Noel memasuki kamar di mana ia mendengar suara decapan di seluruh ruangan di mana orang yang sangat is cintai berada di dalam kamar tersebut dengan orang yang berada di atas gadis yang sangat ia cintai. Anna benar-benar membuat dirinya kecewa. Bagaimana tidak? Ia bisa melihat bagaimana gadis itu menikmati Virzha yang menciumnya dengan intens. Bahkan, saat mata itu tak sengaja bertatapan dengan matanya, ia bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu juga sengaja tidak membiarkan ciuman itu terhenti dan tetap melanjutkannya tanpa peduli bagaimana perasaan Noel sekarang.Anna benar-benar sangat menyayangi Virzha lebih dari apapun sehingga gadis itu hanya bisa pasrah padanya.
"Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu sedangkan di sini aku berjuang agar kita bersatu kembali dan tidak mengungkit emosi yang tampil di antara keduanya. Kamu sangat jago membuat aku merasakan begitu sakit hati atas tindakan yang kamu lakukan padaku. Dan, sepertinya memang kamu suka sekali bermain-main denganku sehingga kamu melakukan hal yang sangat kotor seperti itu. Kamu hanya kekasihku, Anna. Aku gak akan membiarkan kamu pada siapapun dan bakalan terus-terusan hanya dengan aku. Aku bersumpah akan membuat kamu menyesal karena selalu saja berdekatan dengan pemuda b******k itu. Aku akan membuat kamu mendapatkan penyesalan atas apa yang kamu lakukan dan kamu akan meminta ampun sama aku."
-/-
"ANNA!" panggil Agneus saat melihat Anna baru saja turun dari mobil Virzha. Anna sudah pulang beberapa hari yang lalu namun baru masuk sekolah hari ini ini di saat mereka akan menjalani upacara hari Senin. Ah, Anna sebenarnya sangat malas untuk upacara namun dia benar-benar menghormati jasa para pahlawan yang sudah bersusah payah menaikkan bendera dengan keringat dan darah mereka. Anna akhirnya melangkahkan dirinya untuk masuk ke kelas dengan meletakkan tasnya dan memakai atribut sekolahnya yang belum semuanya ia pakai dengan lengkap.
"Ann, gue nggak mau tahu loh cerita sama gue apa yang terjadi sama lo! Bisa-bisanya gue sama sekali nggak tau kalo lo ternyata melakukan tindakan bodoh kayak gitu dengan tindakan mau menyakiti diri lo sendiri. Gue sebenernya males banget ngomong kayak gini sama lo tapi gue sama sekali nggak percaya kalau melakukan tindakan bodoh kayak gitu dan itu benar-benar membuat dia marah dan sangat marah karena apa? Lo seakan-akan nggak nganggap gue teman untuk sekedar berbagi cerita aja lo nggak pernah."
"Nggak gitu. Gue semuanya pengen cerita semua itu sama lo tapi satu sisi gue tahu lu juga punya masalah sendiri menyebabkan sampai sekarang belum kelar. Gue enggak mau membawa sampah gue padahal aku sendiri juga memiliki masalah mungkin lebih sulit dari masalah yang gue punya."
"Kenapa membandingkan masalah gue sama masalah lo? Gue? ya jelas gue bilang masalah gue berat. Tapi, mungkin aja menurut lo masalah gue itu sederhana yang bisa aja gue pecahkan dengan begitu mudahnya. Kesimpulannya apa? Ketika misalnya ada dua orang yang mengalami masalah yang sama, of course, cara mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri juga bukan dengan cara yang sama namun dengan pemecahan masalah yang berbeda. Lo nggak pernah bilang masa lalu itu berat atau masalah lo itu biasa aja. Karena, lo nggak bisa mengelak kalau lo juga kepikiran sama masalah lo. Lo jangan suka membandingkan masalah sama orang lain deh."
"Ya...gue bingung mau cerita sama lo tuh di bagian yang mana. Karena gue sendiri juga menganggap bahwa masalah-masalah gue susah untuk diselesaikan apalagi ketika gue cerita, enggak semua orang bakal mendengarkan lo nggak semua orang bahkan puas dengan nasehat yang lo berikan. Jadi, jalan satu satunya adalah gue meminta pertolongan dari Tuhan dan itu lebih dari cukup untuk gue bertahan bahwa dia bisa menyelesaikan masalah gue sendiri. Gue hanya mau berterima kasih sama lo karena lo udah peduli sama gue dengan menanyakan keadaan gue baik-baik aja atau nggak walaupun dengan nada yang ketus dan jutek banget itu!" kata Anna yang membuat Agneus memutar kedua bola matanya dan memukul kepala Anna dengan pensil.
Anna hanya menggeleng pelan kemudian membuka tasnya dengan mengambil hand sanitizer setelah ia merapikan sepatunya. Dengan perlahan, ya keluar dari kelas dengan Agneus yang berada di sampingnya. Keduanya benar-benar sangat cantik sehingga orang-orang yang melihat mereka berdua berjalan menjadi kagum dan juga terheran-heran dengan kecantikan yang mereka punya. Anna dengan wajah yang terlihat sangat jutek namun terkadang sendu menghiasi wajah itu. Agneus dengan wajah ala ulzzang Korea membuat semua orang menatap wajah itu dengan decakan kagum luar biasa.
"Gue masih melakukan gimana perasaan lo sama Virzha," kata Agneus. Anna menatap Agneus dengan pandangan yang sedikit tidak percaya kenapa temannya bisa mengatakan hal itu? Bukankah selama ini Agneus selalu saja mendukung dirinya dengan Virzha? Kenapa tiba-tiba gadis itu mengatakan hal lain?
"Ini lo beneran gak tau apa gimana? Lo sendiri aja kadang masih meragukan gimana perasaan lo sama dia kan?"
"Kenapa lo bisa berbicara seperti itu? Gue nggak ngerti kenapa tiba-tiba lo nggak mendukung gue dengan Virzha lagi?"
"Bukan nggak mendukung. Gue tau perasaan lo sama Virzha perlahan-lahan menjadi lunak. Tapi, lo sendiri juga masih meragukan dalam bentuk apa lo ingin bersama dia. Lo mencintai dia dengan benar-benar tulus mencintai dia. Atau, lu terlalu patah hati dan terlalu takut sendiri dan kebetulan Virzha berada di radar lo dan dengan kesempatan itu lo mendekati dia seakan-akan mau mencari kenyamanan dan keamanan dari balik punggungnya. Ann, itu cowok terusnya setengah mati sama lo bahkan apapun yang dia punya kalau bisa hanya untuk lo. Ketika lo nyakitin dia sekali aja, itu sama dengan lo menghilangkan kepercayaan dia karena lo tahu sendiri dia sangat trauma dengannya namanya perselingkuhan makanya dia tetap konsisten mencintai lo karena dia tahu bahwa hanya kesetiaan yang bisa melunakkan hati seseorang. Walau dia sendiri bahkan udah lupa bagaimana cara mencintai seseorang di saat dia melihat ibunya bergumul panas di ranjang dengan orang lain yang bukan ayahnya."
"Gue-gue emang awalnya nggak bisa cinta sama Virzha. Gue merasa dia sangat wajib bikin gue beban dan jujur itu menyakiti gue. Gue nggak berniat untuk menyakiti hati dia tapi disatu sisi gue pengen dia selalu berada di dekat gue. Gue tahu kalau gue itu egois. Tapi, perasaan yang gue rasakan ini bener-bener nggak bisa gue tahan bagaimana bentuknya. Gue teramat nyaman di dekat dia. Tapi, di satu sisi gue juga sama sekali nggak paham atas apa yang gue rasakan."
"Pikirkan. Jangan sampai lo nyesel gak bisa sama dia. Kesempatan gak datang dua kali, Ann."
"Maksud lo? Kenapa tiba-tiba lo bicarakan hal ini?"
"Kenapa? Karena, ketika lo menghilang cowok lo itu ngamuk-ngamuk di kelas bahkan dia sampai bentak guru bahkan ngancurin itu pagar sekolah karena nggak dikasih untuk jumpain lo di rumah sakit. Dia nggak peduli kalau nanti nilai dia itu ancur yang penting jumpa sama lo. Lo tahu sendiri dia udah kelas berapa? Kelas 12n Bentak guru lagi!"
"Serius lo?"
"Ya serius lah. Gimana sih, lo tahu kan stress kepala apa cowok lo itu. Dia nggak peduli sama apapun yang penting apa yang di hati dia itu keluar. Apalagi kami dari pihak sekolah nggak ada yang ngasih tahu sama dia kalau lo itu ada di rumah sakit. Lah, ya dia makin ngamuklah. Aduh, gue kalo jadi lo si pusing soalnya cowok kayak gitu sih terlalu berandalan sih menurut gue. Bukannya gimana, gue tahu dia sayang apa sama lo bahkan rasa sayang dia itu bisa dibilang udah mendarah daging sampai-sampai nggak bisa lagi untuk berpisah dari lo. Tapi, di satu sisi lo harus tahu kalau perasaan dia sama lo itu bener-bener tulus. Lo nggak usah ragu deh sama perasaan dia. Jujur aja, kalau gue jadi lo si gue bakalan terima dia walaupun ya semuanya hehehe dia sedikit menyebalkan tapi dia tahu cara menyenangkan hati perempuan itu gimana."
Anna mengernyitkan dahinya mendengar penuturan dari sahabatnya. Dia tersenyum kecil karena sebenarnya dia tahu bahwa Agneus dulu sempat menyukai Virzha. Gadis itu sering berjumpa dengan Virzha di club. Dan, ketika dia melihat Virzha heboh mendekati Anna dengan segala upayanya, seperti itu membuat dirinya menjadi terpesona pada pemuda tersebut. Dan, sepertinya hal itu juga berlangsung sampai sekarang.
Anna kemudian tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju lapangan di mana semua murid sudah berkumpul. Anna melihat Virzha berdiri di bagian paling belakang barisan. Anna hanya tertawa kecil kemudian berdiri di barisan nomor 2. Namun, gadis itu langsung tersentak kala tangannya di tarik ke belakang. Tentu saja siapa lagi kalau bukan pangeran Virzha.
"Kamu ini! Aku harus di depan!"
"Aduhh, Kamu bentar lagi lulus sekolah loh. Masa nggak pernah mau merasakan berdiri di di barisan paling belakang pas upacara?"
"Ya, karena aku pernah terbiasa untuk itu."
"Malu ya berdiri di samping aku yang ditandai oleh guru dan semua murid di SMA kita sebagai murid nakal?"
"Ya nggak, Aku cuman takut aja nanti guru-guru pada nyariin aku. Kan, kamu tahu sendiri kalau aku tuh sama aja dipanggil guru untuk mengatur murid murid nakal."
"Oh, Ya udah deh kamu balik lagi ke depan," kata Virzha dan membuat Anna mendengus sebal. Ia memilih berdiri di belakang dengan Virzha dan membuat pemuda itu merasa kesenangan. Tangan Virzha terulur untuk menggenggam tangan mungil itu alih-alih pemimpin upacara menyuruh lancang depan.
"Virzha! Entar kita di hukum."
"Nggak bakalan. Kamu kalau berada di samping aku bakalan aku jamin bakalan aman dan nyaman tentram juga paket lengkap tuh," kekeh Virzha dan membuat Anna juga terkekeh.
"Rencana sudah hampir memasuki tahap ketiga. Korban sudah terjerat dengan agen."