"Lo tuh harusnya pergi ke perpustakaan ambil beberapa buku buat kita latihan simulasi, Bambang! Trus, kenapa jadinya lo di sini duduk rapi nggak ada mau ngerjain apapun?" tanya Rose, sahabat kecil Virzha. Gadis dengan tinggi semampai dan rambut berwarna silver ini adalah sahabat atau tetangga dari Virzha. Anak pemilik butik terbesar di Indonesia. Papanya juga mempunyai usaha mebel terbesar di Indonesia sehingga keluarga mereka dijuluki oleh Crazy Rich. Rose juga memiliki usaha sendiri yaitu bisnis online berbasis dengan masakan karena gadis itu memang suka sekali memasak.
"Ada Anna. Gue lagi males banget ketemu sama dia," kata Virzha dengan wajah yang lesu seakan ia merasa putus asa atas hubungannya.
"Aduhh, Lo tuh harusnya jangan egois dong. Harusnya lo tanya sama dia. Dia kenapa, dia ada masalah apa, atau seenggaknya lo tanya gimana hubungan kalian berlanjut nantinya. Kalau lo juga keras kepala dan dia juga keras kepala, yang ada kalian nggak dapat penyelesaian. Nanti semuanya jadi runyam. Kalian sama-sama enggak bisa kontrol dirikannya masing-masing sehingga hubungan kalian juga nggak bakalan ada ending yang bagus."
"Ya tapi masalahnya dia tuh kaya selingkuh, mawar. Dia udah jelas-jelas deket sama guru baru itu. Dia masih mau mengelak lagi dan mengatakan yang nggak-nggak. Gue tuh paham banget kalau orang yang udah selingkuh pasti juga bingung untuk menentukan alasannya. Kalaupun dia punya alasan, alasan dia nggak logika. Nggak bisa diterima dengan akal sehat."
"Tapi lu juga udah mau masuki masa dewasa, Virzha. Lo harusnya berpikir gimana cara menyelamatkan hubungan lo supaya kalian tetap sama-sama. Lo cowok dan lo yang merasa sakit hati banget. Gue tau, gue tahu banget rasanya diselingkuhi. Gue juga tahu rasanya dikhianati oleh teman terdekat. Tapi, bukan berarti gue diam aja untuk nggak mendengarkan penjelasan dia. Gue dengarkan apa yang dia mau bilang. Gue pahami apa yang dia mau ucapkan. Mungkin awalnya gue memang marah karena dia selingkuh. Dan gue juga harus tahu gimana cara menyelesaikan masalah itu disaat gue masih pengen menjalani hubungan sama dia. Gue bahkan terima konsekuensi kembali bisa dia selingkuh lagi. Tapi disaat itu gue nggak marah. Karena apa? Gue menerima dia dengan kasus yang dulunya pernah dia punya. Dan itu konsekuensi yang harus gue dapatkan. Dan lo, lo sama gue memang nggak mempunyai masalah yang sama. Namun, inti dari semua itu adalah komunikasi. Lo tanya lagi hubungan lo sama dia itu maunya gimana dan dibawa ke mana. Lo mau menjalani pacaran seperti apa dan dia maunya bagaimana. Atau lo tanya, apa dia masih mau berpacaran sama lo atau enggak. Intinya komunikasi, Virzha. Kalau lo nggak mau komunikasi sama dia, lo nggak bakalan tahu apa yang sebenarnya terjadi," jelas Rose.
Virzha kembali memutar pikirannya dan ia menyetujui ucapan sahabatnya itu. Memang belakangan ini Virzha menjauhi Anna dan mengabaikan seluruh pesan dan telepon dari Anna. Dia belum bisa menerima alasan yang diberikan oleh Anna yang mengatakan akan memberitahu hal yang selama ini terjadi pada Anna. Virzha masih merasa Anna menyembunyikan banyak hal tidak mau berbagi hal itu pada Virzha. Anna sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menelepon atau memberitahukan perihal yang menjadi masalahnya itu pada Virzha. Karena Virzha benar-benar menutup seluruh akses gadis itu untuk menghubunginya.
Rose yang berada di samping Virzha menatap sahabat masa kecilnya itu dengan pandangan sendu. Ia tahu kenapa Virzha marah terhadap Anna. Walau Anna mungkin tidak selingkuh, namun gadis itu dekat dengan orang lain sehingga menimbulkan kecurigaan yang besar oleh Virzha. Sedangkan Virzha di masa-masa dirinya belum mempercayai sebuah hubungan namun pria itu juga tidak menampik bahwa dirinya jatuh cinta oleh Anna. Ia berusaha meninggalkan traumanya tersebut untuk belajar mencintai Anna. Dan Anna yang awalnya sangat cuek terhadap terhadap Virzha kini berganti menjalani hubungan serius dengan Virzha dan membuat pria itu kembali sedikit percaya bahwa hubungannya akan baik-baik saja tidak seperti orang tuanya.
Orangtua Virzha memang dijodohkan. Namun, kehadiran Virzha keduanya memang harapkan. Mereka diberikan Virzha untuk dijaga bukan untuk melihat pertengkaran mereka. Namun dasarnya para orangtua yang tidak mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya. Mereka bertengkar didepan anak semata wayangnya, membicarakan hal-hal buruk di depan Virzha, hingga tidak dengan keberatan ibunya mengatakan bahwa dia memiliki kekasih lain di luar. Hal yang tentu saja membuat Virzha berpikir apakah ada cinta yang memang menyakitkan seperti itu. Tak menampik bahwa dirinya sering melihat Papanya menangis setelah bertengkar dengan istrinya itu. Virzha sering menelepon Rose dengan mengatakan bahwa Papanya sudah menangis selama 1 jam dan dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Karena sama. Dia juga mengalami sakit hati atas kelakuan ibunya.
"Lo tuh kuat. Gue yakin kalau lo bisa mengatasi semua hal ini. Gue tahu semua hal nggak akan mudah namun gue tahu juga kalau lo itu anak yang kuat dan bisa menyelesaikan masalah lo."
Virzha tersenyum menatap Rose. Sahabatnya yang selalu saja ada di saat ia merasa sedih maupun merasa bimbang. "Makasih ya, Rose. Lo udah buat gue tenang dan selalu ada untuk gue. Setelah ini gue akan membicarakan hal ini sama Anna. Gue mau menanyakan hubungan kami gimana apa dia juga masih mau sama gue."
"Iyaaaa lo tanyain maunya apa. Dan ingat ya! Lo jangan marah atas semua keputusan yang dia punya. Karena keputusan setiap orang pasti beda beda dan enggak bisa memaksakan bawa dia harus terus bersama lo. Lo harus menerima keputusan kalau dia memang udah nggak sanggup lagi sama hubungan kalian. Lo juga harus membuktikan sama dia bahwa lo enggak nyaman kalo dia deket sama cowok lain. Lo terang-terangan ngomong sama dia apa yang ada di hati lo. Lo juga jangan gegabah menanyakan banyak hal sama dia sampai kedengarannya seperti menuntut. Pelan-pelan. Lo pasti bisa menyelesaikan masalah lo sama Anna. Anna itu anak yang baik. Gue kenal dia dan dia juga anaknya nggak banyak bertingkah. Jadi, lo bisa menyelesaikan masalah sama dia kan?" tanya Rose yang di jawab anggukan oleh Virzha.
Virzha menatap mata Rose dengan sendu. Ia juga tau derita yang dimiliki oleh sahabatnya ini. Dia juga tahu apa yang dirasakan oleh gadis itu. Rose selalu saja dituntut untuk sempurna. Harus modis, mempunyai banyak prestasi, ataupun dia memiliki banyak keahlian yang akan dihadiahi oleh berbagai pujian dari banyak kalangan. Virzha sangat tahu bahwa yang sahabatnya ini juga merasa kalau keluarganya tidak sempurna seperti keluarga pada umumnya. Namun, dia juga berusaha untuk menjadi lebih baik agar kedua orang tuanya senang terhadapnya. Dia mengorbankan semua itu. Virzha kasihan pada sahabat itu.
"Gue sayang sama lo, Rose" ucap Virzha kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Rose. Rose menepuk pelan kepala itu.
"Gue juga sayang sama lo, kampret!" ucap Rose dengan kekehan.
Anna melihat itu. Melihat semua itu dengan perasaan yang sesak.