Para anggota OSIS tengah sibuk kesana-kemari mengurusi kegiatan perlombaan basket antar sekolah yang akan di laksanakan siang nanti. Anna bahkan tak sempat sarapan karena pagi tadi ia telat dan langsung pergi sekolah. Gama sebenarnya sudah marah dengan kebiasaan buruk Anna yang suka sekali melewatkan sesi sarapannya. Namun kalau sudah kebiasaan, untuk merubahnya menjadi kebiasaan baik susah. Gama sudah beberapa kali mengatakan hal yang sama ke Anna tentang kesehatan. Namun gadis itu masih saja keras kepala.
“Tolong jangan lupa check sound dulu ya. Sama jangan lupa para peserta nanti kalau udah masuk dan duduk dibangku masing-masing harus udah megang snack sama minumannya ya,” perintah Anna pada salah satu juniornya. Namanya Maraka. Pria kelahiran Kanada dan salah satu kaki tangan andalan OSIS yang bisa mengayomi atau memimpin angkatannya di kelas sebelas. Anna bersyukur mengenal Maraka. Selain ia pkerja keras dan banyak membantu siapapun, pemikiran pria itu sangatlah keren dan bagus. Ingin sekali rasanya ia bertukar pikiran dengan Maraka namun ia malas atau lebih tepatnya malu pada Maraka. Ia memangtidak bisa terbuka pada siapapun. Gadis itu hanya tidak ingin ia merasa down juga karena terdengar desas-desus yang mengatakan jika berbicara dengan Maraka akan menangis hingga lelah.
“Ini para pendukung dari sekolah lain dikasih cemilan sama minum juga gak?” tanya Maraka.
“Dikasih juga. Nanti kalau udah masuk pokoknya kasih ke mereka. Awasi juga para manusia yang biadab lainnya. Takutnya konsumsi bisa di borong sama mereka,” ujar Anna. Ia sudah tau tabiat di sini. Walau banyak anak orang kaya di sini, tak menyulut akan banyak juga yang menghabisi makanan yang disediakan untuk para tamu dan peserta.
Anna kembali berjalan ke bagian lorong yang menjadi tempat para peserta berkumpul. Di depan lorong ada lapangan kecil yang biasanya hanya untuk anak Pramuka melakukan kegiatan. Dan di lorong tersebut juga sudah disediakan tempat agar peserta bisa mempunyai tempatnya sendiri. Ruangan itu adalah tempat kelas yang di tukar sementara menjadi ruangan peserta. Ada 5 kelas yang dipakai dan rata-rata ruang kelas 10 MIPA.
"Anna," panggil guru Olahraga kelas 12. "Sudah siap semuanya? Lapangan sudah bersih? Perlengkapan sudah siap dan konsumsi aman?" tanya pria yang usianya tak jauh dari Noel.
"Semuanya sudah selesai pak. Tinggal pertandingan saja dan peserta juga sudah mendapatkan konsumsi masing-masing dan akan di beri konsumsi kedua untuk para peserta. Khusus para peserta. Lapangan sudah bersih dan wasit sudah bersedia di masing-masing tempat. Mic sudah di sediakan dan semuanya sudah di lakukan dengan baik oleh para murid yang membantu," jelas Anna yang di acungi jempol oleh gurunya tersebut. Anna memang mempunyai daya tanggung jawab yang tinggi. Walau mereka sudah lengser dari jabatan OSIS dan digantikan oleh Adimas, siswa kelas 10 MIPA, tak membuat gadis itu dan Jeffry mundur tanpa mengayomi para juniornya. Hal yang membuat para guru berdecak kagum karena mereka memiliki tanggung jawab yang besar dan tidak segan untuk membantu meringankan beban para adik kelasnya.
"Ok, kalau semua sudah siap, kamu bisa suruh Virzha atur para peserta kan?" tanya pak Ari pada muridnya itu. Sejenak Anna hanya diam. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya menerima perintah pak Ari. Anna beranjak dari sana setelah pamit kepada pak Ari.
Anna menghampiri salah satu adik kelasnya yang sedang mengambil bola basket. "Nathan, ada liat Virzha gak?" tanya Anna.
"Kurang tau kak," jawab Nathan.
"Haduhhh tuh anak susah banget emang dicari. Selalu aja ngilang entah kemana," keluh Anna yang di balas tatapan datar oleh Nathan. Pria ini memang terkenal dengan kepribadian yang tenang dan dingin. Pacar dari Valerie, adik Jeffry, ini bahkan hanya berbicara banyak pada pacarnya. Kalau sama orang lain, pemuda ini memilih untuk tidak banyak bicara dan mengatakan hal-hal yang di perlukan saja.
"Kalau Nana, tau gak ya Virzha di mana."
"Kayaknya tau kak. Tapi tanya aja coba dulu. Gue mau ke lapangan lagi kak. Mau antar bola." Nathan pamit lalu membawa bolanya ke lapangan di mana sudah banyak para peserta juga supporter yang duduk di tempatnya masing-masing. Terlihat yang membawa para peserta adalah Jeffry. Mungkin karena sudah mepet waktu, pak Ari menyuruh Jeffry untuk mengambil alih tugas dari Virzha.
Anna menghela nafasnya kasar. Ia merasa bingung dengan kepribadian dari dari Virzha yang belakangan ini semakin aneh. Pria itu lebih banyak diam dan tak mau di ajak bicara apapun. Lebih memilih menatap datar pada Anna ketimbang menatapnya lembut seperti biasanya. Anna merasakan keanehan itu semenjak mereka bertengkar karena Noel. Dari situ pemuda tersebut sudah menjadi orang yang asing bagi Anna. Anna sebenarnya kepribadian yang dimiliki oleh Virzha. Namun di satu sisi ia juga merasa bersalah karena dirinya membuat Virzha mengingat trauma yang dialaminya dulu. Anna memang sudah sangat merasakan apa yang terjadi dalam hubungannya belakangan ini semakin aneh. Ia memang tau kalau dirinya salah. Namun dia juga sudah meminta maaf atas apa yang terjadi belakangan ini. Namun entah kenapa Virzha seakan menyulitkan dirinya. Pria itu memilih diam dan seakan tak peduli apapun yang dikatakan oleh Anna.
"Kamu dari mana?" tanya seseorang yang berada di samping Anna. Pria itu menatap wajah Anna yang sepertinya menahan kesal namun seperti ingin menangis juga. Anna menahan itu semua seakan ia tidak bisa meluapkannya untuk sekarang. Keadaan sedang sangat ramai dan Anna sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Dengan cepat Anna mengusap wajahnya dan melangkah hendak ke lapangan. Namun belum sempat ia melangkah, tangan Anna ditahan oleh Noel.
"Wajah kamu memerah begitu. Kamu baik-baik aja?" tanya Noel dengan nada cemasnya. Anna menggeleng pelan menyembunyikan sedihnya. Gadis itu melepaskan tangan Noel dan berlari ke lapangan.
"Kak, kayaknya bang Virzha gak datang lagi ya? Ini nomor sama orangnya aja gak muncul-muncul," ucap Nana memberitahu Anna bahwa pemuda itu sudah berulang kali menelpon nomor Virzha namun tak ada sahutan yang diberikan oleh pria itu. Hanya suara tante-tante call center yang terdengar dari ponsel Nana. Nana bahkan sudah berusaha untuk mencari pria itu ke berbagai tempat namun dirinya tidak menemukan kakak kelasnya itu.
"Gue gak tau, Na. Kayaknya emang dia nggak datang lagi. Tadi gue juga coba nelpon dia dan cari dia kemana-mana tetap aja dia nggak ada. Nggak papa. Lo coba pakai anggota lain aja untuk mengurusi pertandingan. Gue bakalan bantu lo juga kok. Jadi kita semua gak merasa keberatan sama pekerjaan yang kita punya. Dan gue harap Lo jangan banyak melamun ya. Belakangan ini kayaknya lo melamun terus."