Virzha layar ponselnya yang tidak mendapatkan notifikasi apapun. Setelah dirinya mengantar Rose, dia ingin kembali ke taman namun tidak jadi karena Rose mengatakan kalau dia takut ada seseorang yang menguntit nya belakangan ini. Mau tidak mau Virzha tidak jadi datang untuk menemui Anna karena dia sendiri juga bingung harus meninggalkan siapa. Dan notifikasi tidak ada di dalam ponselnya beberapa hari ini bahkan Anna sendiri tidak ada kemunculannya di sekolah beberapa hari ini. Virzha merasakan rindu yang begitu mendalam ketika keberadaan Anna tidak ada kabar. Gadis itu seperti menghilang tanpa jejak bahkan keberadaannya tidak diketahui oleh banyak orang.
Sekarang jam sudah menunjukkan 8 pagi. Virzha santai tidak terburu-buru untuk masuk ke kelas. Dia sengaja terlambat agar dihukum oleh orang-orang OSIS. Dia ingin sekali menatap wajah kekasihnya yang sudah lama tidak dirinya lihat. Anna lalu menguasai pikirannya sehingga yang tercipta sekarang adalah kerinduan yang begitu dalam sampai rasanya Virzha ingin sekali memeluk Anna dengan erat ketika mereka bertemu nanti.
Virzha berjalan melihat ke kelas Anna. Belum juga ada tanda-tanda bahwa gadis itu masuk kelas. Pikiran Virzha kalang kabut sekarang. Dia rasanya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi dan tiba-tiba masuk ke dalam kelas menanyakan kepada guru kemana gadisnya pergi belakangan hari ini.
"Ibu nggak tau kemana, Anna pergi?" tanya Virzha dengan suara yang tegas dan menuntut. Pria itu terlalu lelah ketika semua rasa akan menutup hal ini dari dirinya.
"Saya tidak tau. Kamu masuk kelas ini tanpa sopan san-"
"Saya nggak tahu di mana keberadaan Anna sekarang dan kalian seperti menyembunyikan sesuatu kepada saya. Saya nggak mau tahu sekarang harus kasih tahu di mana Anna sekarang?"
"Anna nggak tau di mana. Keberadaan dia nggak ada yang tahu. Belum ada kabar terbaru soal Anna yang akan masuk ke sekolah. Lagian kamu ngapain cariin dia? Mungkin aja dia lagi istirahat atau pergi bersama keluarganya. Kamu nggak bisa suka-suka hati kamu masuk ke dalam kelas dengan cara yang tidak sopan dan menanyakan privasi orang lain."
"Saya nanya baik-baik enggak ada yang jawab. Gimana saya nggak emosi sekarang? Bu, kalau saya nekat untuk menghancurkan sekolah ini dan tidak ada yang memberitahu Anna di mana. Saya gak akan segan manggil semua geng saya Bu!"
"VIRZHA!"
"DI MANA ANNA?!"
Suara bentakan yang saling bersahutan itu membuat satu sekolah langsung heboh dan melihat ke kelas Anna. Kelihatan wajah amarah dari kedua orang yang sedang beradu argumen itu. Virzha yang tidak peduli kalau yang sedang ia hadapi adalah guru, memilih untuk membentak guru tersebut dan membuat seluruh kelas menjadi ricuh.
"Dasar anak tidak sopan!"
"Makannya sekarang ibu kasih tahu di mana Anna berada. Kalau Ibu gak kasih tau saya-"
"Anna di rumah sakit."
Sahutan itu membuat seluruh kelas melihat ke sudut kelas di mana seorang gadis dengan gaya urakan duduk sambil memakan permennya. Wajahnya santai dan tidak gentar saat melihat wajah marah dari Virzha.
"Kenapa dia di rumah sakit? Kenapa nggak ada yang ngasih tahu gue kalo dia lagi di sana? Kenapa kalian menyembunyikan ini dari gue dan membuat kue seolah-olah menjadi orang yang bodoh padahal orang yang gue sayang sekarang ada di rumah sakit!"
"Kenapa marah?" kata Agneus dengan sengak. "Kan lo sendiri yang meninggalkan dia sendirian sedangkan dia nungguin lama-lama di taman. Lo ninggalin dia sendirian dan memilih bersama sahabat lo padahal udah janji untuk menyuruh dia nungguin lo. Selama berjam-jam dia nungguin lo bahkan nggak peduli ada hujan sekalipun dia bakalan tetap menunggu lo. Tapi apa? Lo nggak ada kabar sedikitpun bahkan melalui ponsel ataupun pesan teks enggak ada sama sekali. Dan lo nanya kenapa dia masuk ke dalam rumah sakit? Dia mengalami stres karena banyak orang yang menuntut dia. Orang yang dianggap bisa membuat dia bahagia tapi ternyata enggak, orang itu juga yang menghancurkan segala impian ia bahkan nggak percaya sama apa yang dia lakukan," ucap Agneus hingga membuat Virzha lemas.
Virzha tidak tahu kenapa bisa bisanya gadis itu masuk rumah sakit demi hanya menunggu dirinya yang tidak kunjung datang. Apakah dia benar-benar mencintai Virzha hingga mau menunggu sampai beberapa lama. Virzha kini merasakan air matanya mengalir begitu deras hingga ia memutar tubuhnya untuk datang ke rumah sakit. Ia pasti tahu rumah sakit mana yang akan menjadi tempat Anna di rawat. Rumah sakit milik keluarga Valerie adalah rumah sakit yang paling terdekat dengan sekolah yang di rumah sakit itu banyak anak-anak SMA Negara yang sering ke sana. Anna pasti di sana.
Virzha dengan cepat memakai jaket hitam nya kemudian mengeluarkan motornya. Tangannya gemetaran saat mengingat bagaimana Anna menunggu dirinya. Hendak beranjak dari parkiran, tangannya di tahan oleh seseorang.
"Virzha! Mau ke mana?"
"Mau jumpa Anna. Rose, mending sekarang lo masuk kelas karena gue mau pergi jumpain cewek gue," kata Virzha namun tangannya di tahan kembali.
"Gue mau minta tolong sama lo. Gue lagi nggak enak badan sekarang. Lo mau enggak temenin gue di UKS?"
"Sama yang lain, Rose. Gue mau jumpa sama cewek gue lo denger nggak sih?!" sentak Virzha dan membuat Rose merasakan air matanya mengalir. Ia menahan kepalan tangannya. Virzha yang melihatnya menghela nafas dan tanpa peduli dia pergi dari area parkiran. Bodo amat! Yang penting pacarnya bisa ia lihat sekarang.
Motornya melaju dengan kecepatan penuh. Sekarang, ia sudah berada di rumah sakit. Kakinya tidak sengaja tersandung karena berlari-lari di area rumah sakit. Ia berdiri kembali kemudian menuju ke arah meja receptionist.
"Mbak, ada pasien yang bernama Anna Geraya nggak?" tanya Virzha dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia bahkan tidak peduli pada orang-orang yang melihat dirinya berlarian seperti orang gila. Penampilannya masih saja tampan walau sedikit berantakan jadi mungkin orang akan memaklumi dirinya.
"Aaa Anna? Anna ada di ruangan Melati 03 di lantai 12. Kamu bisa ke sana," kata wanita itu kemudian setelah mengucapkan terimakasih dia langsung pergi menuju lift. Tangan dan kakinya tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk membuat orang yang di samping ia merasa aneh pada pria yang memakai seragam sekolah ini.
Lantai demi lantai sudah dilewati namun terasa begitu sangat lama bagi Virzha. Pria itu tak henti-hentinya mengumpat setiap ada orang yang masuk. Ia menghela nafasnya panjang dan mengusap rambutnya kasar ketika semua orang berdesakan untuk masuk ke dalam lift. Mereka tidak pernah naik lift atau bagaimana sih? Kalau melebihi batas maksimal orang kan lift tidak bisa jalan.
"Mas ngotak dong! Ini udah melebihi batas maksimum orang! Gue mau cepet!" sentak Virzha tak sabar kemudian mendorong pria yang tadi hendak masuk ke dalam lift dengan memaksa. Pria itu mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang berada di dalam lift namun dia tidak peduli karena yang sekarang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya sampai cepat di ruangan milik Anna. Sepertinya dia harus mengatakan ini pada Jeffry bahwa rumah sakit milik keluarganya ini kekurangan life sehingga banyak orang-orang yang menerobos masuk ke dalam lift yang sudah penuh.
Sesampainya di ruangan milik Anna, Virzha masuk dengan perlahan dan melihat kekasihnya sedang terbaring lemas di atas ranjang dengan selang oksigen yang terpasang di mulutnya. Tak ada orang yang menjaga. Ia buru-buru masuk dan tidak peduli jika dia melanggar aturan yang ada di rumah sakit. Perlahan, tangan Virzha menggenggam tangan Anna lembut. Ia tersenyum sendu saat melihat wajah itu sangat pucat. Entah sudah berapa banyak kerinduan yang berada di dalam hatinya sehingga ketika melihat wajah pucat itu rasanya ingin memeluk tubuh ringkih ini. Ia ini mengatakan beribu kata maaf karena sudah meninggalkan dan memberikan harapan palsu untuk menunggu dirinya. Dia tidak tahu jika kebodohan yang telah ia lakukan ini berdampak sangat besar terhadap orang yang ia cintai. Anna mendapatkan kesedihan sehingga yang terjadi pada gadis ini adalah kesakitan.
Virzha bisa melihat banyak goresan di tangan Anna dan benjolan di kepala atau lebih tepatnya di dahi Anna. Ia mengernyitkan dahinya kemudian menyentuh benjolan itu. Bagaimana bisa wajah cantik ini tiba-tiba hadir dengan benjolan? Virzha tidak tau apa hal itu. Tapi, menemukan Anna sekarang baik-baik saja dan tidak mengalami hal yang sangat buruk membuat dirinya bernafas lebih lega. Sempat tadi di perjalanan dia sudah sangat berpikir buruk jika sesuatu terjadi pada Anna. Ia tidak bisa berpikir jernih ketika perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa Anna berada di rumah sakit karena menunggu dirinya.
"Sayang, aku minta maaf. Nggak seharusnya aku tinggalin kamu. Aku masih merasa kecewa atas apa yang terjadi antara kamu sama Noel. Rasanya aku benar-benar nggak terima kamu berdekatan dengan dia. Aku memang merasa cemburu saat tetapan kamu sama dia bahkan bisa menyiratkan betapa kamu mencintai dia. Aku nggak tahu rasanya dicintai oleh kamu karena kamu sendiri juga berpacaran dengan aku terpaksa. Tapi, rasa sayang aku sama kamu itu bener-bener nyata. Itu beneran adanya dan sampai sekarang bahkan sampai kapanpun aku tetap mencintai kamu. Aku mau kamu cepat sembuh sayang. Supaya aku bisa kasih tahu kamu betapa sayangnya aku sama kamu," lirih Virzha.