"Gimana hubungan kamu dengan Noel, sayang?" tanya Virzha hingga Anna melotot kaget saat mendengar Virzha mengatakan hal itu. Dia menggenggam selimutnya erat karena ia takut mereka akan bertengkar lagi seperti kemarin. Sudah cukup. Sudah cukup atas semua hal yang mereka alami belakangan ini. Banyak hal yang harus diperbaiki bukan untuk diperdebatkan lagi.
"Aku nanya, gimana hubungan kamu dengan Noel."
"Aku- aku bener nggak ada apa-apa sama dia. Aku berani bersumpah sama kamu kalau aku nggak ada main api sama dia. Aku bahkan nggak pernah berpikiran untuk menemui kamu karena kamu udah memberikan aku kebahagiaan yang selama ini aku inginkan. Aku nggak pernah berpikiran untuk meninggalkan kamu walaupun belakangan ini ketika kita bertengkar dia tetap ngotot untuk bertemu sama aku."
"Kamu bisa bicara seperti itu tapi aku belum bisa percaya 100% atas apa yang kamu ucapkan."
"Kenapa? Kenapa kamu nggak percaya? Kenapa kamu nggak pernah mau dengerin apa yang aku ucapin sama kamu. Kamu tahu kan kalau aku memang beneran nggak akan melakukan tindakan selingkuh dari kamu karena aku sayang sama kamu. Aku gak pernah ada niatan untuk melakukan hal itu. Kamu bisa nggak percaya sama aku sekarang, tapi aku mau sama kamu. Aku minta tolong sama kamu untuk paham bahwa aku beneran gak akan pernah meninggalkan kamu," Anna memegang pipi Virzha dengan lembut. "Virzha, aku tahu kamu punya trauma yang begitu dalam sampai-sampai kamu nggak pernah percaya sama aku. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Aku enggak pernah berniat untuk menghianati kamu dan nggak semua orang yang pernah berselingkuh itu akan berakhir sama pula. Kamu bahkan gak pernah kan melihat aku deket sama cowok lain?"
"Aku gak pernah liat. Aku berusaha untuk percaya sama kamu walau trauma itu menghantui aku secara terus-menerus. Aku belakangan ini juga intropeksi diri aku supaya aku nggak berpikiran untuk memperpanjang masalah kita. Kamu tau, selama kita saling diam aku selalu merasa rindu sama kamu. Aku selalu merasa ingin dekat kamu dan selalu memimpikan kamu karena rindu ku udah bener-bener nyata," Virzha mengambil tangan Anna dan meletakkan di pipinya. Ia menangis sembari mencium tangan itu. "Aku tahu kalau kamu merasa tersiksa dengan ucapan yang aku katakan sama kamu. Aku merasa kesal karena bilang sama kamu kalau kamu itu selingkuh. Padahal sebenarnya bayangan Mama aku yang pernah berselingkuh nggak pernah sekalipun silang dalam pikiran aku sehingga yang aku rasakan sama kamu itu sama seperti mama aku. Aku nggak pernah berniat untuk marah sama kamu tau, sayang. Aku nggak pernah mau kehilangan kamu bahkan ngelihat kamu nangis mohon-mohon sama aku."
"Aku yang salah sama kamu. Aku nggak bilang sesuatu yang besar pada kamu atas rahasia yang aku punya."
"Nggak," Virzha menggeleng kuat. "Sayang, sekarang aku sadar bahwa enggak semua orang akan mengalami hal yang sama yaitu dengan berbagi cerita. Kamu mungkin memang benar-benar belum bisa untuk cerita sama aku apa yang terjadi antara kamu sama si kampret itu." sebal Virzha.
Anna tertawa kemudian menarik kepala Virzha dan mencium keningnya. Entah kenapa dia begitu senang untuk mencium kening jenong itu. Dia bahkan terkadang menggesekkan hidupnya di kening Virzha membuat pemuda itu tersenyum senang bahkan tertawa terbahak-bahak saat gigi Anna bahkan terkadang menggigit keningnya. Mereka tertawa kembali setelah sekian lama hening dalam keterdiaman yang belakangan ini menjadi sepi. Keduanya memang memilih untuk menjadi diam beberapa waktu untuk intropeksi diri mereka masing-masing namun di satu sisi mereka juga masih remaja yang memiliki emosional yang begitu meluap dan tidak bisa ditahan dengan baik sehingga pada akhirnya meledak menjadi bom waktu dan itu membuat hubungan mereka menjadi sedikit renggang dalam beberapa hari ini. Anna sendiri juga tahu bahwa dia salah karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Virzha itu juga salah satu penyebab bagaimana hubungan mereka tiba-tiba menjadi bom dan menghancurkan mental masing-masing.
Untuk berbicara masalah dengan orang lain memang bukanlah perkara mudah. Terkadang manusia lebih memilih untuk diam dan memikirkan bagaimana mereka memecahkan solusi atas masalah yang mereka punya daripada mereka mengatakannya kepada orang lain. Karena terkadang Anna secara langsung tidak tahu diri. Jika misalnya ada orang yang ia ajak untuk berbicara tentang masalahnya, ia terkadang tidak suka jika tidak mendapatkan respon yang tepat dari orang yang diajak bicara. Jujur, sebenarnya bukan berarti Anna tidak menghargai orang yang ia ajak curhat. Namun, terkadang ia menginginkan sesuatu yang benar-benar pas diri orang yang iya ajak curhat sehingga yang di dapatkan hanyalah kesal karena nasehat yang diberikan oleh orang tersebut tidak bisa masuk ke dalam hatinya.
Anna menjadi lebih memikirkan masalahnya sendiri dan mungkin dia akan mencari orang yang akan mau mendengarkan ceritanya. Hanya butuh didengarkan bukan untuk dinasehati karena dia sendiri juga tidak mau orang lain merasakan beban yang ia rasakan juga. Ia akan memilih untuk tidak banyak bicara dan hanya mengungkapkan isi hatinya kemudian ia akan memilih mengucapkan terima kasih karena telah didengarkan. Anna sendiri akan memilih teman curhat yang benar-benar bisa ajak bicara dan kompromi. Dia biasanya akan membicarakan hal itu kepada Arun ataupun Kanaya. Kedua gadis yang memiliki sifat yang kalem dan lembut juga cara mendengarkan mereka lebih terasa nyaman karena setiap apa yang diucapkan selalu ada balasan berupa gerakan ataupun suara deheman.
"Kamu kalau misalnya belum bisa cerita sama aku duduk masalah antara kamu sama Noel, aku bakalan nunggu sampai kapanpun asalkan kamu benar-benar akan cerita sama aku dan kamu nggak bakalan pernah sungkan untuk melakukan hal itu karena aku adalah pacar kamu. Kalau kamu merasa sungkan atas apa yang akan kamu katakan sama aku, aku malahan bakalan marah karena aku sendiri nggak tahu apa masalah kamu dan kamu juga memilih untuk diam tanpa membicarakan hal itu. Aku mau tahu deep down inside yang kamu rasakan selama ini karena kamu selalu bersembunyi di balik topeng untuk menutupi segala hal yang kamu rasakan. Kamu bahkan enggak mengizinkan aku untuk melihat kamu sedih. Padahal, aku nggak pernah merasa bermasalah jika melihat kamu menangis dan aku yang akan memeluk kamu juga menenangkan kamu."
"Terkadang aku mikir dalam hidup aku sendiri. Apa aku pantas mendapatkan cinta dari kamu sebegitu besarnya sampai-sampai aku sendiri bahkan nggak bisa membalas dengan sama besarnya."
Virzha tersenyum kemudian mengelus surai panjang itu dengan begitu lembut sehingga kekasihnya tersenyum dengan begitu indah dimata Virzha. "Di hidup aku, aku kehilangan banyak cinta. Aku bahkan kehilangan sosok ibu yang hanya memikirkan kehidupannya sendiri tanpa memikirkan aku anaknya yang bahkan lahir dari rahim nya sendiri. Dia nggak mempedulikan apapun tentang aku dan memilih untuk pergi bersama kekasihnya yang lain padahal dia punya anak yang masih harus ia tanggung jawabi, dia masih memiliki anak yang bersekolah dan tentu saja bisa memilih dan menilai perilaku yang dia lakukan. Ketika aku bertemu kamu, aku merasakan berdebar setelah sekian lama aku nggak pernah merasakan hal itu karena aku sendiri pacaran waktu SMP doang itu juga sekali. Melihat kamu yang memiliki aura kuat dan mengintimidasi ak-"
"Intimidasi dong," tawa Anna membuat Virzha ikut tertawa.
"Ahahaha, iya tauuuu. Kamu kalau natap orang tuh kayak orang punya masalah yang begitu besar sama kamu sampai kamu punya dendam kesumat. Aku sama diri aku sendiri kenapa bisa jatuh cinta sama kamu hanya mukanya aja juteknya setengah mati dan siapapun bakalan takut sama kamu. Tapi kamu tuh punya sisi yang begitu cantik dan manis di saat bersamaan sehingga untuk jatuh cinta sama kamu itu adalah suatu hal yang mudah. Aku merupakan bahwa Mama aku pernah selingkuh bahkan aku melupakan bahwa aku pernah merasakan sakit hati dan berpikir untuk tidak menikah ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mama dan selingkuhannya tidur di ranjang yang sama dengan tubuh yang terbaru dengan selimut."
"Pasti berat ya. Berat buat kamu untuk menjalani semua hal yang terjadi sama kamu sampai hari ini. Sayang, Aku pengen mengatakan ini sama kamu. Aku mau ngucapin terima kasih sama kamu karena kamu udah kuat sampai detik hari ini di saat kamu dipertemukan dengan aku. Aku terima kasih sama kamu karena kamu udah kuat menjalani segala hal yang terjadi dalam hidup kamu sehingga pada akhirnya kamu bertemu sama aku. Aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi dan akan mencintai kamu begitu tulus seperti apa yang kamu inginkan."
"Nggak terlalu buru-buru untuk mencintai aku. Aku enggak pernah berniat untuk meninggalkan kamu kecuali kamu meninggalkan aku. Tapi, satu hal yang aku inginkan ketika kita memang tidak bisa bersama-sama lagi."
"Apa itu?"
"Aku berharap kamu bahagia dengan siapapun orang itu walau kamu bukan jodoh aku. Aku mau titip salam sama kamu kalau kamu harus baik-baik aja dan tetap jadi gadis yang punya tekad yang kuat dan punya ketegasan sehingga sering dibilang mendominasi orang-orang yang ada di sekitar kamu. Aku sayang sama kamu dan aku nggak pernah bohong akan hal itu."