Gama sedang memasak tumis kangkung dan tak lupa juga ayam kari kesukaan adiknya. Hari ini Ia memang sengaja pulang cepat karena katanya Anna baru saja pingsan. Siapa yang memberitahu dirinya? Tentu saja si manusia heboh bernama Virzha yang selalu saja menanyakan banyak hal kepadanya perihal tentang adiknya itu. Tadi siang pria itu mengatakan bahwa Anna pingsan hingga membuat Virzha takut kalau Anna kenapa-napa.
Bukannya heboh atau gimana. Gama tau kalau Virzha itu sayang itu dengan Anna sang adik. Karena Gama memang tau Virzha dari dulu menyukai Anna namun Anna memang sengaja tidak menggubrisnya karena ia merasa malas untuk melakukan hubungan pacaran dengan siapapun. Dan Anna juga menceritakannya kepada Gama yang notabene adalah kakaknya dan sekaligus orang yang selalu mendengarkan ceritanya. Jadi Gama tahu betapa perhatian dan sayangnya Virzha kepada Anna.
Kedua sejoli itu bahkan dari tadi duduk di depan TV dengan masing-masing memegang jus jambu merah yang dibuatkan oleh Gama. Gama memang sengaja ingin membuat kan itu hanya untuk Anna namun Virzha merengek meminta nya juga. Masa aku yang di sini gak di kasih minum juga. Katanya tadi saat Gama memberikan jusnya kepada Anna. Hal yang membuat gambar menggeleng pelan dia merotasikan bola matanya namun Ia juga membuatkan Virzha minuman jus jambu itu juga karena kalau tidak ya mungkin dia akan bersungut-sungut sampai pulang.
"Aku tadi dibilang sama pak Harto untuk buat flowchart tentang bisnis. Itu kayaknya Pak Harto lagi mabuk deh," ucap Virzha sambil membuka tabletnya.
"Kenapa gitu?" tanya Anna yang duduk di samping Virzha sembari membuka tabletnya juga untuk mengerjakan tugas sekolah.
"Ya aku kan SMA, yang. Bukan kelas IPS yang harus tahu tentang bisnis apa lagi buat flowchart kayak gini"
"Ya buat aja lah. Nanti mau nggak mau juga kamu bakalan mempelajari itu untuk perusahaan papa kamu."
"Tapi belajar kayak gini buat aku puyeng, yang. Kayak apa sih pelajaran kayak gini harus dipelajari? Apalagi tentang perkreditan atau hutang piutang. Ini aku belum terjun ke dunia bisnis aja udah puyengnya Masya Allah. Apalagi disuruh terjun langsung untuk meeting sama papa. Beh, merinding otakku memikirkannya," sungutnya dengan gaya yang berlebihan dan membuat Anna tertawa melihat tingkah kekasihnya itu. Jujur saja Anna sangat nyaman dengan Virzha yang selalu saja membuatnya merasa bahagia dengan lelucon receh yang selalu ia berikan setiap saat. Pria itu bahkan tidak pernah malu untuk menunjukkan dan memberikan lelucon-lelucon yang baru saja ia pelajari katanya sih dari f*******:. Anna bahkan tidak bisa berhenti tertawa jika Virzha sudah melemparkan lelucon seperti itu.
Anna merasakan hubungan mereka bukanlah sekedar hubungan antara pacar yang harus saling menyayangi dan memberikan ucapan-ucapan kasih sayang. Namun Virzha lain. Ia memberikan senyuman dan tawa itu untuk ditularkan ke Anna. Seakan-akan tawa dan senyuman itu harus Anna punya juga agar Anna bahagia. Satu hal yang belum tentu pria manapun akan memikirkan tentang kebahagiaan nya.
Dulu, Anna juga pernah dekat dengan salah satu kakak kelasnya. Anna belajar membuka hatinya untuk bersosialisasi bahkan untuk berbicara dengan orang yang sebaiknya membuatnya tidak nyaman. Awalnya semuanya berjalan lancar hingga tiba di mana pria itu tiba-tiba mengatakan bahwa ia ingin memiliki hubungan khusus dengan Anna. Pada saat itu Anna memang tidak ingin mempunyai hubungan khusus dengan siapapun. Namun pria yang baik itu selalu saja memberikan banyak perhatian kepada Anna dan karena Anna pada saat itu juga mengalami masa-masa sulit, iya menerima hubungan itu. Namun ternyata Anna hanya bahan taruhan saja. Pria itu menginginkan Anna karena ia dan teman-temannya melakukan taruhan siapa yang bisa melelehkan hati es Anna. Dan sampai saat itu Anna tidak percaya cinta.
Hingga Anna bertemu Virzha yang adalah salah satu kebahagiaan yang pernah ia dapatkan. Walau dulu Anna selalu saja tidak memperhatikan dan tidak menggubris apapun yang dilakukan oleh Virzha, namun diam-diam Anna selalu tertawa saat pria itu melakukan hal bodoh hanya untuk menarik perhatiannya. Dan hal itu juga yang membuat anak merasa bahwa Virzha adalah laki-laki yang baik dan tidak akan memperdaya dirinya.
"Kamu kenapa sih suka banget pelajaran teknologi kayak gini? Pusing tau!" celetuk Virzha hingga membuat Anna menaikkan alis sebelahnya hanya untuk menanyakan kenapa pria itu mengatakan hal tersebut. "Ya kamu belajar kayak gini itu untuk apa? Kan katanya kamu suka banget sama hukum."
"Ya untuk dipelajari ajalah. Supaya nggak bodoh bodoh amat" Anna tersenyum lalu ia terdiam ketika melihat Virzha yang menatapnya sendu, "Kenapa?"
"Kamu malu nggak punya pacar bodoh?" lirih Virzha dan membuat Anna meneguk ludahnya kasar. Apakah dia baru saja salah bicara?
"Kenapa begitu ngomongnya?" Anna meletakkan tangannya di pipi Virzha hingga membuat Virzha mencium telapak tangan yang berada di pipinya.
"Aku takut kalau kamu sebenarnya suka sama cowok pintar. Bukan kayak aku yang semua pelajaran aja aku nggak tahu apa-apa. Bahkan aku nggak pandai ngapa-ngapain selain berantem sama bolos." Virzha cemberut hingga membuat Anna memajukan wajahnya hendak mencium kening pria itu. Namun dengan cepat Virzha menarik tengkuk anak hingga pria itu menempelkan bibirnya pada bibir Anna.
Anna terkejut hingga memegang kerah baju Virzha dengan erat. Ia terkejut hingga merasa jantungnya mau copot kala merasakan gerakan sensual dari bibir nya yang dibuat oleh Virzha. Virzha bahkan semakin mengeratkan tangannya yang merangkul pinggang Anna. Membuat Anna nyaris tidak bisa bernapas dengan teratur saat dengan lihainya lidah itu berperang dengan lidahnya. Anna menutup kedua matanya yang entah kenapa tiba-tiba ia menikmati ciuman itu. Ciuman yang lembut hingga ia merasakan detak jantungnya bertalu-talu dan ia merasa bahwa dirinya melayang. Virzha seakan mengantarnya ke awan terbang tinggi di angkasa sampai Ia lupa bahwa ia adalah manusia. Anna semakin mengeratkan pegangannya pada kerah seragam Virzha saat laki-laki itu tiba-tiba menggerakkan tangannya di sekitaran paha Anna yang saat itu masih saja memakai rok sebab dia malas ganti baju.
Nafas Anna seakan susah di raub habis oleh Virzha hingga ia mendorong d**a pria itu. Virzha melepaskannya namun ia mendekatkan keningnya ke kening Anna.
"Anna, You should know how much I love you," ucap Virzha seraya mengusap tengkuk gadisnya. Mengecup pelan bibir itu hingga kembali menjadi lumatan dan membuat suara decapan itu menggema di seluruh ruang tamu. Untung saja pada saat itu Gama sedang berada di dapur. Dan kebetulan dapur jauh dengan ruang tamu hingga suara decapan itu tidak terdengar sangat kuat.
Virzha menggendong Anna hingga berada di pangkuannya. Memberikan decapan hangat di sekitar leher gadis itu. Anna makin merasa merinding saat tangan kekasihnya itu menjamahnya lebih jauh. Ia merasa seperti kehilangan akal saat tangan Virzha mengusap perut ratanya. Suara yang entah bagaimana tiba-tiba keluar dari bibir mungil Anna. Anna merasakan kepalanya pusing namun di saat bersamaan seperti akan meledak-ledak. Jantungnya bahkan tak henti bertalu-talu seakan mengatakan bahwa ia juga menikmati sentuhan dan ciuman dari kekasihnya itu. Sentuhan dan ciuman yang entah mengapa apa membuat Anna semakin berdebar-debar.
"Virzha, nanti kak Gama datang. Udah ya" ucap Anna saat Virzha masih saja menyecap lehernya.
"Bentar sayang. Ssst kak Gama masak aja kok sayang."
"Iyaaa, tapi nanti ketahuan. Udah ya," kata Anna sekali lagi hingga Virzha menghela nafasnya kencang. Anna tau Virzha kecewa namun ia juga takut kalau kakaknya datang. Gama itu punya sifat posesif yang jelek sekali. Bisa saja nantinya pria itu marah-marah padanya karena melihat kelakuannya dengan Virzha. Ia sangat bosan mendengarkan ceramah panjang yang melelahkan dari kakaknya itu.
Anna hendak turun dari pangkuan Virzha namun pria itu menahan Anna dengan tatapan sayu nya dan usapan di punggung dan sekitaran b****g Anna. Anna menahan suara yang hendak ia keluarkan hingga pada akhirnya ia memaksa turun dengan keras dan Virzha hanya menghela nafasnya kesal kemudian meminum s**u yang ada di meja. Awalnya dia bingung itu siapa? Tapi ya sudahlah dia minum saja. Matanya kembali menatap anak yang mengancingkan seragamnya. Gadis itu menahan percikannya saat ia melihat banyak tanda di sekitar lehernya.
Matanya menatap galak pada Virzha, "Kok kamu buat tanda banyak banget sih? Kalau ketahuan gimana?"
"Yaudah sih, kamu tuh nggak tahu ya kalau kakak kamu juga bisa berperilaku kayak gitu" ucap Virzha dengan santai hingga membuat kesabaran Anna di ujung tanduk.
"Kakak aku udah dewasa dan wajar kalau dia melakukan hal kayak gitu. Kita itu masih sekolah kalau kamu bikin tanda kayak gini apa yang bakalan ada di pikiran orang-orang?" dengan kesal, Anna masuk ke dalam kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya. Virzha mengerucutkan bibirnya sedikit menyesali perlakuannya yang meninggalkan bekas di leher kekasihnya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk melakukannya tadi. Namun saat dirinya melihat betapa mulusnya leher kekasihnya, ingin sekali ia meninggalkan bekas di kulit putih dan mulus itu. s**t! Membayangkannya saja sudah membuatnya panas dingin. Ia harus menahan isi kepala kotornya itu.
Suara langkah kaki di tengah lamunan Virzha membuat ia menoleh pada Gama yang sedang membawa nampan berisi minuman juga makanan yang sudah dimasak pria itu. Jujur saja, Gama adalah orang yang sangat jago dalam urusan memasak atau mengurus rumah tangga. Ia tidak merasa keberatan untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh wanita. Karena menurutnya memasak ataupun membereskan pekerjaan rumah bukanlah sesuatu yang harus dilakukan berdasarkan gender. Siapapun bisa melakukan hal itu sekalipun dia laki-laki yang berotot dan berwajah sangar.
"Di mana Anna?" tanya Gama saat ia meletakkan mangkuk yang berisi makanan itu di meja dengan rapi dan teratur khas kelakuannya yang disiplin.
"Masuk ke dalam kamar. Katanya mau ganti baju" Virzha dengan santainya menjawab seolah tidak terjadi hal-hal aneh tadi. Padahal sejujurnya ia masih merasa jantungnya berdetak kencang karena ciuman lembut dan kulit Anna yang bisa ia sentuh dan kecupi. Sial! Apa dia sekarang punya fetish dengan kulit Anna?
"Mikir jorok lo ya?" tanya Gama dengan jahil hingga pizza hanya memutar bola matanya malas mendengar calon kakak iparnya mengatakan itu.
"Kayak lo nggak aja?"
"Gue ya kadang kayak gitu juga sih" Gama menatap pada tangga yang di turunin adiknya, "Kenapa pake turtleneck padahal lagi panas?" ucap Gama dengan nada dingin hingga membuat Virzha merasa kakinya melemas.
Bye bye world~