"Ada perlombaan ya di sekolah?" tanya Joe saat melihat putra tertuanya tengah sibuk melakukan persiapan dirinya untuk pergi ke sekolah. Joe mendengar bahwa sekolah tengah mengadakan perlombaan basket antar sekolah lainnya.
"Iya... tunggu, tumben nanya sama aku. Bukannya Papa lagi marah sama aku?" tanya Noel saat melihat papanya sibuk menanyakan dirinya.
"Kan marahnya Papa udah siap Bang. Papa marahnya cuman sebentar sama kamu. Papa mana bisa marah sama anak Papa yang paling ganteng ini."
"Apaan coba papa ngomong kayak gitu sama aku? Papa kayak orang lain deh."
"Apaan sih. Masa Papa bilang anak papa sendiri ganteng kamu marah."
"Bukannya marah. Aku lagi males digoda-goda sama Papa. Papa bukannya masih marah gara-gara aku bentak Bunda?" tanya Noel kembali.
"Papa udah nggak marah dong. Papa sebenarnya mau minta maaf sama kamu karena Papa udah bicara kasar sama kamu. Kamu tahu sendiri kan gimana Papa sesayang itu sama Bunda kamu. Papa cuman nggak mau Bunda kamu itu mengalami bentakan lagi karena dulu dia sering dibentak oleh orang tuanya. Papa enggak mau Bunda kamu mengalami trauma kembali seperti dahulu. Asal kamu tahu, nak. Bunda kamu udah mengalami banyak hal yang saat itu anak-anak remaja tidak mungkin mengalaminya. Papa terkadang saja bisa lepas kendali ketika berbicara dengan Bunda kamu. Papa pernah membentak Bunda kamu untuk pertama kalinya setelah kami menikah. Dia menangis histeris bahkan dia memukuli dirinya sendiri. Papa hanya enggak mau Bunda kamu mengalami hal yang sama kembali. Karena menorehkan luka lama itu sama saja membuat seluruh masalah yang terdahulu kembali hadir dan mengacaukan segala pemikiran orang," jelas Joe pada putra tertuanya itu.
Noel mengangguk mengerti. Dulu saat Bundanya pertama kali dibentuk oleh Joe, pemuda itu sudah berumur 7 tahun. Untuk Noel, umur 7 tahun adalah umur di mana dia sudah berpikir logis bahkan dia sudah bisa menemukan berbagai penelitian sehingga sudah diakui oleh dunia bahwa dia adalah anak yang paling jenius. Dan pertengkaran antara Bunda dan Papanya ia sudah sangat mengetahuinya bahkan dia bisa melerai kedua orang tuanya yang tengah bertengkar itu. Joe bertengkar dengan Key Karena wanita itu terus-terusan saja mengatakan bahwa Noel, sahabatnya, adalah orang yang paling mengerti dirinya ketika dia mengalami down dalam hidupnya.
Joe pada saat itu marah karena istrinya mengatakan hal-hal yang aneh juga. Dan bahkan untuk pertama kalinya ia melihat papanya sendiri menampar bundanya hingga sang Bunda terhuyung jatuh ke lantai. Dan rasanya Noel saat itu sudah tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali menganga kaget saat melihat Bundanya semakin brutal dengan melempari Joe berbagai guci. Di saat itu juga Joe membawa istrinya ke rumah sakit. Awalnya di rumah sakit biasa. Namun dokter menyarankan untuk Key dibawa ke rumah sakit jiwa karena wanita itu telah mengalami trauma yang begitu berat. Key dirawat selama 2 bulan. Penyebab utama wanita itu mengalami trauma nya kembali adalah karena Joe yang membentaknya habis-habisan dan Key yang katanya didatangi oleh sosok pria yang mengatakan bahwa dia adalah penyebab dari kehancuran para reinkarnasi yang terjadi.
Noel tak mengerti apa yang dikatakan oleh Papanya saat menceritakan hal itu kepada kakeknya. Namun, ketika dia sudah dewasa, pria itu lambat laun mengerti apa yang dimaksud oleh kakek dan Papanya. Karena dia juga mengalami hal yang sama. Noel didatangi oleh pria yang mengatakan bahwa dia harus bersama pasangannya. Pasangan yang memang ditakdirkan dari Tuhan untuk selalu bersama. Jika kedua pasangan ini tidak bisa bersama, maka reinkarnasi akan kembali berputar dan melakukan tugas yang sama yaitu membiarkan para pasangan mengalami hal kesulitan dan pada akhirnya mereka bisa bersatu.
"Iyaaa aku tahu kalau Bunda pernah mengalami trauma yang begitu berat hingga masuk ke rumah sakit. Aku juga kemarin memang benar-benar lepas kendali sampai bisa-bisanya aku membentak Bunda," sesal Noel hingga pria itu pada akhirnya menitikkan air matanya mengingat bahwa Bundanya menangis dua hari dua malam karena perlakuannya yang kasar terhadap Bundanya tersebut.
"Kamu udah minta maaf sama Bunda kamu?"
"Udahlah. Masa aku minta maaf lama-lama. Lagian kalau aku nggak minta maaf sama Bunda, Aku nggak mau rezekiku langsung hilang karena perlakuan kasar aku sama Bunda makan nggak mau minta maaf sama beliau. Dan kemarin papa juga aku ajak minta maaf jawaban papa cuman berdehem aja. Bikin aku pengen banget marah sama papa tapi aku nggak mau jadi anak durhaka juga," gerutu Noel.
Setelah 2 hari pertengkaran mereka selesai, pemuda itu mendatangi Papanya untuk meminta maaf. Namun, ternyata Papanya hanya melengos dan berdeham saja membuat dia ingin mengumpat kasar namun tidak bisa karena takut dosa. Sebejat apapun perbuatan Noel, dia tidak bisa marah atau membentak orang tuanya sendiri karena ia takut menyakiti orang yang sangat ia sayangi dan ia hormati di dunia ini. Dia tidak bisa membuat kedua orang tua yang menjadi penopang dalam hidupnya ini mengalami kesulitan. Tapi, pada dasarnya memang diantara kedua orang tua pasti ada yang punya sifat jahil. Contohnya Joe. Pria ini tidak akan segan-segan untuk mencubit bahkan menciumi pipi Noel hingga pria itu memberontak karena ia merasa kalau sudah besar kenapa harus di cium cium? Dan setelah acara maaf-maafan itu, Joe bahkan kembali melakukan aksinya dengan mencium dan memeluk putra tertuanya itu dengan begitu erat. Ia tidak peduli seberapa besar anaknya di seberapa dewasa pemikiran para anak-anaknya. Menurut Joe, anaknya tetaplah anak-anak kecil yang masih membutuhkan orang tuanya dan masih membutuhkan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orang tuanya ini.
"Kamu itu gampang banget sih ngambekan sama papa?"
"Papa itu bahkan lebih mengerikan dari adek. Adek emang suka brutal dan banyak cerita juga kelakuannya benar-benar diluar nalar. Tapi, kalau Papa itu bener-bener brutal banget. Sama anak-anaknya enggak tahu dah besar tapi tetep aja mau di cium-cium. Papa tau nggak sih kalau aku tuh kadang malu,"
"Kan nggak ada yang liat Papa meluk sama cium Abang. Kenapa malu sih? Papa memalukan banget ya bagi Abang?" Joe mengerutkan wajahnya hingga Noel merasa bersalah karena melihat wajah Papanya itu mendadak cemberut seperti dipenuhi oleh mendung. Noel benar-benar sudah kesal sekali dengan papanya ini. Paling jago sekali melakukan hal sehingga Noel merasa bersalah dan harus memeluk Papanya itu agar Papanya tidak ngambekan lagi. Terkadang Noel masih meragukan bahwa Joe ini sebenarnya masih muda hanya saja wajahnya yang tua. Karena sifatnya yang seperti anak-anak membuatnya kadang merasa aneh karena pada dasarnya orang tua tidak ada yang melakukan hal seperti ini. Mengambek pada anak-anaknya bahkan tidak mau makan kalau anaknya belum meminta maaf kepadanya. Dasar Papa plin-plan.
Noel memeluk Papanya erat. "Aku sayang Papa. Papa sehat terus ya. Biar nanti tua aku tinggali gampang di panti jompo" lirih Noel hingga mendapat pukulan dari Papanya tersebut. Key yang melihat dari kejauhan tersenyum lembut menatap kedua pria kesayangannya. Di tambah dengan Nana tentunya.
Terimakasih Noel. Makasih selalu ada dan membuat aku bisa bertahan hingga melihat bahwa sebenarnya aku bahagia. Bahwa sebenarnya aku bisa mendapatkan semua kesenangan setelah kesedihan yang aku rasakan. Terimakasih. Aku sayang kamu.