"Sehwa-ya! Seharusnya kamu juga tidak melakukan percobaan pembunuhan pada Yang Mulia Ratu! Kau harus tau bahwa kesalahan tidak sepenuhnya milik Ratu karena suamimu itu! Seharusnya kau paham bahwa Panglima Hwang yang memaksakan dirinya untuk membawa yang Mulia Ratu pergi bersamanya. Kau melakukan dosa besar Sehwa!"
Wanita yang ada di hadapannya hanya menunduk menahan tangisan dan sembari mengusap pelan perutnya. Ia sudah kelewatan. Namun, dia merasa sakit saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya tengah bersenggama dengan wanita lain yang sangat ia hormati. Jerih payahnya selama ini untuk hamil anak mereka hanyalah sebuah omongan saja. Nyatanya, setelah menikah dan lima tahun menjalani pernikahan lalu baru di usia pernikahan hampir ke-6 tahun, dia baru hamil. Sesuatu yang sangat membuat bahagia namun di satu sisi dia di khianati. Dia tidak dihargai dan suaminya memilih melakukan hal lain pada istri orang lain.
"Dosa mu tidak akan di ampuni Dewa, Sehwa! Kau akan di kutuk oleh Dewa atas dosamu itu. Mengatakan bahwa kau adalah pemuja dewa yang taat namun ternyata kau- SAMA SAJA DENGAN IBLIS!"
"SEHWA!!!" ucapan yang baru saja di katakan ibunya kini berganti teriakan nama dirinya. Suaminya, suaminya terlihat sangat marah dengan sebilah pedang yang di bawanya. Sehwa ketakutan. Ia menahan sakit yang mendera perutnya tiba-tiba.
"IBLIS! KAU IBLIS PANGLIMA! KAU SEAKAN TIDAK MERASA BERDOSA ATAS PENGKHIANATAN YANG KAU LAKUKAN!"
"KAU LEBIH IBLIS! KETAHUILAH BAHWA AKU TIDAK MENCINTAIMU!"
"MAKA BUNUHLAH AKU! BUNUHLAH DENGAN BERSAMAAN ANAK INI. AKU TIDAK SUDI MENCINTAIMU! ANAKKU JUGA TIDAK AKAN AKU BIARKAN MENDAPATKAN MU!"
"Kalau itu yang kau mau. Baiklah," ucap panglima lalu mengeluarkan pedangnya. Ia menyobek baju Sehwa. Istrinya. Hingga tusukan pada perutnya ia layangkan. Sehwa belum mati. Namun, ia sudah yakin buah hati yang sudah lama ia inginkan mati. Ya, untuk apa hidup lagi? Dia sudah akan memilih mati daripada bersama suaminya itu.
-/-
Beberapa siswa dari kelas X sudah duduk rapi di tempat mereka. Mata mereka tak lekat memandang kakak kelas mereka yang terbaring lemah dengan nafas yang berkejaran. Tangan gadis itu juga terkepal kuat seakan menahan sakit yang sangat ia rasakan. Keringat dingin mulai mengucur di seluruh tubuhnya seakan dia baru saja lari dari tempat yang sangat jauh dan terlalu menyeramkan.
"Kak Anna kok kayak mau kejang-kejang ya?" tanya Valerie saat melihat Anna seakan tak nyaman. Gadis itu banyak bergerak bahkan hela nafasnya begitu hebat seakan ia benar-benar dikejar oleh monster. Valerie yang melihatnya langsung mendekati gadis itu dan menggenggam tangannya kuat. Matanya berpendar mencari sakit yang dirasakan oleh Anna. Namun, iya hanya melihat tangan gadis itu diperban dan kepalanya di bagian dahi juga di tempel perban. Sepertinya tidak luka di bagian tubuh lainnya namun tiba-tiba matanya juga Anda kenapa menyusuri bagian perut gadis itu. Ia perlahan menyingkap baju itu dan terkejut bukan main saat melihat banyak goresan di bagian perutnya. Valerie gemetaran saat melihat itu.
"Sayang, kenapa?" tanya Nathan saat melihat Valerie menangis dan gemetaran. Pria itu melihat apa yang di lihat Valerie. Sangat tidak sopan namun ia juga merinding saat melihat goresan itu sangat terlihat jelas bahkan seperti sayatan panjang yang di jahit sangat rapi. Sayatan itu tidak hanya satu, tapi terlihat banyak dan itu sangat membuat siapapun yang melihatnya bisa saja merinding sama seperti mereka.
"Kita keluar aja. Ini privasi kak Anna. Kita gak boleh masuk ke dalam privasi dia tanpa seizinnya."
"Tapi kita gak bisa liat kak Anna gini terus. Dia bahkan daritadi kayak kejang-kejang."
Tinn
"Itu kayaknya bang Gama udah pulang. Kita suruh bang Gama bawa kak Anna ke rumah sakit," ucap Nathan kemudian menutup baju Anna. Pemuda itu membawa Valerie keluar dan Valerie langsung menghampiri Gama. Dia mengenggam tangan Gama kuat.
"Mas Gama, mas tolong kak Anna," pinta Valerie membuat Gama mengernyitkan dahinya.
"Anna kenapa?"
"Kak Anna kejang-kejang."
Sontak saja Gama langsung berlari ke kamar dan benar saja, ia melihat adiknya bahkan mengeluarkan busa dari mulutnya. Dengan tangan gemetaran hebat, ia membawa adiknya itu ke dalam mobil Nathan. Yang lainnya memilih untuk mendoakan dari rumah karena rumah sakit pasti tidak akan mengizinkan mereka masuk.
Setelah sampai di rumah sakit, Anna di letakkan di bankar dan di bawa ke UGD. Gadis itu sudah tidak kejang-kejang lagi namun nafasnya perlahan-lahan seperti akan hilang. Gama dan segala pikirannya sudah buruk menangis mengerang karena dirinya takut. Takut jika adiknya pergi meninggalkannya dengan begini.
Gadis itu masuk ke dalam UGD. Gama yang ada di depan ruangan mengusak rambutnya kasar. Entah kenapa ia merasakan seperti mendapat karma atas apa yang ia perbuat. Gama sangat takut jika sesuatu terjadi pada Anna. Dia sangat kalut hingga asmanya kambuh. Valerie yang di dekat Gama langsung menghampiri pria itu.
"Mas Gama. Mas Gama sadar ya. Aku bawa inhaler," kata Valerie kemudian ia memberikan inhaler miliknya ke Gama. Gama yang mendapatkan itu langsung menarik nafasnya kuat dan ia menatap langit-langit dengan tetap memegang inhaler milik Valerie. Air matanya mengalir kembali. Tubuhnya gemetaran bahkan ia tidak sanggup hanya untuk berdiri. Kejadian di mana orangtuanya meninggal kembali terputar di kepalanya. Gama saat ini hanya menjadi pria yang tidak mempunyai apapun dan sangat lemah. Ia hanya pecundang yang tidak bisa menjaga utuh keluarganya.
"Mas Gama jangan banyak pikiran. Mas Gama harus tetap sehat dan jangan nangis aja. Nanti kak Anna kasian kalau liat Mas Gama nangis terus."
"Mas Gama gagal jaga Anna, Val. Mas Gama gak bisa jadi kakak yang baik sekaligus orangtua yang baik untuk Anna."
"Mas Gama udah berusaha semaksimal mungkin supaya kak Anna bahagia. Tentang mental kak Anna pasti punya masalahnya sendiri sampai dia belum bisa kasih tau sama Mas Gama. Dia takut Mas Gama terbebani atas apa yang dia rasakan. Tapi Mas Gama mesti percaya kalau kak Anna bisa melewati semua ini. Mas Gama harus tetap mendukung kak Anna supaya kak Anna tetap bisa menjadi kuat dan Mas Gama gak boleh nangis terus. Mas Gama mesti tau kalau kak Anna kuat. Kak Anna hanya hilang arah dan Mas Gama harus menuntun kak Anna kembali ke tempatnya."
"Tapi Mas Gama gak tau kalau dia bisa melakukan hal ini. Mas Gama juga hanya diam aja waktu dia cutting tangannya sendiri. Mas Gama gagal, Valerie" lirih Gama kemudian menyenderkan kepalanya di pundak Valerie. Gadis itu juga ikutan menangis saat melihat ini.