Gelegar petir tiba-tiba menyambar di cuaca terik ini. Aku yang terkejut mendadak terguling dari pohon dan menghantam rerumputan. Kesadaranku seolah hadir karena gelegar petir itu. Beruntung tidak ada limbah pencernaan sapi atau kambing di bawah pohon ini seperti yang biasanya kulihat di desa.
Eh, tunggu! Bukannya tadi baru saja aku berpamitan dengan dunia? Kenapa aku masih bernapas? Apa ini alam barzakh? Kalau iya, kenapa terang begini? Bagaimana bisa aku jatuh dari pohon? Bukannya alam kubur hanya berukuran 1x3 meter saja? Kuedarkan pandanganku memindai tempat asing ini. Sekitar lima ratus meter ke depan, sebuah desa kecil dengan rumah yang tak lebih dari lima puluh rumah. Beberapa pohon besar berdiri tegak di beberapa titik, termasuk tempatku terjatuh ini. Saat aku menoleh ke arah berlawanan dengan perumahaan sederhana itu, sebuah hutan yang tidak terlalu lebat namun terlihat sedikit gelap menghampar dalam jarak kurang lebih tiga ratus meter. Sisanya hanya padang rumput dengan beberapa petak sawah dan sebuah target panahan. Omong-omong target panahan, entah bagaimana tapi aku sedang mengalungi busur panah. Sementara anak panahnya berada tak jauh dari tempatku duduk. Ya, aku langsung duduk dengan ekspresi konyol sesaat setelah jatuh dari pohon dengan ketinggian sekitar dua setengah meter. Ajaibnya, tidak ada tulangku yang patah mengingat betapa ringkihnya tubuhku dulu.
Rasanya, meskipun aku merasa asing dengan keadaan sekarang, aku juga merasa sangat mengenal daerah ini. Termasuk tubuhku yang mengenal dan mengingat bagaimana cara memosisikan busur dan anak panah, sebelum kemudian kulepaskan peganganku pada tali busur yang menegang dan membiarkan anak panah melesat meninggalkan induknya menuju titik tengah target. Hah? Titik tengah?! Bagaimana bisa?!
“Arakata! Kamu tidak apa-apa? Bagaimana ceritanya kamu bisa jatuh dari pohon?” Pandanganku mengarah ke sumber suara. Seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas tahun itu berlari menghampiriku dengan buntalan rumput di punggungnya.
“Aku nggak apa, apa-apa kok, Nar. Kamu dapet banyak rumputnya?” tanyaku tiba-tiba. Mendadak kubekap mulutku sendiri. Bagaimana bisa aku mendadak SKSD (sok kenal sok dekat) pada orang yang baru kutemui? Padahal aku sendiri tipe orang yang tidak terlalu suka memulai pembicaraan.
“Lumayan banyak. Ayo balik dulu. Bi Heera udah nunggu di rumah.” Aku menurut tanpa banyak bertanya. Meskipun sebenarnya banyak sekali pertanyaan berputar di pikiranku. Bagaimana bisa aku mengenal pria ini? Rasanya seperti tubuh yang kutempati ini mentransfer semua pengetahuan tentang dunia ini, bahkan kemampuan yang dimilikinya. Seolah aku hanya menumpang tubuh di sini. Kupikir-pikir, rasanya tubuhku menyusut. Melihat bagaimana interaksi antara aku dan Nara membuatku berpikir bahwa selisih usia kami tidak jauh. Aku sendiri menyadari usiaku di tubuh ini baru lima belas tahun. Separuh usia di kehidupanku dulu. “Rasanya kaya lagi di anime tentang isekai aja,” pikirku meracau.
Rajendra Narasimha nama remaja itu. Aku mengenalnya sebagai teman masa kecil pemilik tubuh ini. Dunia ini memakai sistem pengelompokan kekuatan. Dengan tanda di telapak tangan sebagai penanda yang jelas. Ada dua tanda di telapak tangan, pertama bentuk seperti bulan sabit dengan lengkungan hampir berbentuk lingkaran bernama Lengkung Sabit yang berarti seorang ksatria. Yang mana ksatria merupakan orang yang bertarung dengan menggunakan senjata. Tidak hanya dalam pertarungan, dalam kehidupan sehari-hari, pemilik tanda Lengkung Sabit selalu mengerjakan pekerjaan dengan tenaganya. Bahkan aparat keamanan juga kebanyakan pemilik tanda Lengkung Sabit. Sementara tanda kedua yaitu Pendar Intan. Tapi kalau kuperhatikan, bentuknya lebih mirip diamond di kartu remi. Orang Indonesia lebih sering menyebutnya wajik. Kurang lebih seperti itulah. Pemilik tanda Pendar Intan itu berarti dia menguasai penggunaan sihir. Tidak hanya menjadi pengguna sihir, orang yang bertanda ini biasanya berprofesi sebagai akademisi dan ilmuwan. Singkatnya, ksatria lebih menggunakan tenaga sedangkan penyihir menggunakan otak. Kubuka telapak tanganku untuk melihat tanda yang ada. Seingatku, tanda yang tergambar di telapak tanganku hanya Lengkung Sabit. Tapi kenapa ada garis samar membentuk wajik tepat di tengah lengkungan bulan ini? Segera saja kugenggam lagi telapak tanganku dan berlari menyusul Nara yang sudah berjalan jauh di depanku.
“Nar, lihat telapak tanganmu sebentar, dong,” pintaku saat langkahku sudah menyamai langkahnya. Tanpa banyak kata, Nara menyodorkan telapak tangannya ke arahku. Di sana, tanda itu masih tetap berupa Lengkung Sabit. Tanpa ada tanda-tanda penambahan lambang seperti yang ada di telapak tangannya.
“Oke terima kasih, Nara.” Aku memasang senyum manis ke arahnya. Nara malah bergidik geli.
“Ngelihat kamu senyum kaya gitu malah bikin aku ngeri sendiri, Rak. Kepalamu tadi kebentur, to? Nanti kita periksa ke tempat Mbah Sarni, ya? Aku khawatir ada syaraf yang konslet.” Nara berjalan sedikit menjauh dengan tampang menjengkelkan miliknya. Aku tahu Nara adalah tipe teman kocak yang paling banyak membuat tawa, namun paling suka memendam masalah. Tidak jauh beda dengan Amel di duniaku sebelumnya.
“Nggak usah mengada-ada, ya! Aku sehat walafiat ini. Emang salah, ya, kalau aku senyum? Aku harus cemberut terus, gitu?” tanyaku pura-pura ngambek.
“Ya nggak gitu juga. Aku Cuma bercanda, Arakata. Seriusan,” ujarnya meyakinkan. Aku tertawa terbahak-bahak. Tawa lepas yang hanya bisa kukeluarkan di depan Amel, kini bisa kulepaskan begitu saja. Selain itu, jujur saja, aku sama sekali tak merasa asing di sini. Bahkan rasanya seperti memang ini adalah duniaku.
”Yang sampai terakhir dapat jatah cuci piring!” serunya sambil berlari terlebih dulu meninggalkanku di belakang. Aku segera sadar kalau Nara mengajakku balapan lari. Aku berlari sambil protes, “Licik!! Kamu nyolong start!”
***
Kemenangan rupanya masih bersahabat denganku. Salahnya sendiri karena mengajak balapan dengan kondisi memikul rumput segitu banyak. Bi Heera yang sedang mengangkat jemuran menyambut kepulangan kami. Sebenarnya aku mendapat tugas untuk berburu, namun aku tidak menemukan satu pun hewan di hutan. Karena itulah aku memilih tidur di atas pohon di padang rumput.
”Bi, Arakata nggak dapat apa-apa. Tapi untung tadi aku nemu jamur. Kalau nggak, mungkin kita nggak bisa makan malam.” Nara melapor. Aku menggembungkan pipiku kesal. “Dasar tukang ngadu,” protesku sambil menatapnya kesal. “Biarin, wlee.” Nara memeletkan lidahnya. Bi Heera yang mengamati interaksi kami menyunggingkan senyum. “Arakata, kamu bantuin Bibi di dapur. Biar Nara kasih makan kuda di belakang. Yuk! Habis ini kalian mandi, terus kita makan malam. Matahari sudah hampir tenggelam.” Bi Heera menarik tanganku lembut menuju dapur. Aku tidak tahu mengapa wanita paruh baya itu merawatku seolah anaknya sendiri. Padahal aku hanyalah anak yang ditinggalkan di depan pintu. Persis seperti diriku di bumi dulu.