"Oit, Ann. Nonton anak Himalaya tampil yuk!" ajak Agneus saat melihat Anna hendak membereskan bukunya. Sekarang sudah di semester akhir. Banyak dari murid-murid yang sudah mendapatkan jam bebas karena guru-guru akan sibuk dengan kelas 12 yang akan mengikuti perpisahan. Anna sendiri juga sibuk dengan beberapa anggota OSIS yang akan menyelenggarakan pentas seni dalam beberapa minggu lagi.
"Nggak deh. Gue mau ke ruang OSIS juga. Lagian, lo nontonnya sendirian aja kenapa sih. Dari jaman dulu kalau nonton sama gueeee aja."
"Ya kali gue jadi kambing congek! Gue pengen ada temen juga lah," sewot Agneus.
"Neus, temen lo alias gebetan lo tuh ada. Nungguin lo juga. Ngapain nungguin gue lagi? Kapan sih lo tuh paham kalau tuh doi lo nungguin lo supaya lo tuh peka sama perasaannya," ucap Anna menasehati sahabatnya yang memang bukan tidak peka, tapi menolak ada orang yang jatuh hati padanya. Entah apa yang ada di pikiran gadis cantik itu. Namun, kadang itu membuat Anna sangat kesal. Iya, Anna kesal karena Agneus bahkan bermain dengan orang lain tapi tidak mau mendekati orang yang mencoba membuatnya mengerti arti cinta.
"Aduh, apa harus gue kasih tau sama lo kalau gue belum bisa menerima dengan mudah? Gue juga berusaha, Ann. Tapi, membuka perasaan sama orang lain juga bukan perkara mudah. Karena apa? Gue mau menjalin hubungan tanpa nambah masalah. Makannya gue berusaha memperbaiki hati gue dulu baru kalau gue udah siap, gue bakalan menerima dia."
"Masalahnya lo terlalu memperbaiki dalam bentuk yang bahkan lo gak tau yang harus di perbaiki hati lo yang mana. Gini deh, mending lo tanya sama dia, apa dia bakalan menunggu lo selama itu? Apa dia bakalan mau berharap sama lo yang udah menyia-nyiakan dia selama itu? Agneus, cinta juga punya tanggal kadaluarsanya kalau lo kelamaan gak nanggepin apa yang dia rasakan. Lo gak bisa menyuruh orang nunggu lo selama itu tapi lo-nya sendiri juga dekat sama yang lain. Lo kira perasaan sebercanda itu?"
"..."
"Agneus, jangan karena dia suka sama lo, lo jadinya seenak jidat lo menyuruh dia mengerti tentang lo. Dia berhak mundur dan lo gak berhak marah karena itu. Sebab, lo sendiri yang buat dia pergi." Anna mengatakan hal itu dengan tegas agar sahabatnya paham tentang perasaan. Agneus terlalu memudahkan perasaan orang lain hingga menjadikan orang lain itu menunggu sebuah perasaan yang kosong.
Agneus hanya diam dan memutar bola matanya malas. Ia sudah terlalu lelah dengan perkataan Anna yang sudah sangat ia hapal di luar kepalanya. Jangan harap Anna jarang memberikan wejangan begini padanya. Ini sudah terlalu sering dan itu membuat Anna kesal karena ya mau bagaimanapun ia bicara sampai mulutnya berbusa sekalipun, tetap saja dia akan mendapatkan respon yang sama. Di acuhkan.
"Udahlah, lagian gue juga gak pernah serius buat deket sama orang lain. Lo juga! Ngapain heboh banget urusin perasaan gue. Udah urusin hubungan lo sama pacar lo itu. Tentang perasaan gue dengan segala orang yang terlibat di dalamnya, itu jadi urusan gue. Lo gak usah pikirin dan tetap stay cool aja. Santuy dan tetap mantau dari jauh kalau gue udah aneh-aneh."
"Lo tuh udah anehhhh. Masih bilang kayak gitu lagi! Ih sebel gue!" Anna kesal kemudian keluar kelas diikuti dengan Agnues yang tertawa mengikuti Anna. Anna memutar bola matanya malas kemudian berjalan dengan cepat karena rapat pasti akan di mulai.
Saat ia berjalan, ia melihat Virzha yang memegang gitar. Wajah pemuda itu murung. Anna merasakan dadanya begitu sesak saat ia mengingat bahwa dirinya harus menyakiti Virzha demi menyelamatkan kakaknya. Ia tidak sanggup. Hal itu di luar kendalinya. Namun, ia terpaksa melakukan hal itu demi kakaknya juga. Ia tidak bisa membiarkan kakaknya menjadi santapan orang lain. Ia juga dilema. Tapi, semua kehendak ini sangat diluar jangkauannya.
"Virzha tumben gak ke kelas? Biasanya heboh banget bakalan masuk ke kelas nyariin lo," ucap Agneus. Benar, biasanya pemuda itu akan heboh datang ke kelas dan mengajaknya makan. Meninggalkan Agneus sendirian. Lalu tadi, ia tidak ke kelas dan memanggil Anna membuat gadis itu berpikir mungkin saja Virzha merasakan firasat tidak enak tentang hubungan mereka.
"Ann! Lo di tanya bukannya di jawab?!" Agneus memukul punggung Anna membuat gadis itu meringis.
"Suka hati gue lah. Ini kan urusan perasaan gue dan pacar gue. Gak usah ikut campur!"
"Heh! Kok dendam! Anna!" Agneus memanggil Anna namun ia tidak menghiraukannya. Biar saja. Anna masih. kesal dengan keras kepala yang dimiliki oleh Agneus. Mending dia pergi ke ruangan OSIS segera lalu menyelesaikan semua hal. Ia ingin melihat latihan Virzha setelahnya.
Anna masuk ke dalam ruangan. Ia bisa melihat sudah banyak anggota OSIS yang berkumpul di sana. Anna sepertinya menjadi yang terakhir masuk ke dalam kelas.
"Lama banget, Ann. Kasian adek kelas yang mau liat gebetannya tampil, nih," celetuk Jeffrey membuat Anna kesal. Ia menendang kursi Jeffry dan pemuda berlesung pipi itu hanya tertawa kecil. Sangat tidak lucu.
"Maaf semuanya. Tadi gue ada urusan di kelas. Bisa kita mulai sekarang aja?"
-/-
Virzha masih memegang gitarnya dengan pandangan yang jenuh. Ia masih menunggu untuk gilirannya di panggil. Virzha menghela nafasnya lelah. Ia masih kepikiran saat Anna seperti menyembunyikan sesuatu. Apa dia tidak bisa di percaya sampai-sampai pacarnya sendiri tidak mau mengatakan hal yang mengganjal di hatinya padanya? Dia juga sudah berusaha agar tidak kekanakan dalam bicara ataupun berperilaku. Namun, semuanya seperti tidak ada artinya bagi Anna. Semuanya menjadi omong kosong yang tidak ada respon yang bisa ia gapai.
Terkadang lelah jika sudah berusaha untuk mengerti tapi yang di ajak mengerti tidak tau diri. Iya, Virzha tau kalau Anna masih saja dekat dengan Noel. Gadis itu masih saja bersama dengan Noel dan membuat dirinya menjadi orang yang tidak tau apapun tentang hal itu. Padahal, Virzha ya sangat tau tentang hal yang terjadi di antara keduanya. Tapi, dia hanya diam sampai Anna mau jujur. Jika Anna mau jujur sebab apa yang membuat dirinya dekat dengan Noel, dia bisa memikirkan bagaimana perasaannya harus di tanggapi jika keduanya berdekatan.
Tuhan, Virzha sangat mencintai Anna. Demi Tuhan, Anna adalah gadis yang sangat ia cintai dan ia kagumi. Mungkin ia memang masih sekolah dan belum sangat pantas berpikiran tentang cinta yang seperti itu. Namun, perasannya memang nyata adanya. Tidak ada berbohong sama sekali. Semuanya tulus apa adanya.
"Kayaknya ada yang galau, nih?" ucap seorang pemuda dengan memegang gitarnya juga. Dia Sakha, yang pacarnya suka ngamuk kalau liat Sakha dekat sama cewek lain. Iya, kadang Virzha bisa melihat bahwa Sakha lelah dengan kekasihnya itu. Namun, di sisi lain ia seperti di sadarkan bahwa apa yang ia lakukan itu murni karena ingin bertahan walau dia tau perasaan itu adalah perasaan yang tidak bisa di bilang baik.
"Lo bukannya udah selesai latihan?"
"Belum lah! Cewek gue tadi rewel pengen di ajakkin makan bakso di depan gerbang. Biasalah"
"Gila ya! Padahal beda sekolah tapi bisa bolos ke sini."
"Namanya juga bucin. Mau gimanapun dia bakalan usahain ketemu gue walau dengan cara gila sekalipun."
"Bukan bucin bro! Itu toxic. Gak usah bersembunyi di balik kata bucin lah!" celetuk Virzha. Sakha bukannya tersinggung malahan tertawa. Pemuda itu ikut duduk di atas meja yang seharusnya tempat barang tapi di ubah jadi tempat duduk.
"Lo juga. Emang Anna suka banget sama lo? Kayaknya sih nggak, ya. Soalnya keliatan tuh cewek enek sama lo."
"b******n!" umpat Virzha yang di balas kekehan juga oleh Sakha.