"Virzha," panggil Anna saat melihat pemuda itu baru saja ingin memasuki mobilnya. Wajah pemuda itu langsung lain seketika melihat Anna. Anna merasakan sakit di hatinya ketika melihat tatapan mata itu tidak seperti biasanya. Biasanya pemuda itu akan menampakan wajah yang ceria dan mata yang berbinar seakan ia baru saja melihat bidadari jatuh dari langit sedang berada dihadapannya. Anna entah kenapa merasakan kalut luar biasa ketika tatapan itu berubah. Ia seperti takut ditinggalkan. Ia takut bahwa pemuda ini akan berpaling darinya dan meninggalkannya dalam sebuah kesunyian yang tidak akan siapapun mau mendapatkannya. Anna berharap apa yang ada dipikiran itu bukanlah sesuatu yang nyata. Karena jika memang hal itu menjadi nyata, Anna tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa. Karena nyatanya ia sudah jatuh hati pada pemuda yang tingkahnya sangat pecicilan ini. Mendapati Virzha yang belakangan jarang tersenyum dan jarang bertingkah, membuat Anna merasa bersalah dan merasa sakit karena dia merasa bahwa dirinyalah penyebab Virzha tidak menampakan wajah cerianya seperti biasanya.
Virzha sendiri yang baru saja ingin memasuki mobil kembali berdiri tegak di hadapan gadis kesayangannya itu. Mata Anna seakan memancarkan kesedihan hingga entah kenapa rasa sakit di d**a Virzha tiba-tiba datang. Terlihat juga kantung mata gadis itu seperti orang yang kekurangan tidur. Virzha tidak tahu apa yang ada di pikiran gadis tersebut. Namun, seakan ia ingin sekali bertanya bahwa apakah dia menjadi orang yang ada di pikiran Anna hingga gadis itu susah tidur?
"Anna," ucap Rose. "Aduhh sorry banget gue gak minta izin lo untuk bawa Virzha." kata Rose. Anna sendiri tidak tau harus mengatakan apa. Di satu sisi ia takut salah bicara dan berakhir mereka bertengkar lagi.
"Nggak papa, Rose. Tapi boleh enggak gue bicara dulu sebentar sama Virzha?" Anna menatap keduanya seperti memohon izin agar dirinya dipersilakan untuk berbicara dan menjelaskan apa yang terjadi. Virzha awalnya hanya diam kemudian ia menatap sahabatnya yang dibalas anggukan oleh gadis itu. Virzha kemudian menghela nafasnya panjang dan mengangguk pada Anna.
"Bicara apa?"
"Bisa kita bicara berdua. Aku butuh privasi."
"Nggak bisa," ucap Virzha dengan nada kesal. "Gue mau anter, Rose ke kelas memasaknya. Kalau mau bicara silahkan sekarang. Gue gak punya cukup banyak waktu."
"Virzha! Jaga ucapan lo. Anna ini pacar lo. Lo gak sepantasnya memperlakukan dia kayak gitu."
"Apasih! Lo gak tau apa kalau liat dia gue kayak liat mama gue yang lagi selingkuh sama pacarnya. Lo sahabat gue apa nggak sih, Rose? Lo harusnya paham."
"Ya terus tadi kita bicara panjang lebar gue bilang apa sama lo? Lo beneran ya! Lo gak ada menghargai wanita!"
"Dia aja gak menghargai gue. Gimana gue mau menghargai dia! Bukan masalah gender. Masalah otak dipakai apa nggak?!" sentak Virzha membuat rasa sesak itu kembali membumbung tinggi. Anna menitikkan air matanya menatap Virzha agar pemuda itu peduli. Namun sayangnya tidak. Pemuda itu memalingkan wajahnya seakan dia malas melihat seonggok bangkai busuk yang menganggu penglihatannya.
"Aku bisa tungguin kamu jam berapa aja. Atau selesai kamu dari Rose aku bakalan nunggu kamu di sini."
"Gue lama! Lagian apaan sih. Udahlah bicara aja. Gak usah banyak bacot sama drama!"
"VIRZHA!" teriak Rose kembali membuat Virzha menatap sahabatnya tajam. Ia mendorong Rose masuk ke dalam mobil kemudian menguncinya.
"Kalau lo mau nungguin silahkan. Gue gak jamin bisa cepet atau bakalan datang ke sini."
Anna mengangguk dengan senyuman lebar, "Iya, iya. Aku bakalan tunggu kamu di sini sampai jam berapapun. Makasih Virzha," Anna tersenyum senang hingga senyuman itu terlihat sangat cantik. Senyuman yang sangat jarang dan tidak pernah diperlihatkan ke siapapun hingga membuat Virzha tergugah. Pemuda itu menggelengkan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobil.
Anna duduk di bangku taman sekolah. Gadis itu menangis hingga tubuhnya gemetaran. Udara yang dingin di jam 3 sore ini mengantarkan Anna ke masa-masa sulitnya dulu. Di saat hujan dulu, Anna melihat tubuh kedua orangtuanya sudah tidak bernyawa dan berlumuran darah. Anna yang pada saat itu masih belum mengetahui masalah yang terjadi, hanya bisa menangis dan terduduk di aspal dengan menatap kedua orang tuanya. Rasa itu sekarang entah kenapa kembali merasuki dirinya. Anna seakan diantar kembali ke masa-masa itu. Gama pada saat itu juga merasakan hancur yang sama seperti dirinya sehingga mereka tidak bisa sama-sama menguatkan. Keduanya hanyut dalam tangisan serta kesedihan atas kematian kedua orang tuanya dengan cara yang terlihat janggal. Dan sampai akhirnya mereka tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi sehingga kedua orangtua mereka tewas ditempat.
Anna mengusap air matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. Ia tidak boleh menangis lagi untuk mengingat kedua orang tuanya karena mereka pasti sudah bahagia di alam sana. Walau kadang Anna merasa rindu ingin sekali seperti dulu yang selalu saja bersama ma dan saling menguatkan satu sama lain. Atau sekedar bercengkrama dengan topik-topik yang terdengar random namun membawa kehangatan di keluarga mereka. Sekarang, mereka sudah masing-masing. Para saudara Anna dan Gama juga tidak terlalu peduli atas apa yang menimpa mereka berdua. Mereka hanya berduka atas kematian orang tua mereka namun tidak peduli dengan anak-anaknya. Dan pada saat itu Gama memutuskan untuk tidak kuliah lagi dan mencari nafkah untuk melangsungkan kehidupan mereka berdua. Anna merasa bersyukur mempunyai kakak sebaik dan punya tanggung jawab tinggi seperti Gama.
Hujan tiba-tiba mengguyur bumi. Anna sudah menunggu selama 3 jam dan belum ada kabar pasti dari pemuda itu. Anna sudah berspekulasi bahwa Virzha tidak mungkin datang. Mana ada kekasih yang suka kekasihnya jalan dengan orang lain. Bahkan lebih menyibukkan diri dengan orang lain ketimbang pacarnya sendiri. Anna memaklumi bahwa pemuda itu tidak datang dan lebih memilih untuk tetap diam hingga hubungan yang mereka jalani menggantung tanpa ada penyelesaian yang jelas. Anna tersenyum sendu hingga air mata itu bercampur dengan hujan. Perasaannya berkecamuk hingga pada akhirnya ia menjerit melepaskan beban yang ada di dadanya.
"GUE BENCI SAMA HIDUP GUE. KENAPA NGGAK TUHAN AMBIL LAGI NYAWAKU AGAR TERLEPAS SEGALA SAKITKU. KENAPA TUHAN BERIKAN AKU SAKIT YANG BEGITU HEBAT SAMPAI-SAMPAI AKU SENDIRI BINGUNG UNTUK MENYELESAIKAN DAN MENGOBATI RASA SAKIT ITU! KENAPA?! KENAPA HARUS AKU YANG MERASAKAN ITU SEMUA?! APA SALAHKU SAMPAI SAMPAI TUHAN MEMBERIKAN AKU MASALAH SECARA TERUS-MENERUS PADAHAL MASALAH YANG SEBELUMNYA BAHKAN BELUM BISA AKU SELESAIN! AKU MAU BAHAGIA! AKU CAPEK DENGAN SEGALA KEHIDUPANKU. AKU INGIN MENJALANI HIDUP NORMAL DAN BAHAGIA BERSAMA ORANG YANG AKU SAYANGI."
Jeritan itu semakin menyayat hati. Rasanya Anna kembali menjadi orang yang tidak mempunyai apapun dan hidup dengan penuh putus asa. Anna bahkan sudah tidak peduli lagi hujan yang semakin deras menyentuh tubuhnya dan membuat dirinya kembali hanyut dalam perasaan sedih dan kalut. Anna membiarkan segala rasa sedih itu bertaut menjadi satu hingga berhasil membunuhnya. Selalu saja dia yang menjalani kehidupan yang begitu sulit. Bukan dia tidak mensyukuri atas apa yang diberikan oleh Tuhan untuknya. Atau bukan dia tidak mensyukuri bahwa dia masih memiliki satu keluarga disaat orang lain sudah tidak mempunyai keluarga satupun. Tapi, semua orang berhak merasakan sedih dan putus asa tanpa siapapun yang berani untuk mengusiknya. Karena mental orang lain pasti berbeda-beda dan tidak mungkin disamaratakan. Dan kesedihan Anna seperti ini. Ia sudah terlalu banyak menerima beban di dadanya sehingga rasa sakit itu bercampur menjadi satu membuatnya semakin kehilangan kendali.
Anna merogoh tasnya kemudian mengeluarkan 1 pisau silet kecil yang sudah dibagi menjadi dua. Gadis itu selalu saja membawanya kemana-mana seakan itu adalah obat penenang nya. Ia menggoreskan perlahan pisau itu di lengannya hingga darah mengucur deras disapu oleh hujan. Kedua kali, ketiga kali, bahkan sudah sampai ke delapan kali gadis itu tidak puas untuk kembali menyayat tangannya. Anna sudah benar-benar kehilangan kendali sehingga kini ia memukul kepalanya ke bangku besi taman. Namun tak lama gerakan itu terhenti ketika seorang pemuda memegang lengannya agar menghentikan perbuatannya.
"Kak Anna! Kenapa kak Anna begini?" panggil seorang pemuda yang notabene adalah adik kelas Anna. Namanya Artajuna. Sahabat band Ichi.
Juna membantu Anna berdiri kemudian menopang tubuh kurus itu yang sudah lemas dengan tangannya yang terus-terusan saja mengucurkan darah. Anna hampir saja pingsan dan jatuh kalau saja tidak ada satu topangan lagi berada di bahu kirinya. Anna menatap pemuda yang ada di sampingnya. Ia tersenyum saat ada yang mau menolongnya.
"Kak, kenapa Kakak bisa begini? Ini hujan dan tangan Kakak berdarah kayak gini. Kita ke rumah sakit aja ya," ajak Bian sahabat Juna yang menopang dirinya juga.
Anna menggeleng, "Aku mau pulang aja."
"Tapi kak-"
"Juna, aku mohon sama kamu bawa aku pulang," mohon Anna dengan suaranya yang lirih bahkan hampir terdengar seperti orang yang sudah putus asa dalam hidupnya. Juna menahan air matanya ketika melihat wajah Kakak kesayangannya itu sudah seperti orang yang tidak mau hidup. Anna adalah idola terbaik yang dimiliki oleh kelas X-2 IPA. Mereka bahkan sudah solid sejak lama. Jadi, tentu saja banyak siswa dari kelas mereka yang sangat menyayangi Anna. Melihat Anna seperti ini membuat hati mereka terluka.
Tadi, mereka baru saja menyelesaikan tugas OSIS dan ekstrakurikuler. Mereka kemudian keluar kelas dan melihat Anna terduduk di bangku taman dengan lemas dan lunglai juga tak lupa dengan tangan yang berdarah dan kepala yang dihantam berkali-kali di bangku taman. Anna benar-benar membuat semua orang yang berada di sekitarnya menjadi sakit saat melihat wajah putus asa itu.
Anna kemudian dimasukkan ke mobil Nathan, pacar Valerie, untuk dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Arun mengganti baju Anna kemudian membawakan beberapa obat untuk Anna. Setelah membersihkan luka jangan memberikan obat kepada Anna, sekarang gadis itu bisa beristirahat. Dan mereka menunggu Gama kembali.