Virzha merapikan selimut milik Anna. Pemuda itu tersenyum lalu mengecup pelan dahi kekasihnya. Anna sudah cukup pulih dan kemungkinan besar rusak akan pulang. Virzha sangat senang karena sekarang hubungan mereka sudah membaik. Kesalahpahaman yang kemarin pelan-pelan mereka jadikan pelajaran untuk kedepannya agar tidak langsung salah paham terhadap pasangan dan memilih untuk merenungkan sejenak diri sendiri kemudian membicarakan hal tersebut atau masalah tersebut kepada pasangan. Virzha paham bahwa Anna adalah gadis yang tidak akan membicarakan masalahnya sendiri karena dia sendiri tahu bahwa masalahnya akan cepat selesai kalau dirinya sendiri yang mengetahuinya. Ia hanya tidak mau merepotkan orang lain di sekitarnya walaupun orang tersebut tidak merasa keberatan.
"Kamu udah lama enggak sekolah. Kamu pulang aja terus mandi dan belajar supaya ujian nasional yang akan kita laksanakan nanti baik-baik aja nilainya."
"Aku nggak tenang ninggalin kamu sendirian di sini. Kamu itu suka banget lakukan hal-hal aneh padahal masih sakit. Aku males banget kepikiran nanti di sekolah gimana keadaan kamu karena kamu sendiri juga nggak pernah mau peduli atas tubuh kamu sendiri atau kesehatan yang kamu punya."
"Aku cukup tahu kalau aku bisa menjaga diri aku sendiri. Kamu nggak perlu khawatir. Aku bakalan baik-baik saja dan kamu harus masuk sekolah karena udah banyak absen. Kita udah hampir mau tamat sekolah dan bakalan memasuki dunia kampus. Kalau kamu sendiri aja nggak bisa menjaga diri kamu gimana aku bakal bisa fokus?" kata Virzha kemudian mendekati Anna. Ia mengecup tangan gadis nya kemudian tersenyum sembari mengelus pelan pipi yang sedikit kurus itu. Ah, Virzha rasanya benar-benar tidak suka ketika Anna kehilangan pipi gembul nya. Gadis itu benar-benar cantik dan sangat manis hingga membuat Virzha merasa sangat gemas dan langsung tidur di samping Anna.
Anna terkekeh saat Virzha mencium seluruh wajahnya hingga membuat dirinya kegelian. Anna bahkan mencubit d**a pemuda itu karena pemuda itu sendiri juga tak habis-habisnya mencium wajah Anna. Anna yang kesal kemudian menaikkan kakinya diatas pinggang Virzha kemudian mendekat pemuda itu sambil menggigit dadanya. Virzha yang kegelian langsung mencubit pipi Anna, namun hal yang lebih parah terjadi. Pemuda itu mendapat serangan dengan Anna menggigit leher Virzha hingga pemuda itu meringis kesakitan. Anna sendiri terkekeh kemudian mendorong Virzha hingga pemuda itu jatuh ke lantai. Anna benar-benar sangat senang dan ia langsung memeluk Virzha hingga pemuda itu gemas sendiri.
"Ujan ya." Virzha menatap bagian luar jendela dengan mendekap tubuh kecil Anna. Pemuda itu menurun naikkan tangannya hingga orang yang berada di dekapan Virzha begitu nyaman dan bahkan seperti dilindungi sehingga ia tidak takut bagaimana semesta memperlakukan dia semena-mena tanpa mementingkan perasaannya. Anna sebenarnya tidak menyalahkan semesta. Tapi, bagaimana semesta tidak menolongnya ketika dia mengalami musibah yang begitu berat membuatnya tidak percaya bahwa takdir itu memang ada. Mungkin, sekarang dia hanya bisa berpangku pada seorang Virzha yang notabene semakin banyak digemari oleh kaum perempuan. Namun, kesetiaan pemuda ini patut diacungi jempol karena selama hampir 3 tahun pemuda itu tak henti-hentinya mengejarnya.
"Bingung banget aku tuh sama kamu. Kamu sama sekali nggak ada masuk sekolah, nggak ada kerjain tugas. Ya, kamu kerjain sih sedikit tapi nggak semuanya kan kamu kumpul?"
"Aku kadang capek banget untuk ngerjain tugas karena jagain kamu. Tapi kalau mau ninggalin kamu sendirian di rumah sakit tanpa ada yang jagain juga buat aku merasa kepikiran secara terus-menerus. Aku masih banyak banyak harus belajar disiplin waktu deh kayaknya. Soalnya aku sendiri juga kadang keribetan untuk langsung jadwalku sendiri," kekeh Virzha membuat Anna mendongakkan kepalanya kemudian mengecup rahang pemuda itu dari samping. Anna benar-benar yang sangat kagum dengan Virzha yang sekarang lebih dewasa menghadapi sesuatu dan tidak bertambah atau grasak-grusuk seperti dulu. Anna seperti mengajari Virzha bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah tanpa harus heboh kesana kemari. Anna mengajari bagaimana cara supaya pemuda itu bisa menahan emosinya karena Virzha memang selalu saja bertengkar dengan siapapun.
Anna duduk dengan tenaganya yang ia paksakan kemudian mengambil salah satu album yang ia letakkan di dalam laci di samping tempat tidurnya. Gadis itu menatap album yang masih terlihat sangat rapi dan bagus. Album yang berisi semua kenangan indah yang ia rasakan sama orang tuanya masih ada di dunia bersamanya. Anna benar-benar sangat merindukan kedua orang tuanya. Dulu, ketika Anna sakit, kedua orang tuanya selalu saja datang dan memeluk dirinya di dalam satu tempat tidur yang sama dengan Gama yang ikut tidur bersama-sama. Anna sangat bahagia dulu karena orang tuanya selalu saja memanjakan dirinya ketika ia sedang sakit. Walau Anna hanya sekedar flu ataupun batuk, kedua orang tuanya akan selalu mendekatinya setiap malam dan memberikan perhatian yang begitu membuat Anna merasakan betapa sayangnya mereka padanya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Virzha saat Anna hanya duduk lalu mengelus album yang Virzha perkirakan album tersebut sudah cukup lama.
"Nggak papa. Aku lagi kangen aja sama kedua orang tua aku. Aku kangen sama semua hal yang terjadi di hidup kami dulu sampai tiba-tiba kecelakaan itu merenggut semua kebahagiaan yang pernah kami rasakan. Dalam beberapa detik semua senyum seakan menjadi hari terakhir yang bisa kami lakukan. Aku nggak pernah menyangka sampai sekarang kalau kedua orang tuaku akan pergi meninggalkan aku dengan cara yang begitu menyakitkan. Aku sampai sekarang belum ikhlas ketika pengingat bagaimana kedua orang tuaku mengalami kecelakaan yang begitu hebatnya. Sampai, perlahan aku tahu kecelakaan mereka bukanlah hanya kecelakaan biasa melainkan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh para ilmuwan karena kedua orang tuaku ingin memberitahu kepada publik bahwa penelitian yang para ilmuwan itu lakukan adalah ilegal."
"Illegal?"
"Iya, Illegal. Mereka menggunakan sistem otak manusia dengan mengendalikan mereka dari sebuah mesin sehingga mereka bisa melakukan apapun dengan mengendalikan dari mesin tersebut. Kodrat manusia seakan sudah tidak ada harganya lagi saat mereka melakukan penelitian itu dan itu hanya akan membuat para ilmuwan semakin didepan dan manusia akan menjadi kelinci percobaan secara terus-menerus supaya mereka bisa mendapatkan kepuasan. Ya, kamu bayangin aja bagaimana manusia dikendalikan oleh orang lain dengan melakukan tindakan yang mungkin saja menyimpang. Dunia bisa hancur kalau gitu." jelas Anna. Virzha mengangguk dan membenarkan apa yang di katakan oleh gadisnya.
"Ya, hal itu pasti bakalan terjadi kalau misalnya penelitian mereka dilanjutkan. Bisa aja para ilmuwan itu nggak bakal kena dampak dari apa yang dilakukan oleh manusia dan korban yang merasakan segala bentuk penghinaan yang dilakukan oleh ilmuwan tersebut karena mereka menutupi perlakuan jahat mereka dengan pengendalian manusia itu. Dan, Mama sama Papa aku melakukan investigasi karena mereka juga agen di sebuah pusat penelitian. So, ketika mereka tahu bahwa hal tersebut terjadi, kedua orang tuaku tanpa pikir panjang langsung menangkap mereka. Namun, komplotan mereka membalaskan dendam dengan membuat kecelakaan seolah-olah mereka memang kecelakaan biasa bukan pembunuhan berencana. Di situ aku sangat benci menjadi ilmuwan. Tapi, di satu sisi aku benar-benar menyukai hal itu." lanjut Anna hingga tangisan itu keluar.
Virzha membawa tubuh kekasihnya untuk berbaring kembali di ranjang rumah sakit kemudian mendekap tubuh itu dengan pelukan yang hangat. Anna, sudah berapa banyak dia menderita atas apa yang dilakukan oleh orang-orang terhadap keluarga kecilnya hanya karena mereka mengungkapkan kejahatan. Memang, banyak sekali dari orang-orang yang akan melakukan tindakan hal apapun agar mereka mendapatkan kepuasan yang nyata dan memperkaya diri mereka walaupun itu membahayakan orang lain mereka tidak akan peduli. Anna adalah salah satu korban yang masuk dalam sebuah kehidupan yang begitu menyakitkan kehilangan kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya membela kebenaran. Memang, kebenaran di zaman sekarang terlalu dianggap naif atau mungkin saja ada oknum dengan pikiran pendek akan memberantas orang-orang yang suka sekali mengusik apa yang mereka inginkan.
Manusia kembali dijadikan oknum yang akan melakukan perubahan yang begitu besar. Manusia akan dijadikan kelinci percobaan secara terus menerus mereka akan menyesal atau tidak sama sekali. Mereka bahkan rela memasukkan vaksin yang bahkan tidak tahu kebenarannya itu seperti apa dan efek sampingnya bagaimana mereka tetap memasukkan vaksin itu ke dalam tubuh manusia dengan alasan keselamatan oleh seluruh manusia di bumi padahal hanya ekonomi yang ada di otak mereka. Mereka hanya memperkaya diri mereka sehingga membunuh satu persatu orang yang berada di bumi. Anna sebenarnya tidak suka menjadi ilmuwan yang menemukan suatu penelitian namun melibatkan banyak orang yang akan meninggal karena penelitian yang ia buat.
Anna akan memilih untuk menjadi ilmuwan penemuan teknologi daripada ia menjadi penemu obat-obatan yang mungkin saja melibatkan manusia dengan dalil keselamatan seluruh hal yang ada di dunia seakan-akan mereka adalah superhero yang akan ditunggu kehadirannya. Padahal, mereka hanyalah makhluk yang dengan rakusnya ingin merampas seluruh kehidupan manusia lainnya hanya untuk kepentingan perut mereka sendiri. Para pemerintah maupun ilmu di zaman sekarang yang bahkan sudah banyak memakan korban atas penelitian yang mereka lakukan terhadap manusia lain. Entah apa yang akan terjadi kemudian jika mereka tetap saja berpegang teguh untuk mementingkan keegoisan mereka semata daripada keselamatan rakyat.
Kedua orang tuanya membuktikan kepada seluruh manusia yang telah mengikuti ilmuwan yang ingin diungkapkan kasus kejahatan itu, adalah orang yang sangat jahat dan sangat rakus atas kekuasaan dan uang. Kabar terakhir yang ia dengar adalah, mereka diberi hukuman dengan tembakan di kepala karena melakukan penelitian ilegal tersebut. Kasus yang terungkap itu cukup lama sekitar 6 bulan setelah meninggalnya kedua orang tuanya. Dan, selama 6 bulan mereka tidak ditemukan keberadaannya karena selalu saja sembunyi kesana kemari, membuat Anna nyanyi ingin memukul wajah mereka satu persatu karena selama 6 bulan itu mereka hanya foya-foya dengan hasil penelitian mereka. Mereka bekerjasama dengan bagian pemerintah sehingga uang mereka banyak dan keselamatan mereka aman. Tapi, Gama adalah seorang hacker yang handal dan bisa membuat orang-orang itu mendekat di neraka sekarang.
"Makasih ya, makasih selama ini kamu udah kuat untuk menjalani segala hal yang terjadi di hidup kamu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tetap mencintai kamu walau kamu nggak bisa sepenuhnya mencintai aku seperti aku mencintai kamu. Satu hal. Satu hal yang harus kamu tahu bahwa kamu adalah kado terindah dari Tuhan yang tercipta untuk aku. Dan, maaf kalau selama ini aku egois sama kamu gak mikirin perasaan kamu dan hanya berpikir dengan emosi aja."
"It's ok. I don't mind at all if you're mad at me. I know, you must be angry or jealous even if for no definite reason but you want to express it and now you have apologized right? Itu udah lebih dari cukup untuk aku. Apalagi, kak Gama enggak ada di sini dan hanya ada kamu yang menemani aku. Aku bahagia karena kamu masih peduli sama aku disaat satu orang pun gak ada yang peduli sama aku lagi biarin aku sakit sendirian di rumah sakit," ucap Anna tulus.
Virzha menatap Anna yang tidur si sampingnya. Perlahan, ia naik ke atas tubuh Anna kemudian mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Lagu still love you mengalun dengan cukup indah untuk mengiringi kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu. Anna memilih diam saat kecupan itu jatuh di dahinya hidung kemudian di bibir. Perlahan gerakan yang dari tadi hanya pelan itu sekarang mendadak menjadi perasaan yang menggebu-gebu. Anna begitu kaget dengan gerakan yang dilakukan oleh Virzha dunia hanya mencengkram kerah kemeja pemuda itu. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu hingga tangan itu melingkar di leher Virzha hingga membuat Virzha semakin menenggelamkan diberi itu di atas bibir Anna. Keduanya saling menukar rindu dengan pelukan dan ciuman hangat tanpa orang tahu ada orang lain yang mengintip mereka dari kaca pintu ruangan Anna.