekali untuk dilarang. Saya hanya memberitahu kamu supaya kamu selamat."
"Saya bahkan nggak tahu bapak menyelamatkan saya dari apa. Bapak hanya menyuruh saya pergi dari sini karena bapak bilang bahaya tapi saya sendiri juga nggak tahu apa yang bahaya di sini. Saya sudah bersekolah disini sejak lama tapi saya tidak pernah menemukan keanehan di dalam gedung ini. Tapi bapak yang baru saja datang ke sekolah sini langsung bilang kalau tempat ini bahaya."
"Ada monster di dalam. Psycopath Anna!!"
Anna mengernyitkan dahinya Karena heran dengan perkataan pria itu. Ia mengusap kening Noel memastikan pria itu baik-baik saja. “Gak panas dan kamu masih waras. Kenapa bisa bicara melantur begitu?”
“Kamu gak percaya? Di dalam sana ada monster. Kamu gak usah masuk sana.”
“Emangnya monsternya bentuk gimana? Aku gak tau sama sekali selama aku sekolah di sini.” Anna mencoba menanyakan kembali apa yang di maksud pemuda itu. Ia hanya merasa heran saja karena Noel bersikeras mengatakan jangan masuk ke dalam sana. Padahal gedung ini memang sudah lama tidak dipakai. Dan selama Anna bersekolah di sini, belum pernah Anna menemukan kasus pembunuhan hingga penyiksaan di sini.
“Nggak paham juga? Kalau begitu kamu masuk aja daripada mencoba memahami apa yang aku ucapkan.” Noel mendorong Anna ke arah depan dengan sangat di paksa. Anna sebenarnya daritadi heran dengan perkataan pria itu. Kenapa mengatakan di dalam gedung itu bahaya? Anna yang punya darah muda kan jadi penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Maka dari itu ia akan memikirkan rencana agar bisa masuk ke dalam sana.
“Di depan pintu gedung tadi ada CCTV yang memang sengaja aku pasang agar gak ada yang bisa masuk sembarangan ke dalam sana. Tak terkecuali kamu yang sangat nakal dan susah sekali di beri tahu kalau di dalam sana sangat bahaya sekali,” ucap Noel yang seakan bisa membaca pikiran Anna. Anna membalikkan tubuhnya hingga jarak antara Anna dan Noel dekat. Mereka sedang berada di koridor belakang hingga jarang yang lewat.
“Kamu tau pikiranku?” tanya Anna dengan mata memicing.
“Nggak lah,” ucap Noel kemudian menarik Anna dengan mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu. “Kenapa? Kamu merasa kalau aku bisa menebak cara pikiranmu? Tentu saja aku tau karena memang dari wajah kamu saja sudah terlihat jelas bahwa kamu tengah memikirkan sesuatu setelah aku mengatakan jangan ke sana.”
Anna memutar bola matanya dengan cibiran yang keluar dari bibirnya. Ia mencoba melepaskan pelukan Noel. “Karena aku pikir aneh saja ucapan yang kamu katakan tanpa ada penyanggahan atau alasan yang konkrit hingga menimbulkan kecurigaan yang tidak berdasar,”
“Makannya gak usah curiga.” Noel menyentil dahi Anna. “Kamu sudah nyaman dengan panggilan aku-kamu?” tanya Noel. Anna yang merasa dia juga tidak mengganti nama panggilan lagi, sekarang entah kenapa lebih luwes saat berbicara. Gadis itu menggeleng pelan lalu dengan langkah gontai ia pergi meninggalkan Noel yang menatapnya semakin jauh. Pemuda itu tersenyum saat tak sengaja ia melihat senyuman dan rona merah pipi itu menyebar luas di wajah dan telinga gadis itu. Noel tersenyum kemudian bergantgi menjadi tawa ringan yang entah kenapa bisa melambungkan hatinya menjadi senang. Dia bahagia bisa sedamai tadi ketika berbicara dengan Anna. Karena biasanya mereka akan bertengkar dulu. Noel harap ini akan berlangsung lama.