Baru saja kami tiba dan posisi kami nyaris menurunkan kewaspadaan, seekor siluman berbentuk kera meloncat dari atas pohon dan nyaris menghantam kami. Saking kuat ilmunya, bekas ia terjatuh sampai membentuk sebuah lubang dengan retakan di mana-mana.
Mungkin, inilah yang dimaksud dengan berhati-hati dengan langit karena ia membenci bumi.
Kera putih itu menatap kami sambil berdesis. Ia marah. Matanya memerah, air liur mengalir dari sela giginya yang runcing. Dua taring menggantung di gusi atasnya, ia keluarkan sebagai salah satu ancaman untuk kami sekaligus tanda bahwa ia sudah siap bertempur. Nara menurunkan Wira karena kami memang sudah sampai di tujuan. Aku meletakkan tas di atas batu di dekat Wira berdiri, lalu kucabut pedangku. Aku dan Nara melangkah maju, membelakangi Wira. Sepertinya kami akan bermain jarak dekat. Tapi aku yakin, siluman yang ada di sini bukan hanya siluman kera putih itu saja. Aku mendekat ke arah Nara yang berdiri beberapa meter di sampingku dengan posisi masih mengarahkan pedangku.
“Kayanya nggak cuma siluman ini aja, deh, yang ada di sekitar sini. Soalnya aku tadi sempet ngerasa ada beberapa aura lain yang lebih kuat di sini,” bisikku pada Nara. Remaja itu mengangguk setuju.
Tak lama setelah aku berbisik pada Nara, sebuah jeritan terdengar di belakangku membuatku refleks menoleh. Nara juga ikut menoleh walau pun ia mengurungkan niatnya karena siluman kera putih tadi meloncat ke arahku dan nyaris menerkamku. Beruntung Nara memblokir serangannya.
“Serahin siluman ini sama aku. Kamu lindungin Wira aja. Cepat!” Aku segera meloncat dan memotong sulur hijau yang melilit kaki Wira. Setelah terpotong menjadi dua, aku akhirnya tahu kalau itu adalah ular hijau, lebih tepatnya ekor dari siluman Ulo Ijo. Setelah aku tebas tadi, potongan ekor itu menggeliat layaknya ekor cecak yang baru saja terlepas dari tubuhnya. Tapi, sebuah mana hitam tiba-tiba menyelimuti luka bekas potongan itu dan menyambungkan kembali ekor yang telah terpotong.
“Sial! Siluman Ulo Ijo nya udah berevolusi gara-gara mana hitam ini. Padahal kalo biasanya, sekali ditebas ekornya, dia akan langsung mati,” ucap Wira sedikit panik. Ular itu berada di bawah batu tempat aku meletakkan tas tadi, tepat disamping Wira. Beruntung siluman itu tidak mematuk Wira dan malah memilih untuk melilit kakinya. Sebenarnya, sekali pun dia mematuk, bisanya hanya membuat kaki terasa kebas selama beberapa menit. Tapi, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika sudah terkontaminasi dengan mana hitam. Akankah lebih kuat, atau justru semakin tak berefek, makanya ia menyerang dengan melilit mangsanya.
Aku meraih tas yang ada di atas batu dan menyeret Wira untuk mundur beberapa meter dalam satu lompatan.
“Kakimu nggak papa, kan?” tanyaku padanya. Ia menggeleng sambil mengangkat celana panjangnya sampai sebatas pertengahan betis.
“Kakiku aman. Untung nggak dipatuk tadi.”
Aku menyerahkan tas kepadanya sambil berbicara, “Kamu bawa tasnya. Ramuan penyembuh ada di dalam kalau-kalau kamu kena serangan. Biar aku yang menghadapi siluman Ulo Ijo itu.”
Sebenarnya, siluman Ulo Ijo masih itu masih menyembunyikan sebagian badannya, dari pertengahan badan ke arah kepala di bawah batu. Sementara ekornya bersiaga untuk menyerang. Mungkin ia merasakanku yang mendekat, buktinya gerakannya yang tadinya statis menjadi agresif. Merasa aku sudah sampai jarak serangnya, ekor itu menyerang sisi kananku yang langsung kutepis dengan pedang. Lagi, ia menyabetkan ekornya di arah kepala dan kuhindari dengan menunduk. Serangannya makin instens seiring berjalannya waktu. Hingga ia berhasil mendaratkan serangannya menampar pipiku dan membuatku terlempar ke belakang.
“Cihh, dia kuat juga. Padahal siluman Ulo Ijo masuk dalam kategori siluman terlemah dengan proses reproduksi tercepat di antara yang lain.” Aku mundur di luar jarak serangnya sambil meludahkan sebuah cairan asin berwarna merah. Sepertinya ada bagian yang terluka dari dalam mulutku. Aku masih belum merasakan perihnya sekarang karena mungkin hormon endorfinku sudah memulai tugasnya. Mungkin juga karena aku terbawa euforia pertarungan ini yang entah mengapa membuatku lupa pada rasa sakit. Tapi, tiba-tiba aku terpikirkan sebuah ide.
Aku kembal menyerang siluman Ulo Ijo dengan tujuan memotong ekornya. Lagi, ekor itu tersambung setelah beberapa waktu. Sepertinya siluman itu juga tidak menghindari tebasan pedangku karena ia percaya kalau bagian tubuhnya yang putus pasti akan kembali. Potonganku pada ekornya kusesuaikan dengan perkiraanku. Ternyata, apa yang kuperkirakan tepat. Aku kembali mundur menjauhi area serangnya.
“Kamu pengecut juga, nyerang tanpa lihat lawan. Kalo aku pecahin batunya, kamu bakal mau apa?” Aku mulai memprovokasinya. Sepertinya ia memahami apa yang kukatakan, terlihat dari ekornya yang berderik seolah kesal. Tapi, aku tidak main-main dengan ucapanku. Lagipula syarat untuk membunuhnya adalah dengan menghancurkan kepalanya. Itu sudah pasti. Karena tubuhnya terus beregenerasi di tengah kumpulan eksistensi mana hitam yang begitu banyak.
Pedang biru yang kupegang, kumasukkan ke dalam sarungnya. Aku mengeluarkan senjataku yang lain, yaitu busur dan anak panah yang selalu tergantung di punggungku. Aku sudah memosisikan busur dalam mode siap tembak. Tangan kananku mengambil anak panah di punggung, lalu kucepitkan di antara jari dan benang busur. Sebelum kulepaskan anak panah itu, aku memberikan beberapa mana agar panah ini meledak begitu terkena target.
Anak panah yang kulepas seolah membelah angin, menancap dengan sempurna dibarengi dengan suara ledakan dari batu itu. Batu yang menjadi tempat persembunyian siluman Ulo Ijo pecah menjadi kepingan-kepingan kecil. Siluman itu sepertinya berhasil menghindar, sehingga tidak terkena dampak berlebih dari ledakan batu itu. Ia mengangkat kepalanya sambil menjulurkan lidahnya, berdesis khas ular, tapi sepertinya sekarang penuh dengan emosi amarah. Mata siluman Ulo Ijo ini juga berwarna merah, bukan kuning seperti Ulo Ijo pada umumnya. Setelah seluruh badannya terekspos, rupanya ular itu memilik panjang sekitar dua meter dengan ukuran tubuh sekitar sebesar lengan orang dewasa. Gigi taring yang penuh bisa lagi-lagi dipamerkan sambil berdesis marah. Kini, ia tidak menyerang dengan ekornya, melainkan langsung menyerang layaknya ular yang sedang bertarung. Aku berusaha menghindari setiap patukannya, menangkis dengan pedang yang langsung kutarik sesaat setelah batu yang kutembak tadi hancur. Gerakan menebas dan menusuk nampaknya dengan lihai dihindarinya. Ujung mataku menatap Nara yang baru saja kedatangan seorang tamu kera putih setelah kera putih yang pertama sudah ia kalahkan. Di belakang, Wira memberikan sihir penyembuhan untuk kami. Sesekali ia melayangkan sihir penyerang untuk membantuku atau Nara. Kami memang sudah sepakat sebelumnya kalau Wira hanya boleh membantu saat dirasa merupakan saat paling pas dan pastikan tidak menyerang kawan. Karena kami baru saja bersama selama beberapa minggu, rasanya wajar kalau kami masih belum bisa menyingkronkan kekuatan kami. Pada awal berlatih, beberapa kali kami terkena serangan Wira, jadi, rasanya kalau dipakai di pertarungan sungguhan, mana yang ia keluarkan untuk melukai lawan dapat melukai kawan juga.
“Kenapa? Kenapa kalian menyerang kami?” Sebuah suara masuk ke dalam kepalaku. Aku menghentikan seranganku. Seperti biasa, sepertinya siluman ini ingin mengajakku berkonunikasi.
“Kalian duluan yang menyerang manusia.” Aku melantangkan jawabanku. Tapi sepertinya ia bisa mendengarnya dan paham apa yang dimaksud.
“Bagaimana bisa kalian berkata seenaknya begitu? Bukankah kalian tahu kalau aku adalah siluman lemah? Di mana hati nurani kalian?” Playing Victim nampaknya. Aku mendesah kesal.
“YANG MULAI DULUAN ITU KALIAN! ADA BANYAK MANUSIA YANG KALIAN BUNUH DENGAN KEJAM. MAU MENGELAK GIMANA LAGI? JELAS-JELAS KALIAN BERULANG KALI MENYERANG DESA DAN MEMBUNUH BEBERAPA MANUSIA. SEKARANG AKU YANG TANYA, APA KALIAN PUNYA NURANI?” pekikku jengkel. Aku benci dengan orang yang sok menjadi korban seperti ini. Tidakkah dia sadar apa kesalahannya?
“Siaalan. Mana hitam memanipulasi ingatan kami. Aku tidak mengingat pernah membunuh manusia, tapi aku ingat kalau manusia yang datang ke sini tandanya mau membunuh kami.” Ucapan Siluman Ulo Ijo nampaknya sangat meyakinkan. Tapi aku bahkan tak yakin apakah yang berbicara ini benar-benar siluman ular itu atau eksistensi lain karena pengaruh mana hitam hingga akhirnya menjadi gila.
“Huft, sudah basa-basinya. Sekarang, ayo kita selesaikan. Aku yakin teman-teman kalian yang lain masih banyak yang bersembunyi.” Saat basa-basi tadi, Wira memberikan sihir penyembuhan untukku, setidaknya kini tubuhku rasanya seperti sebelum mulai bertarung tadi. Bahkan rasa lelah juga sudah berkurang 80%. Aku kembali memosisikan pedangku dan juga kuda-kuda untuk serangan selanjutnya. Setelah keluar dari batu, gerakan siluman itu makin gesit. Bahkan, sudah tidak ada maksimal area tempur seperti sebelumnya.
Sepertinya aku dipaksa untuk makin serius. Paru-paruku kuisi penuh dengan oksigen, lalu dihembuskan perlahan-lahan sampai merasa tenang dan konsentrasiku kembali. Siluman Ulo Ijo mendesis sambil menjulurkan lidahnya, lalu memosisikan taringnya untuk menggigitku. Kuperkirakan area gigitannya antara kepala atau pundak. Saat dia menyerangku untuk menancapkan taring penuh bisanya, aku memajukan kaki kananku bersamaan dengan ayunan yang mengayun tepat di lehernya. Leher siluman Ulo Ijo itu terbelah dan saling menggelepar antara badan dan kepala. Aku langsung menancapkan pedangku di tengah kepalanya.
“Semakin jauh lokasi pemotongan dari kepala, semakin cepat kembalinya potongan itu menyatu. Karena kamu hanya butuh lebih sedikit mana hitam untuk menyatukannya. Lalu, semakin dekat dengan kepala,.kamu semakin kesulitan. Karena itu artinya kamu butuh lebih banyak mana untuk menyatukannya dan menghubungkan kembali antar tiap jaringan mana yang tercerai. Apa aku salah?” Siluman Ulo Ijo memang masih mendesis pelan, tapi perlahan ia melemah dan mati. Hal ini karena pusat dari semua pengaturan mana hitam di dalam tubuh siluman Ulo Ijo ada di kepalanya, terutama otaknya. Bahkan, sebelum berevolusi, Ulo Ijo memiliki kelemahan selain ekor yang dipotong, juga kepala yang dihancurkan. Tapi, kalau area badan sekalian yang dipotong, Ulo Ijo tidak akan mati karena ada batas titik netral, yang mana kalau dipotong bisa tumbuh lagi layaknya ekor cecak.
“Waw, darimana kamu tahu kelemahannya?” Wira menatap ular yang sudah terbelah tanpa arti. Tapi, matanya seperti merayakan keberhasilan ini.
“Simple. Ulo Ijo memiliki daerah netral serang di tengah tubuhnya. Yang artinya ia tidak akan mati sekalipun dibelah jika di daerah itu. Tapi, apa artinya kalau kita memotong ekornya? Siluman biasa pasti akan mati, tapi, dia tidak. Malah keduanya dapat menyambung kembali. Dari situ aku mencoba mengadakan beberapa eksperimen, mulai dari memotong paling ujung ekornya. Hanya butuh beberapa detik untuk menyambung. Lalu, aku memenggal agak ke tengah. Waktunya penyambungan menjadi sedikit lama dan aku mulai menyadari satu hal, saat menyambungkan ekornya, ia terdiam sejenak. Lalu aku memotongnya makin ke tengah dan proses penyambungannya makin lama. Dari situ kesimpulan yang kutarik, semakin dekat dengan kepala, semakin lama waktu yang dibutuhkan. Dan itu membuatku berpikir untuk menyembelih tepat di lehernya. Dan seperti yang kau lihat, dia sudah tidak lagi bernyawa.” Setelahnya, aku tertawa mendramatisir ala-ala psikopat di TV yang pernah kutonton.
“Dibanding menyembelih, mungkin lebih tepat memenggal. Mau bantu Nara?” Wira menawarkan. Aku menggeleng menjawabnya. Remaja itu sudah selesai dengan keranya. Dan tampaknya, masih ada beberapa yang bersembunyi bebas di balik rimbunnya pepohonan.
“Kita istirahat aja dulu aku yakin ada yang lagi mengendap-endap untuk menyergap kita," ucapku. Nara yang sudah selesai dengan tugasnya menghampiri kami sambil membersihkan pedangnya.
"Kita duduk dulu, makan camilan, minum air, kalau bisa tidur siang dulu. Aku ngantuk soalnya. Capek semua badanku." Dengan santainya aku meraih tas yang dibawa Wira dan mengeluarkan beberapa kue kering dari tas yang dibawakan Bhanu tadi. Setelah minum, aku memakan kue kering itu tanpa ragu sambil menawari kedua lelaki di sebelahku yang menggeleng karena tidak nafsu makan. Wajar, sih. Di depan kami ada sebuah kepala ular yang sudah hancur bagian atasnya dan bisa yang mengalir keluar dari mulutnya yang berefek seperti cairan asam. Rumput-rumput di sekitaran berdesis karena kuatnya zat asam yang dikeluarkan ular itu, yang menandakan kalau proses evolusi siluman karena mana hitam bukanlah remeh temeh. Bahkan yang tadinya kelemahan terbesar berbalik menjadi kekuatan terbesar.