Kami sudah mendaki selama dua jam penuh, tapi belum juga menemukan satu siluman pun. Wira sudah tiga kali meminta istirahat karena lelah. Wajar sih, dia lebih sering mengasah otaknya daripada fisiknya.
“Ini kenapa belum ketemu, sih? Padahal katanya dua kelompok kemarin langsung disambut sama siluman,” protes Nara. Tas yang tadinya dibawa Wira kini dibawa olehnya karena Wira kelelahan. Aku menendang kakinya hingga ia nyaris tersungkur.
“Udah gila ya, Rak? Aku nyaris jatuh, tahu!” makinya kesal. Tawaku pecah begitu saja saat melihat mukanya yang kesal.
“Ya lagian omonganmu itu, lo. Ingat! Omongan adalah doa! Emang kamu mau disambut gitu aja sama siluman? Tiba-tiba kepalanya ilang, desss, selesai. Mau? Ha?!” Aku mengatakannya dengan nada marah. Lagian aneh-aneh aja, masa iya malah berharap disambut sama siluman.
“Ya nggak gitu juga, Arakata. Aku cuma capek aja. Mana bawa tas berat, muter-muter nggak ketemu,” ocehnya lagi. Aku tersenyum sinis, “Badan doang gede, bawa tas segitu aja berisik.”
“Ya aku capek, Arakata. Mana udah siang. Daritadi kita keliling nggak ada tanda apa-apa.” Aku merebut tas yang dibawa Nara lalu berjalan mundur membarengi Wira yang tetap berjalan sekalipun napasnya sudah tersengal-sengal.
“Liat, nih, Wira. Nggak banyak omong kaya kamu.” Nara mendengus untuk menanggapi omonganku. Ia juga memelankan lajunya untuk membarengi kami.
“Ya, Wira mah jangankan buat protes. Buat jalan aja dia udah mengeluarkan seluruh kekuatannya, hingga titik darah terakhir,” ledek Nara. Wira mendengkus tanpa menjawab, yah, kuakui dia benar-benar kehabisan tenaga.
“Kita istirahat aja dulu di sini. Wira mulai kumpulin tenaga aja dulu, sementara Nara, daripada tenaga kamu buang buat ngoceh, mending kamu juga ikut diam dan mengumpulkan energimu. Karena firasatku bilang kalau pertempuran bakal terjadi nggak lama lagi.” Nara duduk dengan menggerutu. Seperti biasa.
“Wir, tadi Nenek Adya ada bilang sesuatu sama kamu untuk misi kita kali ini? Aku gak akan nanya ramalan yang lain, cuma untuk masalah misi ini aja.” Ada, nggak, yang menurut kamu mengarah ke misi?” tanyaku pada Wira yang tengah meminum air yang ada di tas. Ia mengoperkan minum itu padaku yang langsung kusambut dan kuteguk secukupnya, lalu yang terakhir kuserahkan pada Nara.
“Hmm … Nek Adya tadi ada bilang pergilah ke arah kesengsaraan berkumpul. Sekalipun badanmu harus tertusuk duri, sekalipun kakimu harus terikat lumpur, tujuanmu adalah tempat itu. Berhati-hatilah dengan langit karena ia mendendam dengan bumi, berhati-hatilah dengan batu karena ia rumah yang paling nyaman,” jelas Wira. Dari kata-katanya, aku mencoba untuk menggabungkan berbagai kemungkinan dari kata demi katanya. Hanya ada satu kalimat yang sama antara aku dan dia, yaitu pergi ke arah kesengsaraan berkumpul. Maksudnya apa, ya? Aku menoleh melihat Nara yang memejamkan matanya. “Nar!” panggilku. Ia membuka matanya dan menoleh ke arahku seraya menjawab, “Kenapa?”
“Tadi Nek Adya ada bilang ‘Pergilah ke arah kesengsaraan berkumpul', nggak?” tanyaku mencoba menggali informasi.
“Nggak ada. La kenapa?” Ia malah balik bertanya.
“Nggak. Nenek ada bilang sesuatu tentang misi ini, nggak, ke kamu? Kaya harus ke mana gitu, atau ada apalah, intinya yang mengarah ke misi ini.”
Nara memegang dagunya berpikir. Netra indahnya menatap lurus ke langit sementara rambut peraknya bergerak di gelitik angin. Ia mengubah raut wajahnya seperti sudah mengingat sesuatu.
“Aku ingat, Nenek cuma bilang untuk menyerang pada serangan terakhir saat sihir sudah tidak bisa menjinakkan mereka. Selain itu, Nek Adya hanya membacakan takdirku sebagai ‘pemandu’ dan apa saja yang harus kulakukan.” Aku mendesah lelah. Buntu. Lagian maksudnya menuju ke kesangsaraan itu apa? Apa kami harus ke jurang karena kalau jatuh ke dalam jurang kan sengsara.
Pandanganku mengarah pada Wira yang sedang mengumpulkan tenaga dengan bermeditasi. Satu hal yang tiba-tiba muncul di pikiranku. ‘Sengsara’, ‘kan kata sifat, tidak berwujud fisik secara langsung. Bagaimana kalau aku mencarinya lewat meditasi juga? Merasakan pergerakan mana yang menghadirkan rasa sengsara, tersiksa, seperti ditusuk paku seperti yang dikatakan Nek Adya. Aku mengambil sikap bersila, menumpukan kedua tanganku di depan badan. Bi Heera sempat mengajariku beberapa sihir sederhana dan juga cara bermeditasi untuk mendapat hasil sesuai dengan tujuan awal aku bermeditasi. Kuhirup oksigen dalam, mengisi paru-paru kanan dan kiriku sampai penuh, lalu mengeluarkan secara perlahan sampai habis. Setelahnya, aku mencoba untuk bernapas layaknya teratai yang mekar di dalam diriku, berirama, dan menenangkan. Perlahan aku bisa merasakan eksistensi mana hitam yang gelap dan dingin menyelimuti sekitar. Tapi, aku belum menemukan makna yang berisi kesengsaraan. Aku mencoba menaikkan levelku dalam bermeditasi untuk tetap mencari.
Ah, ketemu, batinku senang.
Sebuah gelombang tipis yang sarat akan kesengsaraan terasa mengalir dari arah samping kiriku. Yang berarti arah tujuan awal kami. Sebenarnya, kami sudah memperkirakan beberapa lokasi yang harus dituju. Pak Airlangga membantu kami dengan memberikan peta yang sudah beliau buat sejak sebelum adanya invasi siluman itu yang dimaksudkan untuk pendaki agar tidak tersesat. Setidaknya peta ini benar-benar membantu kami. Aku membuka mataku bebarengan dengan Wira.
“Kamu kerasa juga, kan?” tanyaku padanya. Ia mengangguk dengan muka serius.
“Nara, angkut tasnya. Kamu udah baikan, kan, Wir? Kalo nggak mending tunggu sampai kamu baik-baik aja.” Remaja itu langsung menggeleng keras.
“Jangan pikirin aku. Ayo buruan kita ke sana. Keburu kabur lagi merekanya.”
Nara langsung bangun saat itu juga. Aku juga bangun dan membantu Wira berdiri. Meskipun kelelahan, nampaknya ia sudah mengumpulkan cukup banyak tenaga untuk pertarungan ini.
“Jaraknya jauh, nggak? Aku cuma bisa rasain samar-samar,” tanyaku pada Wira.
“Nggak jauh, kok. Ayo ke sana dengan kekuatan penuh.”
“Kamu kuat lari?” tanyaku khawatir.
“Kuat, mungkin,” jawabnya ragu. Aku bingung harus bagaimana untuk membawanya sekalian. Tidak mungkin ia kutinggal begitu saja.
“Rak, bawain. Biar dia aku gendong sampe tempat.” Nara menawarkan diri. Ah, iya. Bagaimana aku bisa tak memikirkan itu?
“Mana, sini tasnya.” Aku menyambar tas yang ia serahkan.
“Eeeh, tunggu! Siapa yang mau digendong?” protes Wira keras.
“Kamu, lah! Emang kamu mau kami tinggal? Hemat aja energimu untuk pertarungan nanti. Biar gimana pun, kamu nanti bakal sibuk jadi agen ganda. Sebagai penyerang sekaligus support kami dengan menyembuhkan luka-luka kami. Kalo kamu kelelahan, mungkin kita akan mati bersama-sama. Kanu mau kalau kita mati bersama?” bujuk Nara.
“Amit-amit jabang bayi. Ah, siial. Nggak ada alternatif lain apa?” Nara masih menggerutu.
“Alternatif lain, aku yang gendong. Mau?” aku menyambar begitu saja. Wira langsung menggeleng keras.
“Mau dibawa ke mana harga diriku sebagai laki-laki kalau digendong cewek?” Aku terkekeh. Akhirnya Wira naik ke punggung Nara. Kami mulai berlari ke arah yang dituju.
Baru saja kami tiba dan hampir lengah, seekor siluman berbentuk kera meloncat dari atas pohon dan nyaris menghantam kami. Saking kuat ilmunya, bekas ia terjatuh sampai membentuk sebuah lubang dengan retakan di mana-mana.
Mungkin, inilah yang dimaksud dengan berhati-hati dengan langit karena ia membenci bumi.