Noel sedang berada di dalam club. Pria itu tak henti-hentinya untuk meminum Vodka nya bahkan sudah beberapa botol ia habiskan kemudian botol kaca itu ia campakkan ke dinding. Pikirannya sudah sangat kacau saat pertengkaran dirinya dengan kedua orang tuanya dan Om nya sendiri. Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin ia katakan pada mereka bahwa perasaannya ia rasakan pada Anna sama sekali tidak bisa di hentikan sehingga pada akhirnya dirinya menjadi terobsesi pada gadis itu. Pikirannya seakan mengatakan bahwa dirinya harus mengambil Anna dari hidup orang lain dengan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Noel benar-benar sangat egois dan dia sadar akan hal itu. Namun, perasaan memang tidak bisa dikendalikan sehingga pada akhirnya dia memilih benda-benda untuk egois dan posesif pada Anna.
"Banyak banget minum? Biasanya kalau banyak minum gini lo lagi banyak pikiran kan?" tanya salah satu bartender yang berada di dalam club. Pria yang sekarang menatapnya dengan pandangan remeh itu masih sibuk dengan tangan yang membersihkan gelas gelas untuk para manusia yang hadir di dalam club. Keadaan club malam ini cukup ramai bahkan banyak anak sekolah yang mengadakan ulang tahun di club ini. Sepertinya anak-anak itu dari sekolah yang berada di dekat SMA Negara. Karena mereka sepertinya kelihatan sekali vibes anak SMK. Entahlah, Noel sedang malas untuk berpikir banyak.
"Main ceweklah. Itu Siska kayaknya dia jadi nggak berhenti ngelihatin lo. Pakai lah. Lumayan njir. Udah montok, buset seksi banget. Trus tatapan dia itu benar-benar menggoda banget bikin punya gue terasa ketat dan keras banget nih," cengir Rio yang membuat Noel menatap sahabatnya itu. Memang otak Rio benar-benar sangatlah m***m. Lihatlah, pria ini bahkan tidak malu untuk mengatakan bahwa dia sudah merasakan punyanya keras hanya karena melihat gadis seksi yang berada di hadapan mereka yang kebetulan selalu saja menggoda Noel. Noel sendiri hanya memutar bola matanya malas karena lihat sudah terlalu muak dengan wanita yang selalu saja menatapnya dengan tatapan lapar seperti tante-tante itu.
"Hadehhh, lo nolak dia lagi? Ini serius lo nggak mau sama dia? Dia udah cantik, seksi, udah gitu jago banget main di ranjang. Lo kalau sama dia benar-benar aman deh puas lahir batin mah kalau sama dia. Gue pernah tuh disamperin sama orang yang udah pernah ngerasain punyanya si Siska. Beh, besok besoknya tuh cowok datang lagi ke sini mesen si Siska full satu hari yang dengan bayarnya beh sangat dan teramat sangat fantastis sampai-sampai gue tercengang-cengang banget. Bahkan, besoknya gue lihat tuh cewek udah banyak banget belanja barang-barang branded sampai teman-temannya yang lain yang seprofesi dengan dia lahir batin, cuy." Rio terus-terusan saja memprovokasi sahabatnya itu. Noel tetap saja tidak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh temannya itu karena dia memang tidak memiliki minat terhadap wanita yang sedang menatapnya lapar itu.
"Lo bisa nggak rekomendasikan orang lain lagi tapi bukan si cewek cabe-cabean itu," kata Noel. Rio tertawa keras bahkan mengetuk-ngetuk meja karena ucapan dari Noel.
"Gimana bisa lo bilang itu cewek yang bahkan diinjak-injak oleh semua orang, udah bilang kalau dia itu cabe-cabean? Please, sumpah gue nggak habis pikir sama apa yang sekarang ada di otak lu sampai-sampai lo bisa bilang cewek yang bahkan bisa bikin gue tegang setiap hari itu lo bilang cabe-cabean?" kata Rio. Lebih ke meminta penjelasan atas apa yang dikatakan oleh Noel. Bagaimana bisa wanita yang menjadi incaran oleh banyak pria itu dikatakan cabe-cabean? Demi apapun, Siska adalah wanita cantik yang bahkan sebenarnya memiliki prestasi yang bagus namun karena orang tuanya membuangnya dan membiarkan dia hidup di jalanan dengan kehidupan bebas, maka dari itu ia menjadi wanita yang benar-benar sangat liar bahkan tidak peduli dengan hal apapun. Siska hanya memperdulikan dirinya dan tidak peduli dengan hal lainnya. Wanita itu seakan sekarang sudah mati rasa dan tidak peduli lagi dengan hal apapun.
"Gue lagi males sama cewek yang ditempel sama banyak cowok. Lo kayaknya belum pernah lihat ada cewek yang lebih cantik dari itu cabe-cabean."
"Siapa? Lo kayak punya temen banyak aja. Lo itu nggak punya banyak teman karena lo sendiri suka banget menutupi sirkel yang berada di sekitar lo. Gue yang kadang melihat lo sendirian secara terus-menerus aja kadang ngerasa gedek banget. Lo itu seharusnya punya banyak teman biar lo nggak memandang orang tuanya dari covernya doang tapi berdasarkan apa yang ada di hati mereka. Ini asal banget lo cepet-cepet bilangan tuh cewek cabe-cabean. Lo harusnya tahu kalau dia itu sebenarnya baik cuma enggak karena keadaan yang memaksa dia untuk jadi jahat ya dia jadinya jahat. Gak ada satu manusia pun yang pengen jadi jahat termasuk lo, gue ataupun yang lainnya. Rata-rata dari mereka itu banyak yang jahat karena masa lalu yang selalu aja membuat mereka ingin bunuh diri. Mereka selalu jadi tuntut untuk menjadi sempurna padahal mereka sudah menjadi sempurna versi mereka sendiri."
"Udah jadi bagian hidup bakalan sering kayak gitu. Lo hidup dengan keinginan. Ketika lo menginginkan sesuatu tapi lo hanya meminta yang bagian baiknya aja dan gak mau menerima yang bagian buruknya. Ya, terus apa yang terjadi? ya lo menyiksa diri sendiri dengan selalu aja mau berekspektasi besar sama sekali enggak mau menerima konsekuensi buruk yang bakalan lo dapatkan nantinya. Gue tahu kalau orang jahat itu terkadang ada yang dari orang yang tersakiti. Tapi, tersakiti dalam konteks apa. Gue bahkan sering banget merasa denial atas apa yang dirasakan tapi karena gue sudah memilih dia, ya gue akan memilih dia. Sama kayak orang jahat, awalnya dia baik namun tiba-tiba dia jadi jahat dan pada akhirnya akan terjadi apa? Kenapa dia menjadi jahat? Kadang, kita nggak pernah memikirkan perasaan orang lain dan hanya mengagungkan omongan yang tidak logika yang berada di lidah kita. Dan itu beneran bikin lo merasakan apa yang punya masalah di dalam hidup lo, lo nggak bakalan dapat kebahagiaan yang lo pengen kan itu. Dan, please lah. Lo tuh naif!"
Noel hanya tertawa saja ketika temannya itu mengomelinya habis-habisan. Dia hanya diam kemudian kembali meneguk minumannya sembari melihat wanita yang masih saja menatapnya dengan dalam seakan tidak akan pernah puas hanya dengan menatap nya saja. Noel pada akhirnya mengalihkan matanya kemudian menunjukkan ke lantai atas. Dia yang awalnya ingin diam-diam saja namun sekarang rasanya di harus menyalurkan apa yang ada di dalam dirinya karena sepertinya sudah tidak tahan. Noel tersenyum saat wanita yang ia ajak bicara itu berjalan perlahan memasuki kamarnya.