“Wir, aku mau tanya, dong?” Kami baru saja selesai menyiapkan pakaian dan barang-barang yang akan di bawa. Hari sudah gelap. Suasana penginapan dan kota masih lumayan ramai, kendati semilir angin dingin memeluk orang-orang yang sedang beraktivitas di luar gedung. Aku juga sengaja untuk duduk di rooftop penginapan sambil memandangi bintang. Wira ikut menyusulku tak lama setelah aku duduk di sini. Untuk Nara, lelaki itu masih sibuk mengurusi kereta kuda yang akan kami bawa besok. Karena kami ada bertiga, Jake dan Rocky tidak bisa membawa kami semua, sementara kami masih terlalu miskin untuk membeli kuda baru. Alhasil, Paman Dwipangga membantu mencarikan kereta bekas untuk didaur ulang dan dipasangkan pada Rocky dan Jake untuk kami jadikan alat transportasi besok.
“Tanya aja.”
Sepertinya dia juga menyukai langit malam. Walaupun tatapannya lebih kepada tatapan rindu dibanding mengagumi. Mungkin sama denganku, karena jujur saja aku rindu bumi dan orang-orang yang kusayangi di sana.
“Kenapa kamu masih ikutin kami? Bukannya katamu kamu punya urusan sendiri?” Kupikir Wira akan menjawab dengan jawaban pedasnya, rupanya aku salah. Ia malah menundukkan kepalanya dan menatap lantai yang ia duduki. Lalu, lelaki itu memilih untuk rebahan. Karena penginapan ini termasuk dalam jejeran bangunan tertinggi yang kebetulan dikelilingi dengan perumahan biasa pada jarak yang agak jauh, sehingga pemandangan langit terlihat jelas dari rooftop. Tidak ada pepohonan yang menutupi pandangan kami, begitupun genteng-genteng rumah tetangga yang biasanya ikut merusak pemandangan. Sebenarnya, kalau mau lihat lebih jelas, bisa saja aku duduk di gentengnya. Tapi kupikir tidak akan nyaman duduk di sana. Selain beresiko terpeleset, juga beresiko membuat genteng geser dan bocor saat hujan.
“Kebetulan aku juga punya urusan di negeri siluman. Jadi, kupikir lebih baik ikut kalian dalam waktu yang sedikit lebih lama. Setidaknya sampai aku menyelesaikan urusanku. Setelah itu, aku akan pergi ke mana pun aku mau.” Ia menatapku. Aku mengangguk paham.
“Kamu nggak nanya apa urusanku di sana?” tanyanya kemudian.
“Nggak. Itu privasi kamu. Aku nggak mau mengganggunya. Tapi, jangan lupakan kalau kamu teman kami. Kalo kamu ada masalah, kamu bisa minta bantuan ke kami. Atau kalau butuh sesuatu, bilang saja pada kami. Nanti kami bantu sebisa kami.” Aku mengatakannya sambil tersenyum. Ia duduk kembali dan menepuk rambutku beberapa kali.
“Tenang saja. Kalau kalian berguna, nanti aku mintai tolong. Dengan catatan kalau kalian bisa berguna.” Wira mengatakannya dengan smirk khasnya. Sebuah senyum miring yang mengejek.
“Hah? Maksudnya sekarang kami nggak berguna gitu?” tanyaku kesal. Bukannya menjawab, lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak. Jujur saja, baru kali ini aku melihatnya tertawa selepas itu. Tampak jelas dahinya yang sering berkerut karena beban yang ia bawa kini akhirnya mengendur dan seolah ia sudah melepas beban yang ia bawa, atau minimal mungkin mengendurkan sarafnya. Aku tersenyum dalam diam. Syukurlah, batinku lega. Dalam dua minggu kebersamaan kami, aku bisa melihat kalau ia memendam sesuatu yang sangat menyakitkan dan menyisakan dendam yang tak berkesudahan. Jadi, melihatnya bisa tertawa lepas seperti ini membuatku bahagia karena bisa berguna sedikit untuk temanku.
“Masuk, yuk! Udah malam. Makin dingin udaranya,” ajak Wira yang sudah berhenti dengan tawanya. Aku mengangguk dan meraih tangan Wira untuk berdiri. Lelaki itu tak keberatan dan membiarkanku sampai berdiri.
***
“Ada yang ketinggalan, nggak?” Bi Sartika bertanya dengan nada khawatir. Aku melongok ke dalam kereta untuk melihat kalau-kalau ada barang yang tertinggal. Tapi, semuanya sudah lengkap di dalam.
“Sudah lengkap, Bi,” jawabku. Mata Bi Sartika berkaca-kaca. Ia memelukku sambil menahan isaknya.
“Kenapa sebentar banget di sininya? Bibi senang kalian di sini, kalian udah kaya anak Bibi sendiri,” rengeknya tak terima karena kutinggal. Aku menepuk-nepuk punggung Bi Sartika menenangkan.
“Nanti kalau kelamaan di sini, Bibi bisa bangkrut. Kami nggak dibolehin bayar, makanan dikasih gratis juga. Apalagi Nara kan makannya banyak, Bi. Bisa-bisa rugi nanti bibi.” Aku mencoba menghibur beliau. Nara belum mendengar perkataanku karena ia masih berbincang dengan Paman Dwipangga. Mungkin kalau ia mendengarnya, dia akan langsung mendebatku.
Wira yang kebetulan sedang dekat denganku. Ia kemudian menyahut, “Iya, benar itu, Bi. Kalau kami terlalu lama, nanti dua manusia perut karet ini menghabiskan semua makanan bibi. Bisa-bisa bangkrut beneran nanti.” Kebetulan Nara sudah mendekatiku dan Bibi untuk berpamitan. Jelas saja ia mendengar perkataan Wira. Bi Sartika melepas pelukanku dan menyeka air matanya yang jatuh.
“Heeh! Kalo ngomong suka seenaknya, ya? Lagian emang salah kalo orang laper itu makan?” protes Nara tak terima.
“Nggak ada yang bilang kalo kamu nggak boleh makan, loh.” Wira menyangkal. Baru saja Nara mau melontarkan pembelaannya lagi, aku menjitak keduanya. Sekalipun aku yang paling pendek, tapi menjitak mereka masih menjadi sebuah kemudahan.
“Udah ributnya. Sekarang pamitan sama Bibi dan siap-siap berangkat. Perjalanan ke sini sampai gunung Salak lumayan jauh. Kita sampai sana kemungkinan besok pagi kalau kita berangkat langsung sekarang. Kalau kalian mengulur-ulur waktu terlalu lama, bisa-bisa kita kelamaan sampe sana.” Terpaksa aku memarahi mereka berdua. Bi Sartika sudah mulai bisa menghentikan air matanya, malah beliau kini tersenyum.
“Kalo kalian sempat, kapan-kapan bisa main ke sini. Tenang aja, kalian nggak merepotkan bibi. Lagian bibi tidak pernah mempermasalahkan makanan yang bibi suguhkan. Jadi jangan kapok, ya.” Aku mengangguk mendengar permintaan bibi lalu menjawab, “Baik, Bi. Kalau kami ke ibukota, kami sempatkan mampir. Kami hanya akan menginap di sini, deh, biar bisa ketemu Bibi.” Bibi tertawa mendengarnya.
Paman Dwipangga berjalan mendekati kami dari dalam penginapan. Ia kembali masuk setelah berbincang dengan Nara tadi. Di tangannya, terdapat dua kantung uang yang ia bawa, lalu diserahkan secara bergantian kepadaku. “Ini untuk pegangan kalian di jalan. Kantung satunya dari Hayam kemarin sebelum dia pergi. Aku sengaja baru memberikannya sekarang, sekalian dengan dariku agar tidak habis duluan sebelum kalian berangkat.” Omong-omong, Paman Hayam sudah pergi sebelum kami pulang dari ujian Laskar. Ia hanya berpesan untuk memberikan sekantung uang yang ia titipkan untuk kami dan ucapan semoga selamat. Ia juga meminta maaf lewat Paman Dwipangga karena tidak bisa menemani kami sampai akhir dan berharap dapat bertemu lagi untuk memberitahu sebuah kebenaran. Aku sendiri tidak memahami apa maksudnya. Tapi, aku yakin kami akan bertemu kembali. Alasan Paman Hayam memberi kami uang kuyakini karena ia tahu kalau uang yang kami pegang sangat pas-pasan bahkan cenderung nyaris kurang. Tapi cukup aneh memberikan uang dan membantu orang asing yang bahkan baru ia temui beberapa hari yang lalu. Tapi, aku selalu berpikir mungkin ini adalah panenan dari apa yang kutanam. Bu Aida dulu sering menasihatiku untuk terus berbuat baik. Karena, ibarat orang menanam, kalau kita menanam padi maka yang tumbuh juga padi. Kalau kita menanam rumput, maka yang tumbuh juga akan rumput. Masalah kapan tumbuh dan berbuah lalu panennya, kita tidak bisa menebaknya. Tapi percayalah kalau kita pasti akan memanennya. Tidak hanya perkara baik, perkara buruk juga akan kita unduh suatu hari nanti. Maka dari itu aku selalu menganggap kalau semua yang kuterima tak lain adalah apa yang pernah kuberi pada orang lain sebelumnya. Tapi percayalah, dalam prakteknya, aku sering gagal dan kehilangan kesabaran. Karena faktanya memang hal baik itu sulit untuk dilakukan.
Kereta kami melaju menjauhi penginapan Randublatung. Melangkah ke luar gerbang, kami meninggalkan ibukota menuju ke gunung Salak untuk tugas kami. Untuk informasi, papan misi dan kantor administrasi misi berada tersebar di beberapa kota besar di Swarnanusa. Makanya petugas kemarin memberi ultimatum dua minggu tanpa laporan maka dikatakan gagal. Karena sering adanya Laskar yang meninggal saat misi. Jadi, agar dapat memasang kembali misi itu di papan misi, kejelasan status Laskar yang menjalankan misi diperlukan. Uniknya di kantor administrasi itu, data yang di dapat dari salah satu kantor bisa disebar langsung ke semua kantor untuk memberikan konfirmasi jelas dari Laskar. Sehingga, di mana pun Laskar melakukan laporan selesai misi, kantor yang menjadi awal ia mendaftar misi mendapatkan laporannya juga. Seolah ada jaringan intranet yang menyambung khusus antar kantor administrasi. Mungkin ini salah satu pengaplikasian sihir di dunia ini.
“Nanti aku kebagian jadi kusir, nggak?” tanyaku pada Wira yang duduk di balik kemudi.
“Cewek di dalem aja. Nggak usah ikutan.” Aku mengangguk.
Kini pandanganku beralih ke arah Nara yang hanya berdiam diri sambil memejamkan mata. Tapi, aku tahu dia belum tidur. Nara punya kebiasaan tidur dengan mata setengah terbuka. Seolah ia ingin terus memamerkan keindahan matanya pada dunia dan tak rela untuk ditutup saat tidur. Remaja itu bertingkah aneh sejak semalam. Tidak banyak bicara, lebih sensian, bahkan daripada mengajakku bicara, ia memilih untuk memejamkan matanya.
“Nar, kamu ada masalah?” Aku membuka percakapan.
“Nggak,” jawabnya singkat. Jelas saja ada apa-apa ini. Terpaksa aku harus sedikit memaksanya.
“Rajendra Narasimha, kalo diajak ngomong liatin yang ngajak ngomong!” Aku sedikit meninggikan suaraku. Layaknya Nara yang apabila memanggil namaku lengkap tandanya sudah serius, aku pun begitu. Nara membuka matanya. Manik berwarna hijau yang bergradasi biru itu menatapku tajam.
“Aku juga nggak tahu kenapa. Tapi aku lagi nggak pengen diganggu.” Ia akhirnya menjawab dengan panjang.
“Alasannya?” tanyaku menegaskan.
“Entahlah. Tanpa alasan yang jelas. Aku sendiri juga bingung.”
Aku membuka tasku, mencari makanan yang kusimpan di dalamnya. Akhirnya kutemukan sebuah cokelat yang kubeli dari ibukota kemarin. Aku memberikan cokelat itu kepadanya.
“Makan ini. Biar baikan moodmu. Terus tidur aja dulu, nanti kan kamu harus gantian sama Wira.” Nara menerima cokelat yang kuberikan dan memakannya.
Kalau kuingat-ingat, pertama kali mood Nara *jelek saat aku turun dari rooftop bersama Wira semalam. Apa ia ada masalah dalam mengurus kereta kuda ini? Ataukah ia kesal karena aku tidak membantu mengurus keretanya? Tapi ia sendiri yang menyuruhku untuk tidak ikut campur dalam urusan itu.
"Semalem asyik banget kayanya kalian di atas genteng?" seloroh Nara akhirnya.
"Asyik apaan? Kami cuma ngobrol. Ada apa, to? Kalo kamu tahu, kenapa kamu nggak ikut gabung?"
"Takut ganggu suasana. Udahlah, aku mau tidur." Ia berniat mengakhiri percakapan.
"Hadeh. Padahal mah nggak ganggu. Justru, aku berharap kamu ada di sana juga. Karena semalam, pertama kalinya Wira bisa tertawa sebebas itu."
...
Hening. Nara tidak menjawabnya lagi. Tapi aku yakin, ia mendengarkanku. Aku hanya ingin membuat temanku bahagia. Hanya itu. Karena bagiku, teman adalah segalanya. Apalagi sekarang aku hidup di dunia yang harus memiliki banyak teman dan koneksi untuk bertahan hidup. Karena perasaanku ikut tak karuan, aku mencoba memakan cokelat dari dalam tas. Ah, cokelat memang selalu menjadi obat moodku yang paling ampuh. Sayangnya di sini tidak ada cokelat panas.