Sudah terhitung beberapa hari, Anna masih menutup matanya karena gadis itu belum memberikan reaksi yang baik sehingga kondisinya belum berjalan dengan baik. Namun, para dokter dan perawat melakukan tindakan yang baik dan cepat karena gadis ini adalah teman dari anak pemilik rumah sakit. Anna mendapatkan ruangan yang sangat bagus sehingga kamar yang dihuni oleh gadis ini tampak sangat luas dan bahkan lengkap beserta dengan perabotan rumah tangga lainnya. Seperti kulkas, tv, sofa robot humanoid yang bisa saja membantunya kesana kemari. Bahkan ada tempat duduk rileks yang bisa saja ditempati oleh para tamu atau orang yang menjaga pasien. Rumah sakit ini pasti akan di singgahi oleh banyak orang karena selain rumah sakit yang terlihat sangat mewah, rumah sakit ini pemiliknya adalah orang kaya raya di seluruh dunia.
Juga terhitung pada hari ini Virzha tidak masuk kelas karena dia masih saja menunggu kekasihnya siuman. Virzha begitu sabar menunggu Anna untuk bangun karena sudah beberapa hari ini mereka tidak berbicara layaknya sepasang kekasih seperti dulu. Keduanya waktu itu masih sama-sama dirundung dengan perasaan emosional yang masih membara karena usia mereka yang masih dibilang cukup muda sehingga pada akhirnya mereka hanya menemui pertengkaran tanpa mendapatkan penyelesaian dari mereka berdua. Dan ketika mereka bertemu kembali yang terlihat hanyalah penyesalan di mana salah satu dari keduanya mengalami musibah dan lebih lucunya lagi Virzha tidak mengetahui itu.
Virzha sudah meminta izin pada ayahnya untuk tidak bersekolah beberapa hari ini dan terhitung sudah sekitaran 5 hari. Sebenarnya keadaan Anna sudah cukup membaik namun menjadi gadis itu memang baru saja menjalankan operasi karena dia mengalami usus buntu. Dokter kemarin menangani Anna dan meminta izin untuk melakukan tindakan operasi sehingga pada hari ini kemungkinan Anna akan bangun atau belum, Virzha juga tidak tahu. Virzha hanya berharap bahwa Anna akan baik-baik saja dan ia akan meminta maaf atas sikapnya yang kekanakan tidak mau mendengarkan penjelasan dari Anna. Ia tahu kalau emosi dikeluarkan dengan parah seperti itu hanya akan mendapatkan penyesalan di akhir nya.
Virzha sebenarnya belakangan ini juga heran kenapa Gama tidak pernah hadir ke rumah sakit. Bahkan, Gama sama sekali tidak menemani Anna semenjak pertama kali Virzha datang keruangan Anna. Ia bingung kenapa Gama tidak menemani adiknya dan memilih untuk pergi entah kemana bahkan tidak tahu kabarnya bagaimana. Virzha pernah bertanya kepada perawat atau dokter yang merawat Anna. Mereka juga tidak tahu di mana pemuda itu sekarang. Dia hilang entah kemana dan jujur saja Virzha merasa bahwa Gama seakan tidak peduli pada adiknya yang tengah terbaring di rumah sakit sendirian tanpa ada siapapun yang menjaga dan hanya Virzha yang selalu sedia selama Anna sakit.
"Abang sinting kali tuh orang, ye. Masa adeknya sakit dia kagak ada dimana-mana," kata Dhika, salah satu sahabat Virzha yang datang menjenguk Anna. Pemuda itu membawakan tugas yang akan di kerjakan bersama dengan Virzha. Keduanya memang dekat satu sama lain dan tentu saja Virzha memberitahu keberadaan dia di mana dan menyuruh sahabatnya itu membawakan tugas. Jika tidak di bawa, ia akan memukul kepala Dhika kalau bisa sampai pemuda itu meminta ampun padanya. Sahabat kan memang begitu bukan?
"Gue juga kagak paham napa tuh orang kagak ke sini. Jelas udah berapa lama di tinggalin. Kasian Anna kalau bangun terus kakaknya kagak ada di sini kan dia sedih. Gue gak mau dia sedih. Huhu," Virzha menggapai pundak Dhika kemudian pura-pura menangis. Pemuda itu tidak memperdulikan umpatan yang di keluarkan oleh sahabatnya.
"Argh! Lepas! Najis amat lu ye anak Roy!"
"Diem lu anak bapak Selamet!"
Keduanya tiba-tiba pukul-pukulan hingga tidak sadar jika Anna sudah siuman dan melihat keduanya bertengkar. Sebenarnya Anna sudah siuman beberapa jam yang lalu atau lebih tepatnya kemarin malam. Namun, ia masih betah untuk menutup matanya karena dia masih merasa kenapa dia masih hidup padahal hidup sudah sangat tidak adil untuknya.
"Ah bangke lah! Ih, lo kayak homo aja peluk gue segala anak ROY!"
"Gue bilang sama papa gue nanti lo manggil-manggil nama dia nggak pakai kata Om. Soda lo! Lo tau nggak betapa dosanya lo dan hinanya lo sekarang. Bahkan jelas sudah terpampang dengan nyata betapa menjijikannya diri lo dan ditambah lagi lo melakukan tindakan tidak memperdulikan sahabat lo yang sedang sedih. Aku tuh nggak bisa diginiin ya. Hatiku itu rapuh dan mudah sekali terombang-ambing kesana kemari. Hatiku juga begitu lembut dan kenyal kenyal sampai ingin kau sentuh!"
"Eh, anak babi! Kenyal apa? Buah dadu?"
"a*u! Bukan gitu. Kan hati emang kenyal anak Selamet!"
"Masa sih? Lo punya hati?"
"Lo tau, otak kenyal apa keras?"
Dhika mengernyitkan keningnya,"Kenyal lah. Kan nanti bisa berat nih kepala kalau keras."
"Kok tau? Emang lo punya otak?"
Dhika mendengus sebal lalu menjambak rambut Virzha. Anna yang melihatnya tertawa karena kedua orang itu memang terlalu sering untuk bertengkar karena hal-hal sepele. Anna terkadang suka sekali memperhatikan kedua sahabat itu karena kelakuan mereka sangat persis seperti anjing dan kucing. Walau keduanya saling bertengkar dan adu mulut, namun keduanya juga cukup kompak dalam beberapa hal sehingga banyak yang menyukai pertemanan mereka. Kalau Anna sendiri sangat menyukai love language keduanya yaitu dengan bertengkar. Dhika yang gampang emosian dan Virzha yang jahil cukup membuat keduanya dekat bahkan sampai satu kelas dari SMP sampai SMA. Walau keduanya menyangkal bahwa mereka tidak menyukai kalau mereka selalu satu kelas dan bosan karena terlalu sering bersama, namun di satu sisi mereka juga menunjukkan betapa mereka sangat senang selalu berada di circle yang sama.
"Eh, udahlah kepala gue pusing lo jambak, setan." Dhika menghempaskan tangan Virzha kemudian mengambil buku-bukunya yang jatuh di lantai karena pertengkaran kecil yang dilakukan olehnya dan sahabatnya itu.
Virzha mengusap rambutnya dengan kasar kemudian tiba-tiba berpose dengan dua jari yang berada di pipinya. "Oh, tampan sekali anak si Roy ini," kata Virzha yang nelpon dipelototi oleh Dhika. Dhika mengernyit heran kemudian ia menatap ke langit dengan menengadahkan tangannya.
"Ya Allah, udah cukup sama punya adik yang jahenya naudzubillah min dzalik. Jangan tambahkan beban hamba dengan punya temen tololnya setengah mati. Kayaknya manusia purba Megantropus erectus masih mending pintarnya daripada nih manusia yang cc otaknya kayaknya udah turun."
Virzha memutar bola matanya malas lalu mendengus ala ibu-ibu tukang gosip yang sering ia lihat berbelanja di gerobak sayur. Mata Virzha kembali berpendar kemudian melihat ranjang rumah sakit yang diisi oleh gadis cantik miliknya itu agak bergoyang. Tunggu, ini bukan ilusinya aja kan?
"Kayaknya gue lagi di masa-masa stres deh. Masa gue melihat dengan mata kepala gue sendiri kalau cewek gue udah bangun."
Dhika yang baru saja merapikan buku-buku aku langsung menghadap ke ranjang di mana Anna sedang tertidur. Dhika ingin saja mengumpat sahabatnya itu karena-
"CEWEK LO EMANG UDAH BANGUN MAHMUDIN!"
"WO IYA! ASTAGA. SAYANG," teriak Virzha kemudian berjalan menghampiri kekasihnya. Anna benar-benar tertawa dibuat oleh Virzha. Dia baru saja sadar namun langsung diberi kebahagiaan oleh pria yang dulu mati-matian ia tolak keberadaannya.
"Panggil dokter," lirih Anna saat Virzha memegang tangannya. Virzha mengangguk kemudian keluar untuk memanggil dokter.
-/-
"Lo mau makan apa?" tanya Dhika yang akan turun ke bawah membeli makanan. Jam sudah menunjukkan 6 sore dan air hujan mengguyur bumi pada saat itu.
"Gue lagi nggak mau makan apa-apa. Lagian, gue kan baru sembuh. Nanti kalau gue makan yang aneh-aneh tanpa anjuran dokter mungkin gue pingsan lagi," kekeh Anna dan membuat Virzha senyum-senyum persis seperti seseorang yang baru saja melihat bidadari jatuh dari langit. Bahkan pemuda itu menopang kedua pipinya di dekat ranjang hanya untuk menatap Anna yang sekarang juga menatap dirinya. Kasihan Dhika, sekarang ia harus melihat telenovela yang bahkan bener-bener sangat membosankan hingga membuatnya ingin muntah.
"Lo makan apa anak kampret?!" sentak Dhika hingga membuat pizza mengalihkan atensinya ke Dhika.
"Belikan babang makanan yang enak dan mantap bernama sate dan jangan lupakan teh manis dingin ya," Virzha mengalikan atensinya melihat ke Anna, "Sayang beneran nggak mau apa-apa?" kata Virzha dengan nada suara yang lembut bahkan seperti berbicara dengan anak kecil. Anna tertawa lirih kemudian menggeleng.
"Aku nggak mau lama-lama di rumah sakit. Nanti kalau aku lama-lama di rumah sakit aku bisa meluk kamu erat kayak kemarin-kemarin," kata Anna. Virzha meneguk ludahnya kasar. Ia menggigit jari Dhika dan jelas saja pemuda itu meringis.
"Dasar gila! Dasar bucin!" sentak Dhika kemudian pemuda itu berjalan keluar hingga meninggalkan kedua pasangan kekasih yang masih saling menatap dan menggenggam tangan masing-masing.
Virzha menghela nafasnya perlahan. Ia menatap kekasihnya yang sangat ia sayangi itu dengan tatapan teduh dan terasa menyakitkan. Anna mengelus pipi itu pelan kemudian menariknya perlahan menempelkan bibir keduanya.
Slow, gentle in sadness
Perasaan rindu itu tidak berbohong. Anna sangat merindukan tingkah random Virzha yang selalu saja membuat dirinya bahagia. Anna sangat merindukan senyuman jumawa yang membuat dirinya selalu merasakan kebahagiaan. Tertawa dengan begitu bebas seakan ia tidak memiliki beban apapun. Anna merasakan kebahagiaan itu pada Virzha. Ia tidak di paksa bahagia namun di ajak bahagia.
"Bagaimana hubungan kamu sama, Noel?"