Anna membuka matanya secara perlahan. Ia melihat sekelilingnya dan matanya berpaku pada Noel yang tidur di sampingnya dengan memegang pinggangnya. Anna menatap datar pria itu. Ia memiringkan tubuhnya lalu mengelus pipi pria itu. Rasanya hatinya tidak bisa membenci pria ini sepenuhnya. Ia tersenyum menatap Noel. Kemudian ia mengerutkan dahinya.
anjir! gue ngapain di sini?
Anna hendak bangkit dari tidurnya namun tubuhnya di tahan oleh Noel. Pemuda itu masih menutup matanya namun tangannya dengan kuat masih melingkar di pinggang Anna. Anna menatap pria di sampingnya dengan pandangan bingung. Noel mendekati Anna kemudian membuka matanya. Ia bisa melihat obisidan cokelat itu menatapnya dengan tatapan polos. Noel mengecup bibir Anna pelan. Namun perlahan, kecupan itu menjadi lumatan yang merindukan. Mengantarkan Anna pada satu lembah di mana dirinya berada. Ia membiarkan pria ini membawanya jauh dan menikmati apa yang di berikannya.
Lumatan itu semakin lama semakin panas. Memberikan sensasi berlebihan ada Anna hingga ia melupakan di mana tempatnya berada. Tangan pria itu ia biarkan mengalun membuka kancing kemejanya dengan perlahan. Bahkan dengan cepat ia mengelus rambut itu dengan pelan seakan rambut itu memberikannya penopang untuk tetap berdiri di tempatnya berada. Anna memejamkan matanya membiarkan dirinya menikmati keindahan yang di berikan. Ia tidak mau selesai. Ia ingin menikmatinya lebih dan lebih lagi seakan tidak akan pernah habis.
"Ada yang masih sekolah," ucap Noel saat pria itu menatap Anna dari atas dengan sentuhan hidung ke hidung mereka. Anna memberengut kemudian menyampingkan wajahnya. Ia telah terlena dengan perlakuan pria ini.
"Turun dari tubuhku," kata Anna dengan wajah memerah. Noel terkekeh di buatnya. Ia memeluk Anna kemudian membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Anna menatap pria itu dengan tatapan yang lain dari biasanya. Biasanya hanya tatapan sinis yang akan ia berikan, namun kali ini tatapan itu lain. Tatapan itu seakan memberikan ruang pada Anna. Memberikan tempat juga pada Noel untuk menjelajah lebih jauh.
"Kamu masih belum mengingat apa yang terjadi?" tanya Noel sembari menyusuri pipi gadis kesayangannya.
Anna menggeleng pelan. Kemudian ia meringis saat merasakan kepalanya di dera pusing yang hebat. Anna memejamkan matanya sejenak untuk menormalkan pendengaran juga penglihatannya.
"ANNA! ANNA!" panggil Noel dengan nada yang khawatir. Pria itu duduk kemudian memeriksa kening Anna. Ia merasakan tubuh Anna panas. Sepertinya gadis itu demam. "Kita pulang aja ya. Kamu demam ini."
"Nggak. Aku nggak papa. Tolong bawain minum air hangat aja," pinta Anna kemudian dengan sigap Noel memanggil robot humanoid miliknya dan membuat teh hijau hangat untuk Anna. Gadis itu masih saja merasa pusing dan Noel memijat pelan kepala gadis kesayangannya itu.
"Ini kenapa ya tiba-tiba kepalaku pusing banget. Jantung aku juga bentuknya kenceng banget," kata Anna hingga membuat Noel mengernyitkan dahinya heran dengan pernyataan dari Anna.
"Kamu ada makan sesuatu tadi?"
Anna menggeleng, "Nggak. Aku gak makan apapun."
"Apa kamu makan seblak tadi pagi?"
"Jangankan seblak. Aku sarapan aja gak sempat," lirih Anna dan membuat Noel mendengus sebal. Pria itu akhirnya tahu kenapa Anna tiba-tiba merasakan pusing kuping yang berdengung. Sepertinya magh gadis ini sedang kambuh karena tidak diisi makanan apapun dari pagi hingga menjelang siang ini.
"Kamu mau menyiksa diri sendiri dengan gak makan?" Noel memandang kesal pada Anna. Gadis itu kini juga memasang wajah sebal karena adegan marah-marah pria ini. Dia memalingkan wajahnya kemudian mengambil ponselnya. Ia melihat Nana yang sudah mengirimi pesan kepadanya begitu banyak dengan panggilan terjawab yang juga begitu banyak. Anna melupakan bahwa ada pertandingan basket yang belum selesai dan ia langsung pergi bersama dengan Noel.
"Aku mau pulang aja deh. Kayaknya semua murid masih ada di sekolah." Anna bangkit dengan perlahan namun matanya kembali terasa buram dan kupingnya menjadi pengang kembali. Anna menaik turunkan nafasnya perlahan kemudian menggenggam tangannya, melepasnya seperti itu secara terus menerus. Tangannya berkeringat dengan degup jantungnya yang belum sesuai dengan normal ritmenya. Anna menghembuskan nafasnya perlahan kemudian membuka matanya kembali.
"Kamu mendingan tidur lagi, deh. Kalau kamu memaksa untuk ikut pertandingan terus, nantinya kamu bakalan pingsan. Anna, aku bakalan jaga kamu. Jadi jangan khawatir," pinta Noel namun di beri gelengan oleh Anna.
"Aku masih punya pacar. Aku nggak mau dia salah paham atas apa yang kita lakukan di sini. Aku nggak mau dia nggak percaya lagi dengan cinta karena perlakuan yang aku buat. Noel, Aku harap kamu cepat-cepat mengungkapkan apa yang terjadi. Jadi, kita nggak bakalan lama-lama pusing karena hal ini. Kamu juga bahkan aman-aman aja nantinya ini udah selesai." Anna menatap lembut pada Noel. Gadis itu memberikan senyuman hangat pada Noel. Namun pria itu tak sama dengannya. Tatapan matanya menyiratkan betapa ia benci dengan topik yang Anna bicarakan.
"Anna, bisakah kamu menjauh dari Virzha? Aku nggak suka kamu deket-deket sama dia. Kamu bisa hanya menatap aku aja tanpa kami melihat dia. Kamu nggak usah terlalu terpaku dengan dia karena aku bakalan berusaha buat kamu nyaman dengan perlakuan aku. Putusin dia. Jadian sama aku dan aku bakalan membuat kamu bahagia. Aku juga akan membuat reinkarnasi kita berhenti karena salah satu keberhasilannya adalah dengan kamu bersama aku," terang Noel hingga tatapan Anna menjadi tajam.
"Aku nggak bisa sama kamu. Aku nggak mau." Anna bangkit dari ranjang besar itu kemudian ia berlari melangkahkan kakinya ke luar. Hingga tatapannya kembali melihat mayat wanita yang katanya adalah dirinya di masa lalu. Tadi, sepertinya dia masih di sini. Kenapa tiba-tiba dia ada di dalam kamar dengan Noel? Tangannya menyentuh inkubator tersebut. Ia merasakan dadanya kembali sesak.
"Do you feel the feelings this woman has?" tanya Noel hingga membuat Anna merasakan kembali sesak dengan di dera isakan tangis saat dengan perlahan Noel memeluknya dari belakang. Memberikan kecupan di sepanjang lehernya.
"I can feel the sadness in his eyes. She feels like she's in a lot of pain," kata Anna. Anna pernah melihat wanita ini di dalam mimpinya. Kematiannya sangat tragis hingga mampu membuat Anna ketakutan. Jeritan dan siksaan dari orang-orang yang melakukan kekejian kepadanya mampu membuat Anna merasakan benci yang teramat pada mereka. Anna seakan ingin sekali menghukum para manusia yang terlibat dalam pembunuhan wanita itu.
Noel meneguk ludahnya kasar. Sebenarnya kalau Anna tau pengkhianatan terbesarnya, apa gadis ini akan menjauhinya dan memaksanya untuk tidak lagi bersama dengannya. Noel kemudian membalikkan tubuh Anna dan menatap mata itu dengan perasaan yang kalut.
"Kamu sepertinya tidak perlu mengetahui apa yang terjadi oleh wanita ini. Itu akan membuat kamu merasakan sakit yang begitu hebat mendera diri kamu kalau kamu tetap memaksakan melihat masa lalu yang dimiliki oleh wanita ini. Aku berubah pikiran untuk mengubah itu semua. Kamu hanya perlu percaya padaku bahwa kamu adalah takdir dari Tuhan memang untuk aku."
"Gimana aku bisa percaya kalau kamu adalah takdir dari Tuhan sedangkan kamu sendiri enggak bisa memberitahu aku bukti yang begitu kuat sehingga aku bisa percaya. Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran untuk menyembunyikan apa yang terjadi di masa lalu? Apa ada kesalahan yang kamu buat sehingga kamu takut kalau aku mengetahuinya kamu akan terjebak oleh reinkarnasi kembali karena aku tidak ingin bersama kamu jika ada kejelekan masa lalu kamu?" tanya Anna membuat Noel menatap mata tajam gadis kesayangannya itu.
"Aku hanya enggak mau menyusahkan sesuatu yang sebenarnya nggak terlalu susah untuk di selesaikan masalahnya. Kamu hanya perlu percaya bahwa aku akan mencintai kamu dan menyayangi kamu setulus hati aku. Aku akan membuat hidup kamu bahagia. Aku akan jamin semua kebahagiaan akan melimpah ke diri kamu asalkan kamu terus bersama aku," ucap Noel hingga membuat Anna kebingungan atas pembicaraan yang tiba-tiba berubah. Kemarin pria ini yang terus-terusan memaksa dirinya agar mau melihat masa lalu yang terjadi hingga dirinya bisa percaya bahwa reinkarnasi itu memang ada. Tapi, kenapa tiba-tiba pria ini berubah kembali? Seperti ada sesuatu yang disembunyikan sehingga dirinya tidak bisa tau dan tetap menjalani hidup bersama dengan Noel.
Pria ini benar-benar gila.
"Aku akan memberi tahu kamu apa yang terjadi asalkan kamu memang udah siap udah jatuh cinta begitu dalam sama aku," ungkap Noel dengan seringai yang menurut Anna menyeramkan.
"Welcome Sehwa-ya"