Sebuah simbol lingkaran tergambar di atas tanah. Ceceran darah membentuk pola yang sudah mengering, membentuk kata-kata dari huruf kuno yang sudah terlupakan. Huruf itu tertulis di antara dua lingkaran dengan disertai simbol-simbol aneh lainnya.
“Gimana persiapannya?” Seorang laki-laki dengan jubah abu-abu mendekat. Sejuntai rambut berwarna kecoklatan menggantung di dahi, diterpa keremangan dari lampu minyak. Di tengah ruangan remang itu, sudah ada tiga orang berjubah hitam yang mengelilingi simbol tersebut dengan merapalkan mantra kuno. Beberapa bangkai ayam cemani yang telah kering darahnya terbujur kaku di tengah lingkaran. Tak seberapa lama setelah mantra selesai dibacakan, bangkai ayam itu mendadak menghilang.
“Masih separuh jalan.” Laki-laki yang berada di antara tiga orang itu menjawab. Mereka sudah berhenti membaca mantra tepat sebelum menghilangnya ayam cemani itu.
“Baguslah. Apakah ada masalah?”
“Ada. Simbol kuno itu sudah tidak mau memproses persembahan saat ini. Sepertinya persembahan ini sudah tidak masuk kualifikasi karena energi yang dibutuhkan untuk membuka gerbang semakin besar. Ayam cemani juga termasuk langka, jadi akan sulit jika terus menerus menggunakannya dalam porsi besar. Karena ayam cemani sendiri masih belum cukup untuk tumbal.” Dalam keremangan yang hanya diterangi oleh lampu minyak di tiap sudut ruangan tidak menyembunyikan ekspresi datar mereka. Mereka memang sudah biasa bekerja dalam bayangan, sehingga ekspresi tidak dibutuhkan sama sekali.
“Lalu, apa yang dibutuhkan untuk persembahan selanjutnya?” Laki-laki berjubah abu-abu itu bertanya.
“Tentunya siluman tingkat rendah. Karena, resistensi mereka terhadap cakra hitam lemah, jadi mereka bisa menjadi tumbal yang bagus untuk ritual ini.”
Laki-laki berjubah abu-abu itu sedikit kebingungan. Apa hubungannya antara resistensi dengan menjadi tumbal? Melihat dahinya yang berkerut, laki-laki berjubah hitam itu akhirnya menjelaskan.
“Makhluk yang memiliki resistensi lemah terhadap cakra hitam mampu menyerap cakra dalam kapasitas yang besar dari lingkungan. Untuk digunakan sebagai tumbal, tidak semua siluman rendah bisa dipakai. Selain itu, penggunaannya juga tidak bisa langsung jadi. Sebelum ditumbalkan, siluman perlu dikurung dalam daerah yang kaya akan cakra hitam terlebih dahulu agar cakra hitam mampu terserap lebih banyak. Setelah itu, biasanya siluman baru bisa ditumbalkan dalam waktu sebulan setelah dikurung.”
“Jadi, hanya bisa sebulan sekali?” Pria berjubah abu-abu itu bertanya dengan nada tidak percaya.
“Iya. Berbeda dengan ayam cemani yang harus ditumbalkan setiap seminggu sekali dalam jumlah yang berbeda-beda, siluman hanya perlu satu dalam setiap bulannya. Ayam cemani sendiri mampu membentuk cakra hitam sendiri, makanya ia tidak perlu perlakuan khusus untuk menambahkan cakra hitam. Tapi, karena kelangkaannya, saya khawatir mereka akan punah sebelum ritual ini selesai.
“Baiklah. Atur sesukamu. Kamu bisa memberitahu petugas khusus yang akan kukirim ke sini nanti untuk menyiapkan apa saja yang diperlukan dan yang harus dilakukan. Biar dia yang mencari dan menyelesaikan bahannya. Kamu fokus saja pada ritualnya.”
“Serahkan saja padaku.”
***
Mengingat misi yang wajib kami lakukan, kami perlu rank S untuk bisa ke negeri siluman. Akan tetapi, untuk mendapatkan rank S, kami perlu setidaknya menjalankan tiga misi rank A untuk naik rank.
“Kamu udah tahu mau pilih misi apa?” tanyaku pada Nara. Kami tengah memeriksa papan misi yang ada di alun-alun. Nara dan Wira menatap dengan tatapan serius, seolah papannya akan kabur jika mereka mengalihkan pandangan mereka sejenak.
“Wira, udah ada yang mau kamu pilih?” tanyaku beralih ke arah Wira saat tidak mendapatkan respon dari Nara.
“Astaga. Kalian milih apa, sih? Udah kaya milih jodoh aja.” Aku makin kesal. Tapi tatapan mereka tetap menyisir satu demi satu kertas di papan misi. Sama sekali tidak mendengarkanku yang sejak tadi bertanya. Akhirnya, aku tidak bisa mengendalikan kekesalanku karena dicueki.
“WOI! Serius amat, sih!” Nadaku agak kutinggikan.
“Astaga. Kamu ngagetin, Arakata!” Nara berjengit kaget. Sementara Wira menatapku tajam.
“Aku tahu suaramu memang jelek. Jadi nggak usah dipamerin lagi pake teriak-teriak.” Wira melirikku sinis. Aku meninju lengan Wira agak keras dengan merengut. Aku kesal.
“Lagian, kalian dari tadi terlalu serius. Diajak ngomong nggak ada yang dengerin.”
“Maaf, maaf. Aku cuma memperhatikan misi yang sekiranya cocok untuk kita. Misi kelas A memang tidak banyak, tapi jarang ada yang ambil. Selain itu, kebanyakan misinya juga terlalu berbahaya untuk dipilih.” Nara mencoba menjelaskan. Lagi-lagi Wira tampak tak peduli.
“Ya, ya, ya. Up to you, guys. Serah lu pada mau apa. Mager udahan gua mau nerusin milih. Gua ngikut aja yang lu pada pilih.” Sebuah kebiasaan baruku bagi Nara adalah mengatakan bahasa aneh yang terjadi tak lama setelah kebangkitan Pendar Intanku. Dia saja yang tidak tahu kalau itu semua bahasa bumi yang kucampur antara bahasa gaul dan inggris.
“Mulai, kebiasaan kamu itu. Bahasa anehmu selalu keluar kalo kamu kesel atau marah.” Tuh, kan. Dia protes. Aku mencebikkan bibir untuk mengejeknya.
“Gimana kalau ambil ini aja?” Wira mengangsurkan sebuah kertas misi ke arah kami. Aku membaca dengan saksama apa yang tertulis di kertas itu.
“Fenomena siluman berkumpul di gunung Salak. Siluman yang masuk ke wilayah gunung Salak sering kali kehilangan akal mereka sehingga mereka menjadi siluman gila yang bisanya merusak dan membunuh, sehingga Laskar terdahulu memasang pagar untuk mencegah siluman memasukinya. Tapi, akhir-akhir ini, ada beberapa siluman yang mendiami gunung Salak dan berkali-kali menghancurkan perkebunan warga serta sudah membunuh lima orang warga. Basmi siluman-siluman itu sampai tidak bisa mengganggu warga daerah gunung Salak lagi.” Aku membacanya dengan agak keras, lalu menatap Wira dan Nara bergantian. “Emang kenapa sama gunung Salak?” tanyaku kemudian. Nara juga sama bingungnya denganku, karena ia hanya menatapku dengan tanda tanya tanpa menjawab pertanyaanku.
“Ah, kalian tidak tahu? Di gunung Salak, cakra hitam melimpah. Makanya tempat itu menjadi tempat yang sangat dihindari para siluman. Karena siluman sangat rentan terhadap cakra hitam sehingga bisa menjadi gila dan menyerang membabi buta. Itu pelajaran dasar, bagaimana kalian bisa tidak tahu?” Wira menjelaskan dengan sedikit mengesalkan. Kami bersama-sama hampir dua minggu, sehingga aku sudah kebal dengan kata-kata manis khasnya. Sangat manis sehingga aku ingin menambahkan bon cabe agar tambah nikmat. Sebenarnya, seminggu pertama kami bersama, ia tidak banyak bicara. Bahkan bisa dibilang hanya berkata secukupnya. Aku heran kenapa bisa berubah 180° dalam waktu singkat. Entah karena dia takut ditinggal sendirian saat perjalanan ke ibukota kemarin makanya berkelakuan baik, atau karena memang inilah sifat aslinya yang akan ia tunjukkan pada orang yang sudah akrab dengannya. Sebenarnya Wira bukan orang yang jahat, meskipun begitu, kata-katanya sering pedas dan membuatku kesal, seperti sekarang ini. “Sepertinya anda lupa, Tuan. Informasi tentang siluman tidak bisa diketahui sembarang orang. Karena faktanya walaupun siluman memang ada yang berada di negeri Swarnanusa, mereka membatasi interaksi dengan manusia dan menjauh dari peradaban manusia. Sehingga, pemerintah menganggap pengetahuan tentang siluman tidak penting kecuali untuk mereka yang berada di daerah perbatasan atau Laskar yang harus ke negeri siluman. Apakah penjelasan saya jelas?” Aku memasang senyum kesalku. Anehnya, bukannya menjawab, Wira malah menyentil dahiku agak kencang hingga aku mengaduh.
“Sudah, sudah. Ayo kita ambil misi ini dan makan. Semalam, kita semua tidak sempat makan malam dan langsung tidur, lalu pagi ini, makanan belum matang saat kita pergi keluar untuk mengantre dan mengambil misi harian. Ayo kita ke kantor administrasi untuk laporan pengambilan misi dan pulang untuk makan. Aku lapar.” Nara protes karena perdebatan kami. Aku memutuskan untuk setuju saja dengan misi itu, toh dua banding satu untuk suaranya.
Kami bergegas ke kantor administrasi. Sesampainya di sana, petugas khusus bagian misi melayani kami dari balik meja resepsionis.
“Misi apa yang kalian ambil?” tanyanya ramah.
“Ini, kami ingin mengambil misi ini.” Aku menyerahkan kertas misi ke arahnya. Ia membaca garis besar misi, raut wajahnya mulai berubah.
“Maaf bertanya dengan lancang. Bukankah kalian baru saja resmi menjadi Laskar kemarin?” Ia menanyakan dengan wajah tidak enak.
“Ya, anda benar sekali. Tapi, kami butuh untuk menyelesaikan misi rank A secepatnya. Ada beberapa hal yang harus kami lakukan.” Nara menjawab dengan wajah memelas.
“Apa kalian sadar resikonya?” petugas itu menanyakannya lagi.
“Kami benar-benar sadar. Kami memang sudah mempersiapkannya sejak lama,” jawabku mencoba meyakinkan. Petugas itu menghela napasnya panjang.
“Saya bukan bermaksud melarang atau apa. Tapi, kalian masih baru menjadi anggota Laskar. Bisa dibilang, kalian kekurangan pengalaman untuk menjalankan misi rank A. Saya tahu kalian masuk kualifikasi karena kelas kalian sudah A hanya dengan menyelesaikan ujian masuk. Tapi, jangan lupakan kalau pengalaman itu penting.”
“Terima kasih atas kekhawatiran anda, Bu. Tapi, akan ada banyak nyawa yang dapat kami selamatkan jika kami mampu bersaing dengan waktu. Jadi, tolong dukung saja kami dengan doa. Semoga kami bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus kehilangan apa pun.” Ibu petugas itu akhirnya membubuhkan stempelnya di kertas misi kami. Lalu ia mencatat beberapa hal di buku sebagai data. Aku menatap wajahnya yang keibuan, mungkin berusia paruh baya. Tapi, ia terlihat sebagai tipe ibu lembut yang tidak banyak marah dan menyayangi anaknya dengan sangat. Aku iri pada siapa pun yang menjadi anaknya.
“Tanda tangani ini sebagai bukti. Lalu kalian bisa berangkat. Saat kalian menyelesaikan misi, jangan lupa bawa beberapa bukti dan kembali dengan kertas misi kalian. Jika kalian tidak kembali dalam waktu dua minggu tanpa kabar apa pun, maka kalian dinyatakan gagal dari misi. Jangan sungkan meminta bantuan jika kalian tidak sanggup, meskipun akhirnya kalian harus gagal misi, nyawa itu utama.” Beliau mengangsurkan sebuah buku yang berisi data kami. Kami bertiga menandatangani catatan itu dan mengambil kertas misi. Aku mengangguk mengucapkan terima kasih padanya sebelum pergi. Ia terlalu lembut sebagai petugas pendaftaran misi. Padahal, mereka lah yang paling banyak mengetahui kematian Laskar, baik lewat data yang dikumpulkan petugas khusus maupun lewat kesaksian laskar lain yang selamat.
“Ayo pulang dan makan. Aku kelaparan.” Nara bergumam. Perutnya ikut bergumam dengan suara khasnya.
“Dasar perut karet,” ledekku sambil memeletkan lidah.
“Emangnya kamu nggak? Kemarin kita lomba makan porsi jumbo, kamu yang menang. Berarti kamu lebih karet dari aku.” Nara membalas dengan penuh dendam. Ia masih kesal karena kukalahkan dalam lomba makan mie dalam porsi jumbo.
“Sialan kamu. Ayo kita lomba, yang sampe penginapan paling terakhir harus push up seratus kali pakai satu jari,” tantangku.
“Siapa takut.” Nara menanggapi. Belum siap aku lari, dia sudah berlari terlebih dahulu.
“Sialaaan! Kebiasaan suka nyuri start.” Aku mengejarnya sambil mengumpat. Sementara Wira di belakang menatap kami dengan pandangan, Dasar orang aneh tidak tahu malu. Aku tidak kenal, dia bukan temanku. Wajar saja ia menatap begitu. Secara otomatis aku dan Nara menjadi pusat perhatian karena berlarian.