Pertandingan masih cukup sengit. Kedua tim yang sama-sama jago dalam melakukan tindakan memasukkan bola dalam ring membuat skor mereka sama. Bahkan sudah berlangsung cukup lama, kedua kubu itu belum bisa mengalahkan satu sama lain membuat para penonton dan petugas di lapangan merasa bahwa keduanya sangat jago dan pertarungan cukup alot. Anna sendiri bahkan daritadi sudah bergumam semoga acara berlangsung dengan baik. Sebab di beberapa kesempatan tadi, Jeffry bertengkar dengan tim lawan karena mereka menjegal Nana yang hendak dribling. Sontak saja para pemain dari SMA Negara merasa marah. Dan Nana sempat tergantikan dengan David. Salah satu adik kelas paling bengal yang bersekolah di SMA Negara.
Kedua tim tersebut masih dalam pertarungan sengit. Jadi , Anna memutuskan untuk ke belakang sebentar menenangkan diri dan pikirannya karena entah kenapa belakangan ini ia selalu saja bermimpi yang aneh. Mimpi tersebut bahkan selalu saja berputar kemudian melanjutkan mimpi yang di hari sebelumnya. Anna merasakan takut karena ia pikir ia akan mengalami hal yang mengerikan sebab ia melihat dirinya di dalam mimpi tersebut meninggal dengan cara yang sangat sangat tragis. Anna ingin mengatakan semuanya kepada Noel. Mungkin saja pria itu tahu apa maksud dalam mimpinya. Namun, untuk belakangan ia harus pelan-pelan mendekati Noel kembali karena ia takut. Takut jika apa yang dikatakan oleh pria itu adalah sesuatu yang nyata dan itu akan mengganggu pikirannya.
Noel belakangan ini juga sedikit menjauh darinya karena ia tahu bahwa Anna membutuhkan waktu untuk mencerna semua yang terjadi pada dirinya. Kerajaan, raja, pengkhianatan. Entah apa saja yang terjadi di dalam mimpinya hingga ia rasanya merasa bahwa dirinya juga ikut berperan di dalam mimpi tersebut. Anna sangat takut jika yang dikatakan oleh pria yang pernah menemuinya beberapa hari yang lalu mengatakan hal yang benar-benar akan terjadi. Anna juga akan menceritakan itu pada Noel nantinya. Karena, kalau tidak dia menceritakan hal tersebut itu mungkin akan berdampak buruk pada kehidupannya.
Saat ia menuju ke belakang sekolah, ia melihat Virzha tengah merokok di sana dengan botol minuman alkohol juga berada di sana. Pria itu sepertinya baru saja meminumnya. Terlihat bahwa minuman itu masih banyak di dalam sana.
Anna melangkah mendekati Virzha, "Virzha," panggilnya. "Kamu ngapain di sini? Bukannya kita ada pertandingan? Para guru cariin kamu. Dan, kenapa nomor kamu gak aktif sama sekali dari tadi?" tanya Anna dengan banyak pertanyaan. Anna sangat kesal saat Virzha hanya diam dan tak menjawab pertanyaan yang di berikannya. Anna mengambil rokok di tangan Virzha kemudian membanting minuman tersebut. Namun Virzha tetap tak bergeming.
"VIRZHA!" bentak Anna. Virzha melihat ke sampingnya dan terang saja, Anna menampilkan wajah marah saat itu.
"Apa?" tanya Virzha dengan wajah yang datar.
"Kamu kenapa sih?!"
"Nggak papa," jawab Virzha dengan cuek. Anna makin kepalang di buat pria ini. Dengan cepat ia menjambak Virzha hingga pria itu terhuyung ke belakang.
"Kamu masih marah atas kejadian kemarin? Kami ada apa sih?" tanya Anna masih dengan nada yang kentara sekali kesalnya. Anna bahkan hampir menitikkan air matanya. Ia ingin menangis sekarang saat Virzha hanya kembali diam tanpa mau menjelaskan apa yang di rasakan pria itu
Anna merasa kesal dan hendak meninggalkan pria itu hingga suara Virzha menghentikan langkahnya.
"Ada apa antara kamu dan Noel?" tanya pria itu dengan nada yang terdengar sangat menuntut. Anna membalikan tubuhnya lalu menatap Virzha.
"Aku sama kamu pacaran. Kenapa kamu mempertanyakan apa yang terjadi antara aku dan Noel?"
"Gimana nggak aku pertanyakan. Kamu sama dia tuh bener-bener aneh. Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku."
"Menyembunyikan apa? Aku bahkan gak ngerti sama apa yang kamu bilang itu. Aku ga,faqk paham kenapa kamu marah sama aku. Gara-gara tanda di leher aku? Iya! Noel yang melakukannya. Dia yang buat tanda itu di leher aku. Aku yang mau? Nggak! Aku nggak tau kenapa dia melakukan tindakan itu. Aku nggak mengharapkan dia melakukan hak itu sama aku. Dan sekarang, kamu tuduh aku. Kamu ngomong seakan-akan aku selingkuh. Aku gak pernah melakukan hal itu karena aku tahu itu hal yang merendahkan. Dan, kamu bilang kamu suka sama aku udah lama. Selama kamu suka sama aku, selama kamu sering memperhatikan aku, apa pernah kamu melihat aku deket sama banyak laki-laki. Nggak kan? Tuduhan kamu seakan akan mengatakan kalau aku memang murahan." Anna mengatakannya sambil menangis. Virzha mendekati gadis itu kemudian memegang bahu Anna dengan pandangan yang penuh penegasan. Tatapan mata itu seakan mengintimidasi dirinya.
"Aku udah pernah nanya sama kamu. Ada apa kamu sama Noel. Aku tanya semua hal yabg terjadi antara kamu sama Noel. Tapi apa? Jawaban kamu selalu aja kamu bilang nanti. Nanti itu kapan? Di saat aku udah ragu sama kamu? Di saat aku udah gak percaya sama kamu? Atau emang kamu maunya kita pisah? Kita gak pacaran lagi dan kamu bebas sama dia? Apa itu yang kamu mau?"
"Aku gak pernah minta pisah. Bahkan gak pernah terlintas di pikiran aku."
"Terus kenapa kamu dekat banget sama pak Noel? Aku hanya minta kamu jelasin apa yang terjadi di antara kalian. Kalau emang nggak ada apa-apa, kenapa kamu merasa takut? Seharusnya kamu fine aja. Seharusnya kamu gak kepikiran sama apa yang aku bilang ke kamu."
"Siapapun yang di tuduh, pasti akan menyangkal. Virzha, kamu tau kan aku gak akan pernah selingkuh dari kamu. Aku mau menyelesaikan masalah aku sama Noel. Sebentar aja," lirih Anna.
"Kan," Virzha melepaskan pegangan di bahu kekasihnya. "Itu. Itu yang buat aku ragu sama cinta kamu. Kamu bahkan gak kasih tau aku masalahnya gimana. Aku gak mau berpikiran negatif. Tapi kamu seakan menggiring aku untuk berpikiran demikian karena ketidakjujuran yang kamu lakukan sama aku. Aku salah kalau minta kamu untuk kasih tau aku jawaban yang sebenarnya? Aku salah bilang sama kamu kalau aku beneran gak bisa liat kamu dekat dengan Noel."
"Virzha! Aku bukannya sengaja. Aku hanya mau tau apa yang di katakan dia itu beneran apa nggak"
"YA DIA BILANG APA? LO GAK BISA JUJUR SAMA GUE?!" bentak Virzha membuat Anna mundur seketika. Dia kaget. Sangat-sangat kaget hingga tubuhnya gemetaran. Dia tidak pernah di bentak. Namun, untuk pertama kalinya ia di bentak oleh orang yang dia percaya akan membawanya ke dalam kebahagiaan. Tapi ternyata begini perlakuannya pada Anna. Anna menangis kemudian berlari ke arah toilet. Virzha tidak mengejar dirinya. Memang salah jika dia meminta untuk sebentar memperbaiki semuanya?
"Anna, kamu kenapa?"